Triplet Dan CEO

Triplet Dan CEO
67. Ganteng Marvel atau Jason


Lala pulang bekerja seperti biasanya. Ia berniat naik bis namun ternyata mobil Marvel sudah terparkir manis di depan bakery tempatnya bekerja. Mau tidak mau Lala menerima tawaran Marvel untuk menjemputnya.


'' Kamu seharusnya tidak usah menjemput ku setiap hari,'' ucap Lala yang sudah berada di dalam mobil Marvel.


'' Kan baru dua kali,'' jawab Marvel tersenyum renyah.


'' Aku masuk kerja juga baru dua hari kali,'' balas Lala.


'' Heheehe tidak masalah. Aku sedang tidak ada perkejaan serius jadi aku sedikit bersantai sekarang,''


'' Kenapa bisa begitu? Apa ini karena perusahaan mu sudah diakusisi oleh perusahaan lain jadi kamu dikeluarkan dari perusahaan mu sendiri?'' tanya Lala. Lala sedikit tahu tentang masalah yang dialami oleh Marvel.


'' Tidak, bukan begitu. Aku masih tetap bekerja di perusahaan ku namun sekarang aku turun jabatan. Karena perusahaan itu sudah bukan menjadi milik ku lagi jadi tugas kerja ku tidak banyak,'' jelas Marvel tersenyum.


'' Apa kamu bersedih?'' tanya Lala melihat senyum Marvel yang sepertinya bukan makna senyum yang sebenarnya.


'' Sedih tentu saja. Tapi untung ada kamu,''


'' Aku?''


'' Iya kamu. Karena senyuman mu buat aku jadi tidak bersedih lagi,'' ucap Marvel tiada hari tanpa menggoda Lala.


'' Bisa aja kamu,''


Marvel terkekeh. Setiap kali ia menggoda Lala selalu saja wanita itu tersipu. Padahal godaan itu hanya sesuatu yang receh namun itu berhasil membuat Lala tertawa. Dan tawa Lala itu candu, seolah siapa saja yang melihatnya pasti ketagihan ingin melihat terus.


'' Oh ya bagaimana keadaan Jennie? Semalam aku pulang karena sudah sangat larut,'' tanya Marvel.


'' Dia masih di kontrakan. Katanya ia masih takut pulang, takut ketemu sama laki-laki yang kemarin,'' jelas Lala.


'' Jason pasti akan memberi pelajaran kepada laki-laki itu karena telah berani menganggu adiknya,''


Lala hanya mengangguk membenarkan dugaan Marvel. Jason sangat menyayangi Jennie. Sebagai kakak yang sangat menjaga adiknya, Lala yakin Jason akan membuat laki-laki yang bernama Dion kemarin menderita.


'' Kamu kenapa diam saja La, ketika aku membahas Jason?'' tanya Marvel setelah melihat Lala yang hanya mengangguk ketika membicarakan tentang Jason.


" Tidak apa-apa," jawab Lala sekenanya.


Marvel mengangguk setelah itu dirinya memfokuskan atensinya ke arah jalanan menuju kontrakan rumah Lala.


Tak berselang lama mobil Marvel sampai di pelataran rumah Lala. Marvel ikut turun karena dia juga ingin bertemu dengan triplet.


" Sepertinya di kontrakan kamu sedang ramai," ucap Marvel mendengar suara orang-orang yang sedang bercanda.


Marvel dan Lala masuk bersamaan ke dalam kontrakan rumah Lala. Sesampainya di ujung pintu, Lala melihat pemandangan yang tak biasa. Di kontrakannya ada Jennie dan juga Jason yang sedang bermain bersama triplet. Mereka tampak bahagia, triplet tidak henti-hentinya tertawa karena mendengar candaan dari Jennie. Satu fakta yang Lala ketahui, Jennie mudah mengambil hati triplet walaupun mereka baru saling mengenal.


" Tunggu,,, mengapa mereka begitu akrab? Apa setelah ini Jason dan Jennie akan mengambil triplet dariku?" batin Lala berkecamuk. Bukannya Lala tidak bahagia melihat triplet bisa tertawa namun ia khawatir suatu saat triplet akan merasa nyaman dengan Jennie sehingga bisa jadi itu mengakibatkan triplet yang akan meninggalkan Lala.


" Mama," teriak Oliver melihat Lala yang diam saja di ujung pintu.


" Hai, semua" sapa Marvel yang berada di samping Lala.


Pandangan Jason sangat tidak bersahabat ketika melihat Lala dan Marvel. Melihat itu dirinya bisa apa, sekarang kondisinya lagi bersama banyak orang tidak mungkin Jason akan menarik Lala untuk menjauh dari Marvel.


" Kamu sudah pulang La?" kini Jennie yang bertanya.


