Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 21. Semakin Gila



"Aku sungguh merindukanmu Han!"


Tiba di kosan milik Mega, Awan tiada henti memeluk dan menciumi tubuh wanita itu. Belenggu rindu yang sejak semalam memenjarakan raga, pada akhirnya bisa terlepas setelah ia kembali bertemu dengan Mega. Seperti biasa, di matanya Mega selalu terlihat cantik luar biasa.


Mega tergelak sembari bergelayut manja di dekapan Awan. Ia merasa seperti dilambungkan ke angkasa melihat begitu manjanya kekasihnya ini. Ia semakin percaya jika susuk pemikat yang ia gunakan bekerja semakin maksimal.


"Kalau kamu merindukanku, mengapa kamu tidak pernah bermalam di sini Mas? Sempatkan beberapa hari untuk tidur di sini."


Awan sedikit menimbang-nimbang usulan dari Mega. Namun sepertinya untuk saat ini ia tidak bisa melakukan hal itu. Di kosan milik Mega ini seakan tidak ada privasi. Ia khawatir jika tiba-tiba saja ada pesaing bisnisnya yang memergokinya ada di tempat ini.


"Sepertinya tidak untuk saat ini Han."


"Lalu kapan Mas? Kapan kamu bisa bersamaku dalam waktu yang jauh lebih lama? Tidak hanya sekejap saja."


Awan berpikir, ia bisa sering-sering bermalam bersama Mega jika ia sudah membelikan kekasihnya ini rumah pribadi. Dengan begitu, privasinya akan jauh lebih terjaga.


"Nanti pasti akan tiba saatnya Han. Namun bukan sekarang. Sekarang, kita gunakan sebaik mungkin waktu yang ada untuk selalu mesra. Oke?"


"Issshhh ... Kamu ini. Memang kapan sih Mas perilakuku tidak mesra ke kamu? Perasaan, aku selalu memberimu kemesraan dan kepuasan."


"Hahahaha ... Maka dari itu Han, kalau bisa kita lebih mesra lagi."


Awan melangkahkan kakinya untuk kemudian duduk di tepian ranjang. Ia mengambil ponselnya dan mulai berselancar di dunia maya. Melihat-lihat isi berita yang tengah panas di hari ini.


Sedangkan Mega, ia berencana untuk mandi mengingat hari ini ia akan bekerja. Ia mulai membuka satu persatu kancing piyama yang ia kenakan. Seketika tubuh wanita itu dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.


"Mas, aku ingin pulang kampung untuk beberapa hari. Jadi kita tidak bisa bertemu terlebih dahulu."


Perkataan Mega membuat Awan terhenyak. Awan yang sebelumnya menundukkan wajah karena fokus pada layar ponsel yang ada dalam genggaman, seketika ia tegakkan wajahnya. Kini lelaki itu bisa melihat punggung putih dan mulus milik Mega.


"Pulang kampung? Kok mendadak sekali Han? Apakah ada acara?"


"Iya Mas, ada acara keluarga. Jadi aku harus menyempatkan diri untuk pulang kampung."


"Berapa lama Han?"


"Bisa tiga hari, lima hari, satu minggu atau mungkin satu bulan," jawab Mega sembari terkekeh pelan. Jawabannya itulah yang membuat Awan dibuat terperanjat.


Awan mendekat ke arah Mega yang tengah berdiri di depan cermin dan memunggunginya. Ia pun segera memeluk tubuh sang kekasih dari belakang dan ia letakkan kepalanya di atas pundak Mega.


Tangannya perlahan juga merangkak naik untuk bisa menjangkau gundukan sintal milik kekasihnya ini. Dengan lembut, Awan mer*emas dan memainkan p*ut*ing milik Mega.


"Jangan tega seperti itu kepadaku, Han!"


"Tega? Tega kenapa Mas? Perasaan aku tidak melakukan kejahatan apapun kepadamu."


"Baru beberapa jam tidak bersamamu aku sudah di kungkung oleh rasa rindu dan bayanganmu selalu menggodaku. Lantas bagaimana jika sampai satu bulan kamu meninggalkanku? Bisa-bisa aku mati Han!"


Awan semakin gila memainkan jemarinya. Bahkan lelaki itu sudah mulai memberikan bekas kissmark di ceruk leher Mega. Perbuatan Awan inilah yang semakin membuat Mega terangsang.


"Aaaahhhh .... Mas.... Jangan seperti ini. Jika seperti ini, aku sungguh tidak kuat untuk menahannya Mas ... Sshhhh... Aahhhh..."


Desa*han lirih keluar dari bibir Mega kala merasakan tubuhnya mulai panas akibat r*angsangan yang diberikan oleh Awan. Ia yang berniat menggoda Awan dengan candaannya, justru saat ini ia gagal karena Awan jauh lebih bisa membuatnya terangsang. Berkaki-kali wanita itu menggigit bibir bawah miliknya sebagai bentuk rasa nikmat yang tiada tara.


