
Allenz berkeliling mencari buku yang menurutnya dia baca, disana dia setidaknya mendapat beberapa buku sihir untuk dia pelajari. Perpustakaan akademi memiliki tiga lantai, dan setiap lantai memiliki dekorasi sendiri, bahkan ada ruang khusus untuk anak berprestasi berkumpul.
Membawa tiga buku untuk memperlajari sihir dasar baginya, Allenz pergi lantai dua, disini cukup ramai, meski ada beberapa meja kosong daripada di lantai satu yang bahkan seperti mau penuh. Dia pergi membaca pada sudut ruangan dan menemukan meja kosong disana.
Dia membuka buku pertamanya, soal sihir dasar. Dia juga membawa sihir dasar pada elemen api, karena itu salah satu sihir elemen yang ingin dia pelajari saat ini, mengingat dia sudah ahli dalam sihir angin. Kini, dia akan fokus pada sihir baru tersebut, meski harus mempelajari sihir satu per satu.
Fokus matanya pada tulisan dari lembar ke lembar, tiba-tiba dua orang datang. Dua orang dengan rambut keunguan gelap, dan mata kuning seperti mentari. Dari keduanya, gadis berkacamata didepannya, dan yang lain itu laki-laki, dia meminta ijin pada Allenz apa mereka bisa satu meja dengannya. "Apa kami boleh duduk disini?"
"Tentu, aku tidak mempermasalahkan itu, silahkan saja." Ucap Allenz.
Kedua orang itu duduk didepan Allenz, bersebrangan dengan dia, mereka membawa buku mereka masing-masing.
Ketiganya menjadi sunyi, mungkin orang lain akan mengganggap mereka teman. Nyatanya tidak, mereka hanya orang baru saja bertemu di perpustakaan sekolah, dan tidak saling mengenal, hanya tiga siswa yang kebetulan ingin membaca buku.
Pada tengah membaca, beberapa siswa nampak sedikit berisik, itu membuat perhatian Allenz dan kedua orang itu melihat sumber keributan. Ada sejumlah remaja, enam orang yang berdiri sambil tertawa, sambil melihat buku dari seorang yang memegang buku itu, terdiri dari tiga siswa dan tiga siswi.
Hingga disaat mereka tertawa, pengawas perpustakaan mendatangi anak-anak itu, seorang wanita sekitar berusia 50 puluh tahun, dengan rambut dikuncir, rambut sedikit beruban. Sang pengawas memperingatkan mereka untuk jangan berisik, karena akan menganggu murid lain yang tengah membaca.
Namun, salah satu siswa, maju dan malah membentak sang pengawas. Sang pengawas hanya melihat dengan tatapan datar, baginya ini hal yang sering dia jumpai di saat adanya murid baru. Jadi, ini bukan pertama kalinya dia menghadapi hal semacam ini.
Alhasil ini menjadi masalah serius, sang siswa dibantu teman-temannya malah seperti mencoba menyudutkan sang pengawas. Ini sedikit membuat Allenz terganggu, dia beranjak dari kursinya, meniggalkan buku yang sedang dia baca.
Dua orang yang bersamanya lantas mencoba menghentikan Allenz agar dia tidak mendapat masalah, tapi Allenz tidak memperdulikan itu, bahkan ada beberapa siswa juga yang mengambil tindakan seperti Allenz. Namun, tindakan mereka terhenti saat kemunculan Agata dan dewan siswa lain yang melerai mereka. Sementara keenam siswa itu dibawa oleh Agata dan rekannya, salah satu dewan siswa meminta maaf pada sang pengawas akibat ulah keenam siswa tadi.
"Inilah yang aku benci saat adanya siswa baru." Ucap sang pengawas. Beberapa siswa mendatangi pengawas itu, nampak para siswa itu seperti senior yang sudah paham sifat sang pengawas, mereka mencoba menenangkan wanita tua itu.
Allenz yang diam di tempatnya saat kedatangan para dewan siswa, dia memutuskan kembali ke kursi miliknya dan melanjutkan bacaan sebelumnya.
Kedua orang yang bersama satu meja dengannya, mereka sedikit mempertanyakan tindakan Allenz sebelumnya. Bagi mereka itu tindakan yang terlalu buruk, mereka berpendapat Allenz tidak mungkin bisa melawan siswa tadi, karen pasti mereka dari keluarga terpandang dan memiliki status yang tinggi.
