
Kini Hana sedang dalam perjalanan pulang bersama Baekhyun, wanita itu belum mau bicara apapun dengan Baekhyun dan itu cukup membuat hati suaminya mencelos.
"Tidak usah dipikirkan, kemungkinan Hyuna untuk sembuh masih cukup besar. Aku akan berusaha membiayai pengobatannya, sebesar apapun akan aku berikan untuk Hyuna. Jangan khawatir berlebihan."
"Kenapa tidak biarkan aku tidur di sana?" Tanya Hana dingin.
"Biar aku yang menjaga Hyuna, kau tidur di rumah, pagi nanti aku jemput lagi ke rumah sakit."
"Tidak, aku akan membersikan diri lalu kembali ke rumah sakit."
"Hana, kenapa selalu keras kepala sih?"
"Kau tidak berhak mengaturku Baekhyun, Hyuna anakku juga!"
Baekhyun menghentikan mobilnya ke tepi jalan, ia ikut tersulut emosi,
"Tidak berhak kau bilang? Aku suamimu!"
"Kita tidak pernah bercerai kan Hana?"
"Kalau gitu ayo bercerai!"
"Dalam keadaan seperti ini? Di saat Hyuna sedang sakit?"
"Tidak ada hubunganny, kita masih bisa jadi orangtua Hyuna."
"Kenapa ingin becerai? Kau membenciku?"
Hana diam. Membuat Baekhyun kembali melanjutkan.
"Kau... pembohong!"
"Kau bilang akan bertahan apapun keadaanya."
"Kau menyakitiku Hana."
Dada Hana kembali sesak, dan memaksanya untuk kembali mengeluarkan air mata.
"Kalau tidak ingin bercerai, bawa aku kembali ke rumah sakit dan biarkan aku tidur dengan Hyuna!"
Baekhyun berusaha menahan tawanya, ucapan Hana benar-benar lucu. Ia tau Hana juga tidak benar-benad ingin cerai dengannya.
"Baiklah, kita akan tidur bersama Hyuna di rumah sakit."
"Berhenti menangis atau air matamu akan kering!" Baekhyun mengusap air matanya Hana dengan ibu jarinya.
"Apapun yang kau katakan Hana, aku akan tetap percaya kalau kau masih mencintaiku."
Dan kalimat itu kembali membuat Hana bungkam, harus bertingkah seperti apa lagi agar Baekhyun berhenti mengharapkannya agar ia bisa dnegan mudah melepaskannya.
***
Setelah membersihkan diri, Hana dan Baekhyun pun kembali ke rumah sakit.
"Kau tidur di atas bersama Hyuna," ucap Baekhyun.
"Tidak. Aku takut akan mengganggu Hyuna," jawab Hana.
"Kalau begitu, tidur bersamaku di sofa?" Baekhyun kembali bertanya, kini dengan alis yang terangkat sebelah.
Hana diam sejenak, "H-hanya tidur kan?"
Baekhyun kembali terkekeh, jujur ia sedih karena disaat Hana kembali di sisinya, Hana sudah berubah, istriny itu berlaga tidak mencintainya lagi. Tapi melihat Hana bersikap demikian ada juga sisi lucunya, Hana selalu terlihat menggemaskan ketika ia digoda seperti ini. Seperti anak perawan saja.
Baekhyun mendekat pada Hana, "Memang apa lagi yang harus kita lakukan?" Hana bergidik saat mendengar suara Baekhyun yang tiba-tiba saja terdengar seksi di telinganya. Hana merutuki dirinya yang selalu patah pertahanannya oleh Baekhyun.
"Berhenti menggodaku!" Hana mendorong dada Baekhyun, tapi segera Baekhyun menarik tangannya agar Hana ikut terdorong bersamaan sehingga sekarang Hana berada di pelukan Baekhyun.
"Heish, jangan dekat-dekat!" Hana menjauhkan dirinya dari Baekhyun, padahal yang ia mau adalah tetap berada di posisi seperti tadi karena rasanya sudah lama ia tidak mendapat kenyamanan yang hanya ada dalam pelukan suaminya.
Akhirnya mereka pun tidur di satu sofa yang tidak kecil tapi juga tidak besar, lumayan cukup untuk dua orang meski harus sedikit berhimpitan. Sekarang posisi Hana memunggungi Baekhyun, sedangkan si pria masih setia menatap punggung istrinya. Kalau dulu, Baekhyun pasti akan langsung memeluk Hana dari belakang. Tapi kalau ia lakukan sekarang, tentu saja ia akan langsung di tendang ke belakang oleh Hana. Ia harus menahan diri, ia sangat mengerti kenapa Hana bersikap seperti ini dan ia bersumpah akan kembali mengembalikan Hana-nya yang dulu.
