
Orang tua dan mertua Elnaz menjenguk Elnaz bergantian, mereka juga tentu memberi semangat pada Elnaz dan mendukung Elnaz, juga memberikan selamat atas kehamilan Elnaz. Terutama ibu mertua Elnaz yg sangat bahagia dan ia bahkan sampai mencium Elnaz beberapa kali saking bahagia nya. Elnaz juga merasa bahagia ketika ia melihat orang orang yg di cintai nya bahagia.
"Kak Elsa..." kata Elnaz dengan lemah, karena ia tidak melihat Elsa menjenguk nya sama sekali.
"Kenapa kamu tanya dia, El? Dia itu sudah mencelakai kamu" tukas Bu Yuni emosi.
"Bukan, Ma..." ucap Elnaz masih dengan begitu lemah.
Bersamaan dengan itu, Arfan dan seorang Suster datang untuk memeriksa kondisi Elnaz.
"Sayang, bagaimana perasaan mu?" tanya Arfan lembut, bahkan ia memberikan kecupan hangat di kening istri nya itu sebelum melakukan pemeriksaan.
Ini sudah hari Kedua setelah Elnaz siuman, awal nya Elnaz sulit berbicara dan itu membuat nya takut karena berfikir suara nya hilang, tapi Arfan mengatakan Elnaz bukan nya tidak bisa bicara lagi, melainkan Elnaz hanya masih shock.
"Lebih baik" jawab Elnaz sambil tersenyum.
"Mama keluar dulu ya, biar kami periksa El" pinta Arfan pada Mama nya dan Bu Yuni pun keluar dari ruang rawat Elnaz.
"Apa kepala mu masih terasa sangat sakit, Sayang?" tanya Arfan lembut, membuat suster itu tersenyum.
"Iya, seperti di pukul" kata Elnaz mengadu.
"Sabar ya, nanti juga akan sembuh asal kamu mengikuti semua perintah suami Dokter mu ini" kata Arfan lagi yg membuat Elnaz kembali tersenyum.
"Leher ku..." ucap Elnaz.
"Kenapa leher mu, Sayang?"
"Benda ini membuat ku sulit bergerak, Kak" jawab nya yg membuat Arfan merasa sedih "Kaki ku juga tidak bisa di gerakan" rengek nya.
"Sayang..." Arfan membelai pipi istri nya dengan lembut, menatap nya dengan sendu
"Sabar ya, nanti kamu pasti bisa gerak bebas lagi. Hm..." bujuk Arfan menyemangati istri nya, Elnaz masih sedih karena kondisi nya, Elnaz ingin kembali bergerak bebas apa lagi kini ada janin dalam rahim nya. Elnaz takut kondisi nya mempengaruhi janin nya dan Arfan sangat mengerti hal itu.
"Bu Elnaz, apa mengalami mual mual?" tanya Suster kemudian dan Elnaz menggeleng pelan.
"Bayi ku baik baik saja kan?" tanya Elnaz kemudian.
"Tentu, Bu Elnaz. Hanya saja jika mual dan ingin muntah, maka harus benar benar di jaga karena cidera leher Bu Elnaz cukup parah dan tidak boleh sembarangan bergerak" tutur iya.
"Aku akan mengurus nya, Sus" kata Arfan sambil tersenyum.
"Kak Arfan seperti nya cuma mengurus El terus, memang nya tidak ada pasien lain?" tanya Elnaz.
"Tentu saja ada, tapi aku berusaha memaksimal kan perawatan mu juga, Sayang. Aku ingin kamu cepat sembuh dan dan pulang, aku rindu sekali sama kamu, rindu masakan mu juga"
"El juga mau cepat pulang, Kak" kata Elnaz "Oh ya, Kak Elsa dimana ..."
"Kamu jangan memikirkan tentang dia lagi, Sayang. Sebaiknya kamu istirahat ya, jangan stres dan harus istirahat yg cukup" seru Arfan.
"Tapi, Kak..."
"Sayang, ayo lah. Aku suami mu dan Dokter mu. Jadi patuhi perintah ku ya supaya kamu cepat pulih dan pulang..." seru Arfan tanpa ingin di bantah. Elnaz hanya tersenyum, ia berfikir mungkin Arfan tidak mengizinkan Elsa menjenguk nya karena Arfan marah pada mantan tunangan kakak nya itu.
.........
Sementara di luar, Bu Yuni dan Bu Isna duduk berdampingan di ruang tunggu. Mereka hanya pulang mandi dan ganti baju kemudian kembali ke rumah sakit, mereka pulang nya secara bergantian supaya ada yg menjaga Elnaz saat Arfan sedang sibuk dengan pekerjaan yg lain.
"Apa kata Arfan soal keadaan Elnaz?" tanya Bu Isna kemudian.
"El baik baik saja dan hanya butuh istirahat total" jawab Bu Yuni ketus.
"Alhamdulillah" sambung Bu Isna bernafas lega dan ia tidak memperdulikan sikap ketus kakak ipar sekaligus besan nya ini. Tak lama kemudian ia melihat Arfan keluar dari kamar rawat Elnaz. Bu Isna segera menghampiri Arfan dan kembali menanyakan keadaan Elnaz
"Fan, Elnaz baik baik saja, kan?" tanya Bu Isna.
"Iya, Ma. Alhamdulillah, tapi kondisi nya masih belum benar benar stabil" Jawab Arfan.
"Fan, karena El baik baik saja, apa kamu tidak ingin membebaskan Elsa? Kasihan dia, Fan" bujuk ibu mertua nya yg membuat Arfan tersenyum kecut.
"Lalu bagaimana dengan anak Mama yg lain? Yg terbaring lemah dengan kepala yg cidera, leher dan kaki patah dan dia dalam kondisi hamil? Memang nya Mama tidak kasihan juga?" tanya Arfan sedikit emosional.
semenjak kecelakaan Elnaz, ia memang mudah emosional dengan apapun yg berhubungan Elsa. Karena hal itu membuat Arfan malah selalu mengingat bahwa istri nya dalam kondisi seperti ini gara gara Elsa.
"Fan, Mama juga mengkhawatirkan Elnaz, tentu saja. Dia juga anak Mama, Fan" kata Bu Isna dengan mata yg sudah berkaca kaca "Mama sayang kedua nya, Mama tidak mau Elnaz mau pun Elsa berada dalam masalah"
"Maaf, Ma. Tapi di sini bukan hanya tentang anak dan anak. Di sini tentang pelaku dan korban" tegas Arfan.
"Selama ini Elsa selalu di manja sama Mama, selalu di penuhi semua keinginan nya. Selalu di bela dalam segala hal, tapi tidak lagi sekarang. Elnaz istri ku dan aku akan melindungi nya dari siapapun yang ingin menyakiti nya, aku juga akan menghukum siapapun yg berani menyakiti nya dan aku tidak mau ada yg menghalangi ku dalam hal itu"