
Setelah masuk mobil Yogha yang berpikir Ainun tuli dan bisu, langsung menulis sebuah kalimat yang panjang.
"Maaf karena kesalahan saya, kamu harus menikah dengan saya"
Yogha menulis itu karena menurutnya yang paling di rugikan atas pernikahan mereka adalah Ainur.
Yogha berpikir jika Ainur yang paling dirugikan karena pasti pak Kiai memaksa ainur untuk setuju menikah dengannya, dan itu memang benar Ainur memang dipaksa tapi tidak dengan ancaman melainkan dengan ceramah panjang yang membuat Ainur setuju.
"Maaf untuk sementara saya belum bisa mempertemukan kamu dengan kedua orangtua saya karena kondisi mamah belum memungkinkan" isi tulisan Yogja lagi
"Oh iya kita akan langsung ke apartemen, kita akan tinggal di sana sementara waktu, sampai kondisi mamah lebih baik dan maaf nanti di apartemen kita tidak akan tinggal di kamar yang sama, jika setuju kamu tinggal mengangguk!".
Tulisan tersebut langsung di berikan pada Ainur yang berada di kursi belang dan Ainur yang telah membaca tulisan Yogha langsung menganguk setuju.
"Syukurlah Ainur kamu setuju" Ucap Yogha yang merasa lega dan Ainur yang mendengar ucapan Yogha hanya tersenyum di balik cadarnya.
"Oh iya Bos kita kemana dulu, kerumah atau langsung kerumah sakit" tanya Bagus yang memang belum tahu tujuan mereka.
"Apartemen" jawab Yogha singkat.
Bagus yang mendengar jawaban Yogha berpikir jika ada sebuah rencana yang belum di ketahuinya alhasil dia berkata "Jadi rencana apa yang akan kau jalankan, sampai memilih pergi keapartemen dulu?".
Yogha pun menjelaskan rencananya dan apa yang dikatakan yogha sama seperti apa yang tadi dia tulis untuk Ainur.
Setelah berjam-jam mereka berada di jalan akhirnya mereka sampai di apartemen, Yogha dan Bagus langsung mengantar ainur, ya mengantar karena Yogha dan Bagus akan pergi lagi, dan tujuan mereka selanjutnya adalah rumah sakit.
Namun sebelum pergi Yogha menunjukan isi apartemennya kepada ainur, dan saat menunjukan sebuah kamar Yogha memberi Ainur sebuah kertas dan di kertas itu bertuliskan.
Ainur mengangguk dan setelah melihat anggukan Ainur Yogha pun pergi.
Saat akan membuka pintu keluar Yogha terlebih dulu mengucap salam ya walau tahu Ainur tuli dia tetap malakukannya karena itu kebiasaannya saat keluar rumah, mau ada orang dirumah atau tidak dia tetap mengucapkan salam.
Yogha sampai di Rumah sakit dan kini dia juga Bagus sudah mendekati ruang rawat sang mamah, dan Pak Agung yang kebetulan sedang di luar kamar langsung menghampiri sang anak dan memeluknya.
"Syukurlah nak kamu selamat, segera temui mamah mu dia pasti sangat senang melihatmu" ucap pak Agung setelah melepaskan pelukannya
"Iya pah, maaf sudah membuat kalian khawatir".
"Ya papah maafkan, tapi untuk kedepannya papah melarang kalian untuk melakukan pendakian lagi" ucap pak Agung yang tidak mau kejadian serupa terulang lagi
Yogha menganguk tanda setuju dan setelah itu diapun melangkah untuk masuk kekamar rawat sang mamah namun sebelum benar benar masuk pak Agung menahannya, karena dia baru sadar dengan pakayan yang di pakai Yogha "Nak, kenapa pakayan mu seperti itu?".
"Pakayan??" ulang Yogha yang juga tidak sadar, jika dari tadi dia hanya memakai baju koko juga sarung dan baru setelah mendengar ucapan sang papah dia melihat pakayannya dan dengan replek dia berkata sambil tersenyum "Sedang mendalami peran pah".
"Peran menjadi mantu pimpinan pondok di sana?" ucap Pak Agung bercanda, namun candaan pak Agung membuat Yogha dan Agus terdiam dan saling tatap.
"Apa mereka sudah tahu" arti tatapan Yogja pada Bagus.
Bagus yang mengerti tatapan Yogha, langsung menggeleng tanda jika dia juga tidak tahu, karena dia belum memberi tahu siapapun tentang pernikahan Yogha.
"Kalian kenapa diam, apa ada madalah" tanya pak Agung saat melihat kedua anak muda itu hanya diam lalu Yogha dan Bagus kompak menjawab "Tidak ada".
"Kompak banget, ya sudah ayo masuk" ajak pak Agun mencoba percaya jika tidak ada masalah yang sedang terjadi pada kedua anak muda didekatnya itu.