Batas Akhir Dari Cintaku

Batas Akhir Dari Cintaku
Episode 10: Ketetapan Hati


Hari-hari segera berlalu, Sofia masih berada di rumah sakit untuk menstabilkan kondisinya. Yang Sofia lakukan di waktu luangnya ketika berada di sana adalah membaca buku.


Evan tentu saja selalu menemani Sofia di ruang rawatnya. Hanya saja Sofia masih tidak ingin berbicara dengan suaminya itu.


"Sofia, kamu makanlah yang teratur."


Sofia juga mulai sedikit kurang berselera makan sejak kejadian hal itu dan lebih banyak melamun sambil memegang perutnya.


Mungkin kehamilannya bukan hal yang direncanakan hanya sebuah kedatangan tiba-tiba, namun Sofia sudah mengagap calon bayinya berharga. Rasanya dia diam-diam menantikan anak itu, sampai memikirkan nama apa yang nantinya akan diberikan.


Apakah bayi perempuan?


Atau bayi laki-laki yang akan mirip dengan Ayahnya?


Sayangnya, sekarang semua itu hanyalah sebuah angan-angan. Sofia kembali meneteskan air matanya ketika mengingat semua itu.


"Sofia, jangan menangis lagi...."


Evan yang berada disana juga tidak tahan melihat Sofia yang seperti itu.


Namun Sofia tidak mendengarkan kata-kata suaminya itu dan terus menangis. Rasanya masih sangat berat, kehilangan calon bayinya, terlebih itu karena kesalahan pahaman.


Sofia masih ingat kata-kata Evan yang paling menyakiti hatinya yaitu bisa-bisanya menuduh anak yang ada dalam kandungannya Itu bukan anak mereka.


"Kamu tidak akan tahu perasaanku karena dari awal kamu tidak pernah menginginkan anak itu."


"Sofia, kamu salah... Aku juga merasa sangat kehilangan... Dia juga anakku..."


"Bohong! Kamu bahkan sempat menuduhku yang tidak-tidak! Dan baru sekarang ketika anak itu tidak ada kamu baru mengakuinya?"


Evan yang mendengar itu segera diam teringat kata-kata kasar dan emosi yang dia miliki sebelumnya.


"Sungguh, aku hanya terlalu terbawa emosi saat itu dan tidak memikirkan apa yang aku katakan...."


"Kamu Bregsek!"


"Sofia..."


Sofia mulai tidak bicara apapun lagi, dan menghapus air matanya.


Hari demi hari berlalu, Sofia masih terpuruk dalam kesedihannya.


"Evan, mau sampai kapan kamu menunggu Istrimu yang sepertinya sudah gila itu?"


Kata-kata Ibu Mertuanya yang sepertinya sedang berdebat di depan pintu ruangan Sofia terdengar sampai dalam.


"Mama tidak boleh bilang seperti itu pada Istriku!!"


"Evan kamu ini sangat susah dibilangin kenapa sih kamu mempertahankan Istri sepertinya? Apa yang baik darinya hah? Mama bisa mencarikanmu wanita yang jauh lebih baik daripada Sofia itu!"


"Mama tidak mengerti. Untukku Sofia tidak tergantikan, Aku sangat mencintainya...."


"Kamu benar-benar menjadi anak yang pembangkang sejak Kamu menikah dengannya!"


"Mama boleh bilang begitu padaku, namun itu tetap tidak akan merubah pendirianku. Apapun yang terjadi, Aku tetap akan bersama Sofia."


"Hah, padahal Aku dengar dia akan kesulitan memiliki anak, dan kamu masih berniat mempertahankannya? Evan! Apakah kamu sudah gila?"


"Ya, Aku sudah gila karena mencintai Sofia. Lagipula apakah itu penting soal anak? Untukku, bersama Sofia lebih penting, bahkan walaupun nanti di masa tua hanya ada kami berdua setidaknya kami berdua akan saling memiliki dan hidup bersama dengan bahagia."


Sebuah tamparan terdengar.


"Aku tidak pernah membesarkan Putra gila seperti mu!"


"Mama boleh bilang apapun, namun Aku tetap tidak akan meninggalkan Sofia!"


"Kamu benar-benar sangat keras kepala dibilangin! Mama sudah tidak tahu lagi harus berbicara apa lagi padamu!"


Lalu ada suara seorang Pria datang, itu adalah Ayah Evan.


"Evan! Kamu itu harus mendengarkan apa kata orang tuamu! Apa gunanya sih mempertahankan Wanita yang tidak bisa memberimu anak itu?"


"Pa! Cukup! Papa jangan ikutan Mama! Aku akan memutuskan sendiri jalan hidupku!"


"Kamu itu masih bergantung pada keluargamu ini namun kamu berlanggar sok seperti itu?"


"Hah? Jadi Papa mau mengusir Evan? Baik jika itu yang Papa mau!"


"Dasar tidak tahu diri!"


