The LOVE Of Guardian

The LOVE Of Guardian
Bab 66.


Kenanga menggandeng Jack dengan sedikit tergesa-gesa menyusuri koridor rumah sakit. Mereka langsung ke rumah sakit begitu mendapat kabar bahwa Nana jatuh pingsan begitu saja setelah pertemuannya dengan Kansha.


Kenanga sampai di depan ruangan rawat yang diberitatahu Alfin bahwa Nana dirawat disana.


"Jack, mamamu ada disana." ucap Kenanga pada Jack.


Namun begitu tangannya membuka sedikit pintu, di celah kecil itu Kenanga mendengar sesuatu. Sebuah percakapan yang membuat jantungnya berdebar keras.


"Kamu hamil, Na. Dan kamu tidak bisa menggugurkannya. Kau ingin mengulang kejadian saat Jack hadir di perutmu lagi? Ayolah, jangan membuat keputusan konyol." ucapan Alfin terdengar sangat kesal.


"Tapi aku tidak bisa merawatnya Alfin. Jack masih terlalu kecil untuk memiliki seorang adik disaat papanya tengah diujung kematian. Aku tidak bisa memberikan kasih sayang untuknya." tukas Nana terdengar frustasi.


"Tapi anak itu tidak bersalah, Na. Mungkin ini adalah cara Tuhan untuk menghiburmu atas masalah Ruben. Jangan bersikap sembrono. Lebih baik kau bicarakan dengan suamimu."


"Ruben hampir sekarat, Alfin! Dan aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa aku mengandung darah dagingnya lagi. Aku ingin merelakannya pergi tanpa membawa beban melihat anaknya yang masih kecil di dalam rahimku."


"Lalu bagaimana?"


"Aku tidak bisa membiarkannya tumbuh tanpa kasih sayang." Tiba-tiba Nana berlinang air mata.


Di luar, Kenanga menyaksikan itu semua. Dia terdiam melihat betapa frustasi Nana disana. Dia juga memikirkan tentang dirinya. Disaat dia terpukul kehilangan bayinya, Nana malah ingin menggugurkannya hanya karena tidak sanggup memberikan kasih sayang untuk anaknya.


Kemudian Kenanga menoleh pada Jack. Lelaki kecil itu hanya terdiam, melihat ibunya yang tengah menangis di atas ranjang rumah sakit. Kenanga bisa merasakan bahwa anak ini tahu dan mengerti situasi saat ini. Air mukanya nampak keruh dan sedih. Dan diakui Kenanga, dia tidak mau melihat Jack sedih.


Kenanga menggenggam lengan Jack, membuat anak itu menoleh kearahnya.


"Ke taman dulu yuk. Kubelikan es krim." ujarnya. Tak ada nada dingin dan ketus disana.


Dan tidak biasanya, Jack hanya mengangguk tanpa banyak protes.


Kenanga menggandeng Jack, mereka melangkah pergi dari ruang rawat itu.


***


Kenanga membuka bungkusan es krim itu lalu memberikannya pada Jack yang sedari tadi hanya diam duduk di kursi taman rumah sakit. Sedikit banyak dia bisa memahami apa yang tengah dirasakan anak kecil itu.


"Katakan saja apa yang mau kau katakan." ucap Kenanga seolah mengetahui bahwa Jack ingin mengatakan sesuatu.


"Kenapa mama tidak suka ada adik Jack?" tanyanya.


"Kau sudah tahu jawabannya karena kau juga ada disana mendengarkannya." jawab Kenanga.


"Karena papa ya. Padahal aku yakin papa juga akan sangat senang mengetahui bahwa aku akan memiliki adik tapi kenapa mama malah tidak senang?"


"Semua ibu senang mengetahui bahwa mereka hamil dan tengah mengandung. Mamamu juga."


"Kalau memang iya, lalu kenapa dia ingin menggugurkannya?" tanya Jack.


Kenanga mengangkat satu alisnya, "Kau tahu arti menggugurkan?"


