The Price Of Sincerity

The Price Of Sincerity
Hubungan Saudara


Kaca pembatas kamar mandi berembun, tanda seseorang baru selesai memakainya. Max keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggangnya. Menampakkan tubuhnya yang masih menyisakan buliran air di kulitnya. Dia berjalan ke meja kerjanya, mengambil ponselnya. Dia menelpon seseorang, meskipun air menetes satu persatu dari rambutnya yang basah ke ponsel itu. Dia tak menghiraukannya.


Panggilan tersambung.


“Temukan Lery di Indonesia, bawa dia padaku.” Perintah Max pada seorang pria yang menjadi lawan bicaranya. Pria itu mengiyakan perintah Max dengan suara berat dan sedikit parau. Panggilannya terputus.


“Kau pikir aku tidak akan tahu Dye, cukup sampai disini kau bermain petak umpat denganku. Aku akan menyelesaikan semuanya sekarang juga.”


Max berjalan menjauh dari sana, meninggalkan ponselnya yang basah begitu saja. Tentu saja ponsel itu tidak akan rusak karena air, tidak mungkin. Max pergi ke ruang ganti, dia mengambil handuk kecil yang tergantung di pintu dan mengusap-usap kepalanya perlahan, untuk menghentikan air jatuh dari rambutnya sebelum mengeringkannya dengan pengering rambut.


Cermin panjang yang ada disana menampakkan sosok pria tampan dengan setelan pakaian kantor yang menawan, dengan kemeja putih dan celana abu-abu. Ditambah dengan potongan rambut Max yang baru membuat dirinya tampak gagah, hanya rambut bagian sampingnya saja yang baru sedangkan bagian atasnya masih sama. Under Cut. Satu dorongan kecil untuk dasinya membuat persiapannya mapan.


Satu lagi, jas abu-abu yang senada dengan celananya. Dia hampir melupakannya. Max membuka lemari yang penuh dengan jas miliknya menggantung disana, dia memilih warna abu-abu yang serasi. Namun gerakan tangannya terhenti saat mendengar suara bip pintu terbuka. Sepertinya dia kedatangan tamu tak di undang.


Benar saja. Devan tiba-tiba muncul di ambang pintu ruang gantinya. Menatap dirinya dengan ekspresi tak suka, Max bisa merasakan hawa panas yang menggebu-gebu keluar dari tubuh pria itu. Tapi Max menanggapi nya dengan santai.


Dia mengambil jas nya dalam lemari, melepaskan nya dari gantungannya. “Kenapa pagi-pagi sekali kau sudah ada di apartemen ku? Apa kau ingin membicarakan sesuatu yang penting? Jika tidak, kita bisa bertemu lagi nantik. Aku ada rapat penting pagi ini.” Ucap Max sambil memakai jasnya berkaca di cermin.


“Kau—,” Dev mengepalkan tangannya. Dia berjalan ke arah Max. Dan sepertinya dia berniat untuk memukul pria itu. Max bisa melihatnya dari pantulan cermin, dia langsung memutar tubuhnya menyambut kedatangan Dev. Dia benar, pria itu memang ingin memukulnya, namun pukulan itu melayang di udara. Tidak mengenainya. Dia menghindar dengan cepat.


Tapi sepertinya Dev sangat ingin mendaratkan pukulan itu di wajah Max, dia melayangkan pukulannya yang kedua. Dan gagal, Max menahan pukulan itu dengan telapak tangannya. Mata mereka bertatapan, Max menatap tajam pada Dev. “Jika kau kesini hanya untuk wanita itu, sebaiknya pergi sekarang. Aku sedang tidak ingin membahasnya.”


Hening, bunyi detak jantung Dev yang menggebu-gebu terdengar samar. Dia terkejut dengan jawaban Max, dia terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut pria itu. Baru saja dua hari yang lalu pria itu mengakui cintanya, dan sekarang dia seakan sudah tak peduli?


Max menghempaskan tangan Dev, tatapannya jelas adalah sebuah peringatan. Max berjalan melewati dirinya yang terdiam. Namun langkahnya terhenti saat Devan menyatakan suatu hal yang terdengar tak masuk akal.