"Tiga hari Mas, hanya tiga hari!"


Awan tersenyum penuh kelegaan. Ia balik tubuh Mega hingga kini mereka saling berhadapan. Awan menatap sayu wajah kekasihnya ini. Ia dekatkan wajahnya untuk bisa lebih dekat dengan wajah Mega. Ia pun mengecup lembut bibir wanita ini. Puas mengecup bibir Mega, Awan geser bibirnya untuk menyentuh telinga.


"Katamu kamu sudah tidak sanggup menahannya? Bagaimana kalau kita ulangi apa yang kita lakukan semalam Han?"


Suara Awan terdengar lirih namun terasa begitu seksi di telinga Mega. Bak sebuah mantra, ajakan Awan ini membuat Mega hanya bisa menurutinya. Mega menganggukkan kepala seraya tersenyum lebar.


Mendapatkan lampu hijau dari Mega, tanpa basa-basi Awan membopong tubuh Mega ala-ala bridal style. Ia lempar tubuh Mega di atas ranjang. Ia tanggalkan pakaian yang ia kenakan hingga saat ini lelaki itu juga dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Tanpa membuang banyak waktu, Awan membuka kedua paha Mega dan ia benamkan wajahnya di sebuah lembah yang dihiasi oleh rambut-rambut tipis itu.


"Aaaaahhhhh Mas.... Sshhhhhh..," racau Mega saat merasakan lidah Awan memainkan sesuatu berbentuk kacang yang ada di bawah sana.


***


Setelah mengantarkan kedua putrinya ke sekolah, Cahya kembali ke tempat di mana mobilnya mogok. Di tempat itu Langit masih terlihat sibuk dengan mesin mobilnya. Cahya turun dari taksi online yang ia tumpangi. Dengan membawa kantong plastik yang berisikan air mineral dan roti, Cahya menghampiri Langit.


"Mas, bagaimana? Apakah mesin mobil saya bisa kembali menyala?"


Langit mengulas sedikit senyumnya. Ia yang sebelumnya membungkuk untuk memperbaiki mesin mobil Cahya, kini sedikit ia tegakkan.


"Seharusnya sudah bisa menyala Mbak. Coba Mbak hidupkan mesinnya."


Cahya menurut apa yang menjadi titah Langit. Gegas, ia nyalakan mesin mobilnya dan tanpa diduga mobil miliknya ini seketika menyala. Senyum sumringah terbit di bibir Cahya.


"Alhamdulillah ... Terima kasih banyak Mas. Saya tidak tahu harus bagaimana kalau tidak bertemu dengan Mas Langit."


Cahya berdiri di samping Langit sembari mengucapkan rasa terima kasihnya. Ia juga sangat bersyukur karena dalam keadaan sulit seperti ini, Allah mempertemukannya dengan orang baik seperti Langit.


"Sama-sama Mbak. Lain kali jangan sampai lupa ganti oli ya. Oli mesin mobil Mbak ini sudah hampir habis sehingga membuat mesin mati mendadak," tutur Langit memberikan penjelasan mengapa mesin mobil ini bisa sampai mati mendadak.


"Astaghfirullahalazim...," lirih Cahya dengan kedua bola mata yang membulat sempurna. "Iya Mas, benar. Sudah lama saya kelupaan mengganti oli."


"Lain kali bisa diingat memakai alarm di ponsel Mbak. Kapan waktunya servis dan ganti oli."


Cahya menganggukkan kepalanya. "Lalu, ini saya harus membayar berapa Mas, untuk mengganti uang oli?"


Mendengar pertanyaan Cahya hanya membuat Langit tergelak. "Sudah Mbak, tidak perlu diganti. Kebetulan di mobil saya ada stok oli jadi geratis untuk Mbak."


"Eh, jangan seperti itu Mas. Saya sungguh tidak enak hati. Coba katakan berapa uang oli yang harus saya ganti Mas?"


Langit kembali tersenyum penuh arti. "Jika Mbak benar-benar ingin mengganti uang oli itu, silakan Mbak masukkan ke dalam kotak infaq yang ada di masjid Mbak."


Cahya tersenyum lega. Meskipun Langit tidak menerima secara langsung uang pemberiannya, namun setidaknya ia bisa menghargai jerih payah Langit dalam membantunya.


"Baiklah kalau begitu Mas, nanti akan saya masukkan ke kotak infaq." Cahya mengulurkan kantong plastik yang ia bawa. "Diterima ya Mas. Ini hanya berisikan air mineral dan juga roti. Semoga bisa mengisi perut Mas Langit."


.


.


.