
"Lari..." Teriak ku, menarik tangan Albert dengan erat. Karena kecerobohan ku mereka melihat kami berdua.
"Kau sangat ceroboh Zenith..." Teriak Albert, yang sudah berlari mendahului ku tanpa melepaskan tangan kiri ku.
"Aku kan sudah minta maaf kak..." Elak ku tanpa berhenti berlari.
"Lihat lah mereka, kita tidak bisa menggunakan sihir apapun untuk perlindungan... Ahhh... Lupakan, kita harus berlari..." Teriak nya lagi.
Sesekali aku menoleh ke belakang memastikan jarak antara kami dengan mereka, aku merasa para Orc itu tidak memiliki rasa lelah sedikit pun.
"Kak, bisakah kita cari tempat bersembunyi... Aku lelah..." Teriak ku, seraya pandangan mata ku mencari tempat persembunyian.
Semakin lama kami berlari semakin lelah pula tubuh ku yang mungil ini, keringat bercucuran tanpa henti dengan suara nafas menderu-deru dengan sesak.
Ku lepaskan tangan Albert yang masih menggenggam ku dengan erat, aku berhenti sejenak seraya ku pegang kedua lutut ku dengan mengatur nafas.
Aku kembali berdiri dengan tegap saat Albert berteriak kepada ku, aku menoleh ke belakang melihat para Orc sudah mulai dekat dengan tempat ku berdiri.
Dengan langkah cepat, aku kembali berlari mengikuti Albert yang masih berdiri menunggu ku di sana. Aku berlari mendahului nya seraya pandangan ku fokus mencari tempat untuk persembunyian.
"Kak... Lihat lah di sana..." Teriak ku, tatkala pandangan mata ku menatap ke arah sebuah bebatuan yang tak jauh di pinggir jurang.
Kami berdua berlari ke arah bebatuan itu dengan cepat.
Hoshhh... Hoshh... Hoshh....
Terdengar suara Albert yang tak beraturan mengatur nafas nya, begitu juga dengan ku.
Ku tatap Orc yang mulai berhenti, mereka terlihat mempertajam penciuman dengan mengendus-endus ke sekitar. Kembali ku arahkan pandangan mata ku menatap ke arah Albert yang membauri tubuh nya dengan tanah, sedikit basah karena terkena keringat yang masih bercucuran, tanah itu menjadi lumpur yang berwarna coklat kehitaman, jika ku katakan itu sangat kontras dengan warna kulit nya.
Saat ku arah kan pandangan mata ku ke bawah tanah aku melihat sebuah jejak langkah kaki yang berjalan ke arah jurang tersebut.
Aku merangkak mendekati jejak tersebut, saat itu juga aku melihat sebuah jalan yang menuju ke bawah jurang.
"Kak..." Panggil ku pelan. Ia menoleh ke arah ku.
Aku turun ke jalan itu dengan hati-hati.
"Cepat kak..." Panggil ku lagi saat kak Albert masih terdiam bersembunyi di sana.
Ia merangkak mendekati ku dengan perlahan. Aku menatap ke arah jalan yang menuju ke bawah jurang. Aku terus berjalan dengan Albert yang sudah berada di belakang ku dengan penuh hati-hati.
Aku berhenti ketika sebuah kerikil batu menggelinding dari atas mengenai kepala ku, aku menatap ke arah atas saat sesuatu kembali jatuh di hadapan ku.
Dengan sigap, kami berdua merapat kan tubuh ke tanah dengan bantuan rerumputan yang tumbuh dengan subur di dekat kami.
Suara nafas yang menderu-deru dari para Orc itu membuat kami berdua kembali berkeringat dengan deras, jantung ku berdetak dengan cepat ketika salah satu dari mereka turun ke jalan itu dengan mengendus-endus sekitar.
_
_
_
❤️❤️❤️