" Kebetulan kamu sudah datang. Kita nungguin kamu buat makan malam. Lebih baik kita makan malam segera!! Kak Jason sudah memesankan kita makanan tadi. Kak Marvel ikut sekalian juga,,,ayok...'' ucap Jennie menyuruh Lala dan Marvel bergabung bersama yang lain.


" Aku akan berganti baju sebentar," ucap Lala setelah itu ia ijin untuk pergi ke kamar.


Marvel dan Jason duduk berdampingan di ruang tamu kontrakan Lala. Karena kursi yang terbatas jadi dengan terpaksa mereka duduk di satu sofa kecil yang panjang. Triplet asyik bercanda dengan Jennie, sesekali Marvel dan Jason ikut menimpali mereka yang sedang bercanda.


" Triplet,,,, triplet,,," panggil Jennie kepada keponakannya.


" Iya onti,'' sahut triplet bersamaan.


" Menurut kalian diantara Om Marvel dan Papa Jason lebih ganteng yang mana?" tanya Jennie aneh. Jennie sebenarnya hanya ingin mencairkan suasana karena ia sebal melihat Jason dan Marvel yang selalu bungkam sedari tadi.


" Onti kenapa bertanya begitu?" tanya Matt balik. Jennie memang tidak ingin dipanggil tante oleh triplet makanya ia menyuruh keponakannya itu untuk memanggil dirinya dengan sebutan onti. Katanya itu biar terlihat gaul dan kekinian saja.


" Tidak apa-apa Max,,,"


" Matt onti," potong triplet cepat karena Jennie yang salah menyebut nama.


" Eh iya iya maaf. Kan onti cantik kalian belum bisa menghafal nama kalian satu-satu,"


" Jadi bagaimana? Ganteng Om Marvel atau Papa Jason?" tanya Jennie lagi.


" Om Marvel," celetuk Max. Jason melongo mendengarnya sedangkan Marvel tertawa bahagia.


" Papa Jason dong Max. Papa kan tampan, kalau papa tidak tampan mana mungkin kita bisa tampan," sanggah Olivier dan membuat Jason tersenyum.


" Om Marvel lebih tampan. Wajah Om Marvel bahkan mirip seperti pemain Spider-Man yang bernama Peter Parker yang diperankan oleh Tobey Maguire. Nama Om Marvel saja sama seperti nama komik terkenal di dunia, Marvel comics masa iya kamu tidak tahu. Uhhh aku sangat suka karakter Spiderman yang diciptakan oleh penulis Stan Lee dan artis Steve Ditko. Spiderman adalah pahlawan super fiktif yang paling aku sukai. Nanti kalau sudah besar aku mau jadi Spiderman saja," ucap Max membanggakan salah satu karakter Avengers.


" Mana bisa Max itu kan cuma pahlawan fiktif. Masa iya kamu mau gelantungan di atas gedung kayak Spiderman? Di jewer mama tahu rasa kamu?" ucap Oliver.


" Bukan begitu. Aku bercita-cita ingin menjadi aktor seperti pemain Peter Parker di film Spiderman, Liv. Tidak seperti yang kamu bilang tadi. Aku pasti menjadi aktor yang hebat, kan Om Marvel?" ucap Max kepada Marvel.


Apa-apaan ini mengapa salah satu anak Jason lebih memilih Marvel daripada dirinya.


" Max kalau begitu nanti kita pergi ke Amerika saja untuk berlibur. Di sina kamu bisa bebas mengagumi semua karakter Avengers yang kamu sukai," ucap Jason ingin mengambil hati Max.


" Benarkah pa? Wah aku sangat senang," jawab Max merasa bahagia.


" Kalau kamu Matt? Lebih ganteng Om Marvel atau Papa Jason?" giliran Matt yang ditanya oleh Jennie.


Dalam hati Jason semoga Matt memilih dirinya. Masa iya Jason kalah dengan Marvel. Sedangkan Marvel sudah tersenyum-senyum sejak tadi melihat Max yang membanggakan dirinya. Marvel juga tertawa dalam hati melihat raut wajah kesal Jason ketika Max lebih memilih dirinya daripada papanya sendiri.


" Menurut Matt,,,,,, lebih baik kita makan malam saja. Itu mama sudah keluar dari kamar," ucap Matt begitu melihat Lala keluar dari kamarnya.


Akhirnya tujuh orang yang berada di kontrakan Lala menikmati makan malam mereka dengan lahap. Tampak semua makan dengan tenang. Sedikit demi sedikit makanan yang tersaji habis tandas terlahap oleh mereka yang memang sudah merasa lapar.


" Matt ganteng papa kan ketimbang Om Marvel?" bisik Jason yang berada di sebelah Matt. Posisi mereka melingkar. Jason berada di dekat Jennie dan Matt sedangkan Lala berada di depan Jason dengan Marvel yang berada di sampingnya.


" Matt tidak tahu," jawab Matt acuh. Bocah itu sepertinya tampak nyaman dengan dunia makannya.