"Hana, sudah tidur?" Tanya Baekhyun.
Hana yang sedari tadi hanya menatap Hyuna yang ada di bankar, hanya terdiam dan langsung memejamkan mata berpura-pura tertidur.
"Sepertinya iya kau sudah tidur."
"Tidur yang nyeyak Hana..."
"Semoga kau masih tetap mendengarku di dalam mimpi sana."
"Hana..."
"Aku minta maaf..."
"Maaf karena tidak bisa bersamamu saat kau dilecehkan dengan kurang ajar dengan pria sampah itu."
"Maaf Hana karena kau harus mengalami itu semua setelah kau menikah denganku."
"Kau tau? Saat aku mengetahui semuanya, tapi aku sudah tidak bisa melihatmu lagi saat itu, rasanya aku mau mati."
"Untuk apa aku hidup kalau istri tercintaku hidup dengan luka besar yang hanya membayangkannya saja sudah sakit luar biasa."
"Tapi... aku mencoba bertahan untuk Hyuna. Hanya untuk Hyuna."
Hana bisa mendengar suara Baekhyun yang serak dan nyaris tidak terdengar. Mendengar penuturan Baekhyun, Hana mencoba menahan tangisnya agar tidak pecah. Ia bahkan menutup mulutnya agar tidak menimbulkan suara isakan.
"Sejujurnya, untuk memintamu bertahan denganku, aku malu."
"Karena aku masih tidak bisa menjamin kebahagiaanmu."
"Tapi Hana aku ingin egois, aku tidak ingin kau pergi lagi."
"Aku ingin kau di sini bersamaku dan Hyuna. Terlalu menyakitkan kalau saja salah satu diantara kalian pergi."
Hana mendengar Baekhyun menghela napas, "Aku mencintaimu Hana. Tidur yang nyenyak, hm? Aku pergi keluar dulu." Baekhyun mencium pucuk kepala Hana dari belakang lalu segera beranjak dari sofa yang sudah dijadikan kasur tersebut.
Setelah perginya Baekhyun, Hana bisa melepaskan tangisnya, setidaknya air mata yang sedari tadi ia tahan karena tidak mau terdengar terisak, meski ia masih menahannya sedikit karena tidak mau terisak keras yang nantinya akan mengganggu Hyuna.
***
Pagi ini Hana keluar dari ruangan Hyuna untuk mencari sarapan. Saat ia bangun, ia sudah tidak menemukan Baekhyun. Tidak tau juga pria itu kemana.
Mata Hana otomatis membulat ketika ia yang baru saja melangkah keluar melihat 2 sosok paruh baya yang sudah ia anggap seperti orangtuanya sendiri. Ayah dan ibu sambungnya Baekhyun.
Sejujurnya Hana belum sanggup menghadapi kedua orangtua Baekhyun, apa yang akan dia katakan, Hana benar-benar malu dan rasanya ingin menenggelamkan diri sendiri saja sekarang.
"Hana," ibu mertuanya yang pertama kali menyapa. Wanita itu tersenyum sambil menghampiri Hana.
"Ibu bawa sarapan, kau baru bangun kan? Ayo sarapan dulu."
Air mata terjun begitu saja ketika mendapati perlakuan yang tidak berubah dari sang mertua. Apa Hana masih pantas diperlakukan seperti ini setelah secara tidak bertanggung jawab pergi meninggalkan putera dan cucu mereka begitu saja?
"Kenapa kau menangis Hana? Bertemu kami tidak membuatmu senang ya? Ah padahal ayah merindukanmu," Hana semakin dibuat terisak oleh ucapan ayah mertuanya.
"Maafkan aku, ayah... ibu.. maafkan aku," isak Hana. Sang ibu mertua pun langsung memeluknya.
"Tidak apa-apa sayang. Jangan pikirkan yang dulu ya. Kita sama-sama fokus merawat Hyuna agar dia sembuh, ya?" Ucap ibu mertuanya.
"Sekarang kau makan dulu."
Setelah itu Hana pun sarapan di depan ruangan Hyuna di temani oleh kedua mertuanya. Hana dibuat tersenyum oleh mereka berdua. Entah ayah dan ibu dari Baekhyun itu tidak ada yang membahas perihal apa yang membuat Hana pergi. Sang ayah sibuk bercerita lucunya Hyuna ketika main dengannya, lalu Hana dan sang ibu merespon dengan tawa mereka.
Dari kejauhan Baekhyun melihat pemandangan itu, entah harus sesak atau senang ia melihat Hana tertawa begitu.
"Kenapa? Kenapa hanya denganku kau bersikap asing Hana?" lirih Baekhyun.