Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 105. Mengharu Biru



Suasana masjid Hidayatullah yang berada tidak jauh dari kediaman Cahya pagi ini mendadak ramai. Bagian dalam masjid, saat ini sudah disulap menjadi sebuah ruangan yang begitu indah dengan nuansa warna putih. Beratus-ratus tangkai bunga mawar putih juga terlihat menghiasi seluruh penjuru ruangan ini. Konsep yang digunakan oleh Langit dan Cahya ini tergolong simpel namun tetap terlihat begitu elegan dan romantis.


Di depan mimbar telah teronggok sebuah meja kecil yang di atasnya terdapat serangkaian peralatan sholat, Al-Qur'an, dan juga sepasang cincin emas putih yang akan dijadikan mahar untuk prosesi akad nikah Langit dan Cahya. Cincin emas putih merupakan salah satu permintaan khusus dari Cahya sendiri. Ia menginginkan emas putih agar Langit bisa turut memakai di jari manisnya. Sehingga bisa menjadi sebuah tanda jika lelaki itu saat ini sudah beristri.


Mungkin hal itu terkesan konyol. Langit adalah salah satu tipe lelaki setia, jadi meskipun tidak memakai cincin di jari manisnya pun, ia pasti akan bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang suami. Namun itu adalah salah satu upaya Cahya untuk mengantisipasi segala godaan yang mungkin banyak berkeliaran di luar sana untuk suaminya nanti. Apalagi dia pernah berurusan dengan yang namanya perebut lelaki orang.


Para rombongan kedua mempelai sudah siap di tempat masing-masing. Langit dengan setelan jas modern berwarna putih dan kopiah warna senada sudah duduk bersila di depan meja kecil itu. Terlihat di hadapannya, Candra juga telah duduk bersila yang akan menjadi wali nikah dari Cahya. Penghulu, Cakra, Angkasa, dan beberapa kerabat dari kedua keluarga juga terlihat duduk di sana. Dan di barisan belakang, nampak beberapa tamu undangan yang akan turut menjadi saksi pernikahan Cahya dan juga Langit hari ini.


Sementara itu, dalam ruangan yang sama dengan sebuah sekat dari kain gordyn berwarna hijau, Cahya terlihat sudah bersiap untuk menunggu kapan ia harus menyusul Langit di depan mimbar. Cahya terlihat semakin cantik dengan balutan kebaya modern berwarna putih lengkap dengan hijab dan juga roncean bunga melati yang menghiasi hijabnya. Di tempat itu ia tidak sendiri. Bintari, Wulan, Nawang, Alina dan Malika terlihat mendampingi calon pengantin wanita itu. Tidak ada yang terpancar dari raut wajah mereka selain rona kebahagiaan yang begitu kentara.


"Wah, Bunda cantik sekali ya Dek?" puji Alina seraya meminta pendapat dari sang adik.


"Iya Kak, Bunda terlihat cantik sekali. Bunga melatinya juga cantik."


"Anak-anak Bunda juga terlihat cantik-cantik sekali. Apa kalian bahagia?" tanya Cahya memastikan.


"Tentu Bunda. Kami sangat bahagia. Karena sebentar lagi kami akan mempunyai ayah baru," celoteh si bungsu dengan polos.


"Alhamdulillah, Bunda juga ikut bahagia melihat kalian bahagia, Nak."


***


Serangkaian acara mulai berjalan satu persatu. Setelah sang Qori' membacakan kalam cinta yang berada di setiap ayat-ayat Al-Qur'an, kini tiba saatnya untuk melaksanakan prosesi ijab-qabul.


Ijab-qabul bukan hanya merupakan perjanjian antara dua manusia, melainkan juga merupakan perjanjian antara manusia dengan sang pencipta. Begitu sakralnya ijab-qabul ini, sehingga Allah menyebutnya mistaqon gholizho atau perjanjian Allah yang berat. Sebuah perjanjian di mana saat terucap, pintu-pintu langit terbuka, dan malaikat-malaikat turut serta menyaksikannya. Sebuah perjanjian yang berat karena kelak, Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada lelaki bergelar suami dalam membimbing keluarganya.


