The LOVE Of Guardian

The LOVE Of Guardian
Bab 54. Topeng Iblis Part 2


"Tidak, bukan seperti itu cara kerja Miracle. Siapapun yang tidak becus bertugas, maka mati adalah hukumannya." tandas Satya kejam.


Kenanga, Alfin dan Bagas sama-sama menarik nafas tertahan. Mereka tidak menyangka bahwa Satya akan sesangat jahat itu. Dibalik sisi dokternya yang humoris dan santai, Satya ternyata menyimpan kekejian yang tak bisa dibayangkan.


Dia adalah psikopat berwajah malaikat.


“Kau sungguh membunuh mereka? Ahmad, Nurman, Arman, dan Letkol Rizal serta keluarganya? Oh ya, lelaki yang menjadi tikus percobaanmu tadi saat demo, dimana dia sekarang?” tanya Alfin bertubi-tubi.


“Kurasa pembicaran ini semakin panjang." tanggap Satya menguap.


“JAWAB PERTANYAANNYA, BRENGSEK!” teriak Kenanga.


Satya tersenyum tipis, dia menatap dingin pada Kenanga yang balas memandangnya dengan tatapan sengit.


“Letnan Kenanga, sepertinya aku harus membeberkan sebuah rahasia padamu karena aku khawatir kau akan mati tanpa mengetahui kebenaran orangtuamu sendiri.”


Kenanga mengernyitkan dahinya, “Apa maksudmu?”


Alih-alih menjawab, Satya menoleh pada tiga bawahannya. “Bawa Dokter Alfin dan Kapten Bagas ke ruang eksekusi. Jangan dibunuh dulu sebelum mereka meminta kematian mereka sendiri.” Titah Satya.


Ketiganya terkejut luar biasa. Terutama Alfin dan Bagas yang sudah berkeringat dingin. Tak dipungkiri bahwa ada ketakutan dalam diri mereka melihat kekejaman Satya.


“Tunggu, kau tidak bisa melakukan hal keji seperti itu. bagaimanapun Alfin adalah sahabatmu dan kami juga rekan kerjamu!” teriak Kenanga.


Satya menatap angkuh, “Itu hanya topengku saja, Nona Letnan Dua. Tips dariku, jangan pernah menjalin pertemanan dengan siapapun kecuali kau memiliki musuh yang sama. Dan ketika musuh itu sudah tumbang, maka pertemananmu juga lenyap. Itu adalah hukum alam.”


“Kau benar-benar bajingan, Satya! Kita sudah saling mengenal selama bertahun-tahun ini. Aku tulus berteman denganmu dan kau tega melakukan itu pada sahabatmu sendiri? Kau bahkan mengkhianatiku selama ini. Membunuh kekasihku dan sekarang kau akan membunuhku? Membunuh kami? Dimana hati nuranimu!” sentak Alfin emosi.


Satya hanya tersenyum tenang. “Aku tidak memiliki hati asal kau tahu. Sejak aku memutuskan bergabung dengan Miracle, saat itu juga hati nuraniku sudah lenyap. Membunuh bagiku hanya perkara menekan pelatuk saja. Seperti ini---“


Satya tiba-tiba mengambil pistol di saku celananya lalu menembakkannya pada salah satu bawahannya yang berada tepat di belakangnya.


Dor


Lelaki itu terkapar dengan darah yang memuncrat dari dadanya.


Kenanga, Alfin dan Bagas mematung melihat kejadian itu. sedangkan Satya hanya tetap tenang. Dia memasukkan kembali pistolnya ke saku celananya lalu menaruh kedua tangannya disana.


“Lihat? Aku sama sekali tidak merasa bersalah.” ujarnya enteng.


“Kau itu manusia. Dia bahkan hanya berdiri diam dan kau langsung menembaknnya saja?” seru Bagas tak percaya.


Satya mengangguk, “Benar, dia hanya berdiri saja. Sudah sepatutnya aku tidak menembaknya. Dia tidak bersalah kan?” kata Satya sepertinya mengejek. “Tapi sebenarnya, dia melakukan kesalahan. Dia tidak bertugas tadi dan malah asik bercinta dengan perempuan tak berguna. Aku tidak suka ada yang mengabaikan pekerjaannya sendiri. Kau pun tahu itu Alfin. Meski aku terlihat agak malas bekerja tapi aku selalu totalitas dalam menyelesaikan pekerjaanku. Dan tadi itu adalah hukuman bagi anggota kami."


