
Berdiri aku di samping paman Sam, tampak Ashan sedang menyiapkan alat panah yang akan kami gunakan.
Di bukanya sebuah peti berwarna hitam di hadapannya, tampak sekumpulan beberapa senjata yang berbeda berada di dalam peti itu, ia mengambil satu busur panah lalu di berikan nya busur panah itu kepada ku.
"Apa kau siap nona?" Ungkapnya menyerahkan busur panah seraya sedikit tersenyum.
Aku mengangguk dan meraihnya.
Di raihnya tabung kayu yang berisi anak panah di dalam peti itu, ia kembali memberikan nya kepadaku.
Berjalan kami ke arah tempat panahan. Berhenti aku seraya melihat Ashan yang sedang menyiapkan busur panah miliknya pribadi yang ia simpan.
Ia mulai mengambil anak panah dan memasangnya di busur panah miliknya, ia menariknya dengan kuat.
Jleb...
Anak panah itu berhasil menancap di tengah-tengah lingkaran no sepuluh. Wah... memang mengagumkan.
"Sekarang giliran mu nona..." Ungkapnya seraya berbalik menatapku.
Ku tarik nafas ku dalam-dalam, ku fokuskan anak panah ku pada satu titik di dalam lingkaran. Ku lepaskan pegangan ku pada busur panah yang sudah siap meluncur...
Jleb...
Anak panah ku berhasil menancap di dalam lingkaran namun aku hanya mendapat nilai empat...
"Cukup bagus untuk pemula..."
"untuk anak-anak..." Ungkapnya tersenyum meremehkan.
"Sial .." Gumamku.
Kesatria sialan. Ia meremehkan ku. Aku juga manusia biasa yang penuh dengan kekurangan, ingin sekali ku bungkam mulutnya dengan tanah.
Hufthhh...
Sabar Zenith... Jaga image mu.
"Nona hanya perlu memfokuskan pandangan nona ke satu titik yang akan nona incar ..." Ungkapnya seraya mempraktekkan gerakannya.
Aku dari tadi juga begitu, Bambang. Eh nama nya Ashan bukan Bambang. Upss...
Aku mulai memfokuskan pandangan ku pada satu titik fokus di lingkaran itu. Namun aku terkejut saat Ashan memegang kedua tanganku untuk mengajariku.
Please deh... Jangan deg degan...
"Fokus nona..." Ungkapnya persis di belakangku. Bahkan aku bisa merasakan hembusan nafas nya yang mengenai rambutku.
Bagaimana aku bisa fokus jika kita terlalu dekat. Ahhkk... Laki-laki yang cari kesempatan, sialan.
Bodo amat... Jangan kalah karena pesona Ashan yang tidak ada apa-apa nya itu.
Kembali aku memfokuskan pandangan ku.
Jlep...
Aku berhasil mendapat nilai delapan.
"Yeayyy...."
Yah walau pun tidak sempurna tapi aku sudah mulai mengerti cara menggunakan panah.
"Bagus nona... Anda memberikan perkembangan yang cukup pesat..." Ungkap nya tersenyum kepada ku.
"Kau hanya perlu percaya kepada nona mu ini Ashan..." Ucapku penuh dengan nada penekanan.
"Baiklah,,, ku harap kau bisa lebih hebat dariku nona..." Ungkap nya tersenyum seraya berbalik pergi duduk bersama paman Sam.
Aku berlatih sendiri dengan fokus. Sesekali ku rasakan keringat jatuh membasahi tubuh ku.
Terik matahari membuat ku sedikit kesusahan untuk memfokuskan anak panah ku, karena aku menggunakan pakaian yang salah. Anak panah ku hanya berhasil mendapatkan nilai sembilan. Ternyata begitu susah menggunakan panah. Memang mudah di katakan tapi sulit di lakukan.
Ku berbalik meletakkan busur panah beserta tabung yang berisi anak panah di dalam peti hitam, ku langkahkan kakiku menghampiri Ashan dan paman Sam duduk di kursi bawah pohon.
"Paman Sam,,, aku kelelahan... Aku akan kembali ke kamar..." Ungkapku berhenti menatap mereka.
"Baiklah nona..." Ungkapnya seraya berdiri di ikuti oleh Ashan.
Ku langkahkan kakiku berbalik pergi menuju kamar ku, aku sangat kelelahan.
-
-
-
"Ada banyak cara untuk maju tapi hanya ada satu cara untuk diam"