The Price Of Sincerity

The Price Of Sincerity
Kemunculan Yang Tak Disangka


Mentari pagi masuk menembus tirai jendela berenda, menyinari mata Jane yang terpejam. Jane mengernyit menyadari sesuatu yang menyilaukan matanya, dia mengangkat lengannya dan menutup matanya sebelum dia terbangun duduk.


“Ashh,” Jane mendesah kesakitan saat merasakan denyut ngilu di kepalanya. “Apa aku pingsan lagi.” Jane meremas seprai tempat tidur, dia melihat keluar jendela. Pagi yang cerah. Jane menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum menurunkan kakinya ke samping ranjang hendak beranjak dari sana. Menahan rasa sakit di kepalanya.


Namun gerakan tubuhnya terhenti secara tiba-tiba saat seorang wanita membuka pintu, wanita dengan handuk di tangannya. Dia terlihat sedang mengusap-usap rambut pendek sebahunya dengan benda lembut itu. Itu Shara.


“Jane. Kau sudah bangun.” Shara segera menghampiri Jane yang terduduk di tepi ranjang. “Apa yang terjadi? Apa kambuh lagi? Ah, sebentar aku akan ambilkan obatmu.”


Shara beranjak menjauh dari Jane. Dia pergi ke pojok ruangan tempat sekumpulan tas berapa. Dia mencari sesuatu, obat Jane. Dia mencari-cari tapi tidak ada, dia ingat dengan jelas membawa obat itu. Dia ingat jika dia sudah memasukkan obat itu ke dalam tas. Tapi dimana, tas yang mana. Dia mencari di semua tas yang dia bawa, tas nya dan tas Jane. Lama dia mencari tapi tak kunjung menemukannya.


“Shar, sudah lah. Aku baik-baik saja. Aku tidak butuh obat-obat itu lagi.” Jane bangun dari tempat tidur. Dia berjalan mendekat ke tempat Shara, menyelipkan kedua tangannya di pinggang wanita itu. Jane memeluknya dari belakang dan berkata, “Terimakasih banyak.”


Shara tertegun mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Jane. “Apa ini? Ada apa denganmu. Jangan membuatku takut seperti ini. Katakan padaku apa yang terjadi semalam?” Shara melepaskan diri dari pelukan itu dan berbalik arah, berhadapan dengan Jane. Dia menatap wanita itu dengan serius menunggu jawaban.


Kedua mata mereka bertemu, bertatapan lama sebelum kemudian Jane menjawab, “Ah, tenang saja aku tidak apa-apa. Semalam hanya pusing biasa, kau juga tau efek obatnya. Aku sudah mengonsumsi obat itu hampir lima tahun, jadi sepertinya aku harus berhenti memakan pil-pil itu kan.”


“Tapi Jane, bagaimana jika kambuh lagi. Kau bahkan tidak bisa tidur tanpa obat itu. Dan juga kau pingsan semalam, apa mungkin— kau menyembunyikan sesuatu dariku?”


“Mana mungkin aku menyembunyikan sesuatu. Percayalah denganku. Aku baik-baik saja. Semalam itu hanya sakit biasa, sungguh.”


“Hemmm ...” Shara menyetujuinya dengan penuh keraguan. “Baiklah. Lalu dimana obatnya? Biarkan aku menyimpannya untuk berjaga-jaga.”


“Sudah kubuang.”


“Apa?!”


Suara lantang dan nyaring Shara seakan bergema di ruangan itu. Dia terkejut, tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Bisa-bisanya Jane membuang obat yang selama ini dibutuhkannya begitu saja, dan mengatakan dia baik-baik saja.?!


Wajah Jane tersenyum lebar tanpa rasa bersalah sedikit pun. Dia pergi menjauh dari Shara dan menghilang di ambang pintu setelah berkata, “Seingat ku aku belum jadi mandi semalam.”


“Dia tersenyum? Tersenyum?? Ohh, ****. Dia pasti sudah mulai gila, sepertinya dia memang butuh obat itu.” Shara berjalan ke arah ranjang dan mengambil ponselnya yang ada di atas meja dekat tempat tidur. Dia membuka navigasi dan mencari apotek terdekat.


