
Kai yang melihat sang mommy menggerakkan matanya dan kemudian mengedipkan matanya sangat terkejut. Ia berteriak senang. Begitu juga dengan Rama, air matanya lele keluar.
"Sayang… ini aku."
Rama lalu berteriak memanggil semua orang yang ada disana. Dan meminta tolong Dewu atau siapa saja untuk menghubungi Dokter Dika.
"K-ka-ai, b-be-b-by. M-mas."
"Yes Mom, I'm here."
"Ma-maafin mom-my."
"No mom, kai yang harusnya minta maaf."
"Bukan sayang, semua ini salahku. Maaf aku tidak bisa melindungimu dengan baik."
Rama meneteskan air matanya lagi. Tapi Sita menggeleng, Rama paham lalu dia menghapus air matanya dengan cepat.
Semua tersenyum, satu persatu menghampiri Sita untuk mengucapkan selamat. Tatapan Sita tertuju pada Hardi, Ayu, dan Dewi. Rama yang paham apa arti tatapan istrinya itu tersenyum.
"Mereka keluargaku. Ayah, ibu, dan adikku."
Sita membulatkan matanya mendengar penuturan Rama. Hardi, Ayu, dan Dewi tersenyum dan mengangguk.
"Ya Allaah, ternyata selama ini aku sudah kenal dengan keluarga mas Rama. Tapi mengapa mereka di sini. Lalu ini juga bukan rumahku. Terus mas Rama tadi memanggilku sayang. Sebenarnya apa yang terjadi selama aku tidak sadar?" Sita bertanya dalam hatinya. Ingin rasanya mengatakan itu sekarang tapi bibirnya masih sangat kelu.
"Assalamualaikum." Dokter Dika datang dan masuk ke kamar diantar oleh Susi.
"Dok… mommy ku sudah bangun. Dok." Terika Kai senang.
"Yes boy, selamat ya. Selamat untuk semuanya. Baiklah. Ijinkan saya memeriksa bu Sita sebentar."
Dokter Dika mendekat ke arah Sita nmaun Kai dna Rama tidak menjauh sedikitpun dari sana. Dokter Dika hanya tersenyum melihat tingkah kedua pria beda usia itu.
15 menit berlalu, dokter Dika mengatakan semuanya normal. Tapi lebih baik dibawa untuk tes di rumah sakit agar semuanya jelas.
"Terimakasih dok." Ucap Rama.
"Sama -sama pak Rama. Saya tunggu anda dan istri anda di rumah sakit untuk pemeriksaan menyeluruhnya" Jawab Dokter Dika.
"Baik Dok, saya akan segera datang."
Dokter Dika mengangguk, lalu berjalan keluar diantar oleh Hardi dan Ayu. Semua nya pun ikut pergi untuk memberi waktu kepada Rama dan Kai menumpahkan kerinduan mereka.
"I-istri??" Mata Sita melotot tajam ke arah Rama. Rama yang tau ia tengah mendapat tatapan introgasi dari istrinya hanya tersenyum bodoh dan mengusap tengkuknya. Namun secepat kilat ia langsung merubah ekspresinya.
"Ekhem… sayang...istriku. Maaf aku harus menikahimu saat dalam kondisi koma kemarin. Kamu koma hampir 2 minggu. Dan ingin membawamu ke rumah agar bisa melindungimu. Kamu tahu kecelakaan kita itu ternyata atas suruhan sahabat ayah yang menggelapkan dana perusahaan."
Sita hanya diam mendengarkan penjelasan Rama. Aku memang berjanji akan membuka hatiku, tapi… menikah, ya Allaah bagaimana ini aku tidak menyangka akan secepat ini menikah dengan mas Rama, batin Sita gamang.
Rama tau diamnya Sita itu tengah gelisah dengan hati dan pikirannya. Rama mengajak Kai untuk membanyu Sita menyandar. Kemudian Rama meraih tangan Sita.
"Ta, maafkan aku. Aku tau kamu pasti marah. Tapi aku serius dengan pernikahan ini. Seandainya pun kita tidak mengalami kecelakaan aku tetap akan menikahimu, sebenarnya hari itu aku mau mengajakmu ketemu sama ayah dan ibu di puncak. Tapi Allaah punya rencana lain yakni ya kita saat ini disini. Ta… aku tidak akan memaksamu untuk cepat menerimaku. Aku akan menunggumu sampai kamu siap."
Rama mengakhiri ucapannya dengan senyuman dan mencium tangan sita dengan lembut.