Max membalikkan badannya, kembali berhadapan dengan Dev. “Haha, lelucon apa ini Dev. Ini bukan waktunya untuk membuat lelucon seperti itu. Bagaimana mungkin dia menjadi adikmu, jika memang kau punya adik sekalipun mungkin dia masih sekolah sekarang. Dan Jane?”


Drrtt. Drtt. Ponsel Max berbunyi. Namun dia tak menghiraukannya, mereka melanjutkan pembicaraan.


“Untuk apa aku berbohong padamu. Jika dia bukan adikku, dia adalah wanita yang berdiri di sampingku saat pertunangan bukan wanita lain.”


Drrttt. Drrtt.


“Aku tidak mengerti, bagaimana bisa itu terjadi. Dia adikmu, dan kau kakaknya. Itu tidak mungkin.”


Drrtt. Drrtt. Ponsel nya tak henti berdering, Max sudah tidak tahan. Dia akhirnya menunda percakapannya dengan Dev sementara untuk menjawab panggilan masuk yang menghubungi nya dari tadi. Dan ternyata itu Dye. Dia meminta Max untuk segera datang ke kantor karena rekan bisnisnya dari Asia sudah sampai di kantornya. Tapi Max tidak bisa meninggalkan Dev begitu saja setelah mendengar apa yang dia katakan. Max meminta Dye untuk mengulur waktu.


Sofa empuk di kamar Max serasa dingin seakan tak pernah diduduki, sepertinya AC ruangan itu tak pernah mati. Max dan Devan duduk bersampingan. Dia meminta Dev untuk menjelaskan padanya sesingkat dan sejelas mungkin karena dia tak bisa berlama-lama. Namun baru setengah dari cerita yang dia dengar Dye sudah menelponnya lagi meminta agar Max segera kesana. Dan alhasil Dev melanjutkan ceritanya selama perjalanan menuju kantor Max, mereka duduk di kursi penumpang dan Dev menceritakan semuanya.


Ceritanya selesai begitu mereka sampai di kantor, namun Max meminta Devan untuk menunggu dirinya di ruangan Direktur. Ruangan Max. Atasan perusahaan AVC tempat sekarang mereka berada. Setelah mendengar situasinya, ada hal yang harus dibicarakan oleh Max pada Devan mengenai adiknya itu. Devan menunggu disana selagi Max sedang berjumpa di ruangan rapat.


Devan Smith dan Jane Morgan. Ternyata mereka adalah kakak adik satu ibu beda ayah. Ibu mereka, Jessica Perl. Awalnya dia menikah dengan ayah Devan, Dominic Smith. Mereka hanya teman dan tidak pernah menjalin hubungan, tetapi mereka membuat kesalahan saat mabuk. Mereka tidur bersama, dan ternyata Jessica hamil, membuat mereka harus menikah.


Namun pernikahan itu dilakukan sembunyi-sembunyi. Mereka pindah ke negara lain untuk membesarkan Devan, tapi ternyata mereka tidak sanggup. Mereka tidak bisa menciptakan sebuah keluarga, perasaan pertemanan yang mereka miliki tidak bisa berubah menjadi sebuah cinta. Jessica dan Dominic memutuskan untuk bercerai, dan Devan dibawa oleh Dominic karena saat itu Jessica tidak sedang bekerja. Mereka berpisah, hingga hilang komunikasi.


Dua tahun kemudian, Jessica menikah dengan seorang pria, William Morgan Ruth. Ayah Jane. Jessica bekerja di sebuah Cafe setelah bercerai, dan William adalah pelanggan tetap Cafe itu. Takdir membuat mereka jatuh cinta, perasaan cinta yang tidak bisa dia utarakan dengan Dominic. Tapi ternyata di saat bersamaan, Dominic juga menikahi seorang wanita yang menjadi sekretarisnya. Hubungan Jessica dan Dominic kandas namun takdir mereka tidak. Mereka menemukan orang yang ditakdirkan untuk mereka, orang yang bisa berbagi cinta satu sama lain. Jodoh yang ditakdirkan.


...----------------...