Jack menoleh, "Kau fikir aku bayi yang tidak tahu kata berbahasa Indonesia itu?" balasnya ketus.


Kenanga mendengus kesal. Percuma dia tadi menghawatirkan Jack. Anak itu masih sama tengilnya.


"Kau sendiri, bukannya sudah menikah dengan Ayah ya? Kenapa kalian belum memiliki anak?" tanya Jack.


Air muka Kenanga langsung keruh.


"Belum waktunya." ucapnya singkat.


"Oh. Kufikir kalian memang tidak akan memiliki anak." ucap Jack.


"Tentu saja kami mau. Hanya belum waktunya saja. " tukas Kenanga kesal.


"Baiklah, kudoakan semoga secepatnya."


Dalam hati, Kenanga mengamininya.


***


Hukuman mati untuk Satya akan segera dilaksanakan. Kenanga dan Alfin diberi waktu untuk menjenguk Satya sekali lagi untuk terakhir kalinya. Siska juga ikut. Kenanga mengenggam tangan sahabatnya untuk menenangkannya.


"Aku tidak tahu harus mengatakan apa tapi Satya, aku meminta maaf padamu atas kesalahanku selama ini. Maaf karena aku belum bisa menjadi teman yang baik untukmu." Ucap Alfin.


"Satya...." Siska tak kuasa menahan tangisnya lagi, dirinya hendak menghamburkan diri memeluk Satya namun belum sempat lengannya memeluk Satya, Satya sudah lebih dulu menahannya.


"Letnan Kenanga, bisakah kau membawa Siska keluar? Ada yang ingin saya sampaikan pada Alfin." ucapnya tanpa memedulikan Siska.


Kenanga dan Alfin saling berpandangan, "Baiklah. Tapi apa kau tidak mau berpamitan dulu dengan Siska?" tanyanya kasihan.


"Saya tidak memiliki banyak waktu lagi. Saya mohon." Satya menggeleng.


Kenanga menghela nafas, agak tidak tega melihat Satya mengacuhkan Siska yang sedari tadi terus menangis.


"Baiklah. Ayo Siska." ajak Kenanga.


"Tapi aku ingin memeluk Satya dulu. Aku ingin memeluknya untuk terakhir kalinya." tolak Siska.


Kenanga tetap menarik lengan Siska meski Siska terus meronta-ronta ingin melepaskan diri. Namun setelah perjuangan keras, mereka akhirnya berhasil keluar dari ruangan menyisakan Alfin dan Satya.


"Apa kau tidak punya hati? Siska kekasihmu, biarkan dia berpamitan denganmu." protes Alfin.


"Itu tidak penting." tukas Satya.


"Tidak penting, kau bilang? Dia kekasihmu!" seru Alfin.


"Alfin, kumohon dengarkan aku! Ada yang lebih penting yang ingin kusampaikan. Aku tidak mau membawa rahasia ini sampai kumati." seru Satya.


"Ada apa?" tanya Alfin akhirnya.


Satya terdiam beberapa saat lalu menatap Alfin dengan serius.


"Kau bilang, kau ingin tahu siapa doctor itu kan?"


Alfin mengangguk.


Alfin syok, "Apa kau bilang?"


"Kau bawa ponsel? Rekam suaraku dengan ponselmu, cepat." titah Satya.


Meski masih terkejut, Alfin langsung mengambil ponselnya di dalam sakunya lalu membuka aplikasi rekaman suara. Dia merekam suara Satya sesuai perintah lelaki itu.


"Sudah?" Tanya Satya. Alfin mengangguk.


Satya berdeham.


"Saya Satya, saya akan mengungkapkan semua rahasia yang masih menjadi misteri hingga kini di Miracle."


***


Di malam yang kelam dan dingin, tepat pukul 12 malam, di sebuah lapangan kosong dengan sebuah pancang kayu tertancap di tengah-tengahnya, sesosok jasad yang yang sudah tak bernyawa tergeletak. Dia Satya yang baru saja dihukum mati atas kesalahannya.