Allenz menaikan satu alisnya, dan membalas. "Huh?! Alah paling kalo aku mau mereka jadi gembel sekarang mungkin bisa."
Kedua murid itu saling berpandangan, dan tidak paham maksud Allenz. "Maksudmu? Kau memiliki status lebih tinggi dari mereka?"
"Tentu, tapi aku tidak akan membawa nama keluargaku, hanya diriku saja yang terlibat." Ujar Allenz.
Mereka semakin bingung, lantas karena itu mereka menanyakan nama Allenz. "Kalau boleh tau namamu siapa?"
Allenz memperkenalkan dirinya. "Namaku Allenz Weller, anak angkat dari Arthur Ironion Hearterra dan Anya Rwidda Wellerd."
Keduanya terkejut, namun mereka tidak akan percaya akan hal itu.
"Hoi, kau pikir, kau berkata seperti itu kami akan mempercayainya?!"
Allenz menatap biasa, dia tau pasti mereka tidak akan percaya akan hal itu, hingga Hans datang. "Astaga kau ini, ternyata kau disini. Aku mencarimu kemana-mana, siapa mereka?"
Dua bersaudara itu terkejut saat Hans datang, mereka menjadi gugup saat pangeran Hearterra datang.
Allenz menjawab. "Mereka hanya orang yang kebetulan tidak mendapat meja karena penuh."
"Aku pikir kalian saling kenal. Kalau begitu mungkin kalian sudah mengenal diriku. Tapi aku akan mengenalkan diriku untuk saling mengenal. Namaku Hans Victor Hearterra, putra kedua di keluarga kerajaan Hearterra. Dan orang yang bersama kalian ini, bernama Allenz Wellerd, anak angkat dari pamanku, Arthur Ironion Hearterra." Ungkap Hans memperkenalkan dirinya dan dengan Allenz.
Kedua saudara itu benar-benar terkejut, bahwa kenyataan Allenz memang anak angkat dari Arthur. mereka langsung meminta maaf pada Allenz akibat ucapan mereka.
Hans juga ikut membaca bersama mereka, Allenz dan Hans juga berkenalan dengan dua saudara kembar itu. Yang paling tua si gadis berkecamata bernama Joanna Poeter dan sang adik yang laki-laki bernama Josef Poeter.
Keduanya sangat tertarik dalam hal seni, terutama alat musik. Itulah mengapa keduanya masuk ke sini dan akan mengikuti kelas tambahan pada kelas seni.
Pada akhirnya, mereka membaca bersama, dan saat matahari sudah ditengah hari, mereka kembali ke kantin untuk membeli sejumlah minuman untuk menyegarkan diri mereka. Ini juga karena Hans yang ingin mencoba satu minuman di kantin. Allenz dan yang lain hanya ikut ke sana.
Disana juga mereka bertemu dengan Nayaka dan Teresa, dimana Teresa sedikit mengeluh bahwa Nayaka memiliki nafsu makan yang tinggi seperti Hans.
Kedua gadis itu juga berkenalan dengan Poeter bersaudara, mereka menjadi dekat dengan Joanna. Meski baru bertemu, namun mereka sudah cukup akrab. Disini Allenz dan Josef hanya menunggu Hans yang mengambil makanan untuk dirinya.
Saat keduanya diam, Allenz sedikit bertanya soal latar belakang mereka. Josef menaikan alisnya, dia cukup ragu untuk menceritakan ini pada orang lain. Menghembuskan nafasnya, dia bercerita.
Dia menceritakan soal keluarga mereka yang tinggal di ibukota, meski tinggal di kota yang dikatakan banyak orang akan bisa mengubah nasib mereka disini. Tapi kehidupan mereka tidaklah menyenangkan, kebutuhan mereka selalu pas-pasan untuk mereka, ayah mereka hanya seorang penjual daging dan dibantu ibu mereka. Membuat mereka kadang tidak mendapat waktu bersama kedua orang tua.
Tapi, kedua orang tua mereka sebisa mungkin untuk ada bagi mereka, dan meski menjual daging, ibu mereka memiliki rencana untuk membuat restoran kecil, hanya sebuah restoran ala keluarga. Namun, penghasilan mereka itu tidak selalu cukup untuk mereka tabung.
