Batas Akhir Dari Cintaku

Batas Akhir Dari Cintaku
Episode 12: Mari Mencobanya


"Mas Evan bagaimana jika kita ikut Program punya anak?"


Malam itu, Evan dikejutkan dengan permintaan tiba-tiba dari Sofia.


Tentu ada dasar kenapa Sofia tiba-tiba mulai membahas masalah anak ini. Tentu sejak kejadian sebelumnya, dimana Ibu Mertuanya ingin memperkenalkan Suaminya dengan wanita Baru.


Walaupun akhirnya Sofia bisa menghalangi pertemuan mereka, namun tetap saja fakta bahwa dalam pernikahan mereka belum memiliki momongan masih menjadi beban berat dalam hati Sofia. Dan entah apa yang akan di rencanakan oleh Ibu Mertuanya nanti.


Jadi setelah merenungkan beberapa hal, Sofia akhirnya memikirkan keputusan ini.


"Sofia, kenapa tiba-tiba? Kamu tahu, Aku sudah bilang padamu jika aku tidak akan menuntut seorang anak."


"Aku tahu, kok Mas. Tapi apa salahnya kan di coba?"


"Tapi Sofia, Aku cuman enggak ingin kamu nanti malah kecewa, Aku enggak mengharapkan hal itu kok dari kamu."


Namun kata-kata itu sedikit membuat Sofia tidak nyaman. Walaupun Evan benar-benar menerima dirinya apa adanya, namun dia tidak mengira Evan sama sekali tidak pernah mengharapkan mereka bisa memiliki anak.


Tapi memang kemungkinannya kecil...


Dan mungkin tidak berhasil.


Dari pada berharap, lebih baik untuk tetap fokus pada yang sekarang.


"Tapi, aku tetap kepengen coba, Mas."


"Ya udah, mari minggu depan kita coba ke Klinik oke?"


"Baik."


Dengan itu, rencana Program Sofia ingin memiliki seorang anak dimulai. Mereka pergi ke Dokter melakukan serangkaian pemeriksaan.


Tentu saja, Evan dalam keadaan sehat dan tidak memiliki masalah apapun, hanya Sofia yang bermasalah akibat Operasi dimasalalu.


"Berdasarkan riwayat kesehatan Ibu Sofia, saya menyarankan untuk mencoba Proses Bayi Tabung."


Sofia yang mendengar itu merasakan sedikit harapan.


"Apakah ini bisa sukses Dokter?"


"Tapi saya rasa ini masih terlalu awal, masih banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum memasuki tahap itu. Tingkat keberhasilannya, saya tidak bisa bilang tinggi, namun masih patut di coba."


Dengan itu, keduanya segera mengikuti saran dan anjuran Dokter untuk menjaga kesehatan dan meminum obat-obatan tertentu.


Itu terjadi beberapa hari setelah mereka mencoba mengikuti saran dokter.


"Sayang, bagaimana jika malam ini kita melakukannya? Besok toh sedang hari libur."


"Tidak dulu, Mas Evan. Bukankah kata Dokter harus menjaga tingkat Kualitas Sel Sper** dulu, jadi kita tidak bisa dulu melakukannya, kecuali pada periode tertentu, untuk setidaknya sebelum Proses Bayi Tabung."


Mendengar penolakan itu, ada kekecewaan dalam diri Evan.


"Lagian, kenapa sih mesti ikut program begituan sebenarnya Aku tidak begitu suka."


"Mas Evan jangan gitu dong, kan ini juga demi Kebaikan kita juga."


"Baik-baiklah, lupakan saja. Aku mau tidur."


"Mas... Hanya sebentar saja oke? Menahan diri tidak apa-apa."


Namun itu hanya sebuah awalan, berikutnya setelah beberapa bulan persiapan akhirnya keduanya mengikuti Prosedur melakukan Bayi Tabung.


Evan tentu juga mengikuti Prosedur itu, dia merasa tidak senang setelah keluar dari tempat pemeriksaan.


"Baik, karena Proses pertama selesai, Tuan dan Nyonya bisa menunggu beberapa hari lagi, untuk Prosedur selanjutnya."


"Baik, Dokter kami akan segera kesini lagi."


Sayangnya, bahkan setelah melewati berbagai macam prosedur panjang hasil yang mereka harapkan tidak juga berhasil.


Sekarang Sofia sedang mengecek mengubakan Tes Pack kehamilan berdasarkan Prosedur yang dia jalani.


"Bagaimana hasilnya?" Tanya Evan yang diam-diam juga mulai memiliki beberapa harapan tentang hal ini.


"Masih negatif Mas."