"Jasad terdakwa terpidana mati akan segera dimandikan dan dishalatkan setelah itu siap dikuburkan di Jakarta sesuai keinginan keluarga terpidana." ujar petugas eksekusi memberitahukan.


Alfin dan Kenanga menarik nafas dalam sedangkan Siska sudah menangis tak karuan lagi. Kenanga memeluknya untuk menenangkannya.


"Boleh kami melihatnya sebentar?" pinta Alfin.


Petugas itu mengangguk memperbolehkan.


***


Kabar itu menyebar dengan cepat. Headline berita semuanya tentang Satya yang telah dieksekusi mati dan jasadnya akan disemayamkan di Jakarta, di kota kelahirannya. Keluarga Satya yang awalnya tak mau datang dan menjenguk saat masih di sel, akhirnya datang dan ikut mengantar jenazah ke peristirahatannya yang terakhir.


Saat itu cuacanya mendung, awan kelabu bak jelaga menghiasi langit Jakarta. Suasana suram pun tak terelakkan.


Siska masih menangis, sepertinya benar bahwa wanita memang memiliki banyak stok air mata dibanding lelaki. Kenanga hanya bisa menenangkannya dan menghiburnya sebisanya.


Setelah pemakaman selesai dan mereka mengantar Siska ke apartemennya, Kenanga dan Alfin memutuskan mampir ke cafe samping apartemen untuk membahas sesuatu.


"Ada apa? Nampaknya sangat penting. Tidak biasanya."


"Setelah kau membawa Siska keluar, Satya mengatakan sesuatu padaku. Dan kuharap setelah kamu mendengar ini, kamu jangan mengambil kesimpulan gegabah. Kita perlu mendiskusikannya karena ini adalah jawaban pertanyaan terakhir dari Satya yang kita semua ingin ketahui."


"Apa itu?"


Alfin terdiam sebentar. Lalu berkata lamat-lamat, "Aku tahu siapa itu doctor. Dan dia Siska."


Deg


Kenanga terkejut dan syok hingga dia tak berkutik sedikitpun. Tubuhnya membeku.


"Kenanga?" tegur Alfin melihat istrinya terdiam tak percaya.


"Tidak mungkin, Fin. Kau tahu betul Siska adalah sahabatku, dia tidak mungkin ikut terlibat." tukas Kenanga menolak percaya.


"Satya juga temanku. Dan aku sampai kini juga masih tak percaya bahwa sahabatku adalah ketua geng mafia terbesar di dunia dan akibat perbuatannya dia sudah tiada. Jadi tidak menutup kemungkinan bahwa Siska juga bisa saja terlibat, terlebih dia adalah kekasih Satya." jelas Alfin.


Kenanga menggeleng-gelengkan kepalanya. Masih kekeuh tak percaya.


"Aku tidak memiliki penjelasan lain. Satu-satunya yang bisa membuatmu mempercayainya adalah rekaman suara ini."


Alfin memutarkan rekaman suara terakhir dari Satya untuk diperdengarkan pada Kenanga.


***


"Saya Satya, saya akan mengungkapkan semua rahasia yang masih menjadi misteri hingga kini di Miracle."


"Ketua Miracle sebelum saya adalah kakak saya. Semua anggota tahu itu. Dia memiliki wanita pujaan bernama Syafira. Namun dia terlambat menyadarinya dan mati dalam penyesalan yang mendalam. Saya akui, sebenarnya saya yang membunuhnya dan menutupinya sebagai penyakit radang paru-paru kronis. Tapi salah, dia dibunuh oleh saya. Dan rupanya tanpa saya ketahui, Antonio memiliki korban lain selain Syafira. Namun wanita ini tak dibunuh melainkan hanya disiksa psikisnya hingga dia lupa siapa dan darimana dia berasal. Dia adalah Siska. Lebih tepatnya Dokter Siska Diana, kekasih saya."


