
Salju turun, menutupi jalan pada hutan. Jalur yang biasa digunakan oleh para pedagang atau pendatang lalui.
Allenz, Zen, dan Arthur tengah didalam kapal udara yang membawa mereka kembali ke Nevelheim, setelah berperang sebelumnya. Pada lima hari lalu, saat menyerang kota bagian timur wilayah iblis sebelumnya, dan kembali dua hari setelahnya.
Ketiganya dalam sebuah kamar penumpang, Zen dan Allenz tengah tertidur di sofa akibat kelelahan pada perang yang mereka lalui. Arthur yang duduk pada pinggir kasur, dirinya hanya melihat keluar dari jendela berbentuk bulat.
Arthur kini bisa tenang kembali, setelah ini dia bisa jauh dari perang dan bahkan Allenz juga kini sudah keluar dari pasukan militer.
Saat pria tua berkepala tiga itu termenung, seseorang dai luar mengetuk pintu kamar. Menyadari akan kedatangan seseorang, Arthur berdiri dari kasur dan menuju pintu. Mendapati seorang prajurit yang membawa pesan surat dan sebuah kotak kecil yang nampak dibungkus rapi.
Menerima pesan itu dan kembali ke kasurnya, Arthur melihat surat itu, dimana surat di segel dengan materai lilin kerajaan, di baliknya ada tanda tangan dari ke empat raja. Ini membuat Arthur penasaran, membuka pesan itu dan membaca isi surat.
Kepada Arthur dan keluarga,
Mungkin kalian terkejut dengan surat ini. Tapi kalian tidak perlu takut, surat ini hanya berisikan tentang ucapan terima kasih untuk Allenz dan sir Zen yang sudah membantu ke empat kerajaan dalam melawan pihak iblis yang sudah memecah belah kita selama belasan tahun terakhir. Dengan keterlibatan kalian, kami bisa menghadapi musuh yang sesungguhnya. Maka dari itu, atas partisipasi kalian. Aku, Ronald Seinn Hearterra, raja dari Kerajaan Hearterra beserta tiga raja dari kerajaan lain. Menyatakan dan mengangkat Allenz Weller menjadi komandan utama dalam Aliansi As. Dengan medali sebagai penghargaan tertinggi dari ke empat raja.
Lalu, untuk sir Zen akan diberikan rumah dan penghargaan dari ke empat raja, mengingat anda belum memiliki rumah. Maka kami akan memberikan sepetak tanah dan rumah pada sir Zen. Tentu, dengan pelayan terbaik dari kami, untuk mengurus rumah dan anda sendiri.
Ditambah nama Allenz dan sir Zen akan dicatat pada catatan sejarah, beserta keluarga yang bersangkutan. Dianggap pahlawan dan diingat didalamnya beserta di taruh pada buku pahlawan dengan pasukan yang ikut dalam perang melawan iblis sebelumnya.
Mungkin aku menulisnya terlalu panjang, maaf, sekian.
^^^Dari kakakmu, Ronald^^^
Melihat isi surat, Arthur hanya memegang surat itu dengan kuat. "KAKAKKK!!!"
Allenz dan Zen yang semula tertidur, menjadi terbangun mendengar teriakan dari Arthur. Bersamaan mereka yang terbangun, kapal yang mereka tumpangi sampai tujuan. Memasukkan surat itu pada saku didalam bajunya, Arthur, Allenz, dan Zen turun dari kapal.
Keluar dari kapal, mereka melihat kota Nevelheim yang sudah tertutupi oleh salju.
"Ayo kembali, aku ingin cepat bertemu dengan ibumu." Ucap Arthur yang membawa tas miliknya.
Allenz dan Zen hanya kebingungan melihat Arthur yang nampak kesal. Menyusul Arthur yang mulai menjauh, mereka kembali pulang dari perang yang melelahkan.
Berjalan di jalan kota, suasana sangat berbeda, kota ini menjadi sepi dan hanya sedikit yang keluar. Ditambah kota ini menjadi hampir sepenuhnya putih karena salju.
Hingga berjalan dan sampai di rumah, masuk ke halaman rumah yang sudah sepenuhnya juga tertutup salju. Berdiri didepan pintu, Arthur mengetuk pintu. Dari dalam rumah, Anya membuka pintu, menyambut tiga orang itu yang sudah kembali.
