
Elnaz tak bisa berhenti menatap Arfan yg saat ini kembali mengobati luka Elnaz dan kemudian mengganti perban nya, Elnaz terus mengingat ucapan tegas Arfan pada Mama nya semalam. Elnaz sangat tidak menyangka akan hal itu, sebenarnya Elnaz merasa senang karena Arfan membela nya seperti biasa, tapi Elnaz juga merasa tidak enak pada ibunya. Ia takut ibunya semakin tidak mau menerima pernikahan Arfan dan diri nya. Dan yg pasti, lagi lagi pasti Elnaz yg akan di salahkan.
"Kenapa liatin aku begitu, Sayang? Aku tampan, hm?" goda Arfan yg membuat Elnaz terkekeh.
"Sangat tampan, pria tertampan di dunia..." jawab Elnaz yg membuat Arfan ikutan terkekeh "Em, Kak..."
"Kenapa, Sayang?" tanya Arfan.
"Kak Arfan kenapa galak begitu sama Mama tadi malam? Memang nya tidak takut?" tanya Elnaz yg membuat Arfan tersenyum simpul.
"Sayang..." Arfan duduk di depan Elnaz setelah ia mengobati dan mengganti perban di tangan dan di kaki sang istri
"Aku bukan nya galak, hanya memperlihatkan bahwa kita sudah dewasa dan ini rumah tangga kita. Tidak ada yg berhak ikut campur dalam rumah tangga kita dalam hal apapun meskipun hanya dengan alasan mengurus rumah karena kamu sakit, apa lagi Elsa menawarkan diri untuk merawat suami mu. Itu sangat tidak pantas, Elnaz.
Aku harap kamu mengerti dan harus tegas juga, entah itu sama Elsa ataupun Mama mu. Di rumah ini, dalam rumah tangga kita, kamu adalah ratu nya dan orang luar tidak berhak mengatur mu, hm"
tukas Arfan yg membuat hati Elnaz menghangat karena ia begitu di hargai oleh Arfan sebagai istri nya, bahkan benar benar menjadikan Elnaz ratu sejati nya, padahal pernikahan mereka tanpa cinta bahkan tak pernah Arfan harapkan sedikitpun.
"Iya, El tahu dan El sangat setuju kalau apa yg di katakan Kak Elsa sangat tidak pantas" ucap Elnaz kemudian.
"Karena jujur saja, Kak. El cemburu dan tidak suka Kak Elsa dekat dekat sama Kak Arfan, bukan nya El punya perasangka buruk pada Kak Elsa tapi...tapi hati El tetap tidak bisa terima" ujar Elnaz dengan suara lirih nya, Arfan tersenyum senang mendengar hal itu dan ia menangkap pipi Elnaz dengan kedua tangan nya, menatap tepat kedalam mata sang istri.
"Iya, aku tahu, Sayang. Itu wajar, karena bukan hanya wanita lain yg bisa jadi racun rumah tangga kita, saudara kita pun bisa. Karena itulah aku selalu mengabaikan Elsa apa lagi mengingat status kami dulu, tapi sekarang aku pastikan dan aku tegaskan, kamu istri ku, cinta ku, belahan jiwa ku, dan aku mempersembahkan semua yg aku miliki hanya untuk mu... " tutur nya yg membuat hati Elnaz berbunga bunga.
"El tahu..." jawab Elnaz dengan senyum yg mengembang lebar di bibir nya, ia pun mendekati pipi Arfan dan mengecup nya, kemudian berbisik di telinga sang suami dengan mesra "I love you, Love, My Precious..."
Arfan langsung meremang mendengar bisikan yg menggoda hatinya itu, apa lagi panggilan my precious yg berarti yg sangat di cintai dan sangat berharga.
Hati Arfan langsung berdebar hebat mendengar itu dan ia pun langsung menyambar bibir Elnaz, ia memberikan ciuman menggebu yg membuat Elnaz terkejut dan hanya bisa mengerang lirih karena tidak siap dengan serangan tiba tiba itu. Hingga Arfan dengan sangat terpaksa melepaskan ciuman nya saat di rasa ia dan sang istri membutuhkan oksigen.
