After World Breaker

After World Breaker
Chapter 37: Awal aktivitas di akademi


Di akademi Hearterra, para murid baru mulai melakukan aktivitas mereka sebagai murid. Pada sekitar jam 7 para murid akan sarapan di kantin atau bisa di beberapa tempat di akademi. Murid-murid yang baru daftar dibari kebebasan hingga hari ini, dimana besok akademi akan memulai aktivitas seperti biasa.


Allenz dan yang lain makan bersama di kantin, disini mereka membahas soal mereka yang mendapat kelas yang sama.


Teresa menjadi penasaran siapa yang akan menjadi pengajar tetap di lekas mereka. "Aku penasaran siapa yang menjadi pengajar kita ya?"


Hans menjawab. "Bergembiralah, kakakku yang akan menjadi pengajar tetap dikelas kita."


Teresa langsung berdiri dan semangat mengetahui jika pengajar mereka adalah putri Rose. "Benarkah?! Kau serius?!"


"Tentu... Tapi untukmu, bagiku tidak." Ucap Hans dengan wajah bermasalah.


"Memangnya ada apa? Kau tidak menyukai kakakmu?"


"Kurang lebih begitu."


Teresa menjadi bingung melihat tanggapan Hans, tidak lama berselang kembar Poeter datang. Mereka sudah membawa sarapan mereka pada nampan yang mereka bawa masing-masing.


"Apa kami boleh bergabung?" Ucap Josef.


"Tentu." Jawab Allenz.


Kedua anak kembar itu ikut bergabung satu meja dengan yang lain. Mereka membawa sup dengan roti dan susu untuk sarapan mereka.


Josef mengungkapkan ketidaksabaran dirinya untuk mengikuti kelas musik saat besok hari setelah jam akademi selesai. Itu juga ditunjukan Joanna yang tidak sabar untuk mereka yang ikut kelas tambahan besok.


"Kalian semangat sekali, ya." Ucap Allenz.


Ucapan Allenz di jawab langsung bersamaan oleh Teresa, Joanna dan Josef. "Tentu saja!"


Ketiganya terkejut mengatakan hal yang sama dan disaat bersamaan pula.


"Pftt hahaha!!" Teresa tertawa mengetahui mereka mengucapkan kata yang sama.


"Hahaha! Aku tidak menyangka kita akan mengatakan kata-kata yang sama." Ucap Joanna sambil ikut tertawa juga.


Hans melihat juga beberapa senior yang cukup populer makan cukup jauh dari mereka. Allenz bertanya pada Hans apa yang dia lihat. Hans menjawab, dia hanya melihat beberapa senior yang tengah makan, dan beberapa dari mereka seperti berbicara sesuatu.


Allenz bertanya lagi. "Memangnya mereka membahas apa?"


Hans dengan nada malas dan menguyah makanannya. "Paling hendak melamar teman seangakatannya."


Allenz melihat senior itu kembali, dan dia melihat beberapa gadis pergi dengan membawa nampan mereka dan pindah ke meja lain. "Bagaimana kau tau?"


Sambil menguyah makanan di mulutnya, Hans menjawab. "Biasanya, beberapa anak bangsawan akan di minta oleh orang tua mereka untuk mencari pasangan anaknya di akademi, setelah menemukan pasangan yang cocok, sang anak yang masih murid bisa saja bertunangan saat sekolah atau setelah lulus. Tapi, ada juga yang setelah lulus mereka langsung menikah."


Allezn sedikit paham, tidak heran dia mendapat rumor bahwa beberapa murid masuk ke akademi hanya untuk mencari jodoh saja.


Melanjutkan kembali sarapan miliknya, Hans, Allenz, dan Josef sibuk pada makanan mereka masing-masing.


Pada saat mereka sibuk, terdengar keributan dari jauh. Mereka berenam lantas melihat sumber suara, itu berasal dari tempat senior yang baru saja mereka bicarakan. Hal ini mengundang beberapa perhatian siswa yang ada di kantin, termasuk para penyaji makanan disana.


Bahkan, hingga beberapa siswa membuat kerumunan. Allenz dan Hans merasa itu bukanlah urusan mereka, dan kembali fokus pada sarapan masing-masing, begitu juga Nayaka. Berbeda dengan mereka, si kembar dan Teresa nampak khawatir soal masalah yang terjadi. Dia bahkan meminta pada Hans untuk menggunakan wewenang dirinya disini.


