The LOVE Of Guardian

The LOVE Of Guardian
Bab 38. Cha Cha Cha


Jemari Kenanga bergerak pelan. Kedua matanya terbuka. Kenanga meringis kecil kala kepalanya diserang pusing. Matanya menatap langit-langit putih. Yah, dia tahu dia ada dimana sekarang.


Ceklek


Di waktu yang pas, pintu terbuka. Kenanga menoleh, matanya bertatapan dengan Meilani yang terlihat terkejut. Meilani dan Akra langsung menghampiri Kenanga yang telah sadarkan diri.


"Kenanga!"pekik Meilani. "Akhirnya kamu sadar." dia tiba-tiba menangis kembali.


"Kenapa sih tiap kali kamu pergi tugas ada saja yang buat khawatir. Kemarin hampir tertembak, eh sekarang benar-benar tertembak. Untungnya kamu masih selamat. Coba kalau tidak?!" cerocos Meilani heboh.


Kenanga mendesah pelan, "Om, bawa pergi tante darisini." ujarnya.


Meilani melotot, dia memukul lengan Kenanga.


"Aaa!" jerit Kenanga kesakitan.


"Ma, Kenanga sedang sakit, kenapa kamu malah memukulnya?" tanya Akra khawatir.


"Ah, maaf-maaf, tante refleks. Tangan kamu tidak apa-apa?" tanya Meilani khawatir.


Kenanga mendengus kesal, "Panggil saja dokter kesini atau kalian pergi."


"Ah benar, dokter! Kamu sudah sadar kan." Meilani buru-buru menarik lengan Akra hendak pergi.


Kenanga menghembuskan nafas lelah, "Tekan saja tombolnya." desahnya.


Meilani baru sadar. Dia melepaskan tangan Akra kemudian berlari menuju ranjang Kenanga kembali. Dia lalu menekan tombol untuk memanggil dokter.


"Sudah, apalagi yang kamu butuhkan?" tanya Meilani.


"Minum." jawab Kenanga.


Meilani langsung menuangkan air dari termos ke gelas, dia menyerahkannya pada Kenanga.


Kenanga hendak mengambilnya tapi Meilani tiba-tiba menarik tangannya.


"Ini air panas, lidah kamu melepuh nanti. " selanya. "Mas, tolong ambirkan air hangat didepan ya. Kalau tidak ada, air toilet juga tidak masalah penting dingin."


Kenanga melotot tak percaya, "Tante, aku baru selamat dari maut. Sekarang tante mau racunin aku?" tanyanya.


"Ah benar."seru Meilani setuju, "Yasudah air yang sudah matang ya. Air toilet banyak bakterinya meski kamu pernah minum waktu kecil." lanjutnya. Dia menyerahkan gelas ke Akra.


Kenanga lagi-lagi mendesah, kalau seperti ini terus, dia mungkin akan stress pasca pemulihan.


"Aku hanya ingin minum." tekannya.


"Tunggu sebentar saja. Mas, cepat ambil air minum."


Kenanga kehabisan kesabaran, tenggorokannya benar-benar kering. Dia mengulurkan tangannga.


"Tidak perlu. Kemarikan airnya." lirih Kenanga.


"Tapi ini panas sekali." tukas Meilani.


Kenanga menatap Meilani dengan mata sayunya, "Aku tidak akan mati meski minum satu gelas penuh."


Meilani mengalah. Akhirnya dia menyerahkab air minum itu ke Kenanga. Meilani meniupnya dulu lalu meminumkannya pada Kenanga. Seketika tenggorokannya kembali basah.


Setelah minum, Kenanga kembali berbaring. Tubuhnya masih lemas.


Ceklek


Dokter Aji datang. Dia langsung memeriksa Kenanga.


"Bagaimana dok?" tanya Meilani setelah Dokter Aji selesai memeriksa.


"Kondisinya sudah stabil. Hasil scan dan drah sudah keluar. Tak ada masalah apapun. Organ vitalnya baik-baik saja."


"Lalu bagaimana dengan lukanya?" tanya Akra.


"Soal itu, hanya perlu pemulihan saja."


"Berapa lama?" sela Kenanga.


"Tinggalah seminggu disini ya Letnan."


"Aku tidak ingin." jawab Kenanga acuh. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain.


Dokter Aji hanya tersenyum, "Saya merekomendasikan paling lama dua minggu tapi Dokter Alfin bilang penyembuhannya bisa satu minggu saja."


Kenanga menoleh begitu mendengar nama Alfin disebut.


"Dokter Alfin yang bilang begitu?" tanya Meilani.