"Selamat datang kembali!!" Ucap semua orang didalam rumah, bahkan keluarga Bartford hingga Yia ada disana menyambut mereka kembali.
Ketiganya mengangkat asli mereka, tidak menyangka kepulangan mereka akan di sambut.
Anya memeluk sang suami yang telah kembali dengan selamat. Allenz disambut dengan Nayaka dan Teresa. Zen? Dia mendapat ucapan selamat datang kembali dari Yia dan Ben.
"Terima kasih, Yia. Kau lebih baik daripada wanita yang ada disana, huhu." Ucap Zen sambil menggenggam tangan Yia, dan sedikit menyindir Nia yang hanya menatap dari sudut ruangan.
Nia yang disindir, hanya memasang wajah jijik pada Zen.
"Selamat datang kembali." Ucap Ford sambil memberi pelukan hangat untuk Arthur yang telah pulang.
Barang-barang mereka bertiga dibawa olah Yia dan Nia, sementara mereka akan sedikit berbincang di ruang tamu. Arthur juga memberikan surat yang dia terima di kapal sebelumnya, dan diberikan pada Anya untuk istrinya baca.
Semua orang menjadi penasaran dengan isi surat itu, setelah membaca isi surat wajah Anya seperti kesal yang ditutupi dengan tersenyum paksa.
Penasaran dengan surat itu, bahkan membuat Anya nampak kesal. Ford membaca isi surat dengan keras, untuk semua orang mendengarkan isi dari surat itu.
Membaca isi surat berisi ucapan terima kasih untuk Zen dan Allenz, karena telah membantu dalam perang sebelumnya. Dan memberi sejumlah penghargaan, dan posisi komandan utama Aliansi As pada Allenz dan beserta medali pengenal tanda Allenz di angkat menjadi komandan disana, saat dirinya masih berusia muda.
Semua orang terdiam, entah mau senang dengan ini atau tidak, Allenz mendapat posisi dan kedudukan yang baik, tapi disisi lain dia sama saja tetap menjadi anggota prajurit kerajaan.
"Eee.... Entah aku merasa senang dan juga tidak disaat yang bersamaan." Ucap Allenz sendiri dengan wajah masam.
Anya dengan cepat merebut surat itu dari tangan Ford, lalu merobeknya dan membuangnya pada perapian. "Bajingan itu.... Apa dia masih merasa kurang dengan kontribusi Allenz dalam perang, huh?!" Ucap Anya sambil mengertak giginya, bahkan urat terlihat pada dahi wanita itu.
"T-tapi, ibu... Yang memberi penghargaan itu adalah para ke empat raja." Ucap Nayaka dengan takut.
"Kalau begitu bajingannya bertambah tiga... Hihihihi...." Ucap Anya dengan nada tertawa mengerikan.
Semua orang disana menjadi takut saat melihat Anya yang marah akan hal itu.
"Bibi Nia, bawa Jack keluar dari sini, kak Yia juga." Perintah Nayaka.
Yia dan Nia mengikuti perintah itu, mereka membawa Jack kecil keluar rumah untuk menjauhi dari ibunya yang mulai mengamuk.
"Firasatku buruk." Ucap Zen yang merasa kondisi saat ini cukup gawat.
"Yap, firasatmu tidak salah, Ras." Sahut Allenz.
"Semuanya bersiap!!" Teriak Arthur.
Dari luar, Yia dan Nia hanya melihat rumah itu dari luar halaman, hingga ada beberapa orang sekitar mempertanyakan mereka, kenapa mereka diluar saat dingin seperti ini.
"Kalian akan tau." Jawab Nia singkat.
Setelah mengucapkan itu, lantai bawah rumah keluarga Hearterra itu meledak, membuat pintu dan kaca jendela pecah hingga tersebar ke penjuru rumah.
"Ledakan!!"
"Air, kita butuh air!!"
"Kebakaran!"
Para warga sekitar lantas panik dengan kejadian barusan, dengan cepat mereka mencoba memadamkan api yang ada dirumah itu. Sementara para orang yang berada di dalam rumah lantas keluar dengan compang-camping. Allenz yang di bantu oleh Zen, mereka keluar dan bersandar pada pagar rumah yang terbuat dari batu.