Hans beralasan, status dirinya disini hanya "murid" bukanlah "pangeran". Jadi menurutnya itu bukan urusannya.


Tanggapan itu mendapat komentar dari Joanna, dia berpendapat ada yang menghentikan perselisihan itu. kali ini Nayaka menjawab, jika mereka ingin menghentikan perselisihan itu, maka pergilah dan hentikan perselisihan itu saat ini juga.


Mendenger ucapan nayaka, ketiganya terdiam. Nyali mereka tidak sebesar itu, itulah mengapa mereka meminta Hans yang memiliki kedudukan tinggi untuk melerai masalah itu.


Allenz menimpal juga, mereka telah diajarkan untuk tidak terlibat konflik yang bukan tanggung jawab mereka, jika mereka ikut campur, maka masalah itu akan semakin buruk dengan adanya banyak pihak yang terlibat. Itulah mengapa mereka tidak mau ikut campur urusan orang lain, dan menurutnya mereka lebih baik memanggil guru.


Kegaduhan  itu bahkan membuat beberapa orang panik dan histeris, ini membuat Hans, Allenz dan Nayaka menjadi mood yang buruk. Hans bahkan sudah tidqak menyentuh makanannya, dia sampai mendorong piringnya ke tengah meja, tanda dia sudah malas makan.


Joanna melihat Allenz dan Hans yang sudah tidak nafsu makan, ini buruk. Temannya sendiri bahkan sudah tidak mau makan akibat keributan yang ada. Joanna lantas menyarankan mereka untuk pergi saja, karena mungkin bisa saja itu membuat mood mereka membaik.


Yang lain setuju, mereka berdiri dari kursi masing-masing, hingga suara dari kerumunan itu terdengar oleh telinga mereka.


"Kau seharusnya bangga! Kau hanya rakyat jelata lebih baik diam?! Keluargaku ini adalah duke! Bahkan raja saja sampai butuh membungkuk pada keluargaku! Jadi kau harus menerimaku?!" Ucap seseorang dari kerumunan.


Suara keras itu membuat orang-orang disana panik, karena itu seperti menghina keluarga kerajaan. Perkataan itu juga sampai ketelinga Hans. Joanna, Josef dan Teresa menjadi semakin panik, dan mereka lantas memaksa yang lain utnuk cepat keluar.


Allenz terdiam, tidak lama dia bersiul. Suara itu membuat si kembar Poeter bingung kenapa Allenz bersiul pada saat ini. Hasil siulan itu membuat kerumunan pada depan mereka menyingkir, Allenz menggunakan sihir angin untuk membuka jalan. Dan dengan amarah Hans mengambil mangkok Josef dan melemparnya pada orang yang berani-beraninya menghina ayahnya.


Mangkok itu melesat dan mengenai kepala si pembuat onar dengan keras, membuat para siswa yang berkerumun terkejut, dari adanya sihir angin yang menyingkirkan mereka, sampai sebuah mangkok melayang.


Sang pembuat onar kepalanya yang sakit akibat terkena sebuah mangkok, memegang bagian yang sakit. Dia menjadi marah dan bertanya siapa yang melempar mangkok itu, dan disahut oleh Hans bahwa dirinya lah yang melempar mangkok itu.


Semua siswa lantas mundur untuk menjauh, mereka tidak menyangka akan adanya sang pangeran sendiri. Semua orang disana menjadi diam setelah kedatangan Hans.


Hans menatap seniornya dengan amarah, Hans juga melihat sekitar. Hendak mengetahui apa masalah yang terjadi sebelumnya, dirinya melihat senior laki-laki yang tergeletak dilantai dan tengah dipegang oleh senior perempuan. Hans nampaknya tau apa yang terjadi, sebuah hal klise yang tidak ingin dirinya lihat.


Menatap kembali sang pembuat onar, Hans bertanya soal ucapan yang dilontarkan tadi. "Alasan apa kau menyebut ayahku?" Ucapnya dengan mata tajam, dia tidak peduli jika orang yang ada didepannya adalah senior atau guru. Jika ada yang berani mengatakan hal buruk soal keluarganya, maka dia tidak akan segan menghadapi orang itu.