Namun pada akhirnya, setelah beberapa hari berikutnya, hanya tanda garis satu yang terlihat. Keduanya segera kembali ke Rumah Sakit untuk Pemeriksaan.


Dan segera mendapatkan kabar buruk.


"Maaf, sepertinya kali ini mengalami Kegagalan, Embrio yang ditanamkan sepertinya tidak bisa tubuh dengan sempurna ini karena Tubuh Nyonya Sofia sepertinya tidak merespon dengan baik."


Sofia dan Evan mau tidak mau kecewa dengan hal itu.


"Tapi Dokter, apakah kedepannya masih ada cara lainnya?"


"Tentu masih ada beberapa rangkaian Prosedur lain dan bisa mencoba bayi tabung lagi."


Pada akhirnya, Sofia yang tiba-tiba ingin segera memiliki anak itu menjadi terobsesi dengan segala macam Prosesnya, walaupun lagi-lagi gagal.


Mereka juga melakukan proses manual dan bahkan pergi ke Klinik Alternatif agar Sofia bisa hamil, namun hasilnya masih gagal.


Sudah satu tahun berlalu, dan masih belum menandakan kabar baik.


"Mas, salah satu temanku bilang, Klinik ini memiliki..."


"Cukup Sofia! Aku benar-benar sudah lelah mengikuti semua ini aku mungkin bersabar jika ini satu atau dua kali, namun ini sudah berapa kali?"


"Mas Evan tidak boleh menyerah begitu saja!"


"Sofia! Aku kan sudah bilang, kamu memang tidak bisa memiliki anak jadi tidak bisa memaksakan kehendak, kita juga sudah mencoba, namun masih gagal dan gagal menurutmu berapa banyak waktu dan uang yang aku habiskan untuk mengikuti semua permintaanmu itu?"


"Mas kenapa bilang begitu?"


"Sudahlah, Sofia Aku lelah. Kamu tidak usaha bahas-bahas itu lagi."


"Tapi Mas Evan...."


"Sofia!! Jangan kamu menguji kesabaranku seperti ini! Jelas masalahnya di kamu, jadi tidak usah mencoba lagi hal-hal yang percuma, Toh kamu tidak bisa hamil."


Sofia yang mendengar itu hatinya merasa sakit seperti tertusuk. Fakta itu memang benar adanya masalahnya ada pada dirinya tapi...


"Memangnya menurut Mas siapa yang membuatku sampai seperti ini? Seandainya saja dulu Mas Evan tidak terbawa Emosi..... Pasti Calon Bayi kita masih selamat dan sekarang sudah besar! Ini salah Mas Evan...."


"Aku kira kamu sudah memaafkanku soal ini dan sekarang kamu menyinggungnya lagi?"


"Tapi Mas Evan duluan yang menyinggungnya!"


Keduanya mulai bertengkar hebat untuk pertama kalinya, dan mulai bersikap diam satu sama lainnya.


Sofia mulai kembali menagis, ada alasan kenapa dia ingin segera punya anak, terlebih dia tahu bahwa Suaminya Evan sebenarnya yang paling menginginkan hal itu walaupun dia tidak mengatakannya.


Suaminya juga selalu memiliki harapan ketika mereka mencoba melakukan beberapa prosedur, walaupun pada akhirnya kecewa.


Sofia ingat ketika mereka berdua mengunjungi teman Evan yang baru saja memiliki seorang bayi. Sofia melihat bagaimana Evan mencoba menggendong bayi temannya itu dengan perasaan gembira.


Hanya melihat itu, Sofia tahu Suaminya ingin memiliki bayi mereka sendiri juga...


Tapi...


Semua upaya masih gagal.


"Tidak, aku masih tidak boleh menyerah begitu saja. Siapa yang tahu jika keajaiban mungkin saja tiba."


Sofia masih berharap, jika mereka masih akan memiliki anak.


Sayangnya, sejak saat itu sikap Evan mulai berubah pada Sofia, lebih dingin dan lebih cuek padanya.


Memang, setiap kali mereka bertemu, Sofia masih membujuk Evan untuk mengikuti beberapa prosedur pengobatan lagi.


"Sofia! Cukup!"


"Tapi Mas..."


Dan akhirnya terjadi perang dingin antara keduanya, belum masalah Ibu Mertua Sofia yang masih saja berulah.


Setiap kali gagal berobat setelah melewati berbagai prosedur dan gagal hamil, Sofia selalu mendapatkan kritik tajam.


"Cih, kalau tidak bisa hamil ya tidak usah memaksakan diri suruh saja itu Suamimu Menikah lagi saja, beres kan?"