
Perjalanan dengan total 2 jam membuat tubuh Sita pegal pegal. Kehamilan Sita kali ini sangat berbeda dengan kehamilan Sita saat mengandung Kai. Saat ini Sita merasa cepat capek, namun dia bersyukur karena tidak mengalami morning sicknes. Hanya sesekali merasa pusing itupun cuma sebentar.
Sita pun tidak terlalu memilih dalam hal makanan hanya ia selalu merasa pengen saat melihat orang lain makan sesuatu dan yang pasti porsinya yang lebih banyak daripada biasanya.
"Yah, dimana mommy."
"Mommy mu sudah tertidur boy. Sepertinya ia sangat lelah."
"Oh baiklah. Oh iya Yah. I want say something."
"What happened boy, it should be important."
"Yah, I want to visit Opa Wira."
Rama terdiam, sejenak ia merasa tidak rela. Namun Rama sadar dia tidak boleh egois bukankah dia yang mengajarkan kepada Kai untuk tidak mendendam dan menerima dengan ikhlas. Rama tau Kai sebenarnya ingin bertemu dengan Dani.
"Baiklah. Ayah akan mengantarmu ke sana. Bagaimana."
"Yes… Thank you ayah. You are the best."
Kai memeluk dan mencium Rama. Hal yang sangat jarang ia lakukan tapi dengan Rama ia mau melakukannya. Rama pun membalas pelukan Kai. Ia tersenyum bangga dengan putranya itu.
"Yah…"
"Yes boy."
" Dulu saat aku lahir apakah ayah yang menggendongku?"
"Yes baby, aku adalah orang pertama yang menggendong mu bahkan sebelum mommy mu. Apakah kau tau waktu itu kau begitu kecil dan masih merah. Aku takut saat itu tapi melihat wajahmu dan tangis mu aku menjadi begitu berani."
Kai menitikkan air matanya, "thanks Yah."
" No boy, aku yang berterima kasih. Kai telah memilih ayah menjadi ayahmu. Dengan hadirnya kamu di dunia ini ternyata membuat hidup ayah semakin berwarna. Apa kau tahu boy ayah sangat mencintaimu."
"Mee too. Kai juga sangat mencintai ayah. Bahkan rasa cinta Kai terhadap ayah tidak bisa dibandingkan dengan rasa hormat Kai kepada opa Wira dan Oma Laila. Mungkin ke daddy Kai hanya sebatas menghormati namun kepada Ayah rasanya begitu lain."
"Tapi ayah harap Kai juga bisa menyayangi Daddy Dani."
"Tenang saja yah. Aku juga sedang berusaha untuk itu. Apa ayah tahu kemarin perusahaan Daddy hampir pailit?"
"Yes.. Ayah melihatnya di portal berita. Tapi sepertinya sudah kembali stabil."
"Yeah… karena aku memberikan $200.000 untuk mereka dengan syarat share saham 30%. Jadi sekarang aku salah satu pemegang saham di Maja Elektronik."
"Masyaallah Kai. Bagaimana kamu bisa secerdas itu."
"Naluri Yah. Aku hanya mengikuti naluri ku."
Rama hanya menggelengkan kepalanya, ia sangat takjub dengan putranya itu. Bagaimana bocah seusia dia bisa berbisnis secara profesional. Rama yakin jika Kai suatu hari nanti akan jadi seorang pengusaha sukses.
Percakapan ayah dan anak itu berlanjut dengan sangat antusias. Kai sangat menyenangkan diajak berbicara mengenai hal apapun.
" Bos, apa kamu mau mendaki gunung bersama Ayah?"
" Woah… bener yah? Mu banget."
"Nanti coba ayah tanya ke uncel Juna, uncle Sukhdev, sama Uncle Charles. Mereka sahabat-sahabat ayah. Siapa tahu mereka juga mau. Kami sudah lama tidak berkumpul."
"Baiklah yah. Sepertinya akan seru." Kai berucap antusias karena memang ia belum pernah mendaki gunung sama sekali.
🍀🍀🍀
Lepas sholat zuhur, Rama mengantarkan Kai ke kediaman Wira.
Tok...tok...tok…
"Assalamualaikum,...." Ucap Rama dan Kai bersamaan.
"Waalaikumsalam." Suara seorang wanita paruh baya menjawab dari dalam rumah.
Cekleeek….
Laila keluar dari sana. Ia begitu terkejut melihat Rama bersama dengan Kai.
" Ya Allaah Kai… oma rindu sekali dengan kamu nak."
