The Price Of Sincerity

The Price Of Sincerity
Ketemu


Lery Alfred, lulusan sarjana IT terbaik di Universitas ternama di AS. Dia memilih untuk menjadi pemogram swasta saat kembali ke Los angeles, dia akan dibayar saat seseorang datang dan butuh keahliannya. Entah itu meretas atau mendapatkan informasi dan semacamnya. Asalkan semua itu bukan kriminal, dia akan menerimanya.


Ruangannya tampak berdebu, sepertinya karena sudah lama tidak di gunakan. Lery duduk di kursi empuk yang sudah hampir satu tahun tidak dia duduki, itu markasnya. Sepertinya dia harus berkemas setelah ini. Sebuah ruangan yang berada di atap gedung apartemen Max. Ruangan yang terdapat banyak komputer, semuanya langsung menyala saat Lery menekan sebuah tombol.


“Baiklah, mari kita mulai.”


Lery melakukan pemanasan pada jari-jari nya sebelum kemudian beraksi tanpa henti mengetik papan keyboard. Muncul banyak kode yang tak bisa di mengerti oleh Dye dan Max, kode-kode abstrak yang muncul di layar monitor tidak akan bisa di pahami meskipun oleh lulusan teknik terbaik. Mereka berdua membiarkan Lery sibuk dengan dunianya.


Itulah alasannya, itulah mengapa Max membawa Lery kembali. Untuk menemukan keberadaan wanita yang sudah menyelingkuhinya dan punya anak dengan pria lain. Dia sudah cukup menderita karena merasa tak cukup baik untuk wanita itu, dia menyalahkan dirinya selama ini. Atau mungkin yang salah adalah pemikirannya, dan ucapan Jane benar. Dia tak seharusnya melewatkan waktunya untuk bisa bersama dengan kekasihnya alih-alih hanya memberikan uangnya.


Tak seharusnya dia membayar ketulusan wanita itu dengan uangnya. Mungkin untuk saat ini sebelum dia bertemu dengan mantan tunangannya dia tidak ingin menerka lagi. Mereka harus bertemu dan bicara empat mata. Hubungan di antara mereka harus selesai dengan jelas, dan harus di akhiri dengan benar.


Max berjalan ke arah jendela, dia membuka kaca jendela itu untuk dapat membiarkan angin malam masuk ke dalam. Dia berdiri disana sambil menghirup udara malam, Max mengambil rokok dari kotak yang baru saja dia keluarkan dari sakunya. Dia hendak mencoba menjernihkan pikirannya, seperti biasa. Jika dia tidak dapat minum dia akan merokok. Dia terlalu malas untuk kembali ke kamar apartemennya hanya untuk mengambil alkohol.


Dye berjalan mendekat, ke arah jendela yang terbuka.


“Lalu apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengannya?” tanya Dye.


“Mengakhirinya.” Satu hembusan asap keluar dari mulutnya, Max mendongak ke atas. “Kau tahu siapa yang aku pertahankan sekarang.”


“Hemm, model itu, ya. Aku dengar Dev dan dia kaka beradik. Setelah semua yang terjadi aku pikir mereka hanya atasan dan bawahan, atau senior dan junior tapi nyatanya tidak. Aku tidak menyangka ada hubungan seperti itu.”


“Ck. Kau tau terlalu banyak, Kupikir kau tahu dan sengaja menyembunyikannya dariku.”


“Hei. Aku tidak tahu apapun tentang itu. Aku berani sumpah, aku tidak mengetahuinya sebelum mendengar itu keluar dari mulutnya. Kemarin aku melihatnya memukulmu sebelum pergi, apa itu tanda dia tak merestui hubungan kalian?”


“Haha. Mungkin aku harus membuktikannya agar dia merestuiku.” Max kembali mengisap rokoknya. Dia teringat pertemuannya dengan Dev di ruangannya, dia menerima begitu saja pukulan yang dilayangkan oleh Dev padanya. Karena dia sadar, dia memang sudah membuat wanita itu menangis.


“Lalu bagaimana dengan Jane? Aku tidak tahu apa yang kau ributkan dengan wanita itu hingga kau tak berani menemuinya, tapi apa kau yakin dia mencintaimu seperti kau mencintainya?”


“Tentu saja, apa menurutmu ada wanita yang tidak akan mencintaiku?” Ucapan Max terdengar seperti candaan bagi Dye yang mendengarnya, tapi dalam hatinya dia memang yakin dengan hal itu. Dia mendengarnya langsung jika wanita itu mengaku padanya, saat wanita itu bertanya untuk ketulusannya. Entah hanya nalurinya atau dia yang salah menyimpulkan.


