
" Astagfirullah…..!!"
Kai melihat rekaman cctv nya satu per satu. Ia menemukan sebuah kejanggalan. Cctv itu berhenti di dua jam yang lalu. Kai kembali memutar nya, tampaknya ada yang mematikan kamera pengawas di rumahnya.
Namun Kai mencoba untuk tenang, ia bangkit dari duduknya dan mengelilingi rumahnya. Kai memiliki keyakinan, jika ada sesuatu yang salah di rumah pastilah anak buah Q akan melapor padanya.
" Aku tidak mungkin kecolongan, jika si nenek tua itu bergerak kesini aku yakin mereka tidak akan mudah menyentuh keluargaku." Kai bergumam selama dirinya berjalan mengitari rumah.
Tidak mau berlama lama dalam kegundahan Kai mengambil ponselnya dan menghubungi ayah dan mommy nya. Namun nihil tidak ada jawaban dari keduanya. Kai lalu menghubungi Ale. Terhubung.
" Hallo Al…"
" Ya tuan muda. Ada apa?"
" Haish… kemana semua orang Al. Mengapa tidak ada satupun orang di rumah. Sepi sekali."
" Maaf tuan muda kami berada di rooftop."
Kai sedikit curiga pasalnya Ale berbicara dengan setengah berbisik.
" Apa yang direncanakan orang rumah."
" Maaf tuan muda saya tidak bisa memberitahukan"
" Baiklah.."
Kai menutup sambungan teleponnya. Ia sedikit penasaran namun juga bernafas lega karena dia tahu semua orang baik baik saja.
Adzan maghrib berkumandang. Kia memutuskan untuk sholat sendiri di mushola. Ketika salam tanda berakhirnya sholat diucapkan terdengar suara ketukan pintu.
Tok...tok...tok….
Kai berjalan ke arah asal suara lalu membukanya.
Ceklek…..
Kai mengernyitkan keningnya lalu membuang nafasnya kasar. Meskipun dia belum pernah melihat orang yang ada di depannya namun ia tahu siapa orang tersebut.
" Mana ibu sialan mu itu!"
Kai mengepalkan tangannya mendengar umpatan ditujukan pada mommy nya. Secepat kilat wajah orang tersebut langsung di tinju oleh Kai.
Bugh….
Mendengar suara pukulan, beberapa penjaga bayangan yang ditempatkan Q pun bergegas keluar.
" Apa anda terluka tuan?"
" Tidak… kau baik baik saja. Bawa bedebah ini ke tempat lain. Aku sangat muak melihat wajahnya. Kalian tahu apa yang harus dilakukan kepada tamu tak diundang."
" Baik tuan… sesuai keinginan tuan."
Orang itu langsung dicekal oleh beberapa pengawal. Ia hendak berteriak namun mulutnya sudah terlebih dibungkam, sehingga hanya kakinya saja yang meronta.
" Sepertinya mood tuan sedang buruk."
" Iya… Apa kau melihat tatapan matanya tadi. Sungguh mengerikan. Hampir mirip kalau Queen marah."
" Betul… aku tadi juga melihatnya."
Orang yang tengah digelandang itu hanya menyipitkan matanya mencoba siapa yang dimaksud oleh para bodyguard ini.
Apa bocah tadi yang mereka maksud. Dasar banci, sama anak kecil saja takut. Heh…. Sial… sebenarnya siapa orang orang ini. Dasar bocah brengsek… lihat saja jika aku terlepas aku akan menghancurkannya beserta ibunya, gumam orang itu.
***
" Huft… belum apa apa udah muncul aja. Sepertinya aku harus bergerak."
Kai kembali masuk ke rumah dan hendak pergi ke kamarnya namun tiba tiba tangannya sudah ditarik oleh Akhza dna Abra.
" Eeeh… Ada apa… mengapa tarik tarik begini."
" Stttt…. Kali ini abang patuh ya." Ucap Abra.
" Abang jongkok dong."
" Mau apa sih Za…."
" Udah nurut aja."
Kai pun pasrah dengan ulah adik adiknya. Niatnya melanjutkan rencananya sepertinya harus ia pending terlebih dulu.
" Oke done… abang ikutin kita ya."
Ternyata Akza memberikan kain untuk menutup mata Kai. Kai pun mengangguk menuruti kemauan Akhza dan Abra. Mereka berjalan dengan Kai yang digandeng oleh kedua adiknya itu. Tapi Kai paham mereka tenga berjalan menaiki tangga.
"Rooftop…"
" Sekarang abang buka tutup matanya ya." Pinta Akhza.
Surprise……..