Dokter Aji mengangguk, "Yang mengoperasi adalah Dokter Alfin tapi untuk perawatan pasca operasi adalah saya. Dokter Alfin menjamin bahwa takkan ada trauma pasca operasi."


Kenanga terdiam.


"Barangkali itu yang bisa saya sampaikan. Jangan lupa minum obat nanti malam."


"Terima kasih, dok."


"Sama-sama. Saya permisi." pamitnya lalu keluar ruangan.


Sepeninggal Dokter Aji, Meilani berbalik. "Dokter Alfin yang mengoperasinya? Dia lihat dong." celetuknya pada Kenanga.


Kenanga mendelik, "Apa maksudmu?" tanyanya.


Meilani menahan senyum jahilnya. Dia lalu mengerakkan telunjuknya ke atas dan ke bawah di atas dada.


"Wow." goda Meilani jahil.


Kenanga menatap tak percaya dengan apa yang dia fikirkan Meilani.


"Dia hanya melakukan tugasnya sebagai dokter." jelas Kenanga.


Meilani hanya mengangguk saja sambil terus tersenyum geli.


***


Siska masih berada di pesawat kala mendengar bahwa Kenanga tertembak saat bertugas. Dia tengah pulang kampung ke Pontianak kemarin. Dan hanya satu hari disana, perempuan itu kembali ke Jakarta gara-gara mendengar sahabatnya tertembak saat bertugas. Bayangkan segimana khawatirnya Siska. Rasanya dia ingin mengemudikan pesawatnya dalam kecepatan penuh.


Satu jam kemudian, Siska sampai di bandara. Dia terburu-buru keluar pesawat dan mengambil kopernya. Tapi begitu keluar dari bandara, Siska tertegun. Dia baru ingat bahwa dia tidak membawa mobil. Dia diantar Satya kemarin.


Siska langsung menelfon Satya tapi beberapa kali ditelfon, ponselnya tidak aktif. Sepertinya Satya sedang sibuk atau mungkin tengah di ruang operasi. Siska berdecak kesal.


Siska memutuskan naik taksi saja. Tapi tampaknya ada hambatan lain. Semua taksi yang terparkir sudah dipesan orang. Tak ada taksi yang kosong. Siska ingin mengumpat saking frustasinya.


Perempuan itu melihat arlojinya, sekarang pukul delapan malam. Dia lalu memutuskan memanggil mobil saja. Dan kali ini berhasil. Mobil yang dia pesan sedang dalam perjalanan.


Lima belas menit kemudian, mobil yang dipesannya datang. Siska langsung saja masuk.


"Ke RSAM Candrakartika, pak." ucap Siska.


Mobil pun mulai melaju.


***


Di perjalanan, dia kembali menelfon Satya. Tapi lagi-lagi nomor Satya tak aktif. Siska akhirnya memutuskan mengirimkan sms. Memberitahukan pada cowok itu bahwa dia sudah pulang ke Jakara.


Siska


Aku kembali ke Jakarta hari ini. Sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Hubungi aku begitu kamu mendapat pesan ini ya. Love you.


Tes tes


Hujan tiba-tiba turun. Siska mendesah. Di musim kemarau ini, hujan nampaknya akan jarang absen seperti biasanya. Tidak masalah baginya toh udara akan jauh lebih dingin daripada suhu biasanya.


"Aish, aku tidak bawa payung."


Dia tidak membawa payung dan jelas berniat hujan-hujanan.


Dan bersamaan itu, mobil yang ditumpanginya sampai. Siska mengucap terima kasih. Tapi dia sempat ragu-ragu keluar.


Siska menggelengkan kepalanya. "Bodo amat. Yang penting adalah Kenanga." ucapnya.


Siska akhirnya membuka pintu. Dia cepat-cepat mengeluarkan kopernya dari bagasi. Lalu berlari menembus hujan untuk sampai di lobi. Jaraknya tidak terlalu jauh tapi masalahnya adalah air yang tergenang, membasahi celananya.


Tapi tiba-tiba Siska terdiam. Dia berhenti berlari ketika Satya berlari dari arah sebaliknya. Sedetik kemudian Satya sudah berdiri dihadapan Siska dan memayungi Siska.


"Kenapa tidak tunggu aku dulu sebentar?" tanya Satya cukup kesal.


Siska masih terdiam. Dia sungguh kaget melihat Satya dihadapannya.


Satya lalu melepas snelinya.


"Aku sudah beberapa kali menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif. Kamu pasti sibuk. Aku tidak mau menganggumu." ujar Siska menahan rasa senangnya karena Satya perhatian padanya.