Langit masih duduk bersila di hadapan penghulu dan wali. Cahya belum nampak mendampinginya. Cahya baru akan keluar dari tempatnya ketika ijab-qabul itu telah terucap.


"Nah mas Langit, sebelum kita menginjak ke acara ijab-qabul, terlebih dahulu kita mendengar izin menikah dari mempelai wanita ya. Izin menikah ini akan diucapkan oleh mbak Cahya untuk pak Candra yang merupakan wali nikah dari mbak Cahya," ucap pak penghulu yang di datangkan dari KUA.


Langit mengangguk. "Baik Pak."


"Nah mbak Cahya, silakan untuk mengucapkan sepatah atau dua patah kata untuk kedua orang tua mbak Cahya. Ini semua juga bisa berarti sebagai salah satu bentuk permintaan restu mbak Cahya kepada kedua orang tua mbak Cahya," ucap pak penghulu menggunakan microphone di tangannya.


Cahya yang masih berdiam di tempatnya mulai menghela nafas dalam kemudian perlahan ia hembuskan. Menggunakan microphone di tangannya ia akan mulai mengutarakan ketulusannya untuk meminta restu kepada Ibu dan juga ayahnya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh. Alhamdulillah wa syukurillah, puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia Nya sehingga kita semua bisa dikumpulkan di tempat ini dalam keadaan sehat walafiat. Terimakasih untuk semua tamu undangan yang sudah meluangkan waktu untuk bisa menghadiri acara ini."


Cahya sejenak menjeda ucapannya. Ia kembali menghembuskan nafas perlahan.


"Ayah... Ibu.... Dulu Cahya pernah melakukan sebuah kesalahan besar di mana Cahya menikah tanpa adanya restu dari Ayah. Atas ego yang Cahya miliki sampai-sampai membuat Cahya menjadi sosok anak durhaka karena melawan restu. Hingga pada akhirnya Cahya mendapati sebuah kenyataan bahwa pernikahan Cahya kandas di tengah jalan."


Air mata itu berjatuhan membasahi pipi Aya. Dalam keadaan seperti ini, kenangan-kenangan pahit itu kembali berputar di kepala.


"Ayah, Ibu.... Semua hal telah Cahya lalui. Sampai pada akhirnya, Cahya dipertemukan dengan sosok seorang laki-laki bernama mas Langit. Siapa sangka ternyata lelaki bernama mas Langit ini merupakan lelaki yang dulu pernah Ayah jodohkan dengan Cahya dan yang sempat Cahya tolak. Sungguh sebuah skenario yang tidak pernah Cahya duga sebelumnya."


"Ayah .... Ibu, kini Cahya dipertemukan dengan mas Langit dalam keadaan yang menurut Allah jauh lebih baik. Sosok laki-laki yang tidak hanya sholeh, namun juga penuh cinta dan kasih yang ia perlihatkan di depan Cahya. Hari ini, lelaki sholeh itu akan menjadikan Cahya halal untuknya. Tentunya akan merengkuh tubuh Cahya untuk ia bimbing untuk bersama-sama meraih surga Allah melalui sebuah ikatan suci bernama pernikahan."


Air mata Cahya kembali mengalir deras dari pelupuk matanya. Ia kembali mengatur nafas untuk dapat melanjutkan ucapannya.


"Ayah ..... Ibu... Cahya sudah memantapkan hati untuk menerima niat baik mas Langit. Saat ini, izinkan Cahya untuk meminta restu dan ridho dari Ayah dan juga Ibu. Restui serta ridhoi pernikahan Cahya hari ini Yah, Bu. Karena sungguh restu dan ridho dari Ayah dan juga Ibu yang akan menjadi pondasi pertama di dalam mengarungi kehidupan berumah tangga kami. Ikhlaskan Cahya yang sejak dulu berada di dalam dekapan Ayah dan juga Ibu untuk menjalankan peran sebagai seorang istri. Dan ikhlaskan pula Cahya untuk kembali menempuh kehidupan baru bersama suami Cahya yang baru. Cahya juga meminta, jangan putus doa dan pinta dari Ayah dan juga Ibu yang kalian langitkan kepada sang maha penggenggam kehidupan, agar keluarga yang Cahya bangun bersama suami Cahya bisa menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Serta pernikahan Cahya kali ini menjadi pernikahan terakhir untuk Cahya. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh."


