
Beberapa bulan kemudian, tibalah di bulan dimana kehamilan Hana menginjak 9 bulan. Kalau dulu Hyuna dilahirkan saat masih berusia 7 bulan karena ada insiden, sekarang Hana bersyukur karena kehamilannya ini bisa dilahirkan diusia yang seharusnya, dan Hana harap ia juga bisa melahirkan normal.
Dan sekarang Hana sudah ada di rumah sakit sejak kemarin, dan dokter Jongdae bilang kalau Hana sudah memasukin pembukaan 5 sekarang, wanita itu kini sedang menahan sakitnya akibat kontraksi.
Sang suami tentu saja selalu ada mendampingi meski kadang ia dibuat tidak tega dengan Hana yang terlihat sangat kesakitan. Baekhyun jadi ingat mendiang ibunya, beliau pasti sama menderitanya seperti Hana saat akan melahirkannya.
"Baek... sakit," keluh Hana.
Baekhyun tidak melepas tautan tangan mereka sedari tadi, tangan sebelahnya menghapus air mata Hana yang keluar karena menahan sakitnya.
"Iya sayang, sabar ya?" Baekhyun tidak tau harus melakukan apa selain memberikan kalimat-kalimat penenang atau tidak jarang juga melalui sentuhan seperti mengusap kepala Hana, mencium Hana di setiap sisi wajahnya atau juga menggenggam tangan Hana erat.
"Apa mau operasi caesar saja hm? Biar tidak sakit?" Tawar Baekhyun yang langsung mendapat gelengan dari Hana.
"Baek...."
"Iya? Kau mau apa? Katakan?"
"Habis aku lahiran kita ke makam ibu ya?"
"Ibumu dan ibuku."
Mendengan itu Baekhyun tersenyum haru, disela Hana menahan sakit, wanita itu masih teringat mendiang ibunya, bahkan mendiang ibu mertuanya juga. Hana merasakan yang sama seperti Baekhyun. Teringat dan terbayang sakitnya seorang ibu saat akan melahirkan.
Baekhyun mencium punggung tangan Hana lalu mencium keningnya juga, "Iya nanti ya. Kau harus pulih dulu."
"Sakit sekali rasanya, Baekhyun..." Baekhyun mengusap rambut Hana.
"Jongdae bilang kau akan segera dibius untuk meredakan rasa sakit, sabar ya?"
Hana hanya mengangguk, dan Baekhyun tidak berhenti menenangkan Hana dengan cara yang sudah disebutkan tadi.
Akhirnya Jongdae muncul, ia memeriksa Hana lalu menginfokan pada Baekhyun kalau Hana sudah naik ke pembukaan 6 sekarang. Sang dokter juga memberi bius epidural pada Hana untuk mengurangi rasa sakit yang akan datang ketika pembukaannya semakin naik.
"Mungkin sekitar 6 jam lagi Hana bisa melahirkan," ucap Jongdae menjelaskan.
"Hah? Masih selama itu? Sumpah demi apapun, aku tidak sanggup lagi melihatnya kesakitan."
Jongdae menepuk bahu Baekhyun, "Sudah resiko kalau mau melahirkan normal."
"Tapi Hana akan selamatkan? Anakku juga kan? Kau bisa menjamin itu kan Jongdae?"
Jongdae hanya tersenyum, "Semuanya bisa terjadi Baekhyun. Tapi kau mempercayaiku kan? Aku akan berusah semaksimal mungkin untuk menanganinya," ucap Jongdae sebelum kembali meninggalkan Baekhyun dan Hana.
Hati Baekhyun jadi risau, terakhir ia mendapat kabar kalau ada isteri dari pegaiwainya yang meninggal setelah melahirkan, Baekhyun benar-benar tidak siap untuk itu. Rasanya ingin melarikan diri. Persis seperti apa yang Hana rasakan saat Baekhyun koma saat itu.
Tapi Baekhyun tidak setega itu, ia tidak akan membiarkan Hana sendirian di sini melawan rasa sakitnya.
"Hana..."
Hana yang tadi memejamkan mata karena rasa sakitnya sudah lebih mereda kini menoleh pada sang suami.
"Hm?"
"Aku mencintaimu, kau tau kan?" Hana sebenarnya bingung kenapa Baekhyun dengan randomnya berkata demikian.
