Anak Jenius Mom Sita

Anak Jenius Mom Sita
93. Sulung Kebanggaan


Rama, Sita, Kai, Bi Surti , dan Susi tengah makan malam bersama. Semenjak mereka tinggal di rumah yang sama Rama juga meminta susi untuk makan bersama di meja yang sama. Ia merasa Susi seperti Dewi adiknya mengingat mereka seumuran juga.


"Sus, bagaimana kuliah online mu." 


Rama tiba tiba bertanya mengenai kuliahnya Susi. Dia mengetahui itu dari Sita.


"Alhamdulillaah baik pak. Lancar."


"Sus, apa kamu tidak mau kuliah secara offline. Datang ke kampus… Bertemu orang orang dan berteman?" Kini Sita yang berbicara.


"Waduh bu, saya tidak mau serakah. Seperti ini saja saya sudah cukup. Paling nanti akan minta izin kalau ada praktek."


"Bukan begitu sus, kamu kan ambil jurusan keperawatan. Mungkin semester awal masih banyak materinya lha nanti ke sana-sana nya kamu pasti akan banyak praktek."


Susi terdiam, ia membenarkan ucapan Sita.


"Sudah mulai minggu depan kamu datang saja ke kampus. Nanti aku akan cari art lagi. Jadi kamu bisa kuliah dengan tenang."


"Tapi pak…"


"Sudah Sus, ikut pengaturan mas Rama saja. Nanti kamu bisa berangkat bareng aku." Imbuh Dewi yang baru saja pulang dari kampus.


"Kok baru pulang Dek?"


"Iya mas, ada tugas kelompok harus selesai hari ini juga."


"Ya udah makan sekalian."


Dewi mengangguk dan mulai ikut makan malam. Sedangkan Susi hanya bisa pasrah menerima pengaturan dari para majikannya. Meskipun sungguh ia merasa sangat tidak enak namun ia sangat bersyukur semua orang yang ada di rumah ini sangat baik kepadanya.


Makan malam usai, semua orang kembali pada aktivitasnya masing-masing. Sita pun sudah kembali ke kamar. Selama hamil Sita sering kali tidur lebih awal. Hanya tinggal Rama yang masih berada di ruang keluarga sambil menonton televisi.


"Yah, i want to say something."


"Apa boy?"


" Untuk art di rumah ini biarkan aku yang cari ya."


"He… apa ayah tidak salah dengar. Memangnya kamu bisa?" 


"Aku akan minta pada kenalanku orang yang memang ahli di bidangnya tapi tetap mempunyai ilmu bela diri yang mumpuni agar bisa sekalian menjaga orang rumah."


Tuing…..


Kepala Rama seakan diketok menggunakan palu mendengar penuturan Kai. Kai benar benar hati hati dalam segala hal apalagi untuk orang orang terdekatnya.


"Apakah itu perlu boy?"


"Yes Yah, kita tidak akan pernah tahu bahaya seperti apa yang mengintai."


Rama mengangguk setuju dengan ucapan putranya.


" For example, ayah adalah pebisnis besar pasti ayah punya banyak saingan bisnis. Dikhawatirkan mereka bisa saja membuat ulah dengan mencelakakan orang -orang yang dianggap sebagai kelemahan ayah untuk mengancam ayah."


Glek… Rama lagi lagi dibuat terkesima dengan pemikiran Kai. Rama benar benar kagum dengan cara berpikir kai.


"Baiklah boy, ikut pengaturan mu saja jika itu yang terbaik."


"Ok yah. Oh iya yah. Security yang ada di depan dan beberapa penjaga milik ayah sudah aku ganti dengan orang yang ku pilih. Maaf tidak memberitahumu terlebih dulu."


Rama menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sudah kebingungan mau menjawab seperti apa.


" Ok kalau begitu yah, aku kembali ke kamar dulu ada yang harus aku kerjakan."


"Kai…"


"Yes…"


" Bermainlah bersama teman teman mu nak, maksud ayah teman seusia mu."


" Hahaha ayah tidak perlu khawatir. Aku di sekolah sudah cukup bermain. Dan apa yang sedang ku kerjakan ini merupakan mainan ku yang paling menyenangkan. Aku paham kekhawatiran ayah, tapi ayah tenang saja aku cukup punya teman untuk bermain kok."


