
"Mas Evan baru pulang?"
Sofia yang kebetulan terbangun dari tidurnya itu karena mendengar suara pintu, mulai bertanya pada Suaminya itu.
"Ada kerja lembur. Kamu juga pasti tahu sendiri Karena perusahaan kita sedang terus tumbuh, banyak hal yang harus Aku urus."
"Tapi Aku pikir kamu pulang lebih malam belakangan ini?"
"Hah, kamu mau apa memangnya? Aku kan memang sibuk. Sudah deh, jangan tanya-tanya terus aku lelah ingin istirahat!"
"Aku kan cuma nanya kenapa kamu malah marah-marah begitu sih?"
"Siapa yang marah?"
Evan mulai meninggikan suaranya tanpa sadar.
"Itu apa? Sebenarnya kamu kenapa sih?"
"Sudah Aku bilang, Aku lelah!! Bisa tidak sih kamu diam saja jangan membantah?"
Akhirnya, Sofia hanya kembali tidur karena merasa lelah. Tentu walaupun ada di Perusahaan yang sama mereka punya tugas dan tanggungjawabnya sendiri-sendiri, tidak seperti Sofia tahu detail pekerjaan Suaminya.
Hanya saja, Sofia merasa Suaminya sedikit aneh akhir-akhir ini, seperti lebih sering pulang telat.
Sejak kapan ya ini terjadi?
Mungkin sejak perdebatan mereka setegah tahun lalu. Sofia belakangan mulai merasakan hubungan mereka sedikit merenggang.
Mungkin karena kesibukan masing-masing, dan waktu berlalu dengan cepat.
'Sudahlah, mungkin memang perasaanku saja.'
Di pagi hari, Sofia bangun seperti biasanya. Dia melihat di mana suaminya masih tertidur lelap, semalam sepertinya sampai lupa merapikan jasnya dengan benar dan hanya di letakkan di samping tempat tidur.
Sofia jelas segera bangun, dan mulai membereskan pakaian suaminya itu, untuk dia letakkan di Mesin Cuci.
"Huh? Kenapa ada aroma parfum lain disini? Aromanya mirip dengan milikku? Hmm? Apa dia memakai parfumku?"
Sofia tentu cukup heran mencium aroma parfum familiar di jas suaminya, Memang suaminya sempat bilang jika menyukai aroma itu dan senang ketika Sofia memakainya.
Namun untuk berpikir sampai memakainya sendiri...
"Hmm, lagipula parfum itu cukup netral juga, mungkin memang aromanya cocok untuk Mas Evan."
Sofia tidak terlalu memikirkannya, dan bersiap untuk masak sarapan setelah selesai urusan mencuci. Tentu, tinggal di rumah sendiri masih lebih nyaman daripada tinggal di Rumah Mertuanya, walaupun sama-sama memasak.
Yah, walaupun ada Pembantu di Rumah, Sofia akan kadang-kadang memasak untuk Suaminya, itu tidak buruk juga, membuat suaminya senang dan betah.
"Hmm, mungkin Aku harus memasak masakan kesukaan Mas Evan."
Dengan niat itu, segera Sofia memulai aktivitas memasaknya yang cukup memakan waktu. Sayangnya, itu lebih lama dari yang Sofia kira.
Evan sendiri sudah mandi dan terlihat buru-buru ke kantor.
"Sofia, Aku berangkat duluan ya Ke Kantor, ada meeting penting hari ini," kata Evan yang baru saja keluar dari kamar.
Sofia sendiri baru saja akan meletakkan sarapan di meja, baru saja selesai dan berniat memanggil Suaminya.
"Eh, tapi Mas Evan sarapan dulu, Aku sudah siap."
Sofia tentu ingin membuat suaminya terkejut dengan menyajikan sarapan kesukaannya itu jadi dia belum bilang kalau dia memasak hari ini.
"Aduh, nanti saja Pas Perjalanan Ke Kantor biar sekalian aja, Aku saat ini sedang buru-buru."
"Tapi Mas, sarapannya kan udah siap tinggal makan aja."
"Maaf, ya sayang lain kali aja."
Dengan itu, Evan tidak mendengarkan Sofia dan segera pergi dari Apartemen mereka.
Tentu kekecewaan segera muncul di wajah Sofia. Suaminya tidak biasanya seperti itu sampai buru-buru ke kantor segala.
Dulu, Suaminya akan selalu meluangkan waktu untuk sarapan bersama bahkan sesibuk apapun dia. Pasti akan sarapan bersama, tapi memang belakangan mereka jarang sarapan bersama, apalagi makan malam.
"Hah, padahal Aku sudah repot-repot masak."
Akhirnya, Sofia hanya bisa memakan sarapannya itu sendirian, masih ada kekecewaan di dalam hatinya.