"Al, ibumu jauh lebih mengerikan ketimbang iblis dan peperangan, uhuk, uhuk." Ucap Zen memberi pendapatnya soal Anya.
"Aku setuju." Ucap Nayaka, Allenz dan Teresa yang menyetujui pendapat itu.
Akibatnya, rumah itu harus mengalami renovasi, dan keluarga Hearterra harus pindah ke rumah Zen yang baru di berikan oleh raja, yang berjarak tidak jauh dari rumah Bartford. Lalu, Anya akan di rawat sementara waktu, akibat dirinya menggunakan sihir terlalu banyak yang menyebabkan ledakan pada rumah mereka.
Awal tahun baru sudah terlewati, musim dingin memasuki masa pertengahan, butuh dua bulan lagi untuk memasuki musim semi. Salju kian banyak sepanjang waktu, dan suhu menjadi sangat dingin. Membuat orang-orang harus menggunakan pakaian tebal saat keluar rumah.
Allenz selama dirinya di rumah, dirinya tengah belajar sihir baru, yakni sihir api. Ditengah salju yang dingin, dirinya memfokuskan pikirannya, berkonsentrasi pada sekitar. Hingga sebuah percikan petir muncul dari kejauhan.
Dari percikan itu, muncullah Zen dengan cepat, dengan refleks yang sudah tajam, Allenz menahan serangan barusan. Mendapati serangannya dihentikan, Zen mundur dengan menghilang kembali menjadi percikan petir di udara. Lalu, menyerang Allenz kembali dari sisi lain.
Allenz terus bertahan karena Zen terus menyerangnya, membuat dirinya tidak bisa fokus merapal mantra, melompat mundur, Allenz baru merapal mantra sihir. "Membakar bumi, dan bagai neraka melahap jiwa, menyelimuti hati yang murka, Inferno." Allenz membakar sekitarannya. Membuat Zen tidak dapat mendekat.
Berhenti untuk menghindar dari serangan Allenz, Zen memilih melompati api Allenz menyerangnya dari atas.
Allenz yang mengetahui Zen yang melompat dan menyerang dari atasnya, dengan cepat membuat angin untuk menyerang Zen yang berada di udara.
"Sial." Menyilangkan tangannya untuk menahan serangan itu, Zen berakhir terlempar ke belakang dan terjatuh diatas tumpukan salju yang dingin, membasahi bagian belakang baju miliknya. "Ahh, dingin!'
Cepat-cepat Zen berdiri dan membersihkan pakaian bagian belakang dari salju yang menempel.
"Kau benar, sudah siang." Balas Zen, siang cerah nampak pada langit biru, tidak ada awan mendung, tanda salju turun. "Iris! Kita akan pulang." Panggil Zen.
Mendengar dirinya di panggil, Iris yang semula bermain salju, kini kembali pada Zen yang selesai latihan. Kembali pada Zen dan masuk kembali ke dalam tubuh Zen.
Allenz yang melihat Iris masuk, dirinya bertanya pada Zen kenapa tidak memberikan baju pada anak itu. Meski Iris dibuat tidak memiliki alat vital, namun tetap aneh melihat iris nampak seperti tidak memakai baju.
"Mungkin aku akan memberi baju untuknya, tapi aku cukup jarang membawa dia keluar. Apa kau ingat Iris belum diberitahu pada keluargamu. Aku juga berpikir akan buruk jika memberitahukan hal ini, mengingat wujud Iris." Jelas Zen.
"Benar juga, berarti kita harus mencari tubuh untuk Iris pakai sebagai penyamaran."
"Itulah, masalahnya dimana? Meski mungkin banyak lab diluar sana, tapi tidak mungkin ada tubuh sampel New Human yang masih di simpan, 'kan?" Ucap Zen. "Apalagi belum tentu tubuh itu cocok bagi Iris."
Membahas tubuh New Human, Allenz juga nampak ingin melakukan hal yang sama pada Alans. "Membahas soal ini, aku jadi berpikir untuk memisahkan Alans dariku dan memberinya tubuh baru padanya."
Mendengar itu, Zen menjadi terkejut dan menolak hal itu. "Kau gila?! Memisahkan kesadaranmu yang lain itu mustahil, itu akan berdampak pada dirimu juga, kau tau?!"
"Ya, ya aku tau! Aku juga sedang mencari cara lain."
