
"Aku berangkat dulu ya Han. Kamu baik-baik di rumah!"
Setelah menikmati sajian menu telur orak-arik buatan sang istri, Awan bersiap untuk berangkat ke resto bersama Kardi. Ia menuju mobil yang sudah terparkir rapi di halaman rumah.
"Iya Mas. Kamu juga hati-hati. Awas, jangan macam-macam!"
"Siap Honey!"
Awan bersiap untuk masuk ke dalam mobil. Namun baru saja ia akan membuka pintu mobil, tiba-tiba perhatiannya terusik kala melihat rombongan ibu-ibu yang menuju ke kediamannya. Awan pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke mobil.
Mega yang juga tengah berdiri di halaman rumah tidak kalah terkejut dengan kedatangan rombongan ibu-ibu yang baru sekali ia temui ini. Sejak ia tinggal di tempat ini bisa dipastikan ia tidak memiliki teman. Jangankan teman, mengenal tetangga saja tidak.
"Selamat pagi Pak, Bu....," sapa kumpulan ibu-ibu itu kepada Awan dan Mega.
"Selamat pagi juga Ibu-ibu. Maaf ada keperluan apa ya kok sampai datang berbondong-bondong seperti ini?" tanya Awan untuk memangkas rasa penasarannya.
"Begini Pak, Bu ... Saya dan Ibu-ibu yang lainnya sengaja kemari untuk memberi ucapan selamat datang. Kami merasa sangat kurang sopan karena sejak Bapak dan Ibu tunggal di sini, kami belum memberikan sambutan," ucap bu Tutik tulus.
Ucapan yang disampaikan bu Tutik sukses menampar wajah maupun hati Awan dan Mega. Seharusnya mereka sendirilah yang merasa tidak enak hati karena belum memperkenalkan diri kepada tetangga. Jangankan berkenalan ataupun berbaur, laporan kepada pihak RT saja belum mereka lakukan.
"Ya ampun saya yang jadi merasa tidak enak hati Bu, Ibu. Maafkan kami karena kami belum sempat untuk memperkenalkan diri. Kami terlalu sibuk untuk mempersiapkan resto kami, Bu, Ibu."
"Ah tidak apa-apa Pak. Yang jelas kami datang kemari sengaja untuk menyambung tali silaturahmi dengan Bapak maupun Ibu ..... Maaf kalau boleh tahu namanya siapa ya Pak?"
"Saya Awan dan ini istri saya Mega. Sedangkan ini adalah mertua saya, pak Kardi."
"Oh Pak Awan, bu Mega, dan pak Kardi. Salam kenal ya. Nama saya bu Sri, kebetulan saya ini ibu RT. Meskipun rumah yang ditempati Pak Awan dan bu Mega ini sedikit jauh dari perkampungan, namun tetap masuk di RT saya."
"Oh iya bu Sri, terima kasih untuk informasinya."
"Lalu yang ini adalah bu Tutik dan ini bu Salim. Keduanya merupakan ibu-ibu paling aktif di RT ini. Jika ada kegiatan apapun yang melibatkan para kaum ibu, mereka inilah yang menjadi koordinatornya," sambung bu Sri memperkenalkan pasukan yang ia bawa.
"Salam kenan Ibu-ibu..."
Awan melirik ke arah Mega yang masih terlihat hening. Lelaki itu memberi sebuah isyarat agar sang istri mempersilahkan para tetangga untuk masuk ke dalam.
Mega yang mengerti akan isyarat yang diberikan oleh sang suami melalui lirikan matanya, mengangguk pelan.
"Mari Ibu-ibu silakan masuk. Kita ngobrol di dalam!" ucap Mega mempersilahkan.
"Ah, apa tidak merepotkan Bu?" tanya Bu Tutik sedikit sungkan.
"Tidak apa-apa Bu, masuk saja. Biar lebih enak ngobrolnya," usul Awan. "Ini maaf ya Bu, Ibu karena saya tidak bisa ikut ngobrol. Saya harus segera berangkat ke resto, untuk mempersiapkan grand opening besok."
"Wah, wah, ternyata Pak Awan merupakan pengusaha sukses ya. Pantas, tidak pernah terlihat ada di rumah," sanjung bu Tutik.
"Ah bu Tutik ini bisa saja. Ya sudah, silakan lanjutkan obrolannya di dalam, saya tinggal terlebih dahulu."
Setelah sedikit basa-basi menyambut kedatangan para tetangga, Awan segera memacu laju mobilnya untuk menuju resto. Sedangkan Mega, mulai memandu para tetangga ini untuk masuk ke ruang tamu.
