
Pukul setengah tujuh malam, keramaian terlihat di sepanjang jalanan kota. Kelap-kelip lampu kendaraan menghiasi ruas-ruas jalan, sesekali terdengar bunyi klakson bersahutan dari beberapa kendaraan yang melintas. Seolah turut menambah keramaian suasana malam.
Terlihat sang rembulan membulat sempurna. Ditemani dengan ribuan bintang yang bersinar terang dengan sedikit awan tipis yang semakin menegaskan betapa agung sang Maha penggenggam kehidupan dengan menggoreskan keindahan di hamparan langit malam. Angin berhembus pelan. Seolah ikut melantunkan kalimat tasbih, memuji keagungan Ilahi.
Tepat pukul tujuh, mobil warna hitam yang dikemudikan oleh Awan tiba di hotel, lokasi yang digunakan untuk mengadakan acara ulang tahun perusahaan. Di salah satu ballroom hotel inilah yang nantinya akan menjadi tempat di selenggarakannya acara yang cukup meriah ini.
Awan keluar dari dalam mobil dan diikuti oleh Cahya. Lelaki itu kemudian membantu sang ibu untuk keluar dari dalam mobil untuk kemudian ia dudukkan di atas kursi roda.
"Ay ... Seharusnya tadi anak-anak kamu biarkan untuk ikut. Masa iya anak-anak kita justru tidak ikut merasakan suasana bahagia seperti ini?"
Awan merasa sedikit keberatan karena Alina dan Malika tidak ikut dalam acara ulang tahun perusahaan. Padahal lelaki itu ingin sekali memperlihatkan hasil kerja kerasnya dalam mencapai puncak kejayaan di depan kedua putrinya.
"Kamu tahu sendiri kan Mas kalau anak-anak sudah mengantuk. Biasanya kalau sudah mengantuk seperti itu, mereka sedikit rewel, minta ini minta itu. Aku khawatir jika nanti malah justru mengganggu jalannya acara ini, Mas. Maka dari itu, aku putuskan agar mereka tetap di rumah saja dengan bik Asih dan pak Kasim."
Cahya menanggapi santai pertanyaan Awan. Sejatinya, ia memang sengaja tidak mengajak anak-anak agar mereka tidak tahu akan kebejatan sang ayah. Meskipun nantinya mereka juga akan terluka karena perpisahan kedua orang tuanya, namun setidaknya tidak ada kesan buruk yang membekas di benak anak-anak perihal perilaku ayahnya.
"Tapi kapan lagi aku bisa memperlihatkan proses-proses yang aku lewati sampai sukses seperti ini di hadapan anak-anak kalau tidak sekarang Ay?" tanya Awan dengan sedikit gusar.
Cahya memegang pundak Awan dan mengusapnya dengan lembut. "Mereka pasti kelak akan tahu dengan sendirinya bagaimana perjalanan dan perjuanganmu Mas."
"Tapi bagaimana caranya Ay?"
"Sudahlah Mas, kamu tidak perlu risau. Yang terpenting saat ini kamu bisa mempertahankan apa yang sudah kamu dapatkan. Karena sejatinya mempertahankan itu jauh lebih sulit dari mendapatkan. Di saat kita berupaya untuk mendapatkan, mungkin rintangan yang kita hadapi hanya bagaimana caranya mencari customer dan relasi. Sedangkan untuk mempertahankan, jauh lebih sulit karena kamu harus terus menjaga image perusahaan di depan khalayak umum...."
Cahya menjeda sejenak ucapannya. Ia belai wajah suaminya ini dengan penuh kelembutan. "Jangan sampai image perusahaan yang sudah susah payah kamu bangun hancur seketika hanya karena sesuatu yang kamu anggap sepele."
Awan menghembuskan napasnya sedikit kasar. Entah mengapa ucapan istrinya ini terasa sedikit membuat hatinya tercubit. "I-itu sudah pasti Ay. Aku tidak pernah melakukan satu kesalahan pun yang bisa menghancurkan reputasi perusahaan."
"Syukurlah kalau begitu Mas. Kalau begitu kamu masuk ke ballroom bersama ibu terlebih dahulu ya Mas. Aku ingin bertemu sebentar dengan EO acara kita."
"Baiklah Ay, aku ke sana dulu."
Awan mendorong kursi roda Marni dan segera menuju ballroom. Sedangkan Cahya menuju lobi di mana di sana ia berjanji untuk bertemu dengan EO acaranya ini.
"Bu Cahya!" panggil Arka yang didaulat menjadi ketua EO kala melihat bayang tubuh Cahya berjalan ke arah lobi.