Orang itu terdiam, dirinya tidak menduga adanya Hans, ini diluar dugaan. Padahal dia bisa saja mendapatkan seorang gadis dari satu kelas dibawahnya. Tapi, akibat ucapannya sendiri itu membuat pangeran bungsu Hearterra marah.


Semua orang terkejut dengan suara itu, mereka tidak menyangka ada seseorang yang sudah berada di tengah-tengah mereka, tanpa mereka sadari kehadirannya.


Dengan tersenyum. Zen melanjutkan. "Kenapa diam? Hajar saja, itu akan jauh lebih baik dan kau akan puas setelahnya." Zen lantas menatap sang pembuat onar. "Jadi, bagaimana? Kau mau saling hajar atau meminta maaf disini? Karena secara tidak langsung, kau baru saja mempermalukan dirimu sendiri pada semua orang yang menyaksikan disini."


Si pembuat onar bertanya pada Zen, siapa Zen ini. "Kau ini siapa? Berani ikut campur?!"


Zen mengerutkan keningnya, seharusnya beberapa siswa yang senior sudah mengenal dirinya. "Apa kau tidak mengikuti sesi pengenalan guru sebelumnya? yang dilakukan kembali kemarin, bahkan wajib diikuti oleh semua siswa senior. Aku ada disana, dan entah mungkin kau tidak ikut atau alasan lainnya."


Murid itu membalas. "Untuk apa aku mengikuti hal itu? Aku berhak melakukan apa yang aku mau lakukan."


"Kau ini tidak punya sopan santun ya? Jadi selama kau bersekolah disini kurang tiga tahun untuk apa?" Ucap Zen dengan memejam matanya dan memiringkan kepalanya, seakan bertanya pada anak itu seperti sekolah itu hal yang tidak berguna.


"Sopan santun? Seharusnya rakyat jelata yang menpunyai sopan santun! Mereka harus patuh pada sesorang yang memiliki kasta lebih tinggi dari mereka." Balas si pembuat onar.


Menghela nafas panjang, Zen berkata lagi. "Entah kenapa aku menjadi meragukan dirimu ini seorang bangsawan. Tapi, ya sudahlah." Zen lantas mendekati anak itu.


Semua siswa dan siswi menjadi diam saat melihat apa yang Zen lakukan pada anak itu, mereka melototkan mata mereka, sebagian tidak ingin melihat apa yang dilakukan oleh Zen. Kedua siswa dan siswi yang terlibat dengan si pembuat onar di bantu untuk menjauh juga. Hans bahkan menjadi diam melihat apa yang Zen perbuat pada anak itu.


Tak lama beberapa guru datang, dan bertanya apa yang terjadi, mereka hanya menemukan Zen yang tengah menyeret seorang anak murid keluar dari kantin, dan bertemu di pintu keluar.


Seorang guru wanita bertanya pada Zen apa yang terjadi. "Sir Zen, apa yang terjadi?!"


Sambil tersenyum, Zen menjawab. "Hanya seorang siswa yang tertimpa piring dan kepalanya menghantam meja, kok bu."


Tapi apa yang mereka lihat, sangat jauh dari apa yang dikatakan oleh Zen. Siswa itu seperti menerima banyak tonjokan pada wajahnya hingga menjadi babak belur, hidungnya sampai mengeluarkan darah, sampai bibir bawahnya cukup bengkak.


Zen lantas permisi dari sana dan membawa si siswa itu. sang guru wanita mantap pada para siswa disana, dan hanya keheningan saja, semua siswa disana tidak ada yang mau menjawab.


"APA YANG TERJADI DISINI?!" Ucapnya dengan nada tinggi dan penuh emosi.


Zen membawa siswa itu ke ruang perawatan, dan dia membaringkan siswa itu disana. Setelah menaruhsang siswa, dia keluar dari ruangan tersebut, hendak mencari perawat. Dia berpas-pasan dengan guru tadi yang datang saat Zen keluar membawa murid yang membuat kegaduhan. Setelah mendengar penjelasan para siswa disana, dia lantas buru-buru mengejar Zen, dan berakhir bertemu dengannya disini.


"Maaf, apa anak itu baik-baik saja?!" Ucap wanita itu.


"Aku rasa belum, kita butuh perawat saat ini." Jawab Zen.