"Aku tau, aku juga mencintaimu, kenapa?" Tangan Hana yang tidak digenggam Baekhyun bergerak menyeka surai hitam suaminya yang menutupi wajah.
"Hana, kau akan baik-baik saja kan?"
Sekarang Hana mengerti, Baekhyun mengkhawatirkannya.
"Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir begitu."
Baekhyun menunduk, ini lebih dari sekedar khawatir tapi takut.
"Hei," Hana mengangkat dagu Baekhyu untuk mendengak menatapnya.
"Aku janji, aku akan baik-baik saja Baekhyun."
"Janji?"
"Janji!"
"Tapi cium dulu!" Hana menunjuk pipinya sendiri.
Baekhyun tersenyum lalu segera mencium Hana di pipi yang ditunjuk si wanita, lalu di akhiri dengan kecupan singkat di bibir.
"Eh, kok nambah?"
Baekhyun terkekeh, "Bonus!"
***
Akhirnya waktu panjang yang ditunggu pun tiba. Sekarang Hana sedang dalam proses melahirkan. Baekhyun masih setia mendampingi sang isteri, memberi semangat dengan kalimat atau bahkan sentuhan-sentuhan manisnya.
"Sedikit lagi sayang," bisik Baekhyun diakhir mencium pelipis Hana yang sebelumnya sudah ia usap karena penuh dengan peluh.
Hana pun mengejan semakin kuat, sampai akhirnya...
Suara bayi pun terdengar.
Baekhyun dibuat merinding seketika, ia langsung memeluk Hana dari samping isterinya itu sudah menangis haru setelah berhasil melahirkan anak keduanya.
"Baek... aku berhasilkan?" Tanya Hana di sela tangisnya yang membuat itu terdengar lucu.
Baekhyun terkekeh kecil sambil mengangguk, begitu juga dokter dan perawat yang menanganinya bersalin yang sedang sibuk membersikan bayinya.
"Iya, kau melakukannya dengan baik, sayang."
"Terimakasih Hana."
"Terimakasih banyak."
"Kau hebat, kau luar biasa."
Kalimat pujian itu tidak henti Baekhyun bisikan pada Hana, pria itu juga mencium kening Hana lama sekali. Sedangkan Hana masih sibuk menangis.
"Boleh aku peluk?" Tanya Hana.
"Iya, sebentar ya," jawab dokter.
Setelah dibersihkan, sang bayi pun ditaruh di atas dada Hana. Membuat Hana dan Baekhyun bisa melihatnya dengan jelas.
"Selamat Baekhyun, Hana, Hyuna punya adik laki-laki," ucap Jongdae.
"Boleh aku namainya, Byun Baek Han? Kalau Byun Hyuna adalah singkatan dari belakang kita, BaekHYUN dan HaNA, maka Baek Han, singkatan nama depan kita, bagaimana?" Tanya Baekhyun yang matanya tidak lepas dari sang putera kecilnya.
"Boleh, aku akan memanggilnya Han yang tampan," jawab Hana.
"Jadi bukan aku lagi yang paling tampan?"
"Tentu bukan, Han akan jadi yang paling tampan, mengalahkanmu, Jaemin, Sehun, ataupun Chanyeol-oppa, begitu juga ayah mertua."
Baekhyun tertawa, lalu ia mencium pelipis isterinya lagi, "Terimakasih sekali lagi Hana."
"Aku menyayangimu."
"Menyayangi Hyuna juga."
"Sekarang bertambah menyayangi Han."
***
Sekarang Baekhyun sedang sibuk menggendong bayinya. Sedangkan Hana asik memandang ayah dan anak itu sambil tersenyum.
Tapi tiba-tiba Hana dibuat menyatukan alisnya saat Baekhyun tampak menyeka matanya, apa suaminya itu menangis?
"Kau menangis?" Tanya Hana.
Baekhyun yang tadi memandang sang bayi kini mendengak menatap sang isteri, ia tersenyum, "Aku cengeng ya?"
"Tidak tau Hana, tapi rasanya terlalu emosional setelah semua yang kita lalui, terutama kau."
"Semoga kehadiran Han bisa membawa kebahagiaan baru untuk keluarga kecil kita ya?"
Hana jadi ikut terharu, "Kemari, aku mau melihatnya juga!"
Baekhyun menurut, ia menghampiri Hana dan duduk di samping sang isteri yang masih berada di bangkar rumah sakit.