"Sayang, sudah... Jangan begitu... Dan Evan, kamu jangan menentang Ayahmu seperti ini...." Kata Diana mencoba melarang pertengkaran antara Suami dan Putranya itu.


"Tidak! Aku serius dengan kata-kataku!"


"Evan kamu!!"


Diana yang tidak tahan akhirnya membawa Suaminya pergi dari sana. Evan masih duduk kursi depan ruangan Sofia, sedikit tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Dan Sofia yang berada di dalam yang baru saja bangun dari tidurnya itu, yang mendengar semuanya, tiba-tiba saja ingin menangis.


Dan sekarang, lebih dari itu sekali lagi Evan menentang Keluarganya hanya demi dirinya.


Apakah keberadaannya benar-benar seberharga itu?


Apakah Evan benar-benar sangat mencintainya?


Namun kenapa Evan masih selalu membohonginya?


Tidak percaya padanya?


Sofia kadang tidak mengerti.


Evan yang berada di luar akhirnya masuk dan melihat Sofia menangis.


"Sofia? Kamu kenapa? Apakah ada yang sakit? Aku benar-benar tidak bisa melihat kamu terus menangis seperti ini...."


"Kenapa kamu menentang orang tuamu demi Aku?"


Mendengar itu, Evan segera terteguh kaget.


"Ka--Kamu dengar semuanya?"


"Ya, Aku mendengarnya... Kenapa? Kenapa kamu menentang mereka? Apa yang dikatakan mereka sejujurnya benar, untuk Apa kamu mempertahankan Istri cacat sepertiku?"


Evan yang mendengar itu segera memegang tangan Sofia, dan berkata,


"Sofia, Kamu jangan berbicara seperti itu. Kamu tidak cacat,"


"Tapi mungkin Aku tidak bisa memberimu keturunan!!"


"Ini tidak penting Sofia, yang Aku inginkan hanyalah untuk hidup bersamamu, apakah memiliki anak nantinya atau tidak, itu tidak penting. Aku hanya ingin bersamamu..."


"Aku benar-benar tidak mengerti...."


"Ini karena Aku sangat mencintaimu."


"Bukan karena rasa tanggung jawab?"


"Jika ini hanya rasa bersalah yang dangkal Bukankah tidak mungkin aku sampai sejauh ini? Ini karena Aku sangat mencintaimu...."


"Tapi kenapa kamu bisa-bisanya menuduhku selingkuh?"


Evan yang mendengar itu segera menunjukkan ekspresi kesedihannya.


"Maafkan Aku Sofia... Hanya saja... Aku sangat mencintaimu, hanya melihat kamu bersama dengan pria lain saja membuat hatiku begitu marah dan sakit, kamu hanyalah milikku, aku hanya terbawa Emosi.... Maaf... Itu karena Aku begitu mencintaimu... Aku juga tidak mengerti kenapa diriku seperti ini...."


"Aku tidak mengerti."


"Tapi inilah cinta...."


Pada akhirnya keduanya berpelukan cukup lama, sampai Evan mencium bibir Sofia dan Sofia tidak menolaknya kali ini.


Sofia benar-benar merasa dia tidak bisa membenci Evan, apalagi setelah melihat Evan yang berani menentang keluarganya hanya dengan dirinya.


Sofia melihat bahwa itu adalah hal yang sangat tulus.


Dan begitulah, akhirnya Sofia mencoba memaafkan Evan lagi.


Beberapa hari kemudian, Sofia yang sudah kembali pulih itu akhirnya sudah bisa keluar dari Rumah Sakit. Kali ini, mereka tidak lagi kembali ke Rumah Keluarga Wiyata, dimana Orang Tua Evan tinggal.


Mereka pindah kau salah satu apartemen di dekat Perusahaan yang baru Evan pimpin.


Sofia yang mendengar itu cukup kaget.


"Ayahmu benar-benar mengusirmu? Bahkan dari Perusahaannya?"


"Memang aku yang berniat untuk pergi Aku benar-benar tidak tahan dengan mereka."


"Kamu juga tidak boleh gegabah."


"Sofia, apakah kamu takut karena Aku sekarang miskin?"


"Kamu bicara apa? Tentu saja itu tidak penting, menurutku, Evan adalah Evan."


Evan yang mendengar itu tersenyum lalu segera mencium kening Sofia.


"Itulah yang Aku suka darimu."


"Evan...."


"Namun kamu tenang saja, Aku tidak semiskin itu. Kakek sebenarnya memberikan beberapa bantuan, dengan meminta aku mengelola sebuah perusahaan kecil yang sedikit mau Bangkrut agar Aku bisa membuktikan diri, nantinya jika Aku berhasil, tidak akan ada lagi yang bisa meremehkanku ataupun meremehkanmu. Aku pasti akan bisa membuat Keluarga ku kembali menerima kita."


Sofia tersenyum mendengar itu, dia harap mereka bisa memulai lembaran baru lagi. Walaupun luka lama masih sangat menyakitkan...


Namun tidak tahu masa depan seperti apa.


Sofia akan mencoba percaya sekali lagi.