The Price Of Sincerity

The Price Of Sincerity
Tahu Dengan Adil


Apa takdir juga membawa pada kebenaran atau hanya tak sengaja terungkap seperti itu secara kebetulan. Devan tumbuh dewasa dengan kehadiran seorang ibu tiri, yang menyayanginya seperti anak sendiri. Ditambah lagi wanita itu tidak mempunyai anak dengan ayahnya. Dia tahu jika wanita yang serumah dengannya bukan ibu kandungnya, karena dia pernah sesekali bertemu dengan Jessica. Akan tetapi secara mendadak wanita itu tak menemuinya lagi, hingga dia bertemu Jane.


Jane, tiga tahun lebih muda dari Devan. Dan ternyata saat lulus sekolah menengah atas dia masuk ke salah satu kampus yang sama dengan Dev. Siapa sangka jika keduanya mempunyai rasa. Hingga saat keduanya menjadi dekat, Devan berencana untuk menyatakan cintanya saat berkunjung ke rumah Jane.


Dan di sanalah dia tahu akan kebenarannya, dia melihat foto seorang wanita yang tidak lain adalah ibunya, terpajang di dinding. Foto keluarga, ibunya, pria lain dan sepertinya gadis kecil yang ada disana adalah Jane. Devan membandingkan foto tersebut dengan foto yang ada di dalam dompetnya.


Sama persis. Bahkan saat dia menanyakan namanya juga sama. Tapi begitu dia menanyakan keberadaan wanita itu, dia menjadi tak bisa berkata-kata saat mendengar Jane mengatakan jika ibunya sudah tiada karena sakit kanker.


Sontak hal itu membuat rencananya pengakuan cintanya terhenti. Dan cintanya kandas bahkan sebelum dia memulai, bukan. Dia seharusnya tak mencintai wanita itu, tak seharusnya menaruh rasa pada adiknya sendiri, dia jatuh cinta pada orang yang salah.


***


Sebuah bangunan yang terletak cukup jauh ke dalam perbukitan, bukan seperti Villa melainkan rumah. Rumah yang sangat tertutup dengan tirai jendela yang selalu terpasang. Jane berada di rumah Ziya, rumahnya tampak sedikit berantakan. Mungkin karena wanita itu tinggal sendiri, dan dia terlalu sibuk untuk berkemas. Apalagi biasanya yang mengurusnya adalah manajernya, dan sepertinya tidak ada disana sekarang.


Cahaya mentari pagi tak bisa masuk ke dalam ruangan itu, Ziya menutup tirainya begitu ketat. Apalagi karena skandalnya baru-baru ini membuatnya harus waspada dengan paparazi gila yang berkeliaran di dekatnya. Agensinya belum menyatakan pengakuan apa pun tentang hubungannya, namun Jane tak masalah dengan itu. Terkadang dia berpikir kenapa orang-orang begitu sibuk untuk menggali kehidupan pribadi orang yang bahkan tidak dikenalnya. Bahkan sampai membuat cerita yang tidak sesuai dengan kenyataan.


Jane duduk di sofa di dekat tirai jendela, dia melamun lama sebelum Ziya datang dengan dua potong roti lapis dan dua gelas jus di dalam nampan. Dia duduk di sofa yang berseberangan dengan Jane.


“Aku tidak menyangka begitu cepat hubungan kalian berakhir, apa kau tidak mendapatkan yang kau mau? Atau—kau sudah mendapatkannya?” tanya Ziya sebelum memakan roti lapis miliknya dan memberikan segelas jus pada Jane.


“Aku tahu apa yang kau pikirkan. Dia kaya, dia tampan, dia punya segalanya. Tapi aku tidak mengincar uangnya, aku pikir aku bisa mendapatkan cinta yang tulus untuk pertama kalinya dalam hidupku. Nyatanya aku salah, aku hanya berasumsi jika dia akan mencintaiku seperti aku mencintainya.” Jane menatap ke gelas jus yang ada di atas pahanya, sudah berada dalam kedua genggaman tangannya setelah dia menerimanya dari Ziya.


“Jadi kau sungguh mencintainya?" Ziya terdiam sejenak. "Aku tidak menyangka kau akan mengakuinya padaku. Tapi sepertinya kau melupakan satu hal, dia pria yang baik. Ya meskipun dia kadang memang brengsek, banyak wanita yang menginginkannya hanya untuk bisa merasakan kekayaannya. Dia tahu mana wanita yang menginginkannya dan mana wanita yang hanya menginginkan uangnya. Dan karena dia tidak mencari mu lagi sepertinya kamu masuk ke dalam kategori yang kedua.”