"Happy Birthday abang……!!!!"
Happy birthday abang…Happy birthday abang…
Happy birthday…. Happy birthday… Happy birthday abang…
Lantunan lagu selamat ulang tahun itu memenuhi rooftop. Dekorasi lampu lampu bohlam terlihat sangat cantik dan estetik. Ini merupakan ulang tahun yang luar biasa.
Semua orang yang berada di rooftop berteriak mengucapkan selamat ulang tahun untuk Kai. Kai terharu karena dia sendiri lupa tanggal ulang tahunnya. Bukan hanya tahun ini, tapi setiap tahunnya Kai memang tidak pernah ingat ulang tahunnya. Tapi Kai mengingat seluruh tanggal ulang tahun keluarganya.
Kai tampak terharu. Semua orang ada di sini sekarang. Kai memindai satu persatu. Dady dan mama, Opa dan oma, kedua eyang, onti Dewi, Om Roni, Om Adit bahkan mbak Susi juga ada di sini.
Kai berjalan mendekat, satu per satu mengucapkan selamat kepada sulung di rumah ini.
" Selamat ulang tahun abang…."
" Terimakasih semuanya. Aku saja lupa kapan ulang tahunku.
" Abang kan emang gitu."
Celetukan si bungsu Ana membuat seisi rumah tertawa.
" Haish… apa kalian semua tahu aku tadi sungguh khawatir. Saat pulang rumah begitu sepi. Bahkan kau Ale… kau juga tidak ada di tempatmu. Mana cctv mati juga."
" Maaf tuan muda saya diancam oleh ketiga adik tuan." Ucap Ale pasrah.
" Maaf bang… tadi Akhza yang matiin cctv."
" Kali ini kalian ku ampuni. Tapi tidak lain kali."
Semua tertawa. Suasana bahagia itu benar benar terasa. Kai bernafas lega melihat satu per satu wajah bahagia keluarganya. Apalagi wajah Sita, ia sungguh akan berusaha sekuat tenaga untuk selalu membuat wajah mommy nya bersinar dan tersenyum.
🍀🍀🍀
Di negeri tempat jam terkenal Big Ben berada tampak Ernest tengah duduk melamun di taman mansion miliknya. Tubuhnya memang berada di sini namun pikirannya berada di negeri kepulauan sana.
Huft….
Ernest menghembuskan nafasnya. Udara dingin tak serta merta membuatnya ingin masuk. Ia memanggil seorang maid.
" Give me a cup of hot chocolate."
" Yes Sir."
Ernest kembali mengingat putrinya. Dalam hatinya masih terbesit harapan bahwa di akan bisa menemui Sita.
" Mungkin ini adalah balasan Tuhan untukku. Sesuatu yang sudah ada didepan mata tak kunjung bisa aku raih. Sungguh ini membuat hatiku sangat sakit. Apakah waktu itu seperti ini perasaan Camelia?"
Seorang maid datang memberikan apa yang diminta oleh Ernest.
" Dorothy… wait… I want to ask you. "
" Yes Sir, what happened?"
" How long have you worked in my mansion?"
" if I'm not mistaken about 40 years sir"
Ernest menegakkan tubuhnya. Ia menatap lekat mata Dorothy. Sekarang Ernest malah meminta Dorothy untuk duduk. Wanita paruh baya itu sedikit canggung ada gurat ketakutan dalam wajahnya.
" Berarti kau tahu apa yang terjadi saat aku tengah pergi bertugas?"
Dorothy mengangguk.
" Mengapa kau tidak mengatakan apapun padaku, Kau tahu aku hampir gila mencari Camelia."
Dorothy mulai menangis. Ia menyadari kesalahannya namun ia tidak bisa berbuat apapun. Waktu itu usianya masih 15 tahun. Dia masih sangat naif.
" Apa kau diancam?"
Dorothy mengangguk. " Saya sudah bersumpah juga tidak boleh membuka mulut saya tuan."
Ernest terdiam, bagi para maid di mansion ini sumpah bagaikan nyawanya. Tiba tiba Ernest tersenyum simpul. Ia menemukan sebuah cara yang cukup licik namun harus dilakukan.
" Kau memang bersumpah tidak akan membuka mulutmu, tapi… kau tidak bersumpah untuk tidak menggunakan tanganmu bukan?"
Dorothy mengerutkan keningnya. Ia belum paham sampai tuannya itu memberikan sebuah buku dan pena. Rupanya Ernest meminta Dorothy menuliskan kejadian yang sebenarnya.
Dorothy mengangguk patuh dan mulai menulis cerita puluhan tahun silam.
TBC