Beberapa hari sebelum pendaftaran akademi dibuka, ibu mereka memberikan sejumlah uang utnuk mereka masuk akademi. Selama ini dia sedikit menyisikan uang yang dia kumpulan dari penghasilan sang suami untuk memasukan kedua anaknya ke akademi, untuk suatu saat jika kedua anaknya lulus, kedua anaknya bisa mendapat pekerjaan yang layak untuk mereka sendiri nanti.
Sampai mereka masuk ke akademi dan bertemu dengan Allenz di perpustakaan, dan Allenz juga adalah orang pertama yang mau berbicara dengan mereka. Karena sebagian anak-anak yang berasal dari ibukota terkadang menjauhi mereka.
Allenz menyarankan Josef untuk fokus saja pada tujuan mereka di akademi, dan Allenz juga akan membantu mereka sebisa mungkin.
Pada saat yang bersamaan, Hans kembali dengan sepiring pierogi untuk dia makan. Dia kembali duduk bersama Allenz dan Josef, dia juga dengan senang hati menawarkan mereka makanan itu. Allenz mengambil pierogi itu, namun untuk Josef, dia nampak ragu untuk mengambilnya.
"Apa tidak masalah menga,bil makan milik seorang pangeran." Ucap Josef.
Allenz dan Hans terdiam, itu cukup membuat mereka terkejut. Apa karena akibat hidupnya yang dulu membuat dia ragu untuk memakan makanan yang diberikan oleh seseorang yang memiliki kedudukan yang tinggi darinya?
Hans bahkan sampai tertawa melihat tingkah Josef, "Ayolah, pierogi ini juga bukan jenis yang mewah, hanya makanan biasa."
Josef nampak masih ragu. "T-tapi, apa saya berhak untuk memakanannya?"
Hans merangkul pundak Josef dan mengatakan. "Jika kau ditawari sesuatu hal yang baik, maka ambillah hal itu." Ungkapnya.
Mata Josef menjadi terbinar mendengar ucapan Hans, dia pun mengambil pierogi itu, dan makan bersama mereka.
Nayaka bersyukur melihat ketiga remaja itu cukup dekat. "Syukurlah mereka menjadi dekat."
Pada sisi lain, Zen tengah berjalan bersama Iza, wanita itu mengajak Zen berkeliling sekolah dan mengenalkan lebih jauh soal akademi pada Zen. Dia juga memperkenalkan Zen dengan pengajar lain.
Zen cukup banyak mendapat banyak kenalan baru, dari para pengajar atau juga orang yang bekerja disini. Seperti pengawas perpustakaan, penjaga kantin, penjaga gudang dan lain sebagainya.
Hingga Iza memperkenalkan Zen dengan guru yang terbilang berpengaruh di akademi ini, dari seorang pria dengan rambut coklat dan tersisir rapih ke samping, memiliki wajah yang nampak muda, kisaran 28 tahun. Memiliki kumis dan janggut tipis, dia bernama Ludwik. Dia berasal dari keluarga bangsawan kelas Viscount. Lalu, seorang wanita bernama Klara, dia seorang wanita dengan rambut kuning dan mungkin seusia Anya, yakni 33 tahun. Memiliki pangkat Earl.
Lalu, yang terakhir, meski baru mengajar satu setengah tahun, dia sudah cukup memiliki pengaruh yang besar. Yakni putri Rose Dekret Hearterra. Putri dan anak pertama keluarga kerajaan, wanita itu dengan anggun memperkenalkan dirinya pada Zen, sambil menjulurkan tangannya pada Zen.
Zen dengan sopan juga membalas sapaan itu, dengan menyilangkan satu tangannya di dada, membuat orang-orang disana, termasuk Rose sendiri terkejut. Akibat Zen yang membalas seperti hormat prajurit.
Setelah berkenal dengan ketiga orang itu, Zen diajak kembali dengan Iza. Dia akan dia diberikan dokumen soal para siswa untuk Zen mengetahui mereka lebih jauh.
"Aku aku boleh tau soal latar belakang orang tua mereka semua?"
Iza menatap Zen bingung, tapi dia tidak mempermasalahkan itu. Mereka kembali ke kantor ruang Iza, disana Iza hanya bisa memberikan beberapa berkas saja dari beberapap murid. Bagi Zen itu cukup dan dia mengambil berkas itu dari Iza.