/Tidak ditemukan/


Shara mengirim sebuah pesan singkat. 'Bisakah kau kesini dan membawakan obat Jane. Ini lokasinya.' Sebuah pesan singkat dengan tautan lokasi yang dia kirimkan pada Devan. Satu-satunya orang yang bisa memenuhi permintaan nya, mungkin ada satu lagi. Suaminya, Tom. Tapi dia tidak akan menghubungi nya, karena dia tidak ingin mengganggu suaminya yang sedang menyelidiki seseorang. Seorang pria.


Siang hari, cukup terik karena matahari berada sejajar dengan ubun-ubun kepala. Tapi Shara yang duduk di balkon sambil menunggu pesanan makan siangnya datang tidak merasa panas sedikit pun, dia malah merasa sejuk karena terpaan angin yang datang padanya. Dia sedang sibuk dengan ponselnya, membuka sosial media. Dia melihat postingan beberapa selebritis dan model.


Ting.


Tiba-tiba satu notifikasi muncul di atas layar ponselnya. Sebuah pesan masuk dari suaminya. 'My husb', tertulis di layar, dia membukanya. Sebuah file dan beberapa foto terlampir kan di dalamnya, namun begitu dia akan membuka filenya terdengar bunyi bel dari pintu masuk. Shara meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja dan berjalan ke arah pintu.


Dan begitu pintu terbuka, dia terkejut. Dia terkejut melihat orang yang tak terfikirkan sedikitpun olehnya. Dia mengira yang akan berdiri disana adalah kurir yang membawakan makanan siang untuk dirinya dan Jane. Tapi dia salah, itu bukan seorang kurir. Tidak mungkin seorang kurir akan mengantarkan makanan dengan mengenakan setelan rapi berjaket kulit dan membawa beberapa orang di belakangnya. Pria itu, Max berdiri di hadapannya.


Hanya berselang beberapa menit, Max duduk manis di sofa coklat yang ada disana dengan di dampingi dua orang pria berkemeja hitam yang berdiri di belakangnya. Shara sungguh tak berdaya saat pria itu menuntut padanya jika dia ingin bertemu dengan Jane dan membiarkannya masuk begitu saja. Dia gelisah, dia cemas apa dia membuat kesalahan dengan membiarkan pria itu masuk. Sementara Jane-- dia tak bisa membayangkan ekspresi wanita itu jika melihat pria yang mengganggu pikirannya selama ini tiba-tiba muncul di hadapannya.


Dengan keraguan dan sedikit gugup Shara bertanya, dia ingin tahu kenapa pria itu tiba-tiba muncul di sana dan juga kenapa pria itu masih ingin menemui Jane setelah apa yang terjadi. Ditambah lagi, dia ingin mengenal pria itu, apakah memang layak untuk dicintai oleh Jane atau tidak.


"Maaf, tapi apa kau--."


"Shara, apa kau tidak membawa bra merah muda yang waktu itu? Aku--."


Kalimat Shara langsung terhenti begitu melihat Jane yang hanya mengenakan bra orange bergaris-garis dan ****** ***** yang senada berdiri di tangga. Dia hendak pergi ke pantai setelah makan siang. Tapi sepertinya rencananya batal. Semua mata tertuju padanya. Namun dua pria yang berdiri di belakang Max langsung mengalihkan pandangan mereka. Sementara itu, Max berdiri dengan sigap dan membuka jaket kulitnya, berjalan mendekat pada Jane yang masih terdiam di tangga.


"Kenapa kau begitu ceroboh," ucap Max saat mengalungkan jaket kulit miliknya di bahu Jane.


Jane mengalihkan pandangannya dari Max. "Ka--kau kenapa kau ada disini."


"Kita harus bicara."


"Tidak ada yang perlu kita dibicarakan." Dengan raut datar, Jane melepas jaket itu dari tubuhnya dan berbalik. Max terdiam sesaat melihat jaketnya terjatuh di tangga sebelum mengambilnya kembali. Tanpa berpikir panjang, Max mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya dalam dekapannya menaiki anak tangga.


"Hei. Apa yang kau lakukan, turunkan aku." Jane memukul dada bidang Max beberapa kali, namun tak dihiraukan olehnya. Shara yang melihat itu langsung berdiri dan hendak menghampiri mereka, namun langkahnya terhenti saat dua orang pria yang masuk bersama Max berdiri di depannya, menahannya untuk tetap disana dan tak kemana-mana.


***