Satya menatap Siska lalu melampirkan snelinya ke sekeliling tubuh Siska.


"Kamu adalah prioritas. Jadi jangan ragu ganggu aku." tandas Satya serius.


Siska benar-benar terdiam kali ini.


***


Ceklek


Pintu ruang rawat Kenanga terbuka. Kenanga menoleh ke arah pintu, muncul Alfin lengkap dengan jas putih kebanggaannya. Dia berjalan menghampiri Kenanga.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Alfin.


"Kau bertanya sebagai dokter?" tanya balik Kenanga.


Alfin mengangguk.


"Baik." jawab Kenanga datar.


Alfin menghembuskan nafas lega berkali-kali. Dan itu membuat Kenanga mengernyitkan dahi.


"Ada apa denganmu?"


"Lega." balas Alfin singkat.


"Lega?"


Alfin mengangguk, "Lega karena kamu baik-baik saja. Kemarin hampir tertembak, sekarang benar-benar tertembak. Kenapa senang membuat orang khawatir?"


Kenanga terdiam, ucapan Alfin hampir sama dengan Meilani. Dia memalingkan wajahnya setelah itu.


"Jangan lebay, kenyataannya saya. masih hidup." tukas Kenanga singkat.


Alfin mengangguk setuju.


"Oh ya, saya dengar kamu yang mengoperasi saya." cetus Kenanga.


"Benar." jawab Alfin.


"Terima kasih."


"Saya hampir membunuh kakak, jadi jangan ucapkan terimakasih." balas Alfin.


"Apa maksudmu?"


Alfin duduk di kursi, "Kakak tahu, saya bary pertama kali mengalami hal ini. Syok, bingung, kosong dan tak bisa berfikir apa-apa selain panik. Rasanya tangan saya tudak bisa bergerak sesuai keinginan saya. Dan karena itulah saya hampir mencelakakanmu di ruang operasi. Saya minta maaf." jelasnya menatap Kenanga serius.


"Tidak apa-apa. Saya masih disini, kamu tidak membunuh saya."


Alfin tersenyum kecil lalu menganggukan kepala.


Kemudian Alfin melihat secangkir gelas berisi susu putih diatas nakas.


"Kenapa tidak diminum?" tanya Alfin sembari menunjuk susu itu.


Kenanga melirik susu itu lalu menggeleng.


"Saya benci susu." jawab Kenanga bulat.


"Taoi kamu harus meminumnya untuk minum obat. Kamu tidak bisa makan makanan dulu."


"Tidak mau. Langsung minum obat saja." tukas Kenanga acuh.


Alfin mendesah pelan, "Kakak harus segera sembuh agar saya bisa menunaikan janji saya."


"Janji apa?" satu alis Kenanga terangkat.


"Mie." tandas Alfin singkat.


"Mie?" Kenanga mengerutkan dahinya bingung.


Alfin mengangguk, "Saya berjanji bahwa saya akan memasakan kakak mie setelah selesai tugas."


Kenanga ingat itu.


"Tapi saya tidak mau minum susu." tolak Kenanga keukeuh.


"Kenapa?"


"Rasanya sangat aneh. Awalnya manis tapi setelahnya sangat berat di lidah. Saya harus membilas lidah saya beberapa kali. Dan baunya, mual." jelas Kenanga mengernyit jijik.


Alfin terdiam.


"Kakak tidak bisa meminumnya sendiri?"


Kenanga mengangguk.


"Tapi kakak harus minum susu ini sebelum dingin."


Kenangga kini menggeleng, "Tidak, terimakasih." tolaknya.


Alfin terdiam berfikir. Dia lalu terfikir sebuah ide. Sangat gila dan mungkin dia akan mendapat tendangan setidaknya dari Kenanga.


Tapi Alfin sudah memutuskan.


"Maaf kak, tapi kakak harus sembuh." ucal Alfin.


Kenanga mengerutkan dahinya bingung. Lalu ketika tiba-tiba Alfin meminum susu itu dan meminumkannya langsung ke mulut Kenanfa. Dengan kata lain, Alfin menciumnya!


Mata Kenanga terbuka lebar ketika dirasakannga bibir Alfin berada tepat diataas bibirnya. Belum lagi dengan cairan susu yang masuk ke mulutnya secara langsung. Mau tak mau dia harus menelannya.


Sedangkan Alfin merasa dia sudah gila. Meski dia terpaksa melakukannya agar Kenanga bisa minum susu.


Setelah beberapa lama, Kenanga melepaskan paksa ciumannya. Dia mengelap mulutnya.


Matanya melotot lebar, jelas kesal dan juga syok. "Apa yang kau lakukan?!"