"Pak Arka, bagaimana persiapannya? Apakah semua sesuai dengan rencana?"
"Iya Bu, semua sudah sesuai dengan rencana. Namun untuk video terakhir yang akan diputar, saya sengaja memberikan efek blur. Semoga bu Cahya tidak kecewa."
"Kenapa harus di blur Pak? Bukankah akan lebih bagus jika terpampang secara jelas wajah suami saya dan selingkuhannya sehingga membuat mereka benar-benar malu?" tanya Cahya dengan dahi sedikit mengernyit. Pola pikir Arka sedikit berbeda dengan apa yang menjadi keinginannya.
Arka tersenyum simpul, mencoba untuk memberikan alasannya. "Ini semua untuk menjaga bu Cahya agar tidak terkena pasal pelanggaran UU ITE. Gambar saya blur hanya untuk bagian-bagian tubuh saja. Sedangkan wajah suami bu Cahya dan selingkuhannya akan tetap terpampang jelas."
"Lalu, apa lagi yang pak Arka persiapkan perihal video itu?"
"Saya juga akan membuat semacam rules agar selama acara berlangsung, para tamu undangan tidak menggunakan handphone ataupun kamera. Sehingga video yang akan diputar nanti tidak akan pernah bisa diabadikan oleh siapapun. Kamera hanya dari tim EO dan itu sudah ada perjanjian hitam di atas putih agar pada saat pemutaran video mereka tidak merekam apapun."
"Apakah serumit ini hanya untuk mempermalukan suami saya Pak?" tanya Cahya dengan raut wajah yang sendu.
Ia hanya berniat mempermalukan suaminya di depan khalayak umum namun ternyata ada banyak peraturan yang harus ia lewati.
"Rencana seperti ini harus kita atur serapi mungkin, Bu. Bu Cahya ingat bukan jika saat ini ada UU ITE yang menjerat siapapun yang dengan sengaja menyebarkan video as*usila? Maka dari itu, saya hanya berupaya untuk meminimalisir hal-hal buruk semacam itu menimpa bu Cahya."
"Astaghfirullahalazim..," lirih Cahya sembari memijit pelipis. Karena nafsu ingin mempermalukan suaminya begitu menggebu ia sampai lupa jika akan ada banyak pasal yang menjeratnya jika sampai video itu tersebar.
"Dengan cara yang sudah saya persiapkan itu, inshaAllah posisi bu Cahya akan aman. Meskipun gambar sudah di blur, namun para relasi bisnis pak Awan akan tahu perbuatan apa yang dilakukan oleh suami Ibu."
"Baiklah kalau begitu Pak. Terima kasih banyak karena pak Arka sudah begitu totalitas dalam membantu saya."
"Sama-sama Bu. Kalau begitu saya masuk ke ballroom terlebih dahulu ya Bu."
"Baik Pak."
Arka melenggang pergi meninggalkan Cahya yang masih berdiri di depan lobi. Wanita itu menghembuskan napas lega karena dipertemukan dengan tim EO yang mumpuni seperti EO milik Arka. Efek-efek negatif yang sama sekali tidak terpikirkan di benaknya, justru dipikirkan oleh Arka.
Cahya yang masih larut dalam pikirannya tiba-tiba terusik kala manik matanya menangkap bayangan seorang wanita yang begitu familiar di matanya. Wanita dengan dress panjang warna hitam dengan model v-neck hingga memperlihatkan belahan dadanya. Wanita itu berjalan melenggak-lenggok dan di dampingi oleh dua paruh baya.
"Mbak Mega, apa kabar? sapa Cahya kala melihat Mega melintas di hadapannya."
"Hei Bu Cahya. Kabar baik. Bagaimana persiapannya?" tanya balik Mega berbasa-basi.
"Alhamdulillah semua rencana sudah matang dan sesuai dengan keinginan saya. Yang pasti saya akan membuat pesta ini berkesan di mata dan hati para tamu undangan terlebih mbak Mega!"
"Waaaoowww ... Sepertinya terdengar menarik sekali. Saya jadi tidak sabar untuk melihat acara itu."
Cahya membungkukkan sedikit tubuhnya. "Kalau begitu silakan masuk ke ballroom Mbak, karena sebentar lagi acara akan segera dimulai."
"Baiklah kalau begitu. Saya permisi Bu!"
Giliran Mega dan kedua orang tuanya yang melenggang pergi meninggalkan Cahya. Cahya menatap sinis punggung wanita yang lambat laun mulai hilang dari pandangannya itu.
Bersiaplah untuk kehancuran kalian!!!!
.
.