
Pak Malik dan Bu benar benar ke Jakarta tanpa sepengetahuan Elsa, dan sesampainya di bandara, Pak Malik meminta alamat apartement Jimmy kepad Elnaz.
Elnaz yg sedang di kampus nya merasa bingung dengan pesan dari ayahnya yg meminta alamat Jimmy. Ia pun segera keluar dari kelas nya dan mencoba menelpon ayah nya.
"Papa..." panggil Elnaz saat ayah nya menjawab panggilan nya.
"El, kirimkan alamat pacar nya Elsa" terdengar suara buru buru ayah nya.
"Tapi buat apa, Pa?" tanya Elnaz bingung.
"Papa mau kesana sekarang"
"Huh?" pekik Elnaz tak percaya "Yg benar saja, Pa. Papa dimana sekarang?" tanya Elnaz.
"Papa lagi di dalam taksi, sama Mama mu juga"
"Maksud El, Papa di Jakarta atau di Surabaya?"
"Jakarta, Papa mau mendatangi Elsa dan Jimmy"
"Tapi kenapa?"
"Karena sekarang sudah tersebar ke semua orang kampung kalau Elsa dan Jimmy itu tinggal bersama"
"Apa? Kata siapa?"
"Kata nya Bu Kinar melihat Elsa dan Jimmy di apartement, kamu kirimkan alamat nya sekarang, El"
"Tapi, Pa..."
"Halo..., Pa?"
Elnaz hanya bisa menatap ponsel nya saat ayahnya memutuskan sambungan telpon begitu saja, tapi Elnaz merasa lega jika akhirnya Papa nya itu tahu tentang Elsa.
Elnaz pun mengirimkan alamat Jimmy pada Papa nya, dan saat itu juga ia melihat Andy yg sedang bersama teman teman nya. Elnaz pun segera berlari menghampiri Andy
"Andy..." teriak nya, Andy pun menoleh saat mendengar suara Elnaz.
"Duluan aja, nanti gue nyusul" kata Andy pada teman teman nya, ia pun menunggu Elnaz yg sedang berlari ke arah nya.
"Ndy..." kata Elnaz dengan nafas yg terengah.
"Sudah seperti di kejar setan saja kamu, El. Kenapa? Kangen?" goda Andy yg membuat Elnaz mendengus.
"Mama mu, Ndy..." kata Elnaz masih mencoba mengatur nafas nya.
"Kenapa Mama ku?" tanya Andy.
"Dia tahu dari mana Kak Elsa tinggal sama pacar nya?" tanya Elnaz yg membuat Andy malah mengerutkan kening nya.
"Maksud nya?" tanya Andy lagi.
"Mama mu tahu dimana apartement Jimmy?" tanya Elnaz yg membuat Andy semakin bingung.
"Absurd banget pertanyaan mu, Neng. Tahu dari mana, kecuali...."
"Kecuali apa?" tanya Elnaz penasaran.
"Kecuali Mama melihat pacar Elsa saat kami ke apartement nya Om Hardi. Aku memang sempat dengar Mama telponan sama teman teman nya pas lagi masak, memang nyebut nyebut nama Elsa sih" tukas Andy yg membuat Elnaz langsung mengangguk mengerti.
.........
Setelah mendapatkan alamat Jimmy dari Elnaz, Pak Malik langsung memberikan alamat itu pada sopir taksi dan mereka pun segera meluncur kesana.
Sementara Bu Isna hanya bisa terdiam, ia sendiri sangat takut jika benar apa yg di katakan orang orang tentang putri nya. Mau taruh dimana wajah nya nanti.
Sesampainya di alamat yg di tuju, Pak Malik langsung menekan bel yg ada di pintu itu. Namun setelah beberapa saat menunggu, tidak ada satu pun orang yang membuka kan pintu. Pak Malik mencoba nya beberapa kali lagi, namun hasil nya sama.
"Mungkin tidak ada orang, Mas" kata Bu Isna.
"Diam, Is" Pak Malik menggeram tertahan membuat Bu Isna langsung mingkem.
"Aku akan tetap menunggu di sini, sampai ada yg datang. Aku harus membuktikan apa yg di gosipkan orang dan apa yg di katakan Elnaz itu benar atau salah"
"Mau menunggu sampai kapan di sini, Mas? Sebaik nya kita ke apartemen teman Elsa saja, Elsa pasti tinggal di sana" kata Bu Isna. Pak Malik memikirkan hal itu sesaat namun kemudian ia mengangguk setuju.
Mereka pun hendak memasuki Lift namun saat lift terbuka, di dalam nya sudah Elnaz.
"El, kamu sedang apa di sini, Nak?" tanya Pak Malik.
