(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 120 - 7 Bulanan Elnaz


Di rumah Bu Yuni sedang di sibukan dengan persiapan acara 7 bulanan Elnaz.


Elnaz sendiri masih ada di kamar nya saat ini dengan di temani Arfan, raut wajah Arfan sangat bahagia dan berseri seri padahal ini hanya acara 7 bulanan.


Saat acara akan di mulai, Bu Isna dan Bu Yuni menjemput Elnaz dan Arfan untuk memulai acara nya.


Ada banyak tamu yg datang memenuhi halaman rumah Bu Yuni, bahkan Dokter Liam dan Suster Jessy yg masih menikmati masa masa sebagai pengantin baru juga datang.


Dan lagi lagi Dokter Nadine pun datang, membuat Elnaz kesal sebenarnya namun ia berusaha bersikap santai seperti biasa.


"Kak Arfan undang dia?" tanya Elnaz.


"Iya, mumpung dia ada di Surabaya kan..." jawab Arfan gg tentu saja membuat Elnaz kembali semakin kesal.


Elnaz memakai kebaya berwarna putih yg di hiasi dengan rangkaian bunga melati yg menutupi sebagian dada nya.


Sementara Arfan juga mengenakan baju adat jawa dan di mata Elnaz suami nya itu terlihat sangat tampan.


Elnaz mencoba mengabaikan keberadaan Nadine yg sejak tadi memperhatikan Arfan, Elnaz ingin menikmati acara ini dan juga berbagai ritual lain nya dengan hikmat.


Arfan menemani Elnaz dalam setiap runtutan upacara 7 bulanan yg di lewati nya.


Elnaz teringat dengan mendiang sang nenek, dimana peran nya sangat penting dan sangat di butuhkan di saat seperti ini. Elnaz merasa sedih karena tak ada sang nenek di samping nya, padahal nenek nenek nya sangat berharap bisa memiliki cicit nya dari Elnaz.


Air mata Elnaz terjatuh begitu saja kala ia mengenang sang nenek tercinta.


Di saat ibu nya sibuk memanjakan dan mengurus Elsa, Elnaz bergelanyut manja dan terus merepotkan nenek nya.


Di saat semua orang menyakiti Elnaz karena Arfan menikahi nya, hanya nenek nya yg ada di sisi nya, menghapus air mata nya, membela nya, dan menguatkan nya.


Saat ibu nya menyiram tubuh Elnaz dengan air kembang, Elnaz sangat berharap nenek nya lah yg melakukan nya.


Air mata haru dan sedih Elnaz bercampur dengan air kembang yg membasahi wajah nya, ia terharu karena tak menyangka ia akan melewati acara indah ini setelah acara resepsi pernikahan yg di siapkan Arfan untuk nya.


Acara 7 bulanan nya ini sangat berkesan untuk nya, semua orang hadir, tersenyum bahagia, memberi nya selamat dan mendoakan ia dan jabang bayi dalam kandungan nya.


Ia mendapatkan kasih sayang orang tua kandung nya dan dukungan mertua nya. Dan jangan lupakan suami yg sangat mencintai nya, sungguh Elnaz tak menyangka ia akan di cintai dan mencintai mantan tunangan kakak nya, kakak sepupu nya yg ia anggap sebagai saudara sendiri.


Elnaz tak menyangka ia akan mengandung benih dari Arfan.


Elnaz merasa begitu sempurna sekarang...


Setelah acara siraman selesai, kini Elnaz di bawa kembali ke kamar untuk berganti pakaian.


Ada sedikit drama kecil di sana ketika Arfan mengatakan akan membantu Elnaz berganti pakaian...


"Ya jangan toh, Fan... Kamu tunggu dulu di luar" ujar ibu nya.


"Memang nya kenapa, Ma? Sudah biasa Elnaz ganti pakaian sama aku..." ujar Arfan bersikukuh membuat ibu nya mendelik.


"Mungkin Elnaz atau kamu tidak malu, tapi kami yg malu melihat kelakuan kalian..." ujar Bu Yuni lagi mengingat Arfan pernah mencium Elnaz di depan Bu Yuni dan Suami nya. Dan saat itu, baik Elnaz apa lagi Arfan tidak terlihat canggung apa lagi, justru Bu Yuni dan Pak Adi yg merasa canggung dan malu.


"Hem, wangi bunga segar..." ujar Arfan yg membuat Bu Yuni dan Bu Isna geleng geleng kepala, sementara Elnaz hanya bisa tersenyum tersipu karena ulah suaminya itu.


Elnaz mengganti baju yg sebelum nya dengan 7 macan kain jarik, namun hanya kain ke 7 lah yg ia kenakan. Sementara 6 kain yg lain nya di jadikan alas duduk nya.