Dia berbohong, Ziya berbohong mengatakan jika Max tidak mencari wanita itu. Dia sengaja mengabaikan panggilan Max yang datang bertubi-tubi masuk ke ponselnya, sehingga dia mematikannya sekarang.


“Ck. Aku bahkan tidak meminta apa pun padanya. Kau bilang dia baik, tapi kau juga bilang dia brengsek. Jadi aku harus percaya yang mana?”


“Dia menyelamatkan mu?”


“Ya.”


Jane dan Ziya bercerita lama. Ziya menceritakan masa lalunya, tidak adil baginya jika hanya dia yang tahu masa lalu dan isi hati Jane sedangkan wanita itu tidak mengetahui apa pun tentangnya. Jane mendengarkannya dengan saksama, dan dia menangkap beberapa hal yang membuatnya heran. Mungkin karena mereka hidup di lingkungan yang berbeda, dan juga Ziya lebih tua darinya.


Ziya mengenal Max saat dia masih bersekolah di sekolah menengah atas. Dia dibesarkan oleh orang tua tunggal, bisa dibilang dia lahir tanpa ikatan pernikahan. Ibunya adalah seorang pelacur dan ayahnya tidak ingin bertanggung jawab setelah menghamili ibunya. Dan ternyata buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya. Ziya menjadi wanita panggilan setelah berumur tujuh belas tahun.


Pertemuannya dengan Max adalah saat pria itu menyewa seorang wanita untuk menemani satu malamnya, dan ternyata wanita yang datang adalah Ziya. Keduanya sempat terkejut saat mereka saling bertemu di sebuah hotel yang sudah dijanjikan. Mereka berdua berada di tingkat akhir, mereka akan segera lulus. Tapi tidak ada yang menyangka jika mereka benar-benar melakukannya.


Max memang sudah brengsek sejak saat itu, lebih tepatnya sejak orang tuanya meninggal saat dia akan naik ke kelas tiga. Bahkan kakaknya yang saat itu berhenti kuliah untuk mengelola perusahaan AVC milik keluarga Miller tidak memperhatikan adiknya lagi karena sibuk dengan pekerjaan. Tidak ada yang memperhatikan pria itu, dan seakan tidak ada yang peduli dengan apa yang dia lakukan.


Sejak malam pertama mereka saat itu membuat keduanya menjadi dekat, namun kedekatan mereka hanya sebatas teman ranjang. Hingga suatu ketika Ziya menjadi wanita panggilan seorang bajingan gila, seorang pria yang sudah ada di daftar hitam. Karena akan lulus, Ziya butuh uang. Meskipun mereka dekat, tapi Ziya tidak mungkin dengan mudahnya meminta uang pada Max, sehingga dia menerima panggilan tanpa melihat detailnya terlebih dahulu.


Ziya merasakan ada sesuatu yang aneh saat melihat alat-alat yang ada di atas kasur, untung saja dia sempat ke kamar mandi meski sebentar. Untuk mengabari seseorang. Malam itu dia bertengkar dengan ibunya, dia menghapus kontaknya. Sehingga orang yang bisa dia hubungi adalah Max. Entah saat itu dia beruntung atau hanya kebetulan, Max berada di bar yang tak jauh dari hotel tempat dia berada. Hingga Max bisa menolongnya, dia datang tepat waktu.


Pria itu sudah menelanjangi Ziya secara paksa, tampak robekan pakaiannya disana sini. Dan juga tampak bekas tamparan dan pukulan di wajah dan tubuhnya yang rapuh. Tepat saat pria itu mengarahkan pisau pada Ziya, Max datang dan kehadirannya langsung mengalihkan pandangan pria itu padanya. Max menendang tangan pria itu hingga pisau itu terlepas dari tangannya.


Tubuhnya penuh memar dan luka karena dipukuli oleh pria itu, Max yang melihatnya menjadi penuh amarah. Setidaknya meskipun dibayar bukan seperti itu memperlakukan wanita, dan wanita itu bukan dibayar untuk disiksa. Max terlibat dalam pertengkaran hebat sebelum berhasil membawa Ziya pergi dari sana.


Sejak saat itu, Ziya berhenti. Dia bekerja disebuah Cafe sebelum masuk kuliah, dan tepat saat dia akan masuk kuliah ibunya menikah dengan pria tua kaya raya. Hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat. Dan akhirnya dia bisa menjalani hidupnya seperti sekarang. Menjadi seorang artis di dunia hiburan. Tapi tetap saja, dia berhutang nyawa pada Max, karena jika saja saat itu Max tidak datang. Mungkin dia sudah ditemukan dalam keadaan tak bernyawa, telanjang dengan tubuh berlumuran darah.


...----------------...