"Hmm, apa sebaiknya Aku berhenti kerja dulu sementara ya? Kata Dokter tempat Aku berkonsultasi, kondisi tubuhku sering lelah dan stress bisa juga menghambat Proses Program kehamilan."
Tentu saja, Sofia masih tidak menyerah tentang Program Kehamilan itu, dan masih mengikuti sesi konsultasi dengan Dokter bahkan walaupun Evan tidak terlihat.
"Nanti akan soal Mas Evan gampang, yang paling penting adalah kondisi tubuhku itulah yang dikatakan Dokter."
Dengan itu, siangnya Sofia ingin menjagak Evan pergi makan siang bersama, namun malah Suaminya itu tidak ada di ruangannya.
"Memang Mas Evan kemana?"
Sekertaris Evan yang mendengar pertanyaan itu menunjukkan ekspresi sedikit gugup, dan berkata,
"Pak Presdir sedang meeting di Luar."
"Eh? Bukankah Meetingnya sudah tadi pagi?"
"Itu... Sepertinya ada meeting yang lainnya, Nyonya."
"Hmm, apakah dia sesibuk itu?"
"Be--Benar, Pak Presdir memang belakangan ini sangat sibuk."
Sofia kembali menatap Sekertaris Evan itu, dengan sedikit curiga karena wajah nya yang gugup.
"Kamu sedang tidak berbohong padaku kan?"
"Mana berani, Nyonya? Bagaimana jika Nyonya menghubungi Pak Presdir saja,"
"Kamu benar."
Dengan itu, Sofia pergi makan siang bersama teman-temannya yang lain di Kantin Perusahaan.
Tentu saja, dia sudah mengirimkan Pesan pada Evan, bertanya dia dimana, apakah ada waktu untuk bertamu setelah ini.
Namun masih tidak ada juga balasan bahkan sampai jam makan siang berakhir.
Sofia lalu mulai melihat lagi riwayat pesan yang dia miliki dengan Suaminya.
Dan ternyata, selain dirinya yang mengirimkan Pesan terlebih dahulu, Suaminya Evan Sudah jarang mengirimkan pesan padanya kecuali jika ada urusan bisnis penting yang berkaitan dengan perusahaan.
Lebih seperti, Suaminya sedikit cuek padanya, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan walaupun tidak memiliki bahasa, dan mereka ada di Kantor yang sama, Suaminya masih akan sering mencari topik pembicaraan.
Rasanya sepi tiba-tiba.
"Mungkin memang, saat ini saat paling penting untuk Perusahaan."
Dengan itu, Sofia mulai kembali fokus mengurus perkejaannya.
Baru pada sore hari, pesannya di balas, jika Suaminya Evan akan lembur lagi di kantor malam ini. Sofia bisa pulang duluan, dan bicara lagi besok pagi.
Sofia tidak terlalu memikirkannya, dan kembali pulang mengikuti rutinitasnya. Sore itu, Sofia memutuskan untuk pergi makan dengan salah satu temannya, dan malah menjadi tempat curhatan temannya itu.
"Sofia, kamu tahu tidak? Pacarku belakangan ini yang aku ceritakan cara menghubungiku itu tiba-tiba saja meminta Putus!"
"Loh? Bukannya hubungan mu dan Pacarmu itu baik-baik saja Erina? Kalian terlihat tidak memiliki masalah."
"Memang, kan? Aku pikir juga begitu. Makanya Aku nggak ngerti kenapa diam tiba-tiba minta putus."
"Lalu apa kamu sudah mencari tahu?"
Mendengar itu, Erina segera mulai menangis.
"Tahu tidak? Ternyata, setelah putus denganku dia malah sudah langsung Punya Pacar Baru!"
"Apa? Begitu cepat?"
"Makanya itu kan! Aku benar-benar curiga dia sudah berselingkuh dan berhubungan dengan wanita tidak tahu malu itu saat masih berpacaran denganku!"
"Jadi Pacarmu itu selingkuh?"
"Iya! Akhhh, benar-benar deh Pria itu tidak bisa di percaya, dulu ketika masih mengejarku, dia sangat bersemangat dan selalu rajin mengirimiku pesan atau hadiah, namun setelah pacaran, rasanya dia malah tiba-tiba jadi cuek. Pria emang gitu ya, setelah bisa mendapatkan apa yang dia mau lalu membuang Aku seperti ini? Sungguh kurang ajar!"
"Kamu kebetulan aja dapat cowok yang enak bener."
"Ahhh, semua cowok sama aja sih! Kamu juga Sofia, harus hati-hati jaga Suamimu itu, mana tahu ada cewek ganjen ngegodain dia!"