Laila sedikit berteriak dan langsung memeluk Kai. Meski agak tidak nyaman Kai membiarkan oma nya itu melakukannya. Terakhir bertemu saat mereka masih di kota K dan memang selama mereka di kota J Kai maupun Sita tidak memberi kabar apapun kepada Laila dan Wira.
"Maaf nak Rama sampai melupakan nak Rama."
"Tidak apa apa tante, saya maklum."
Mereka duduk di sofa ruang tamu. Laila pergi ke dapur sebentar sambil memanggil Wira. Mengetahui cucunya ada di rumah, Wira yang tengah memberi makan ikan langsung melempar pakan ikan ke kolam sekaligus lalu langsung berlari kecil ke ruang tamu untuk menemui Kai.
"Ya Allaah Kai, opa rindu sekali."
Lagi lagi Kai membiarkan dirinya di peluk.
"Bagaimana kabar opa dan oma."
"Baik sayang, bagaimana kabar Kai dna mommy?"
"Baik opa, sekarang mommy sedang mengandung adik Kai."
Wira dan Laila tampak sangat terkejut mereka saling memandang.
"Ekhem… maaf tante dan om. Kami lupa memberi kabar kepada om dan tante. Kami memang tidak mengadakan resepsi karena satu dan lain hal. Minta doanya saja supaya pernikahan kami sakinah, mawadah, warohmah."
Mendengar penjelasan Rama, Wira dan Laila hanya tersenyum. Mereka merasa bahagia akhirnya Sita menemukan pendamping hidup yang baik. Wira sendiri mengenal Rama, Rama adalah pemuda yang baik menurutnya.
"Selamat, kami ikut bahagia atas pernikahan kalian."
"Terimakasih tante."
"Hahahah, om jadi inget Ram sesaat sebelum kamu keluar dari ruang rawat Sita saat melahirkan Kai, bahwa kamu siap jadi ayahnya Kai dan ucapan mu itu terwujud sekarang. Selamat nak, jaga Kai dan Sita dengan baik."
"Hahaha Om masih ingat saja. Mungkin itu yang dinamakan ucapan adalah bagian dari doa dan doa itu diijabah oleh Allaah. Insya Allah Om, saya akan menjaga Kai dan Sita seperti saya menjaga nyawa saya sendiri."
Wira dna Laila tersenyum. Mereka percaya Sita akan bahagia bersama dengan Rama.
"Ya sudah om...tante… Saya pamit undur diri."
"Lho… kenapa cepat sekali. Om sama tante masih kangen sama Kai."
Rama tersenyum dan menatap Kai. " Om.. Tante.. Rama akan meninggalkan Kai di sini. Nanti malam baru Rama akan jemput. Kasian Sita takut nyariin."
"Ooh begitu, benar Kai akan tinggal?"
"Iya oma, Kai akan disini sampai makan malam."
"Baiklah kalau begitu om tante saya pamit. Kai jangan rusuh oke boy."
"Oke ayah."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Sepeninggalnya Rama, Laila langsung mengajak Kai untuk makan siang. Kai menurut, ia sengaja belum makna tadi karena ia yakin pasti omanya akan mengajaknya makan.
"Sayang, Kai mau apa nak."
"Apa aja oma. Kai tidak pemilih. Oma tahu itu."
"Hahaha kamu memang anak yang pintar."
Laila dan Wira sungguh sangat senang bisa menghabiskan waktu bersama cucunya meski hanya sebentar. Wira antusias sekali mengajak Kai berkeliling rumah.
"Apakah kamu capek nak."
"Hmmm sedikit opa."
"Baiklah ayo ke kamar daddy mu dna istirahat di sana."
Wira membawa Kai menuju kamar Dani, "masuklah dna istirahatlah."
Kai memasuki kamar Dani. Di sana banyak sekali foto foto Dani bersama Sita. Bukannya istirahat Kai malah melihat satu persatu foto kedua orang tuanya itu. Di sana Sita muda selalu tersenyum ke arah kamera. Senyum yang sangat cantik. Di foto tersebut tampak Sita dan Dani saling mencintai.
Tes…. Air mata Kai tiba tiba menetes.
"Pantas saja mommy begitu sangat sedih, sakit hati dan kehilangan. Dulu mommy begitu mencintaimu, dan dengan teganya kau mengkhianati cinta mommy ku. Mom, kau harap kau selalu bahagia dengan ayah Rama. Aku yakin ayah Rama adalah orang yang baik dan tidak akan pernah mengkhianatimu, tidak seperti daddy ku itu."
TBC