"I love you more, Love, my precious, my lady queen" bisik Arfan tepat di depan bibir Elnaz yg masih terbuka dengan nafas yg memburu. Pipi Elnaz langsung terasa panas dan pasti sudah merah seperti kepiting rebus mendengar ungkapan cinta sang suami.
"Sudah ah, kakak kan harus bekerja" ujar Elnaz kemudian.
"Iya, kalau ada apa apa, ingat..."
"Langsung telepon kakak..." sela Elnaz dengan cepat, Arfan tertawa kecil dan kembali memberikan kecupan ringan di bibir sang istri.
"Iya, Love. Good girl..." seru Arfan.
"I know, Love..." balas Elnaz malu malu.
Bu Isna pergi ke pasar untuk berbelanja keperluan dapur nya. Dan di sana ia bertemu dengan Bu Yuni, Bu Yuni pun memanggil adik ipar nya itu namun Bu Isna pura pura tak mendengar nya.
"Is... Isna..." panggil Bu Yuni sembari mengejar Bu Isna.
"Ada apa, Mbak?" tanya Bu Isna kemudian sembari menoleh namun tak menghentikan langkah nya.
"Tahu kamu ke pasar juga, kita barengan saja, Is..." seru Bu Yuni.
"Aku buru buru, Mbak" jawab Bu Isna ketus yg membuat Bu Yuni heran.
"Is, kamu kenapa? Ketus amat..."
"Anak mu itu..." seru Bu Isna kemudian dan ia pun berhenti melangkah, Bu Isna menatap Bu Yuni yg tampak bingung.
"Arfan?" tanya Bu Yuni "Dia kenapa?"
"Arfan itu aneh, dia berpendidikan tapi berani meninggikan suara nya pada mertua nya sendiri..." seru Bu Isna.
"Maksud nya?" tanya Bu Yuni yg semakin bingung.
"Tadi malam aku menghubungi Elnaz, hanya untuk memberi tahu kalau Elsa ingin membantu mereka karena Elnaz sedang sakit. Tapi Arfan menganggap ku dan Elsa orang lain, bahkan dia menyuruh ku tidak ikut campur urusan rumah tangga nya" tukas Bu Isna kesal. Karena ia memang sangat kesal saat Arfan mengatakan bahwa Elsa dan diri nya adalah orang lain dan tidak berhak ikut campur urusan mereka.
Sementara Bu Yuni yg mendengar anak nya di salahkan tampak tidak terima.
"Arfan seperti itu karena membela Elnaz, anak mu..." seru Bu Yuni tak kalah kesal nya "Arfan selalu bersikap sopan dan tidak pernah meninggikan suara nya di depan orang tua"
"Tapi Elnaz kan istrinya..." seru Bu Isna lagi yg semakin kesal "Sebagai orang yg berpendidikan, seharusnya Arfan tidak mengatakan hal seperti itu pada mertua nya. Itu malah mengajari istri nya membangkang orang tua nya"
"Jangan cuma bisa nya menyalahkan anak ku, Is. Kalau bukan karena membela Elnaz, Arfan tidak mungkin seperti itu. Seharusnya kamu juga mengajari anak mu yg cengeng itu..."
"Elnaz menjadi cengeng karena Arfan selalu memanjakan nya dan membela nya, Mbak. Kalau saja Arfan tidak selalu sok menjadi pahlawan Elnaz, anak ku itu tidak mungkin menjadi cengeng. Jadi jelas itu salah Arfan..." tukas Bu Isna yg tentu membuat Bu Yuni semakin kesal.
"Masih untung ada Arfan yg membela dan memanjakan Elnaz, Is. Dari pada Elsa, dengan egois nya meninggalkan Arfan di pelaminan dan malah melempar Elnaz sebagai ganti nya cuma demi pekerjaan..." seru Bu Yuni dan kemudian ia bergegas meninggalkan adik ipar nya itu dengan wajah yg memerah karena kesal.
Sementara Bu Isna hanya bisa terdiam dan ia menahan malu saat menyadari ternyata orang orang di sekitar nya memperhatikan perdebatan mereka.
Bu Isna pun segera bergegas pulang dengan rasa kesal yg juga memuncak.