
"Mas Evan Apa kabar disana?"
Saat ini Sofia sedang menelepon Suaminya yang ada di Luar Kota. Ini sudah dua hari sejak Suaminya pergi.
'Aku baik-baik saja.'
"Kamu kok tidak meneleponku seharian kemarin? Emangnya nggak kangen ya?"
'Tentu saja, kagen sayang....'
"Hpmh, apakah sangat sibuk di Lokasi Syuting?"
'Begitulah, banyak yang perlu di patau dan di cek, sini juga sedikit sulit sinyal.'
"Pantes aja kamu susah dihubungi dari kemarin."
'Maaf sayang.'
"Tapi jangan lupa untuk tetep makan teratur. Jangan sampai telat makan dan jangan kebanyakan begadang ngerjain Kerjaan."
'Tentu saja.'
Keduanya cukup asik mengobrol lama selama satu jam, Sofia mungkin cukup merindukan Suaminya karena di rumah sendirian dan cukup bosan.
"Owh Iya, Sayang Aku mau izin nih."
'Mau kemana memang?'
"Besok pagi, salah satu Temen Aku yang dari Luar Negri ngajakin ketemuan di Reuni gitu."
'Temen?'
"Yah, dari pada nanti kamu salah paham gak sih? Dia cowok, dia temen kecilku, jadi jangan mikir macem-macem."
'Cowok?'
"Udahlah, kami gak cuman berduaan aja kok, makannya Aku Ijin kan? Boleh kan ya?"
"Sayang? Jangan diam aja dong?"
'Baik-baik, Sofia. Aku enggak membatasimu dan enggak bakal salah paham.'
"Lain kali kamu bakal Aku kenalin dia kok."
Setelah menutup telepon, akhirnya Sofia membalas pesan dari teman SMAnya itu, namanya Juliet. Mengatakan bahwa dia akan ikut Acara Reiuni kecil-kecilan besok.
Sofia juga tidak menyangka, teman kecilnya yang sudah lama di Luar Negeri dan tidak pernah ada kabar itu tiba-tiba mengajak Reunian.
"Sudah sepuluh tahun lebih ya?"
Ada beberapa rasa rindu ketika Sofia mengigat teman masa kecilnya itu yang pindah saat tahun ke dua SMA. Ada rasa penasaran dan sedikit berdebar ketika memikirkan teman masa kecilnya itu.
"Dia sekarang seperti apa?"
Sofia lalu segera menggelengkan kepalanya, itu adalah kisah lama, kisah cinta tidak terbalas.
Kata orang, cinta pertama itu tidak pernah berakhir dengan baik. Itu lah sama seperti cinta pertama Sofia.
"Lagipula, waktu sudah berlalu, dan Aku sudah menikah, ini hanya akan menjadi kisah lama yang cukup lucu jika di ingat."
Dengan tidak sabar, Sofia menantikan bertemu teman-temannya itu. Dia juga sudah lama tidak bertemu temannya sekolah yang lain, tapi tidak selama Bastian.
Dan akhirnya hari yang di tunggupun tiba, keesokan harinya Sofia bersiap menuju Cafe tempat reuni kecil-kecilan itu diadakan.
Dia bertemu wajah yang sudah lama tidak dia lihat, yang sudah datang lebih dulu.
"Huh? Kak Theo juga di undang?"
Pria itu segera tersenyum kearah Sofia.
"Benar, Juliet juga menghubungiku, katanya Bastian mengajak bertemu, Aku juga belum dihubungi oleh bocah itu, dasar menyebalkan, mengajak bertemu kok lewat orang. Sepertinya dia masih tidak berubah walaupun sudah sepuluh tahun."
"Iya, Aku juga tidak di hubungi, hanya lewat Juli saja."
"Eh? Benarkah kamu juga? Padahal Aku kira kalian berdua dekat...."
"Yah, mungkin karena aku cukup sulit dihubungi. Aku kan sudah lama pindah."
"Benar, sih tapi ngomong-ngomong, apakah tidak apa-apa kamu ikut pertemuan gini? Suami mu gimana?"
"Ya gak gimana-gimana, Kak. Udah tenang saja... Yang dulu biarlah berlalu."
"Eh, kalian berdua masih rajin aja selalu datang yang pertama kalau janjian."
Juliet yang baru saja datang menyapa dengan ramah.
"Dari seseorang yang membuat janji tapi datang agak terlambat?" Kata Sofia pura-pura menunjukkan ekspresi marah.
"Hahal, telat apa? Yang lain belum dateng, apalagi tokoh utamanya kayaknya bakal datang paling telat deh."
"Dia bakal telat?"
"Loh? Bukankah dia udah baik ke sini beberapa minggu lalu?"
