
Keesokan hari nya Elnaz memulai hari nya seperti biasa, ia memasak nasi goreng karena Elnaz tidak punya waktu untuk memasak yg lain sementara hari ini ia ada kelas pagi.
"Selamat pagi, El..." sapa Papa nya yg baru keluar dari kamar nya.
"Selamat pagi, Papa..." Elnaz menyapa dengan senyum "Maaf pagi ini El cuma bisa buat nasi goreng, El ada kelas pagi hari ini" kata nya sambil tersenyum seolah tidak terjadi sesuatu.
"Tidak apa apa, Nak. Oh ya, dimana suami mu?" tanya Pak Malik dan ia membantu Elnaz memasak telur mata sapi.
"Masih di kamar, Pa" jawab Elnaz dan kata suami itu mengingatkan Elnaz pada bentakan dan amukan Arfan kemarin. Bahkan semalaman keduanya tak berbicara sedikitpun dan tidur pun saling memunggungi, begitu juga dengan pagi ini. Kedua nya masih dengan setia seolah berlomba menutup bibir nya rapat rapat.
"Oh ya, Pa. Mama kenapa tidak ikut?" tanya Elnaz kemudian.
"Mama mu mau datang nanti sekalian sama mertua mu" jawab Pak Malik dan Elnaz hanya ber Oh Ria
"El..." ayah nya memanggil Elnaz dengan begitu lirih.
"Papa, El minta maaf soal kemarin. Maaf karena El membuat hari pertama Papa di sini malah berantakan" Elnaz meminta maaf dengan tulus meskipun firasat nya dengan sangat yakin mengatakan bahwa ia tidak salah faham.
"Tidak apa apa, Nak. Justru Papa mau bilang terima kasih karena kamu sudah sangat perduli dengan kakak kamu, sungguh Papa bangga sama kamu, El" Pak Malik juga berkata dengan tulus, Elnaz bisa merasakan nya. Setelah hampir 19 tahun, ini pertama kali nya mereka berbicara dari hati ke hati sebagai anak.
"Tapi tetap saja El salah, Pa" ucap nya dengan suara lirih.
Pak Malik menatap anak nya itu yg kini sedang menyajikan nasi goreng di meja makan, menyiapkan tiga gelas air putih. Pak Malik tahu Elnaz tidak mungkin berbohong, tapi Pak Malik juga sangat berharap Elsa lah yg berkata jujur, dan Elnaz hanya salah faham. karena jika apa yg Elnaz kata kan itu benar, Pak Malik merasa bahwa lebih baik ia mati dari pada melihat anak gadis nya kehilangan arah dan kehormatan nya.
Tak lama kemudian Arfan turun dan ia terlihat rapi, Arfan menyapa ayah mertua nya begitu juga sebaliknya.
Mereka bertiga sarapan dalam diam, Elnaz merasa tidak nyaman sebenarnya dengan ayah nya, ia merasa bersalah. Seharusnya ia berenang senang sekarang karena ayah nya datang untuk merayakan ulang tahun nya.
"Fan, kamu mau ke rumah sakit?" tanya Pak Malik.
"Tidak, Pa. Aku shift siang hari ini tapi pagi ini aku mau mengantar Elnaz ke kampus..." ujar Arfan sambil melirik Elnaz namun Elnaz tetap menunduk pada makanan nya.
"Itu perjanjian kami, Pa. Elnaz hanya akan memakai motor ketika aku tidak bisa mengantar jemput dia, tapi seperti nya sekarang dan seterusnya aku akan selalu mengantar jemput dia" Arfan menjawab sembari sekali lagi melirik Elnaz.
Arfan memang ingin mengantar jemput Elnaz dan memastikan Elnaz tidak melakukan kebodohan seperti kemarin lagi. Arfan juga ingin memastikan Elnaz menjauhi pria bernama Robin itu.
Setelah selesai sarapan, Elnaz bersiap pergi ke kampus nya dan tentu bersama Arfan.
Sepanjang perjalanan kedua nya juga hanya diam saja dan sibuk dengan fikiran nya masing masing.
Hingga saat mereka sampai di kampus Elnaz, Arfan baru membuka suara nya.
"Telpon kalau kelas nya sudah selesai" tukas Arfan dan Elnaz hanya mengangguk tanpa berniat membuka mulut nya.
"Tidak perlu tanya apapun pada Robin tentang Jimmy atau apapun itu, itu bukan urusan mu" ucap Arfan lagi dan Elnaz kembali hanya mengangguk membuat Arfan menggeram kesal.
Elnaz pun melompat turun dari mobil tanpa salim pada suami nya dan itu membuat Arfan merasakan seperti ada sesuatu yg kurang, Arfan bahkan belum mengecup kening Elnaz seperti yg biasa mereka lakukan sebelumnya.
.........
Elsa termenung di kamar nya, di kamar nya yg ada di apartment Olga. Elsa merasa bersalah karena sudah membohonginya Papa nya, tapi Elsa merasa tak punya cara lain.
Kemarin saat Elsa menghubungi Mama nya, Mama nya langsung memberi tahu Elsa kalau ayah nya ke Jakarta. Hal itu menjadi kesempatan bagi Elsa untuk menyelamatkan diri.
Ponsel Elsa berdering dan tertera nama Jimmy di layar smartphone nya itu.
Elsa enggan menjawab nya karena ia masih dalam fikiran yg kacau dan perasaan yg resah.
Kini pesan dari Jimmy yg datang, yg mengatakan kalau Jimmy merindukan Elsa dan ingin Elsa pulang malam ini ke apartment nya.
Elsa juga tak menjawabnya, karena masih ada Papa nya di Jakarta dan ia tidak tahu tertangkap basah seperti yg Elnaz lakukan.