Zen bertanya soal Rose. "Apa, boleh bertanya soal putri Rose?"
Iza terdiam, lalu menjawab. "T-tentu, soal apa?"
"Apa dia dilindungi oleh pihak sesuatu dari kerajaan?"
Iza mengkerutkan keningnya. "Tentu, dia dijaga oleh ksatria pilihan dari kerajaan, kelompok khusus bernama Kastria Merpati Hearterra. Yang dipimpin oleh seseorang bernama Woulle, mereka ditugaskan untuk menjaga keluarga kerajaan dari jauh, hanya itu yang aku tau."
Zen mengusap dagunya, dia berpikir keras. "Entah, instingku merasa ada yang mengawasi putri Rose, dan setelah anda menjelaskan soal ksatria itu, mungkin itu hanya para ksatria kerajaan yang menyamar untuk mengawasi tuan putri."
"Begitukah? Insting anda hebat juga, dan aku harap itu hanya firasat anda saja, Sir Zen." Ungkap Iza.
Zen kemudian meminta dirinya undur diri dan pamit dari sana, meninggalkan Iza seorang diri. Stelah perginya Zen, Iza memanggil bendaharanya, wanita yang terus bersamanya. Meminta untuk menyelidiki soal orang yang dimaksud Zen.
Wanita itu pergi, Iza berbalik, mantap pada kaca jendela di ruangan itu. Kaca besar, dari balik kaca dia melihat beberapa anak yang tengah bermain ria dan berkumpul bersama. Iza bergumam. "Tidak akan aku biarkan penyusup, masuk ke dalam akademi yang aku jaga ini." Ungkapnya, dia lanjut berkata. "Dan... Anya terima kasih telah merekomendasi Sir Zen, dan menjadikan dia pengajar disini."
Iza bertolak dari kaca jendela, kemudian duduk pada mejanya, dan mengeluarkan dua kertas dan sebuah pena. Dia hendak mengirim surat pada dua orang berbeda.
...****************...
Pada tempat yang jauh dari ibukota, di wilayah bagian paling selatan Hearterra, pada sebuah desa yang tampak sudah rusak dan hancur mengerikan.
Banyak mayat penduduk desa yang tergeletak pada setiap tempat. Tidak hanya penduduk, beberapa prajurit juga nampak tewas, darah membasahi tanah, bau amis dan menyengat tersebar kemana-mana.
Dari sisi lain desa, tengah ada beberapa orang yang berjumlah empat puluh lebih, menggunakan pakaian dengan tudung berwarna hijau keabu-abuan, dengan garis kuning pada pinggir baju mereka. Salah satu dari mereka membawa sebuah benda seperti tengkorak kaca berukuran bola tenis.
Salah satu dari mereka meminta satu rekannya untuk mengumpulkan mayat-mayat para penduduk. Beberapa orang itu memngumpulkan mayat-mayat itu, lalu mereka mengelilingi tumpukan mayat itu, lalu dibakar dan membaca sebuah mantra secara bersama-sama.
Para mayat itu seperti mengalami kejang sambil mengeluarkan suara mengerikan. Sebuah kabut hitam muncul ditambah arwah para mayat itu keluar seperti asap putih bercahaya yang kemudian masuk kedalam benda berbentuk tengkorak kaca tadi.
Yang mana mereka memilikinya masing-masing, dengan mengangkat kedua tangan mereka, semua arwah itu masuk kedalam kaca tersebut. Setelah semua arwah berhasil masuk, semua kaca itu menyala terang berwarna ungu.
Setelah proses ritual itu selesai, mereka membanting kaca itu hingga pecah, dan membiarkan arwah-arwah tadi yang berubah menjadi energi untuk masuk kedalam tubuh mereka, angin kencang menghembus kesana kemari.
Membuat semua orang disana mengeluarkan aura mengerikan, dan nampak urat hitam bercampur ungu pada tubuh mereka.
Mereka merasa seperti memiliki kekuatan yang berlimpah pada diri mereka. Bahkan sampai ada yang mencoba hasil itu pada sebuah rumah penduduk, dan mampu menghancurkan rumah itu menjadi bongkahan kecil.
Satu orang dari mereka, mendatangi orang yang baru saja menghancurkan rumah tadi, dia menepuk pudak orang itu. "Bagaimana? Apa kau sudah menjadi lebih kuat?"
