
Kenanga terbangun ketika hangat sinar matahari yang masuk menembus celah tirai menyapa wajahnya. Kenanga sempat linglung sebentar lalu matanya tiba-tiba membulat.
Kenanga melirik pakaiannya, dia memakai gaun terusan yang sama. Kenanga merasa ada yang tak beres. Dia lalu mengangkat selimutnya dan terdiam ketika melihat bercak darah di seprai putihnya.
Wajahnya memucat. Apa yang telah terjadi? gumamnya.
Ceklek
Pintu kamarnya dibuka. Alfin masuk dengan senyuman cerah. Dia membawa segelas susu.
"Selamat pagi." sapanya.
"Kenapa kau tersenyum lebar seperti itu?" tanya Kenanga aneh.
Alfin hanya tersenyum, "Kamu tidak ingat?" tanyanya balik.
"Ingat apa?"
"Kejadian semalam. Saya yakin kita sedang dalam keadaan sadar karena kita tidak mabuk."
"Apa yang kau katakan?" decihnya belum sadar.
Sedetik kemudian, Kenanga terdiam.
"Sudah ingat?" tanya Alfin.
Wajah Kenanga pias, "Tunggu, semalam..." Kenanga langsung melihat bercak noda merah itu lagi. Lalu menatap ke depan dengan kosong.
Sial
"Aaaa!"teriaknya kencang.
Alfin langsung terkejut, "Kenapa kamu berteriak?" tanyanya syok.
Wajah Kenanga sudah keruh dan merah karena malu, tanpa kata langsung beranjak berdiri dan tiba-tiba keluar kamar melewati Alfin.
"Mau kemana?"tanya Alfin.
Kenanga tak menjawab, dia langsung keluar dari rumah dan menutup pintu dengan cukup kencang.
Alfin tersenyum kecil, "Ah jadi begitu sifat malu-malunya."
Setelah itu Alfin menaruh gelas susu yang belum sempat diberikan pada Kenanga ke atas nakas. Lelaki itu mengambil seprai dan selimut Kenanga, dan membawanya ke kamar mandi untuk dicuci. Dia sadar ada noda bercak kemerahan sisa semalam disana.
***
Tok tok tok
Siska yang sedang menikmati tidurnya langsung terbangun kaget ketika pintu kamarnya diketuk keras.
"Aish, siapa orang gila yang mengetuk pintu sangat keras pagi-pagi?!" gerutunya. Dia terpaksa bangun dari mimpi indahnya.
Siska melirik jam, "Ck, padahal masih jam enam." lanjutnya.
Tapi Siska terdiam, dia tersadar. Siapa yang sudah mengetuk pintu kamarnya pagi-pagi padahal dia tidur sendirian di rumah ini?
Siska langsung ketakutan, dia buru-buru mengambil tongkat golf di sudut kamarnya. Siap-siap memukul orang mesum mana yang berani memasuki rumah Kenanga.
Tok tok
Siska membuka kunci kamarnya, dia bersembunyi di sisi dinding. Pintu langsung menjeblak terbuka, seseorang masuk.
"Aaa!" teriak Siska sebelum mendaratkan tongkat golfnya ke kepala orang itu.
Brak
Begitu melihat orang itu terkapar pingsan di lantai, Siska tersenyum kemenangan. "Puas, rasakan! Dasar orang--"Siska yang awalnya senang langsung syok ketika tahu siapa orang yang dia pukul hingga pingsan itu.
Tongkat golfnya terlepas dari tangannya.
"KENANGA!" pekiknya syok.
***
Kenanga membuka matanya dengan rasa pusing yang mendera kepalanya. Dia meringis, berusaha bangun.
Siska yang duduk di sampingnya dengan cemas langsung membantu Kenanga duduk bersandar di sofa.
"Minum, Anga." ucap Siska pelan. Dia membantu Kenanga minum.
"Apa yang terjadi? Kenapa kepalaku pusing?" tanya Kenanga.
"Itu salahku. Maafkan aku." lirih Siska. Kenanga menoleh.
"Aku memukulmu dengan tongkat golf, dan kamu langsung pingsan selama 3 menit." jelas Siska.
"Kau memukulku dengan tongkat golf?" tekan Kenanga.
Siska mengangguk takut, "Maaf. Itu karena kau tiba-tiba mengetuk pintu kamarku dengan keras saat aku masih tidur. Kufikir orang mesum mana yang berani datang padahal aku tinggal sendirian disini."
Kenanga hendak marah tapi ditahannya. Ada yang lebih penting dari ini.