Cahya sudah tidak lagi bisa menahan rasa harunya. Ia menangis sejadi-jadinya di tempat itu. Sebentar lagi, ia benar-benar akan segera melepas masa jandanya. Bintari dan Wulan juga tidak kuasa menahan air matanya. Kedua paruh baya itu memeluk Cahya bersamaan dengan erat.


"Kami merestuimu Nak!"


Tidak hanya Cahya, Bintari, dan Wulan. Semua yang memenuhi area dalam masjid ini juga ikut berderai air mata. Inilah salah satu fase kehidupan selain kelahiran dan kematian. Langit, Candra, Cakra, Angkasa yang berada di tempat yang terpisah dengan Cahya pun juga ikut larut dalam suasana yang mengharu biru seperti ini. Dari sini mereka bisa mendengar dengan jelas ucapan tulus seorang anak perempuan untuk meminta doa dan restu di dalam menapaki kehidupannya yang baru.


"Mashaallah... Ucapan dari mbak Cahya benar-benar membuat kami yang mendengarnya ikut larut dalam keharuan ini. Inshaallah Ayah dan Ibu mbak Cahya sudah merestui dan meridhoi mbak Cahya untuk menikah di pagi hari ini." Pak penghulu menautkan pandangannya ke arah samping di mana Candra berada. "Bukan begitu pak Candra?"


Hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Candra penghulu itu kemudian melanjutkan ucapannya. "Nah pak Candra, silakan memberikan sedikit tanggapan dari ucapan putri Bapak. Sepatah atau dua patah kata saja."


Candra mengangguk. Ia menerima microphone yang diberikan oleh penghulu. Ia juga terlihat menghela nafas dalam kemudian ia hembuskan perlahan.


"Cahya putri Ayah yang sangat Ayah cintai... Tidak banyak yang akan Ayah ucapkan di sini, selain hanya ucapan restu yang akan Ayah berikan untukmu. Cahya putri Ayah.. Ayah dan Ibu merestuimu, Nak. Jemputlah kebahagiaanmu bersama suamimu. Ayah hanya berpesan, tetap jadilah putri Ayah yang manis dan patuh. Jika dulu kamu patuh kepada semua perintah Ayah dan juga Ibu, kini kepatuhanmu harus senantiasa kamu perlihatkan di depan suamimu."


Sekilas, Candra melirik ke arah Langit yang saat ini duduk di hadapannya. Lelaki itu tersenyum manis. Hatinya teramat bahagia karena pada akhirnya Langit lah yang menjadi takdir cinta sang putri.


"Cahya putri Ayah... Patuhlah kepada perintah suamimu selama perintah itu tidak melanggar perintah-perintah Allah. Surgamu kini berada di dalam diri suamimu, maka berusahalah semampumu agar bisa menjadi seorang istri yang baik untuk suamimu. Seorang istri yang taat kepada perintah Allah, Rasul, dan suaminya. Seorang istri yang bisa selalu menyejukkan hati dan pandangan bagi suaminya, seorang istri yang amanah untuk menjaga harta benda suami yang dititipkan kepadanya, dan pastinya seorang istri yang bisa menjaga kehormatannya ketika suamimu sedang tidak berada di rumah."


Candra menjeda sejenak ucapannya kala rasa sesak itu kembali menghimpit dada. Rasa sesak yang mendorong bulir-bulir bening untuk jatuh dari jendela hatinya.


"Cahya putri Ayah... Selamat menempuh kehidupanmu yang baru, semoga surga itu akan senantiasa terbingkai indah di dalam kehidupan rumah tanggamu. Meskipun pernikahan ini bukanlah pernikahanmu yang pertama, namun Ayah mendoakan semoga ini menjadi pernikahanmu yang terakhir."


.


.


.