***
Mega meninggalkan para tamunya sejenak. Ia menuju dapur untuk membuatkan minuman tetangganya ini.
"Ya ampun, rumah sebesar ini mengapa terlihat berantakan sekali ya Bu?" bisik bu Tutik.
Mulut Bu Tutik seakan tidak bisa untuk tidak berkomentar akan kondisi rumah besar milik tetangga barunya ini. Sebuah kondisi rumah yang jauh dari kata rapi dan juga bersih.
"Iya ih. Lihat Bu, itu di sofa ruang tamu masa ada tumpukan jemuran kering. Adududuh ... Merusak penglihatan sekali," timpal bu Salim kala melihat tumpukan pakaian di sofa ruang tamu.
"Dan ini coba lihat Bu!" Bu Tutik mengusap meja kaca yang berada di ruang tamu dan memperlihatkannya ke arah bu Salim dan bu Sri. "Debunya banyak sekali. Apa perabotan di rumah ini tidak pernah dibersihkan ya, sampai berdebu seperti ini?"
"Iya ih, jorok sekali ya Bu. Padahal wajahnya mulus, glowing, tapi rumahnya kayak kandang sapi."
"Ssssttt ... Bu-Ibu, sudah jangan mengomentari keadaan rumah orang, tidak baik itu. Ingat ya, masuklah dalam keadaan buta dan keluarlah dalam keadaan bisu," timpal bu Sri dengan memberikan nasihat yang cukup mendinginkan hati.
"Bu Sri ini membicarakan siapa sih? Kok pakai orang buta sama orang bisu segala?" cicit bu Tutik keheranan.
"Astaghfirullah, maksudnya itu, ketika kita bertamu jangan melihat kekurangan yang ada di dalam rumah. Sedangkan pada waktu kita pulang, jangan sampai berkomentar di belakang atau bahkan membicarakannya dengan orang lain. Begitu maksudnya Bu,"
Bu Tutik dan Bu Salim seketika hening kala mendengar sedikit tausyiah dari bu RT. Bu Sri ini memang terkenal begitu bijak dalam berpikir maupun bertindak, maka tidak heran jika kharisma positifnya begitu terpancar.
"Aduh Bu-Ibu mohon maaf ya karena lama. Mari silakan dinikmati. Mohon maaf karena hanya ada teh hangat. Saya belum sempat ke supermarket untuk membeli camilan."
Selang beberapa saat, Mega kembali ke ruang tamu dengan membawa sebuah nampan yang berisikan tiga cangkir teh hangat. Teh yang disajikan oleh Mega itu disambut penuh syukur oleh para tetangga.
"Oh iya Bu Mega, ini kami bawakan pisang mas sebagai tanda jalinan silaturahmi kita," ucap bu Sri seraya menyerahkan pisang mas itu ke arah Mega.
Wajah Mega nampak berbinar terang. Melihat warna kuning terang buah pisang ini seakan membuatnya tidak sabar untuk mencicipi.
"Wah, wah, wah, sepertinya ini enak sekali Bu-Ibu. Pasti rasanya manis."
"Itu sudah pasti Bu. Kalau tidak percaya, silakan dicicipi!" usul bu Salim.
"Jadi ini boleh langsung saya makan Bu?" ulang Mega memastikan.
"Ya tentu boleh bu Mega. Kami justru teramat senang jika bu Mega segera memakannya. Itu artinya bu Mega menghargai apa yang kami bawa," terang bu Salim.
Entah mengandung magnet apa, buah pisang yang ada di depan mata Mega ini seakan menggoda dan merayu untuk segera dicicipi. Buah pisang ini seakan melambaikan tangan, mengajak Mega untuk segera menikmatinya.
Tanpa berlama-lama lagi, Mega mengambil satu buah pisang mas yang nampak menggoda ini. Ia kupas kulitnya dan ia gigit buah yang terkenal sebagai buah paling manis ini.
"Ya ampun, ini manis sekali Bu-Ibu," puji Mega.
"Kalau begitu habiskan saja bu Mega!"
Bak mendapatkan makanan yang begitu lezat, Mega terlihat begitu lahap memakan buah pisang ini. Entah sudah berapa banyak yang ia makan dan hanya sisa dua buah saja. Bahkan ia sampai lupa jika buah pisang mas merupakan pantangan dari susuk pemikat yang ditanam oleh ki Prana di dahi Mega.
.
.
.