"Tapi apa kau masih pusing? Perlu diperiksa ke dokter?" tanya Siska cemas.
"Kau juga dokter. kenapa tidak periksa sendiri."
"Itu beda. Aku dokter anak." tukas Siska.
"Sudah tidak apa-apa. Kalau ada keluhan, baru kuperiksakan."
"Serius?"
Kenanga mengangguk. "Ada yang lebih penting dari ini."
"Apa yang lebih penting dari kepalamu?!" seru Siska setengah sewot.
"Kenapa tiba-tiba marah? Ini kepalaku, bukan kepalamu. Kalaupun retak, aku tidak akan meminta barter kepala denganmu." balas Kenanga kesal.
Siska mendengus, "Katakan, ada apa hingga kemari pagi-pagi?"
Kenanga memperbaiki posisi duduknya, dia menatap serius Siska.
"Apakah wedang jahe memiliki efek memabukkan? Atau paling tidak, membuat si peminum tidak sadar."
Siska cengo.
"Katakan." desak Kenanga.
"Bukan, maksudku kenapa kau bertanya hal tidak jelas seperti itu?" tanya Siska tak percaya.
"Apa yang tidak jelas? Aku bertanya sungguh-sungguh!"
"Kenanga, aku tidak tahu apakah ini efek dari kepalamu yang terpukul tongkat golf, tapi wedang jahe bukan minuman keras. Dia tidak punya kandungan alkohol kecuali kamu sengaja memasukkannya."
"Benar kan, wedang jahe tidak memabukkan sama sekali. Lalu apa yang terjadi padaku malam itu?" gumam Kenanga gusar.
"Kenapa menggumam tak jelas?" sela Siska.
Kenanga membasahi bibir bawahnya, "Semalam, apa kau mendengar suatu yang aneh?" tanyanya.
Siska mengernyitkan keningnya, "Sesuatu yang aneh? Apa itu?"
"Bisa apa saja. Dari lantai atas." timpal Kenanga.
Siska terdiam, Kenanga memerhatikannya dengan penuh cemas.
"Kurasa tidak. Kemarin aku sangat kelelahan hingga tidurku sangat nyenyak, aku bahkan tidak bermimpi sama sekali." sanggah Siska.
Kenanga menghela nafas lega, dia menyadarkan tubuhnya dengan lunglai.
"Kufikir aku telah mendapat masalah besar." desahnya.
"Apa maksudmu? Kenapa hari ini kau aneh sekali? Alfin memberimu makan yang aneh-aneh?"
Kenanga menggeleng, "Justru aku yang berfikir telah memberi Alfin makan yang aneh-aneh."
"Apa sih maksudmu?" tanya Siska bingung.
Kenanga terdiam, tak menanggapi.
Siska meneliti Kenanga dan penampilannya. Dia tiba-tiba tersadar.
"Kau masih pakai pakaian tidur? kau baru bangun?" tanya Siska.
Kenanga mengangguk.
"Seriusan? Ini tidak biasanya, kau selalu bangun subuh. Kau paling benci bangun siang."
Wajah Kenanga memerah, "Te-terserah padaku. Kenapa kau mempermasalahkannya?!"
"Aku tidak mempermasalahkannya. Hanya saja, agak aneh."
Kenanga berdeham, dia memalingkan wajahnya.
"Tapi aku baru sadar, kau jauh lebih ekspresif semenjak menikah." ucap Siska.
"Sama saja."balas Kenanga acuh.Dia menumpukkan kepalanya ke punggung sofa.
"Berbeda. Dulu kau sangat irit bicara, sekalinya bicara, kata-katamu blak-blakan dan tajam. Kau juga jarang mengekspresikan semua kalimatmu. Beda dengan sekarang, aku bisa melihat ekspresi sedih, kesal, bahkan bodoh." kekeh Siska.
Kenanga mendengus.
"Kau sudah belah duren dengan Alfin?"
Kenanga melotot kaget, dia sontak menoleh pada Siska.
"Tiba-tiba? Ucapanmu lancang sekali!"
"Aku hanya bertanya, kalian sudah menikah selama beberapa bulan. Sudah waktunya merencanakan anak." ujar Siska santai.
"Urus hubunganmu sendiri dengan Satya." balas Kenanga datar.
Wajah Siska jadi kesal, "Jangan bahas dia." ketusnya.
"Kenapa? Kau bertengkar dengannya? Lagi?"
Siska mendesah kasar, "Tidak. Hanya saja dia sangat sibuk. Aku tidak bisa menghubunginya, pesanku bahkan tidak dibaca. Dia seolah-olah menghilang dari muka bumi." gerutu Siska.
