
"Mas Evan, walaupun kamu masih terlihat marah denganku sebelumnya jangan tujukan di Acara Pesta malam ini."
"Kamu tidak perlu mengatakannya aku tahu tugasku. Aku juga perlu menjaga reputasiku sendiri di depan orang-orang."
Malam itu keduanya menghadiri Pesta Rilis Perdana salah satu Film yang didanai oleh perusahaan mereka. Jadi walaupun belakangan, mereka berdua masih sama-sama dingin dan mengabaikan, terutama Evan yang menjadi terus sibuk dan mengabaikan Sofia, malam ini harus tetap terlihat seperti pasangan yang harmonis.
"Selamat Datang, Tuan Evan dan Nyonya Sofia."
Keduanya segera disambut dengan ramah ketika mulai memasuki Ruangan Pesta. Keduanya saling bergandengan tangan dengan mesra dan melambaikan tangan ke kamera sambil tersenyum.
Sampai ada salah satu pertanyaan wartawan yang menyambut mereka, terlihat sedikit menyinggung.
"Kalian adalah pasangan yang serasi, ini membuat saya penasaran kenapa sampai sekarang kalian belum memutuskan memiliki seorang anak, apakah anda berdua tidak kesepian?"
Seolah tersambar petir, topik itu benar-benar membawa luka tersendiri kepada keduanya.
Entah karena rasa bersalah, atau kekecewaan menumpuk akibat gagalnya program punya anak yang telah mereka susun.
Juga pertengkaran mereka akhir-akhir ini.
"Saya dan Istri saya masih muda, tidak ada yang perlu di cemaskan, benar bukan sayang? Kita juga pasti akan segera memiliki momongan."
Jawaban Evan itu membuat Sofia entah bagaimana merasa sakit hati, entah Itu jawaban yang dilakukan hanya untuk formalitas ataukah itu malah hanya menyinggungnya yang tidak bisa juga hamil setelah berbagai macam upaya.
Sofia hanya tersenyum menanggapi itu.
Tepat ketika perhatian pada mereka berdua sudah berkurang dan hanya ada keduanya di ujung ruangan pesta, Sofia segera berkata,
"Apa maksud Mas bilang pada wartawan tadi?"
Evan yang mendengar pertanyaan itu jelas tidak mengerti.
"Apa lagi sekarang yang membuat mu marah? Aku hanya menjawab sebisaku, apakah kamu ingin mengatakan pada semua orang bahwa kita tidak akan bisa punya anak?"
"Apakah sekarang Mas Evan malu memiliki Istri sepertiku yang tidak bisa memberikan mu keturunan?"
"Sofia!! Tolong jangan mulai lagi masalah ini!"
"Mas kan yang dari awal malu."
"Ya! Aku malu! Berapa banyak teman-temanku yang juga menayakan pertanyaan ini? Tahukah kamu apa yang mereka katakan di belakangku? Mereka bahkan sempat bilang Aku yang mandul!! Padahal itu kan kamu!"
"MAS EVAN!!"
Sofia seolah tidak bisa menahan Air matanya, namun dia bertahan sekuat tenaga agar tidak menangis. Dari semua orang, akhirnya dia mendegar kata-kata itu dari Suaminya.
"Cukup, mari kita sudahi saja omong kosong tidak berarti ini. Masih ada hal yang Aku urus, Aku masih harus maju kedepan memberikan sambutan."
Akhirnya, Evan segera meninggalkan Sofia sendirian disana, Sofia yang tidak tahan itu juga segera pergi ke kamar mandi menenangkan dirinya.
Setelah beberapa saat, saat mau keluar dari kamar mandi, dia bertemu dengan seseorang.
"Hanna? Bukankah kamu masih harus memberikan sambutan? Kenapa kamu disini?"
"Ah~ Kak Sofia? Aku hanya sedikit gugup saja, jadi aku ke kamar mandi untuk sedikit membenarkan riasanku dan menghilangkan rasa gugupku."
"Apa yang membuatmu cemas? Ini adalah Film Perdana yang kamu bintangi sebagai Tokoh Utamanya, jadi kamu harus lebih percaya diri. Kamu sudah cantik kok."
Gadis itu adalah Hanna Arabella, sahabat baik Sofia yang dia temui tiga tahun lalu.
"Ini semua juga berkat Kak Sofia yang menemukanku, dan mau membantuku sampai aku sejauh ini, tidak banyak orang yang mau memberikan dukungan padaku awalnya seperti Kak Sofia."
"Bukan-bukan, itu juga karena aku memang melihat potensi dalam dirimu. Aku hanya memberikan apa yang seharusnya, dan ini semua juga karena usahamu."
"Terimakasih Kak Sofia, Aku bersumpah tidak akan pernah melupakan hutang budiku pada Kak Sofia... Jika saja saat itu, Kak Sofia tidak menolongku yang terlilit utang itu, Aku tidak tahu apakah bisa sampai sini."