"Mau menyusul Papa, El khawatir" kata Elnaz sambil melangkah keluar dari lift.
"Tidak ada orang di apartemen, El" kata ayah nya.
"Mungkin lagi di luar, Pa. Sebaik nya Papa sama Mama kerumah El saja ya" ajak Elnaz.
"Memang nya selama Elsa di sini, kamu jarang menghubungi nya El?" tanya Mama nya.
"Kak Elsa itu orang yg sibuk, Ma. Lagian Mama tahu sendiri hubungan ku sama Kak Elsa tidak baik" jawab Elnaz. Ia kembali menekan tombol lift dan kemudian menunggu lift yg seperti nya memang sedang naik.
"Ya seharus nya kamu bisa mengalah dong, El. Berada di posisi Elsa itu yg paling sakit, tunangan nya malah menikahi mu, bisa kamu bayangkan perasaan nya?" Elnaz tersenyum kecut menanggapi pertanyaan ibu nya itu.
"Itu lagi itu lagi yg di bahas, Ma... Ma. Memang nya tidak bosan?" tanya Elnaz yg membuat kedua orang tua nya itu tercengang karena Elnaz yg terbilang berani pada Mama nya.
"Lagian masa lalu ya masa lalu, Ma. Sebaiknya kita lupakan dan jalan saja ke depan, ikhlas, udah itu saja, biar sama sama tenang, Kak Arfan bukan jodoh nya kak Elsa. Wes, inti nya itu" kata Elnaz lagi.
Ting...
Lift terbuka dan menampilkan dua sosok yg mereka tunggu, Elsa dan Jimmy. Bahkan kedua nya menganga lebar melihat kedatangan kedua orang tua Elsa.
"Akhir nya, kalian pulang juga" kata Elnaz "Papa Mama mau bertemu kalian"
Elsa langsung keluar dari lift dan langsung menarik lengan Elnaz bahkan setengah meremas nya membuat Elnaz meringis sakit.
"Apa apaan ini, El?" bisik Elsa dan Elnaz langsung menghempaskan tangan Elsa dari lengan nya.
"Kenapa? Papa mama kan cuma mau menjenguk anak nya, ada yg salah?" tanya Elnaz menantang.
"Halo, Tante. Aku Jimmy..." Jimmy masih bersikap ramah dan sopan, ia bahkan mengulurkan tangan nya pada Bu Isna namun Elnaz menahan tangan ibu nya saat hendak menerima uluran tangan Jimmy.
"kami semua sudah tahu siapa kamu, Jimmy" kata Elnaz tajam "Kamu bohong sama kami, sama Kak Elsa, dan sama istri mu juga yg bermama Tiana itu, ya kan?" tanya Elnaz sambil tersenyum puas.
Hal itu tentu memuat Jimmy langsung melongo bingung, apa lagi saat Elnaz menyebutkan nama istri nya.
"Kamu itu apa apaan sih, El?" desis Elsa "Jimmy itu belum menikah, jangan asal bicara" kata Elsa kesal.
"tunggu sebentar" Elnaz mengeluarkan ponsel nya dari ransel nya, kemudian ia menghubungi Arfan. Tak lama kemudian sambungan telpon tersambung dan Elnaz langsung me load speaker ponsel nya.
"Assalamualaikum, Sayang? Ada apa?" terdengar suara arfan dari seberang telpon.
"Kak, coba ceritakan pertemuan Kak Arfan dengan Mbak Tiana itu?" pinta Elnaz.
"Kenapa memang nya, El?"
"Kak Elsa ingin dengar, sekarang aku lagi sama Kak Elsa, pacar nya, juga ada Papa Mama di sini"
"Apa? bagaimana bisa? jangan bercanda deh, El" karena Arfan tak percaya, Elnaz pun mengalihkan panggilan nya ke panggilan video dan Elnaz langsung menunjukan orang orang di sekitar nya itu pada Arfan.
"El, kamu ke apartemen Jimmy lagi tanpa izin ku?" tanya Arfan lagi dan ia tampak kesal.
"Aku kesini karena ingin menyusul Papa Mama" Jawab Elnaz juga kesal "Sebaik nya Kak Arfan kasih tahu deh apa yg Kak Arfan tahu"
"Iya, aku memang bertemu dengan wanita yg bernama Tiana, dan itu memang istri nya Jimmy. Aku bahkan tahu dimana rumah nya" jelas Arfan yg membuat elsa langsung terpaku dan ia tampak sangat kecewa pada Jimmy.
"Sayang, itu... Itu tidak benar" Jimmy berusaha membela diri sambil berusaha menggapai tangan Elsa namun Elsa menepis nya dengan kasar.
"Aku kecewa sama kamu, aku benci sama kamu, Jim" desis Elsa marah.