"Siska dibuat menjadi seorang bipolar yang memiliki dua kepribadian. Satu kepribadiannya adalah seorang psikopat yang tak mengenal rasa kasihan. Dialah sang peneliti dan dokter utama di Miracle. Namun sejujurnya saya lebih menyukai kepribadian sejatinya, seorang gadis manis yang sangat luar biasa mengagumkan. Bisa dibilang, satu kepribadiannya adalah kekasih saya, dan yang lainnya adalah rekan saya. Tapi tolong jangan hukum dia, saya sengaja tak menyeretnya dalam hal ini karena saya tahu bahwa ketika dia melakukan itu, dia dalam keadaan fase blackout sempurna. Dia tak tahu apa yang baru dia lakukan, dia tidak sadar seberapa bahayanya pekerjaan yang dia lakukan. Dia menjadi seperti ini karena kakakku. Dan saya mencintainya. Saya sengaja berbohong bahwa saya tidak mencintainya dan langsung memutuskan hubungan kami agar dia tidak terlibat dalam kasus ini. Meski sejujurnya, satu-satunya wanita yang saya cintai adalah Siska. Demi dia saya rela berkorban. Saya juga ingin meminta maaf pada semua orang yang telah dirugikan oleh saya dan Miracle, saya memohon ampun yang sebesar-besarnya. Saya bersumpah saya akan menebus dosa saya di akhirat nanti. Sekian, saya Satya."


Rekaman suara itu terputar keras di benak Kenanga. Wanita berjumpsuit hijau ini berjalan pelan menuju apartemennya dengan Siska. Dia ingin menjenguk Siska sekaligus mencari kebenaran dari pengakuan Satya.


Apakah Siska juga terlibat?


Kenanga sampai di depan pintu apartemen. Dia dengan ragu menekan kode sandi. Dan ketika pintu terbuka, hidungnya langsung mencium bau amis darah.


"Ada apa ini?" Dengan menutup hidung, dia berjalan menuju ruang keluarga.


Dan begitu sampai di ruang keluarga, betapa terkejutnya ia ketika mendapati beberapa ekor kelinci dan kucing dengan tubuh yang tak lagi utuh tergeletak bersimbah darah. Lantai putih apartemen kini sudah berubah menjadi lautan darah yang berasal dari jasad hewan hewan tersebut. Bau anyir itu semakin menguat hingga Kenanga rasa ingin muntah. Dicium dari pekatnya anyir darah ini, Kenanga bisa simpulkan bahwa hewan-hewan ini baru saja mati atau disembelih.


Dan yang paling membuat Kenanga terkejut adalah keberadaan Siska disamping mayat hewan tersebut tengah duduk bersimpuh menguliti seekor kelinci. Tangannya dipenuhi darah dan pisau terus mencabik-cabik tubuh hewan tak berdosa itu. Mata perempuan itu nampak kosong dengan mulut yang terus meracau.


"Satya mati maka kalian harus mati."


"Satya mati tinggalkan aku."


"Satya mati. Kalian harus mati untuk menemaninya."


"Satya mati."


"Satya mati."


Siska terus meracau bagai orang kesurupan. Tangannya terus menguliti daging kelinci itu. Penampilannya sudah selayaknya iblis bertopeng orang gila. Rambutnya acak-acakan, wajahnya pucat, matanya kosong tapi bibirnya tersenyum keji. Wanita itu terus meracau.


"Siska..." panggil Kenanga lirih.


Siska awalnya tak menyadari kehadiran Kenanga sampai Kenanga memanggilnya. Wanita itu menoleh dengan raut menyeringai ke arah Kenanga. Tak menyangka bahwa teman tersayangnya datang.


Siska bangkit dan seketika berjalan cepat menuju Kenanga. Kenanga termundur terkejut.


"Kenanga datang. Aku sedih karena kekasihku mati. Tolong hibur aku. Hahahaha."


Kini Kenanga mempercayai ucapan Alfin. Dihadapannya saat ini, Siska bukanlah Siska yang dia kenal. Wanita itu amat menyeramkan dan gila. Terus tertawa-tawa mengikik dengan tetap menguliti jasad kelinci itu.


Siska. Dia memang psikopat. Tapi tak hanya itu, dia juga jadi gila.