"Tidak perlu berlebihan seperti itu, Hanna. Aku hanya melakukannya karena kebetulan Kamu adalah salah satu Juniorku. Jadi sekarang lebih percaya dirilah oke?"
Dengan itu, Sofia mulai menyemangati Hanna salah satu Artis di bawah Management Perusahaannya itu.
"Kamu sudah cantik kok. Owh, benar nanti di sambutan itu, kamu tidak perlu cemas, Ada Suamiku Evan yang akan ada disana saat naik keatas panggung."
"Eh? Maksud Kak Sofia, Pak Presdir?"
"Benar, Apakah kamu belum diberitahu?"
"Apakah begitu? Tapi kali ini sedikit berbeda, yah untuk menujukan beberapa Image Perusahaan, tentu saja Pak Presdir harus hadir bukan? Ini film penting bagi Perusahaan."
"Jadi begitu.. Aku malah jadi sedikit gugup."
"Tidak apa-apa. Suamiku sangat baik kok, dia tidak akan marah padamu, bahkan walaupun kamu melakukan beberapa kesalahan, mari Aku perkenalkan dulu padanya."
Dengan itu, Sofia mengandeng Hanna untuk bertemu dengan Suaminya di dekat arena panggung.
"Mas Evan, kenalkan ini Hanna Artis Utama dalam Film ini, tapi Kamu mungkin sudah tahu. Tapi ini masih pertemuan pertama kalian."
Evan yang mendegar kata-kata Istrinya hanya tersenyum formalitas dan memperkenalkan dirinya.
"Salam kenal Nona Hanna."
Hanna yang melihat sosok Evan sempat melamun sekilas, terlaku pada pesona Evan untuk sesaat.
"Salam Kenal, Pak Presdir Evan."
"Tidak usah gugup Hanna, dia tidak akan mengigitmu."
"Ah, jadi Hanna ini yang pernah kamu ceritakan itu, Sofia?"
"Benar, ini sahabatku. Jadi jangan galak-galak nanti padanya,"
"Kamu pikir suamimu ini orang macam apa?"
Dengan itu, perkenalan berjalan dengan baik. Dan sekarang, saatnya kedua orang itu untuk menuju ke atas panggung memberikan sambutan.
Hanna yang sedikit gugup, hampir saja terjatuh ketika naik keatas panggung, sangat beruntung Evan menangkapnya dengan sigap.
"Kamu sebaiknya hati-hati."
Tatapan mata mereka bertemu, sepintas, Evan merasakan armoma parfum yang familiar dari tubuh Hanna.
'Ini apakah sama dengan yang Sofia gunakan?'
Evan tanpa sadar, memeluk Hanna lebih lama dari yang dia duga, mungkin karena aroma itu yang sedikit dia rindukan, sejak dia dan Sofia bertengkar dia sudah lama tidak menyentuh Sofia.
Sedangkan, Hanna tatapan matanya tidak bisa lepas dari Pria yang menangkapnya itu. Seolah jantungnya berdetak lebih kencang.
Sampai Evan sadar dan melepaskan pelukannya itu.
"Ah, maaf kamu hampir jatuh tadi."
"Te--Terimakasih Pak Presdir, saya hanya terlalu gugup."
"Tidak apa-apa, tidak ada yang perlu kamu takutkan."
Evan tersadar dari lamunannya, hampir saja dia membuat kesalahan. Lagipula wanita yang ada di hadapannya ini bukan Istrinya.
Yah, jika dilihat-lihat, memang wanita bernama Hanna ini sangat cantik, tapi wajar dia kan Artis milik Perusahaannya.
Hanya sedikit hal yang tiba-tiba menggelitik didada Evan.
'Apa karena Aku merindukan Sofia?'
Dia lalu mulai menatap kearah bawah panggung, mencari dimana Sofia berada, Namun ternyata dia tidak menemukan Istrinya itu.
Dia kira, Sofia akan menyambutnya dan menyemangatinya, dan sudah melupakan pertengkaran mereka barusan karena sambutan dan sikap ramah Sofia barusan, tapi ternyata sebelumnya hanya formalitas.
Ada sedikit kekecewaan dihati Evan tiba-tiba.
"Pak Presdir? Apa yang anda cari?"
Suara Hanna baru saja membuyarkannya dari lamunannya.
"Bukan apa-apa."
Sofia sendiri memang sudah pergi dari Ruangan Pesta setelah memperkenalkan Hanna hanya untuk formalitas itu. Sejujurnya, hati Sofia masih belum tenang memikirkan kata-kata Suaminya sebelumnya.
'Hah... Dia malu karena Aku tidak hamil juga pada akhirnya? Namun kenapa dia begitu marah ketika aku ajak ikut program memiliki anak lagi....'
Sofia masih tidak paham dan mengerti apa mau Suaminya itu.