Tak lama, muncul Rose bersama dengan seorang pria yang seperti bangsawan. Zen terkejut dengan ke datangan Rose dan pria misterius yang tidak dia kenal itu.


"Tuan Putri dan... " Wanita itu lantas diam saat melihat pria yang bersama Rose, dia menundukan kepala.


Zen bertanya kedatangan Rose. "Kenapa anda ke sini, putri Rose?"


"Setelah mengetahui bahwa anak yang dibawa oleh tuan Zen tadi, saya lantas memanggil ayahnya ke sini, dan perawat akan datang setengah jam lagi." Ucap Rose sambil memperkenalkan pria disampingnya adalah ayah dari si pembuat onar.


"A-ayahnya?!" Zen terkejut mengetahui pria yang bersama Rose adalah ayah dari anak tadi.


Sang ayah itu lantas bicara. "Masih perlu setengah jam lagi, ya?"


"Iya, maaf keterlambatan kami, menangani anak anda." Ucap Rose yang meminta maaf.


Sang ayah dari anak tersebut berbicara. "Anda tidak perlu meminta maaf putri, lagi pula setengah jam ini akan aku gunakan untuk memberi pelajaran pada anak itu, sampai perawat datang."


Rose, Zen dan guru lainnya terdiam, ayah itu lantas masuk ke ruangan perawatan, dari sana mereka mendengar suara pukulan yang cukup keras sampai keluar ruangan. Ketiga orang diluar ahnya bisa diam sambil tersenyum kaku, dan tidak menyangka ayah dari anak itu akan mengambil tindakan sejauh ini.


Hingga setengah jam berlalu, suara di ruangan perawatan terhenti, tidak ada suara pukulan tau seperti sesuatu yang patah terdengar lagi. Bahkan, perawat datang bersamaan ayah dari anak itu keluar dari sana.


Dengan tangan yang merah, dan beberapa darah pada tangannya. Dia pamit dari situ, dan keluar, membiarkan dua perawat masuk kedalam, dan terkejut dengan keadaan anak itu yang jauh lebih buruk daripada saat Zen memukulinya.


"Aku tidak menduga itu." Ujar Zen dengan gemetar.


Mereka keluar dari sana, sang ayah anak itu menitip pesan pada mereka, untuk memberikan pelajaran pada anaknya jika dia tidak menurut. Rose dan yang lain hanya mengangguk saja. Mereka tidak mengira ayah anak tersebut akan memberi kekerasan yang cukup mengerikan pada anaknya.


Zen lantas pamit juga untuk pergi, begitu juga dengan guru satunya. Namun, Rose memilih mengikuti Zen, dia penasaran apa yang Zen lakukan.


"Maaf, Tuan Zen, mungkin pertanyaan saya sedikit menyinggung anda." Ucap Rose dengan nada agak ragu.


Zen menatap sekilas Rose, lalu menebak apa yang hendak Rose tanyakan. "Soal aku yang memukul anak itu?"


"Eh? I-iya... Soal itu."


Zen menjelaskan, siswa itu nampak menggunakan kewenangannya untuk menganggu murid lain, bahkan sampai mengancamnya. Karena tidak ada murid yang bertindak, selain Hans, maka dia memutuskan untuk turun tangan dan memberinya sedikit pelajaran bagi anak itu.


"Tapi, anda menggunakan kekerasan pada murid." Ketus Rose.


Zen terdiam, dia berbalik dan menatap pada Rose. Zen membuat sebuah perumpamaan. "Aku beri sedikit gambaran, misalnya A tengah merudung B, dan B tidak mampu membalas. Maka aku akan menjadi si C yang akan membalas perbuatan si A. Tidak selamanya kita menghentikan suatu masalah dengan cara yang baik, jika lawan memilih opsi kekerasan, maka aku akan mengambil opsi itu juga."


Rose terdiam, dia tidak menyangka Zen akan membuat sebuah perumpamaan seperti itu, hal ini membuat dirinya berpikir dua kali. Dia bertanya kembali. "Bagaimana jika anak itu akan lebih opsi satunya, tidak memberontak?"


Zen menjawab kembali. "Jika dia mau diajak secara baik-baik, maka aku juga akan baik padanya. Lagi pula, aku bukan tipe yang baik pada semua orang."


Rose merasa tidak yakin soal ucapan terakhir Zen. "Aku tidak percaya soal ucapanmu yang terakhir itu."