"Dia mungkin sibuk."
"Simposium?"
Siska mengangguk, "Simposium itu semacam pertemuan para dokter, seperti seminar tapi juga reuni." jelas Siska.
"Oh." balas Kenanga mengerti.
Kenanga melirik jam dinding, "Sudah ya, aku pergi dulu." pamitnya beranjak berdiri.
Siska mengangguk, "Lain kali, ketuk pintu sambil memanggil namaku agar aku tidak menyangkamu orang mesum lagi."
"Hem." angguk Kenanga lalu keluar rumah.
***
Alfin baru saja selesai memasak sarapan ketika Kenanga masuk. Alfin langsung tersenyum.
"Ayo sarapan." ajaknya.
Kenanga linglung sesaat, lalu memalingkan wajahnya.
"Saya mau mandi dulu. Kau makan saja duluan." ucap Kenanga canggung. Perempuan itu pergi menuju kamarnya.
Tapi sesaat kemudian, Kenanga keluar kamar, "Dimana seprai dan selimut saya?"
"Oh itu, saya sudah mencucinya sekarang sedang dijemur."
Kenanga kaget, "Apa?!" serunya. Kalau Alfin mencucinya, berarti dia melihatnya?
"Kenapa?" tanya Alfin melihat ekspresi syok Kenanga.
"Kau me-mencu-cinya?" Alfin mengangguk.
"HEI, KAU SANGAT MESUM!" teriak Kenanga kesal.
Alfin menganga kaget, "Mesum? Saya?"
Wajah Kenanga memerah untuk kesekian kalinya, dia menunjuk Alfin dengan putus asa.
"Kau sangat kurang ajar." ucapnya lalu masuk ke kamarnya kembali.
Alfin mengernyit bingung, "Aku mesum dan kurang ajar?" gumamnya pada diri sendiri.
Blam
Alfin tersentak kaget mendengar suara pintu kamar mandi ditutup keras oleh Kenanga.
***
Kenanga baru saja selesai mandi dua puluh menit kemudian. Dia mendesah, lalu keluar kamar dan berjalan menuju meja makan.
Begitu sampai, dia terkejut melihat Alfin masih ada disana. Piringnya sudah tidak ada disana yang artinya dia sudah makan.
"Duduklah." ucap Alfin menyuruh Kenanga duduk.
"Kenapa kau masih disini?" tanya Kenanga sambil menarik kursi jauh dari Alfin dan duduk.
"Saya rasa kita memiliki beberapa kesalahpahaman disini."
"Salah paham?" sahut Kenanga sambil meminum jusnya.
"Iya, pasti soal semalam."
Byur
Kenanga menyemburkan jusnya, dia terbatuk-batuk setelahnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Alfin cemas. Dia hendak mengulurkan tisu tapi Kenanga sudah mengambilnya lebih dulu.
"Uhuk-uhuk, tidak apa-apa. Lanjutkan saja tadi." ucap Kenanga mengelap mulutnya.
"Iya jadi soal semalam, saya rasa kamu ingat."
Kenanga berdeham canggung, "Lalu?"
"Saya tidak ingin kamu menganggapnya kesalahan atau ketidaksengajaan karena kita sama-sama sadar. Jadi--"
"Jujur pada saya, kau memasukkan sesuatu ke wedang jahenya kan?" potong Kenanga.
Alfin sontak menggeleng, "Tidak."
"Kita tidak mungkin melewati batas kalau tidak ada sesuatu yang mendorongnya." tukas Kenanga.
"Saya rasa itu bukan faktor minuman tapi suasana."
"Apa maksudmu?"
"Semalam hujan, kan? Suasananya dingin dan hangat bersamaan lalu kita terbawa suasana dan gairah hingga melakukan itu. Tapi itu bukan kesalahan apalagi dosa. Kita jelas sudah legal melakukannya." jelas Alfin.
"Tunggu, kenapa saya merasa kamu terlalu tenang menyikapi insiden semalam?" sela Kenanga.
Tidak, Alfin sama sekali tidak tenang sekarang.
"Intinya saya ingin memperjelas dan menegaskan kalau saya akan memanggilmu dengan nama bukan kakak lagi."
"Tiba-tiba? Random sekali." komentar Kenanga.
"Saya serius, saya akan memanggilmu Kenanga alih-alih kakak lagi." tegas Alfin.
Kenanga mengangkat satu alisnya, "Alasannya?"