"Tentu ayah, aku kali ini tidak akan mengecewakanmu lagi!" Ucap orang itu yang adalah putra dari orang yang meneouk pundaknya.
"Kalau begitu, persiapkan dirimu, Borath." Ucapnya.
"Pasti." Jawab Borath.
Borath, orang yang kini dan keluarganya di asingkan ke desa terpencil setelah menerima hukuman. Dirinya bersama keluarganya harus berakhir di desa ini, bahkan semua harta benda mereka disita, membuat mereka berakhir menyedihkan pada desa ini.
Hingga ayah Borath meminta bantuan Ouroboros Order, sebuah organisasi pembunuh bayaran sekaligus sekumpulan orang yang mempelajari ilmu hitam dan menggunakan cara sesat. Dengan ayah dan ibunya yang merupakan anggota ordo itu, mereka menjadikan desa tempat mereka sekarang untuk menjadi tempat perkumpulan bagi kelompok ini.
Membunuh semua penduduk asli dan para prajurit, mereka bisa menggunakan arwah orang untuk menjadi kekuatan bagi mereka dan membuat umur mereka panjang. Layaknya nama ordo mereka, yakni Ouroboros, ular yang mengigit ekornya yang melambangkan siklus abadi dan tidak terbatas.
Tak jauh dari sana, para iblis peberontak tengah mencari tempat untuk mereka, setelah kejadian pengusiran setahun yang lalu, kini jumlah mereka hanya sekitar dua puluh tiga orang, sementara sisanya tidak ingin ikut dalam rencana menyerang kembali kerajaan iblis untuk menyingkirkan Gregory.
Tanpa mereka tau, bahwa Gregory sudah lama tewas, ditambah beberapa iblis tidak ingin terkena konflik lebih jauh, dari sesama iblis atau manusia dan memutuskan untuk membuat kelompok baru dan berpisah dengan mereka. Kini, hanya tersisa jumlah yang sekarang, yang sebelumnya berjumlah sekitar seratus orang lebih.
Hingga perjalanan mereka dari timur, mereka sampai di bagian selatan, pada wilayah pesisir Hearterra. Di dekat desa tempat Borath berada.
Pada saat kelompok ordo tengah membuat sebuah galian besar untuk sisa-sia mayat para penduduk. Sekitar memerlukan lima sampai enam orang untuk menggali lubang besar tersebut.
Seorang yang nampak lebih tua, memerintahkan para anggotanya lebih baik untuk menggunakan sihir tanah untuk mempermudah mereka. "Kalian lama sekali, cepatlah. Gunakan saja sihir tanah untuk membuka sebuah galian, dasar lambat!"
Beberapa orang langsung mengikuti perintah, merapal sebuah mantra, muncul sebuah lubang yang cukup besar. Mayat-mayat para penduduk dilempar ke dalam lubang itu, semuanya. Setelah semua mayat itu dimasukan, lubang yang berisi mayat-mayat tersebut di tutup kembali oleh mereka. Meski membutuhkan sekiranya hampir satu setengah jam.
Hingga serasa urusan mereka sudah selesai, sang ketua disana memerintahkan mereka untuk pergi dari desa ini. Bertepatan dengan itu, para iblis juga bertemu dengan mereka.
Beberapa anggota ordo langsung melindungi ketua mereka. Sang ketua berbicara para iblis yang baru sampai di tempat itu, karena sepengetahuan mereka, para iblis harusnya ada di wilayah mereka sendiri, dan tidak akan mengusik wilayah kerajaan manusia.
"Kalian para iblis, kira kalian bisa datang lagi, setelah kekalahan kalian pada perang besar bisa datang lagi?!" Ucap ketua itu dengan keras.
Salah satu iblis yang nampak memiliki tubuh orang dewasa, dia berkata. "Huh?! Kalah?! Kau pikir kami akan semudah itu menyerah kembali?!" Ucapnya. Dia menganggap maksud dari ketua ordo adalah saat mereka menyerang benteng Rockfolt dan tidak mampu mendapatkan benteng itu. Karena kedua pihak saling salah kaprah membuat kedua pihak memulai konflik hebat.
Kedua pihak kian memanas, dan bersiap dengan sihir mereka masing-masing. Desa itu akan menjadi saksi bisu dalam dua kejadian mengerikan yang pernah terjadi pada tempat itu.