“Kau sangat yakin ya, lalu bagaimana jika Dev tak merestui kau dengannya? Aku harap kau tidak akan melakukannya pada Dev.” Dye tampak serius, dia seperti menekankan ucapannya. Nada bicaranya berubah, tak seperti di awal perbincangan mereka dimulai. Max tertegun, dia bingung.


“Melakukan apa? Memang nya apa yang sudah aku lakukan? Aku bahkan tidak membalas pukulannya.”


“Hah.” Dye menghela nafas dan menghembuskannya, dia berbalik menjauh dari Max.


“Dye, apa lagi sekarang. Apa lagi yang kau sembunyikan dariku?” Pertanyaan Max membuat Dye berhenti tak bergerak lagi. Dia kembali berbalik berhadapan dengan Max.


“Untuk apa aku menyembunyikan darimu apa yang sudah kau lakukan.” Dye menatap mata Max tanpa ragu. Max mengernyit, dia sungguh tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Dye.


Dye cukup lama diam sebelum menjawab, “Orang tua Rose, bukankah kau yang membunuhnya?”


Ucapan Dye seakan terdengar seperti mantra yang ampuh untuk membuat Max terdiam, tapi hanya sejenak. Bukannya panik atau cemas karena dikatakan sebagai seorang pembunuh, Max malah tersenyum. Dia mematikan rokoknya kemudian membuangnya.


“Max? Kau tersenyum? Apa kau membunuh mereka karena tidak merestui kalian? Itu sungguh kau Max? Jangan bilang padaku jika yang kupikirkan benar.”


“Bagaimana menurutmu? Apa kau pikir aku akan membunuh hanya karena hubungan cintaku tidak direstui? Bahkan Alex saja masih hidup sampai sekarang bukan, orang yang sangat ingin aku bunuh. Kau menemukan sidik jariku di vas itu, vas yang aku hadiahkan untuk mereka. Lalu aku gunakan untuk membunuh mereka? Apa kau sungguh mempercayainya?”


“Ada sidik jarimu disana, di potongan vas yang digunakan untuk menyayat leher mereka. Aku tidak mempercayainya, tidak mungkin kau melakukan itu. Tapi saat tau ada sidik jarimu, aku—.”


“Kau percaya itu aku, karena itu kau menutupinya.”


Dye terdiam. Jujur saja dia antara percaya dan tidak percaya, namun dengan bukti yang dia terima membuat dia takut jika itu benar sehingga dia menutupinya untuk Max.


“Aku tidak membunuh mereka, Dye. Aku juga tidak tahu mengapa ada sidik jariku disana. Dan yang pasti aku tidak membunuh mereka, aku bersama Rose malam itu. Kami di Villa, jika kau tidak percaya kau bisa cek CCTV. Tapi terimakasih kau sudah menutupi nya untuk ku.”


“Kau tau aku menutupinya, tapi kenapa kau baru memberitahukannya padaku sekarang.”


“Kau tidak bertanya padaku, dan tidak ada yang berubah jika aku memberitahumu. Aku juga tidak bisa menjelaskan kenapa ada sidik jariku disana. Kasusnya sudah di tutup karena bukti yang kau sembunyikan dan di putuskan sebagai bunuh diri. Aku mencoba mencari kebenarannya tapi masih belum menemukannya hingga saat ini.”


“Biar aku yang meneruskannya, kau selesaikan saja urusanmu dengan Rose. Aku—.”


“Yes. Ketemu.”


Teriakan Lery di depan komputer langsung membuat Max dan Dye melirik padanya. Mereka berdua berhadapan sebelum berjalan ke tempat pria yang sedang kegirangan itu. Dia berhasil, Lery berhasil menemukan wanita yang dicari oleh Max, Rose Alexis.


“Dimana dia?” tanya Max.


Lery menunjukkan layar monitor yang menampilkan sebuah peta dunia, benua Eropa. Dia berhasil melacak IP ponsel wanita itu. Max sudah cukup menahan amarahnya saat menerima cincin pertunangan mereka sampai kembali ke tangannya, dikirim oleh Dev padanya karena dijual wanita itu di lelang. Dan semoga saja dia tidak menjual ponselnya dan menggantinya dengan yang baru. Semoga saja.


“Santa Guilia, Prancis. Tepatnya di sekitar pantai yang terletak di utara Prancis, Page De Santa-Guilia Folacca Beach dekat Sotta.”


Max tampak tak asing dengan tempat itu, dia baru saja kesana bulan lalu dan bertemu dengan Jane untuk pertama kalinya.


 


...----------------...