Kai berlalu menuju ke kamarnya meninggalkan Rama yang masih terbengong-bengong mendengarkan segala hal yang dikatakan putranya itu.


Sejujurnya Rama menaruh kekhawatiran terhadap perkembangan sosial Kai. Rama khawatir Kai tidak bisa bersosialisasi dengan baik. Rama juga khawatir jika Kai terlalu banyak berteman dengan para orang dewasa dan selalu mengerjakan pekerjaannya sekarang ia akan kehilangan masa kecilnya yang tidak akan bisa terulang kembali. 


Namun Rama menyerahkan semua itu kepada Kai, dengan otak jeniusnya itu Kai pasti tahu apa yang dia kerjakan. Tugas Rama adalah menyalurkan rasa kasih sayang dan memperlakukan Kai seperti anak kecil pada umumnya 


"MasyaaAllaah, sebenarnya aku ini hidup di jaman apa. Mengapa sepertinya aku sungguh tidak berarti dibandingkan putraku itu. Apakah secara tidak langsung malah aku yang dilindungi oleh Kai. Jika teman temanku tahu bukankah aku akan diledek habis habisan. Huft… Entahlah. Tapi jujur aku sangat bangga kepada anakku itu."


Meskipun bukanlah darah dagingnya, namun rasa sayang dan cinta Rama terhadap Kai benar benar tulus melebihi hubungan pertalian darah itu sendiri. Rama akan selalu menganggap Kai putra sulungnya. Ya putra sulung yang sangat ia cintai dan banggakan.


***


Di dalam kamar, Kai tengah mengerjakan permintaan Roni. Ia mencari segala sumber dan informasi meski itu sekecil debu pun. Sebelumnya Kai sudah mendapatkan petunjuk dari informasi dasar yang diberikan Roni seperti nama kedua orang tuanya, motor yang dipakai saat itu, rumah sakit tempat dilahirkannya mereka hingga tempat kejadian perkara.


15 tahun yang lalu ya, baiklah saatnya memulai pencarian.


Tangan mungil mulai menari di atas keyboard keyboard komputer miliknya. Bukan hanya satu perangkat melainkan tiga perangkat sekaligus digunakan. Kai memiliki ruangan khusus di kamarnya itu yang isinya adalah perangkat perangkat komputer dengan kualitas wahid. Ada beberapa alat juga yang ia ciptakan demi menyempurnakan penyamarannya sebagai Mr. sun.


Tak… tik...tak...tik…


Bunyi ketukan jari pada keyboard tersebut sungguh terdengar nyaring di telinga. Namun hanya Kai sendirilah yang mendengarnya. Sudah 3 jam namun Kai belum mendapatkan hasil yang signifikan.


Huft… Sepertinya akses informasinya sangat dilindungi. Orang ini bukan orang biasa.


Lagi… Kai kembali mencari data tersebut. Bahkan ia mendapatkan cctv di tempat kejadian perkara.


Cctv nya dapat tapi sepertinya ini sengaja di blur.


Meskipun begitu Kai dapat melihat sebuah mobil menabrak sebuah sepeda motor dengan sangat kencang sehingga membuat pengendaranya terpental dan kepala mereka membentur aspal jalan. Orang itu hanya keluar melihat lalu masuk kembali ke dalam mobil dan pergi dari sana.


Kai mengepalkan tangannya, ia terlihat marah dengan kejadian itu. Dia sungguh tak habis pikir, mengapa ada orang setega dan sekejam itu.


Astagfirullah, benar benar manusia yang kejam dan tidak punya hati. Sudah melakukan kesalahan tapi malah tidak menolong malah dengan tega meninggalkan orang yang tengah sekarat. Awas saja aku akan mendapatkan mu. Alan satu satunya adalah membobol akses pihak berwajib. Halus…..... harus dengan cara halus agar tidak ketahuan.


Tak...tik...tak...tik…


Kai terus menekan tuts keyboardnya dengan penuh emosi.


2 jam berlalu hingga akhirnya Kai mendapatkan titik terang siapa pelakunya.


" Gotcha…. I got you. Astagfirullah… orang ini… apakah dia yang menabrak orang tua om Roni hingga tewas? Jika Om Roni tahu apakah…. Tidak tidak sepertinya aku tidak bisa memberitahukan ini kepada Om Roni."


TBC