"Mom, kai mengijinkan ayah menikahi mommy karena Kai tahu ayah bisa membuat mommy bahagia. Kai tidak ingin melihat mommy menangis lagi setiap malam."
Kata kata Kai sukses membuat Sita tertunduk. Kristal bening mulai luruh di kedua matanya. Ternyata selama ini putranya itu mengetahui kesedihannya, padahal Sita selalu menutupinya.
"Kai… peluk mommy mu." Ucap Rama.
Kai Pun mendekati Sita lalu mencium pipi Dita dan memeluknya. Sita menangis tersedu. Meminta maaf akan ketidakberdayaannya. Ia memang terlihat kuat didepan namun pada kenyataannya ia adalah wanita yang lemah juga, wanita yang butuh sandaran untuk menopang tubuhnya dikala lelah menggelayut.
"Ma af kan mom my ya.." Sita berkata terbata.
Sita terdiam, ia mengambil nafasnya dalam lalu mengangguk, "i-iya. Lagian kita juga sudah menikah kan. Ayo jadikan pernikahan kita sakinah mawadah warohmah."
Rama tersenyum senang, hatinya seakan ditumbuhi bunga bunga yang bermekaran.
"Terima Kasih sayang. Terimakasih." Rama pun mendekat dan mencium kening Sita sekilas. Lalu mereka bertiga berpelukan.
"Auh…. " Rama mengaduh.
"Why yah?" Tanya Kai.
" Dada ayah yang kanan terlalu menekuk jadi sakit."
"Hati hati mas, kita masih sama sama harus segera sehat."
"Iya betul sekali, karena ada kewajiban yang harus dijalankan." Rama mengedipkan sebelah matanya.
Blush…. Wajah Sita merona seketika. Ia paham betul apa yang dimaksud pria di depannya yang sekarang berstatus menjadi suaminya itu.
🍀🍀🍀
Di ruang rapat perusahaan Maja Elektronik suasananya menjadi gelap mencekam. Dari tadi ada saja yang salah di mata Dani. Entah laporan keuangan tidak rapi, distribusi produk yang tidak sesuai jadwal, banyaknya komplain konsumen soal pengiriman barang dan pesanan, pokoknya semuanya kacau. Anton hanya bisa membuang nafasnya kasar menyaksikan sang tuan marah marah. Memang bukan tanpa alasan, karena semua itu benar terjadi dan tidak mengada-ada.
"Aku minta kalian selesaikan masalah ini dalam waktu 2 hari. Aku tidak mau tahu. Jangan hanya minta gaji gede aja tapi kerja tidak ada yang becus!!"
Semua menunduk, baru kali ini ia melihat bos mereka marah.
Brak…..
"Kalian dengar tidak?!!!"
"Baik pak" Jawab semua orang serempak.
Dani pun keluar dari ruang rapat smabil membanting pintu.
Dar…..
Semua yang ada di sana benar-benar terkejut. Anton yang tahu tuannya dalam mode iblis pun segera menyusul. Ia tidak mau kena getah selanjutnya.
"Busyet pak Dani kalo marah serem juga."
"Iya… astaga, ngeri."
"Dah jangan banyak omong ayo kerjain, kalo nggak kita nanti bisa di out dari perusahaan."
Beberapa karyawan membicarakan tentang kemarahan Dani yang membuat mereka bergidik ngeri. Sedangkan di ruangannya Dani langsung duduk di kursi miliknya, menyandarkan punggung dan meregangkan dasi yang terasa begitu sesak membelit lehernya.
"Dasar kerjaan nggak ada yang beres. Nggak becus." Omel Dani.
Haish… ternyata masih berlanjut ngomelnya sampai kesini. Sepertinya doi belum puas tadi ngomel sepanjang rapat, batin Anton.
"An…."
"Siap tuan."
"Adakah kabar mengenai Sita dan Kai?"
"Tidak Tuan, terakhir saya kesana malah rumah mereka kosong sudah beberapa hari."
"Ya Allaah Ta, ngilang kemana lagi kamu?"
Dani mengacak rambutnya frustasi. Ia benar benar tidak ada petunjuk tentang keberadaan Sita saat ini. Jika tau akan kehilangan seperti ini maka saat ia ada kesempatan tidak akan ia lewatkan. Dani tergugu ,Anton pun perlahan melangkah mundur dna meninggalkan ruangan Bos nya itu. Membiarkan Dani meluapkan perasaannya.
TBC