"Dia mirip siapa menurutmu?" Tanya Hana yang sudah mengambil alih Han dari Baekhyun.
"Sepertinya aku."
"Masa sih?"
"Tapi sudah aku bilang ya, dia pasti akan jauh lebih tampan darimu."
"Iya, aku percaya. Soalnya ibunya juga cantik."
"Tentu saja," balas Hana yang membuat Baekhyun mengacak-acak kecil rambutnya.
"Hana..."
"Ya?"
"Terimakasih ya?"
"Kau sudah mengatakan itu sejuta kali."
Baekhyun terkekeh lagi, "Dan aku akan terus mengatakannya. Melihat bagaimana perjuanganmu melahirkan Han yang sangat luar biasa, aku berterimakasih banyak untuk itu. Terimakasih sudah melahirkan Hyuna dan Han, terimakasih atas semua perjuanganmu menjadi ibu sejak dulu, terimakasih kasih karena sudah menjadi ibu dari anak-anakku, anak-anak kita," Baekhyun berucap demikian sambil meraih kepala Hana untuk cium pucuk kepalanya.
"Sama-sama Baekhyun. Aku berterimakasih atas semuanya. Semua hal yang tidak bisa aku sebutkan." Hana bicara dengan menoleh menghadap Baekhyun.
Baekhyun tidak menjawab, ia hanya tersenyum sebelum menyatukan bibir mereka berdua.
"AYAH, IBU! Apa adik sudah lahir?" Ciuman itu tidak berlangsung lama ketika Hyuna dengan pekikannya datang bersama Sehun yang menggendongnya dan Chanyeol yang mengikuti di belakang.
"Apa kalian akan segera memberi adik kedua untuk Hyuna?" Tanya Chanyeol yang melihat pemandangan tadi.
"Tidak sejauh itu, oppa! Aku dan Baekhyun hanya berciuman, tidak akan langsung jadi hamil lagi!" Protes Hana.
Sedangkan Baekhyun, jangan tanya karena ia sudah sangat salah tingkah.
"Ayah, boleh aku melihat adik?" Tanya Hyuna.
"Tentu saja sayang, kemari, ayah gendong untuk melihatnya," Hyuna pun digendong oleh Baekhyun untuk melihat adik bayinya yang berada di tangan sang ibu.
"Namanya Byun Baek Han."
"Hyuna harus menyayangi Han ya?"
"Iya ayah!"
"Adikku terlihat lucu."
"Anak-anak ayah memang lucu semua, termasuk kau!" Balas Baekhyun membuat Hyuna tersenyum gemas.
"Paman Sehun dan Paman Chanyeol kapan memiliki anak?" Lalu Chanyeol dan Sehun hanya dibuat melongo oleh pertanyaan anak kecil berumur 3 tahun itu.
"Kapan-kapan."
"Kalau tidak hujan!" Balas Chanyeol asal.
"Hyung! Hyuna pasti akan menagih kalau kau bicara begitu!"
"Ya gapapa, tinggal buat bersama kekasihku kan? Memangnya kau yang sudah putus!"
Sehun membulatkan mata ketika nasib percintaannya ter-spill oleh mulut Chanyeol. Iya. Dia dan Sejeong memang sudah putus. Itu karena karir Sejeong semakin naik, dan Sehun yang semakin sibuk dengan kuliah yang sudah masuk semester tua. Sehingga tidak ada banyak waktu yang mereka miliki untuk bertemu.
"Heh! Nikahi lah! Kau mau mencontoh kami yang menanam benih lebih dulu?" Kata Hana.
"Pelankan suaramu sayang, Han nanti terganggu," kata Baekhyun.
"Oh iya maaf."
"Oppamu itu pasti sudah melakukannya, karena dia masih cupu jadi selalu pakai pengaman," sambar Baekhyun lagi.
"Melakukan apa ayah? Pengaman apa?" Hyuna kembali bersuara.
Oh tidak. Mereka melupakan gadis kecil ini.
"Bukan apa-apa. Tuh lihat adikmu, dia laki-laki, lucu kan? Mau menciumnya?" Baekhyun mencoba mengalihkan perhatian Hyuna.
Hyuna langsung mencium sang adik, "Aku menyayangimu adik."
"Adik juga menyayangi noona," balas Hana mewakili Han.