Kembali ke rumah baru yang mereka tempati, mendapati Arthur hendak memancing bersama Ford. Zen nampak tertarik untuk ikut mereka.
"Bisakah aku ikut dengan kalian?" Tanya Zen.
"Tentu, tidak masalah." Balas Ford.
Zen bersama Arthur dan Ford pergi untuk memancing pada danau di barat daya kota, tempat itu juga cocok untuk berburu hewan.
Pergi ke barat daya, yang mana daerah hutan dengan pepohonan tinggi. Mereka melewati banyak pohon tinggi yang berjarak agak berjauhan, selama perjalanan Zen bertanya kenapa mereka memancing, padahal sedang musim dingin. Jadi seharusnya sungai dan danau akan membeku.
Ford menjawab. "Karena kami belum memancing saat musim panas dan gugur berlangsung, akibat pekerjaan kami. Jadi pas sekali, saat ini pekerjaan kami sudah selesai, dan Arthur bisa pulang dari perang, itulah mengapa baru sekarang kami memancing."
Mengerti soal itu, memang sulit saat pekerjaan menumpuk dan tidak bisa melakukan hal yang disenangi.
Ditengah jalan, Arthur bertanya mengenai Zen soal dirinya yang belum memiliki pasangan, padahal sudah berusia dua puluh dua tahun.
Bingung menjelaskan bagaimana, Zen juga nampak masih bingung dengan tipe ideal pasangannya.
"Bagaimana menurutmu soal Nia? Apa dia adalah tipemu?" Tebak Arthur.
Menatap datar, Zen menjawab. "Dari semua wanita yang pernah aku temui, dia adalah ciri-ciri yang aku tidak sukai. Dan anda lupa? Hubungan saya dengan dia itu rumit."
"Oh... Aku pikir kalian memang sedang saling bercanda satu sama lain."
"Tidak, kami tidak saling bercanda. Aku juga tidak menyukai sikapnya." Jawab Zen lagi.
"Sepertinya memang hubungan kalian itu rumit dan seperti tidak cocok." Ucap Ford. "Lalu, bagaimana dengan Yia?"
Mendengar soal Yia, Zen sebenarnya kurang terlalu mengenal gadis itu lebih jauh, karena dia baru bertemu dengannya empat kali. "Hmmm.... Entahlah, aku cukup jarang berbicara dengannya. Tapi aku suka dengan semangatnya yang gigih."
"Oh iya, umur kau dan Nia juga memang agak jauh, 'kan ya?" Tebak Arthur.
"Yah... Di lebih tua enam tahun dariku." Ucap Zen dengan nada lemas.
"Aahh.... Akan sulit untuk menemukan pasangan untuk Nia. Bahkan Anya saja sampai mengenalkan pada beberapa pria padanya, tapi semua pria itu ditolak langsung olehnya." Jelas Arthur. "Aku jadi takut dia akan terlalu tua dan belum memiliki pasangan yang cocok."
"Permasalahan soal cinta merepotkan, ya." Ucap Zen dengan datar.
"Sebenarnya akan mudah jika kalian saling mengenal dan memang saling suka, tapi melihat dirimu dan Nia, entah seperti kalian ini memang tidak niat memiliki pasangan." Ucap Arthur.
"Ugh, aku merasa terhina." Sahut Zen.
"Hahahaha, yang pasti aku doakan kau dan Nia bisa menemukan pasangan yang cocok untuk kalian." Ucap Ford.
Hingga saat sedang membahas soal pasangan bagi Zen. Arthur menanyakan soal makhluk hitam yang membantu mereka selama perang, dia dengar bahwa makhluk itu bersama Zen.
"Makhluk hitam?" Ford yang tidak tau apa-apa hanya kebingungan.
Zen terdiam saat Arthur bertanya soal Iris. "A-apa anda tidak takut dengannya?"
"Selama dia tidak menyerang dan patuh aku tidak masalah. Jadi apa kau tau dia dimana?" Tanya Arthur lagi.
Mengaruk kepalanya, Zen memperingatkan mereka untuk tidak takut. "Iris, bisa kau keluar dan tidak membuat mereka panik?"
Ford yang masing bingung dengan arah pembicaraan tersebut, memilih diam dan melihat. "Kau memanggil siapa?"