Setelah selesai Acara di lanjutkan dengan pemotongan nasi tumpeng, Arfan pun harus menyuapi Elnaz dengan nasi tumpeng dan tentu Arfan akan melakukan nya dengan senang hati.


Arfan menyuapi Elnaz dengan penuh kasih sayang, bahkan kedua manik mata nya memancarkan hal yg sama. Ia menatap Elnaz penuh cinta dan hal itu membuat hati Elnaz menghangat.


"Hon..." Bisik Suster Jessy pada Dokter Liam yg saat ini memperhatikan sahabat nya itu lekat lekat, terlihat sekali dari sorot mata Dokter Liam ia ikut bahagia untuk sahabat nya itu.


"Hmmm" respon nya.


"Nanti kalau aku hamil, kamu harus mesra seperti Arfan ya..." Dokter Liam langsung mengerutkan kening nya saat mendengar ucapan istri nya itu, ia menoleh dan menatap sang istri.


"Memang nya selama ini aku tidak romantis?" tanya nya.


"Ya romantis, tapi kamu tidak pernah manjain aku seperti Arfan..." rengek Suster Jessy "Lihat tuh..." ia menunjuk Arfan dan Elnaz dengan dagu nya, terlihat Arfan yg sedang membersihkan sudut bibir Elnaz dan senyum lembut tercetak di bibir Arfan "Elnaz benar benar di manja sama Arfan..." imbuh Suster Jessy yg membuat Dokter Liam terkekeh.


"Sejak Elnaz lahir, Arfan memang selalu memanjakan nya. Cinta Arfan pada Elnaz itu sesuatu yg berbeda, tidak akan bisa di tiru" tukas nya sembari melingkarkan tangan nya di pinggang Suster Jessy.


"Seperti Arfan yg sangat mencintai Elnaz, seperti itu juga aku mencintai mu, hanya saja cara kami dalam mencintai yg berbeda. Elnaz tumbuh di bawah pengawasan Arfan, Arfan bahkan sudah jatuh cinta pada sejak ia baru terlahir ke dunia ini. Selain itu, usia mereka yg terpaut cukup jauh dan Arfan sudah terbiasa memanjakan Elnaz sebagai adik nya dulu, yah... Sampai menikah pun hubungan mereka akan selalu terlihat unik, karena awal dari hubungan itu sendiri memang sangat unik"


"Fenomena bahkan..." imbuh suster Jessy yg membuat Dokter Liam kembali terkekeh.


Sekarang acara menyuapi nasi tumpeng sudah selesai, di Jawa akan ada prosesi memecah kelapa gading, dimana di kelapa itu akan di gambar tokoh wayang yg cantik dan tampan. Maksud dari prosesi ini harapan akan jenis kelamin si jabang bayi. Dan ini tentu akan di lakukan oleh ayah dari jabang bayi.


Arfan menatap Elnaz, semalam kedua nya sempat membicarakan hal ini dan Elnaz mengaku tidak mau ada prosesi yg satu ini. Karena Elnaz mengharapkan bayi nya sehat dan sempurna tanpa berfikir apakah bayi nya laki laki atau perempuan.


Elnaz takut jika ia mengharapkan bayi perempuan tapi yg lahir laki laki, maka dia tidak akan sayang pada bayi itu. Begitu juga sebaliknya.


Namun Arfan meyakinkan Elnaz, apapun jenis kelamin nya mereka berdua akan sangat menyayangi dan mencintai nya. Sementara prosesi ini adalah adat, ibu Elnaz dan ibu mertua nya tentu tetap akan melakukan adat turun temurun ini.


Sekarang Arfan memilih kelapa yg bergambar laki laki, ia punya alasan untuk itu. Arfan mengakui pada Elnaz, jika boleh jujur ia ingin anak pertama mereka laki laki. Dengan begitu, anak mereka akan menjaga Mama dan adik adik nya nanti. Karena notabane nya laki laki adalah pemimpin dan pelindung.


Setelah acara memecah kelapa, kini prosesi yg Elnaz tunggu.


Prosesi membuat rujak, Elnaz suka sekali rujak ala 7 bulanan. Saat tetangga nya mengadakan acara 7 bulanan, nenek Elnaz selalu meminta kan rujak nya karena Elnaz sangat suka.


Elnaz membuat rujak nya dengan di bantu ibu dan ibu mertua nya, rujak itu kemudian akan di bagikan pada tamu. Saat Elnaz membagikan nya, Elsa tiba tiba datang dengan senyum di bibir nya.


"Terlambat, acara nya sudah selesai..." rajuk Elnaz pada kakak nya itu.


"Hehe, maaf, El. Masih kerja..." jawab Elsa.


"Perasaan kerja terus..." Elnaz kembali merajuk, kemudian ia memberikan satu mangkuk yg berisi rujak itu pada Elsa dan Elsa menerima nya dengan senang hati.


"Terima kasih, Dek.."


"Sama sama, Kak..."