"Kita sudah membuka diri pada level tertinggi. Jadi tidak perlu lagi sapaan hormat dan formal. Kalau bisa, kata saya diganti saja jadi aku, bagaimana?"
Kenanga berdecak, "Inilah arti peribahasa sudah diberi hati malah meminta jantung."
"Tidak masalah, kan?"
"Tidak mau." tolak Kenanga malas.
"Kenapa?"
"Kau 3 tahun lebih muda dari saya. Gunakan sapaan formal seperti biasanya." jawab Kenanga acuh.
"Tidak mau." tolak Alfin kini.
"Kau sangat kurang ajar ya." seru Kenanga.
"Bagaimanapun saya kepala rumah tangga disini, tidak masalah bila kamu lebih tua. Karena apa? Karena saya tetap pemimpinnya." tandas Alfin santai.
Kenanga mendengus.
"Oke, Kenanga, mulai sekarang jangan saya lagi tapi aku, oke?"
Kenanga tak membalasnya dan malah memalingkan wajahnya.
"Kenanga." panggil Alfin.
Kenanga masih tak bergeming.
Senyum Alfin tertarik sedikit, "Kenanga, bagaimana permainanku semalam di ranjang? Kau puas?" godanya.
Kenanga langsung tersedak udara, dia melotot syok.
"Mau lagi?" tawar Alfin dengan senyum jahil.
"Kau sudah tidak waras." komentar Kenanga buru-buru pergi ke kamarnya.
"KALAU MAU SERVICE LAGI, HUBUNGI KAMAR SEBELAH YA!" teriaknya tersenyum geli.
Blam
Pintu ditutup keras oleh Kenanga sebagai jawabannya.
Alfin langsung tertawa, dia puas sekali sudah mengerjai Kenanga.
***
Di tempat lain dengan suasana suram dan temaram, terbaring seorang lelaki dengan tangan dan kaki diikat ke ranjang operasi. Wajahnya memar dan tak sadarkan diri.
Tak lama, lelaki itu bangun dari pingsannya. Matanya langsung membulat panik ketika sadar bahwa tubuhnya diikat. Dia meronta-ronta.
Tap tap
Seseorang berpakaian jubah dokter datang menghampiri lelaki malang itu. Lelaki itu menatapnya dengan penuh harap.
"Tolong lepaskan ikatan saya. Lepaskan saya." mohonnya.
Dokter itu tersenyum keji, "Kenapa harus?" tanyanya dengan suara berat dan terkesan kejam.
"Sa-saya akan melakukan apapun, asal ampuni saya. Saya mohon." mohonnya lagi.
Dokter itu tertawa kejam, "Tidak akan."
Kemudian tanpa kata dokter itu menyuntikkan sesuatu ke infusan lelaki itu.
"A-apa itu?" tanya lelaki itu takut.
"Klorafil, obat buatanku yang luar biasa." ujar sang dokter dengan nada bangga.
"O-obat apa itu?"
"Kau tidak perlu tahu. Yang perlu kau tahu, aku sudah menghabiskan sepuluh tahunku untuk menelitinya. Dan akhirnya setelah melalui banyak kesulitan, aku berhasil mendapatkan obat dengan kandungan sempurna ini." ujarnya puas.
Kemudian lelaki itu tiba-tiba merasa lunglai dan lemas bak energinya sudah terserap habis. Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, seakan-akan ototnya juga sudah tidak ada.
Lelaki itu megap-megap, mencoba mengatakan sesuatu tapi tidak ada suara yang terdengar.
"Inilah yang kusebut sebagai anestesi maha sempurna. Tanpa ada rasa sakit dan langsung membuat mati rasa pasien tanpa menghilangkan kesadaran mereka. Kalau soal kau tidak bisa bicara, itu bagian dari efek sampingnya tapi tenang saja, setelah pengaruhnya habis, kau akan kembali berbicara."
Dokter itu membuka kotak peralatan bedahnya. Dia memilah-milah pisau bedah mana yang akan dia gunakan.
"Baiklah, kita mulai." ucap dokter itu riang.
Tanpa kata, dokter itu menusuk perut lelaki itu dan mulai membedahnya. Lelaki itu terbelalak ketika melihat darahnya memuncrat didepan matanya. Dan seketika pingsan.
Dokter itu berdecak, "Dasar lemah. Kau jadi kehilangan kesempatan menyaksikan ginjalmu diambil." gerutunya.
Meski menggerutu sesaat, sang dokter tetap melanjutkan pekerjaannya. Wajahnya terus tersungging senyuman yang amat keji dan licik.