Hingga Iris keluar secara perlahan dan bersembunyi dibelakang Zen, Ford yang melihat sesosok hitam terkejut dan takut. Namun, dengan cepat ditenangkan oleh Arthur. "Ford, tenanglah, dia juga tidak menyerang."
Ford yang ditenangkan oleh Arthur, nampak masih tidak percaya dengan sosok hitam yang keluar dari Zen.
Arthur mendekati Iris yang bersembunyi dibelakang Zen. "Tenang, aku tidak akan menyakitimu. Aku malah terima kasih padamu, karena telah menolong Allenz saat perang. Aku melihat kau menolong anakku, jadi sekali lagi terima kasih." Ucap Arthur sambil mengedepankan tangannya untuk meminta Iris tidak takut.
Iris menatap Zen, seperti meminta persetujuan dari pria kulit coklat itu. Mengangguk pada Iris, Iris mencoba meraih tangan Arthur secara perlahan, lalu memegang tangan pria berusia tiga puluh tahunan itu.
Arthur tersenyum dengan Iris yang menerimanya. Ford yang terdiam menanyakan soal Iris ini, Arthur menjelaskan bahwa Iris adalah sebuah makhluk kuno dari ratusan tahun lalu, yang memang membenci ras iblis, dan dia membantu selama perang berlangsung, dan sudah bersama dengan Zen sejak lama.
Dalam hati Zen, dia merasa bersalah kembali karena telah membohongi Arthur dan Ford untuk kedua kalinya. Ford yang paham dengan itu merasa lega dan tidak perlu waspada kembali.
"Tapi setidaknya Zen, kau berikan dia pakaian." Ucap Ford melihat Iris yang nampak seperti telanjang. Membuka kain yang menutupi dirinya, Ford memberikan kain itu pad Iris untuk menutupi tubuh makhluk yang seperti gadis kecil itu.
"Baik, gadis kecil. Kau mau ikut dengan kami memancing?" Tanya Arthur yang jongkok untuk tingginya menyamai Iris.
Iris nampak tertarik, terlihat pada wajahnya.
"Baik, mari kita memancing." Ucap Arthur lalu menggendong Iris. "Karena kau tidak menggunakan alas kaki, biar aku menggendongmu." Lanjur Arthur yang melanjutkan perjalanan
Melihat Arthur yang sudah berjalan, Zen dan Ford juga mengikuti mereka dari belakang. Ditengah mau melangkah, Ford bicara. "Zen kau aneh, kau belum memiliki pasangan, tapi sudah seperti ayah dengan gadis itu." Ucap Ford yang bicara dan meninggalkan Zen yang terdiam setelah mendengar ucapan Ford barusan.
Termenung beberapa saat, Zen mengejar Arthur dan yang lainnya.
Setelah mengejar mereka, Zen bertanya danau seperti apa yang mereka datangi. "Ngomong-ngomong, soal danau yang akan kita kunjungi. Tempatnya seperti apa?"
Mendengar pertanyaan Zen, Ford menjawab jika ada orang yang menemukan danau kecil. Namun bagus dan banyak ikan disana, tempat itu juga memiliki pemandangan yang indah.
Saat mendapat sedikit gambaran danau yang dibicarakan, Arthur berhenti akibat adanya benda asing yang cukup banyak didepan mereka dan sudah berkarat.
Zen dan Ford yang menyusul Arthur dan Iris melihat apa yang dilihat Arthur.
"I-ini... " Zen melihat apa yang mereka lihat, dia melihat ke atas sedikit, adanya sebuah tanda penunjuk jalan yang sudah sedikit tertutup tanaman rambat.
Iris yang melihat apa yang di depannya hanya bicara satu kata sambil menunjuk pada benda yang didepan mereka. "Mobil!'
Banyak mobil berjejer lurus didepan mereka, yang sudah nampak rusak dan berkarat. Bahkan tidak sedikit yang sudah tertutup tanaman liar. Zen menyadari jika mereka ada di tengah jalan raya yang sudah berubah menjadi hutan belantara. melihat sedikit ke atas ada tanda arah jalan yang besar, tanda arah yang menuju sungai Mleczna dan kota besar Warsawa.
Berbalik, Zen membaca tanda arah lain dengan tulisan dalam bahasa yang sama, yaitu Polski, bahasa asli Polandia. Yang mana menuju pada tempat mereka sebelumnya, yakni kota Radom.