"Katanya habis dari Luar Kota gitu, ada Tugas Dinas."
"Hahaha, sok sibuk emang, gak berubah," respon Theo.
Mereka mulai berbicara dengan akrab sambil menunggu yang lainnya datang. Satu demi satu teman mereka datang.
"Hmm, ini kita udah datang kok Tokoh Utamanya belum dateng-dateng juga?" Keluh Rianna yang sepertinya tidak sabar.
"Duh, Rianna kayak gak tau Bastian aja, dia kan biasanya emang suka telat," kata Juliet.
"Padahal Aku sudah bela-belain Lo kesini tepat waktu. Anakku di Rumah lagi rewel makanya ku titipin Mama Aku sebentar, terus langsung cabut ke sini, demi kalian." kata Rianna terlihat menujukan eksepsi kesal.
"Cie, yang sudah jadi Mama, tapi kok ya kamu tinggal gitu aja? Harusnya di ajak dong,"
"Enggak mau lah, pengen sekali-kali Me Time gitu, lah."
"Me Time Ampe lupa waktu seperti tempo hari sampe di teleponin Suami?"
"Gitulah, Suami kan enggak becus kalau suruh jagain anak, anaknya pasti sering nangis kalau sama Papanya, suka heran."
"Ya, namanya anak Mama..."
"Hahahaha"
Sofia yang mendengar pembicaraan soal anak itu, tiba-tiba merasa hatinya sedikit sedih. Memikirkan kapan ya dia segera punya momongan?
Namun itu tidak berlangsung lama, karena akhirnya tokoh utama dalam pertemuan itu segera datang.
Nampak dari pintu masuk ruang pribadi, seorang Pria Tampan dengan setelah baju jas rapi, membawa beberapa bingkisan ditangannya.
Rambutnya yang terlihat sedikit berantakan sampai menutupi sedikit matanya, juga wajahnya yang terlihat seperti ukiran, kulit putih terawat yang seperti tidak pernah terkena matahari. Penampilannya yang terlihat seperti maha karya yang paling indah.
Bastian Ellison
Sofia yang melihat sosok itu, perlahan sedikit terlaku.
Tatapan mereka bertemu, Bastian menujukan senyumnya pada Sofia. Wajah Sofia sedikit malu, dan segera memalingkan wajahnya, merasa tidak boleh terlalu lama memandang wajah Bastian.
"Maaf terlambat. Aku tidak mengira, Penerbangan dari Kota B sedikit lebih lama dari yang Aku kira."
Sofia yang mendengar itu cukup kaget.
Kota B?
Itu kan tempat Evan berada sekarang?
Benar-benar kebetulan yang aneh, dan tidak mungkin juga kebetulan ketemu Suaminya disana.
"Halah, kamu kan jadi orang memang paling suka terlambat," kata Juliet lalu mulai mengambil tas-tas yang di bawa oleh Bastian Yang sepertinya oleh-oleh.
"Mana ini oleh-oleh untukku?" Kayanya lagi.
"Duh, tunggu dong Juliet. Aku belum sempet bawa oleh-oleh yang dari Luar Negeri, tapi itu oleh-oleh dari Kota B."
"Pantes aja, kayak barang lokal. Eh? Apa-apaan ini isinya kok baju-baju cewek semua?" Kata Juliet lagi sambil memeriksa kantong belanja itu.
"Eh yang benar? Harusnya enggak, Isinya kan souvernir dari sana? Mana-mana liat! Harusnya ada baju-baju cowok juga."
Bastian segera mengambil kembali kantong belanja itu dan segera terkejut, dan segera berkata dengan kesal,
"Ah sial, sepertinya ini ketuker sama punya Pasangan rempong yang Aku temui di Kota B deh."
"Lah kok bisa?"
"Duh, ceritanya panjang deh. Pokoknya gara-gara pasangan itu ribet banget terutama ceweknya yang bikin ribut di depan kasir gara-gara masalah sepele, sepertinya aku jadi salah ambil kotak belanja gara-gara buru-buru, sial amat."
"Hahahaha, kok ya bisa sih?"
"Sudahlah. Besok ketemuan lagi aja Aku bawain oleh-oleh yang dari Luar Negeri."
"Kami sibuk tauk!"
"Maaf-maaf, lama tidak bertemu semua..."
Sekarang Bastian mulai menyapa semua orang, dan kali ini pandangannya bertemu dengan Sofia.
"Lama tidak bertemu Sofia..."
Suara Bastian menjadi sedikit lembut ketika menyapa Sofia.
"Ya... Apa kabar?"
Bastian tidak menjawab, hanya segera mengecek baju jasnya dan memberikan sesuatu untuk Sofia.
Itu adalah sebuah gelang yang terlihat lucu.
"Ini oleh-oleh untukmu."