Lelaki ini, Alfin sungguh tak mengenal Satya yang ada dihadapannya kini. Malam ini dia sudah dibuat tercengang beberapa kali. Dibuat ketakutan akan tindakan Satya yang kejam.


Intinya, mereka harus sesegera mungkin keluar darisini.


"Black, bawa Alfin dan Bagas. Dan kau, Faith, bawa jasad lelaki tak berguna ini. Bakar saja ditungku dan abunya sebarkan di laut." titah Satya.


Black dan Faith mengangguk. Kedua lelaki itu langsung melaksanakan tugas mereka. Black langsung membawa Alfin dan Bagas keluar dari rumah kaca. Meski Alfin dan Bagas berontak, nyatanya Black sama sekali tak terpengaruh. Dia bergeming meski Alfin dan Bagas meronta-ronta dengan keras. Black tak keberatan membawa mereka berdua sekaligus. Dia tak kalah kuat.


Faith juga membawa jasad temannya itu. Ekspresinya tetap tenang seakan-akan tak ada yang terjadi sama sekali. Dia menyeret jasad temannya itu dengan menarik tangannya lalu membawanya keluar rumah kaca.


Kini di rumah kaca, hanya tersisa Satya dan Kenanga yang masih terikat saja.


"Aku belum pernah berbicara empat mata denganmu, Kenanga. Jadi begini rasanya." celetuk Satya.


"Tutup mulut setanmu!" desis Kenanga.


Satya mendesah pelan. Dia melepaskan topengnya dan menaruhnya di atas meja.


"Kau tahu, aku pernah sangat mengagumimu mungkin hingga sekarang. Aku tidak pernah melihat ada perempuan setangguh dirimu. Mirip ibumu."


"Jangan pernah sebut ibuku dengan mulut kotormu." ucap Kenanga penuh penekanan.


Salah satu sisi termanis Satya adalah senyumannya. Jika lelaki itu tersenyum maka semua keburukannya seperti tertupi. Ayolah, Satya adalah salah satu dokter populer di RSAM. Wajahnya yang tampan nyaris tanpa cela dengan sifatnya yang maha romantis dan humoris.


"Cepat katakan apa yang tadi hendak kamu bicarakan. Soal ibuku."


"Kufikir kamu tidak tertarik."


Kenanga mengerutkan kening kesal, "Katakan saja, sialan."


Satya berdecak tak suka. "Kau adalah wanita tapi kau banyak mengumpat ya." koementarnya.


Kenanga berdecih, "Lelaki psikopat sepertimu memang harus banyak disumpah serapahi."


Satya mendatarkan wajahnya. Dia mencengkeram leher Kenanga erat. Matanya menatap tajam pada manik kurang ajar itu.


"Aku sudah menahan kesabaranku, Kenanga. Jangan mengujiku lebih jauh atau kau akan kehilangan kepalamu sekarang." ancamnya.


Kenanga tak menjawabnya. Dirinya sudah kesusahan bernafas akibat cekikan Satya yang kuat. Wajahnya sudah memucat kembali.


"Le-lepass." pinta Kenanga lirih.


Satya akhirnya melepaskan cekikannya. Kenanga terbatuk-batuk keras. Batang ternggorokannya berdenyut nyeri.


"Karena aku pernah mengagumimu, maka aku akan mengakui sebuah rahasia untukmu. Rahasia kematian Nike." tandas Satya.


Kenanga mematung. Sesaat setelahnya dia gemetar.


"A-apa?" ucapnya terbata-bata.


"Tepatnya disini." Satya menunjuk tempatnya berpijak.


"Kau tahu, Nike selamat dari ledakan itu." ungkap Satya.


Deg


Kenanga mematung kembali.


"Dia berhasil keluar sepuluh detik sebelum ledakan itu terjadi, meninggalkan seluruh anggotanya di dalam dan terpanggang hidup-hidup. Egois sekali kan?"


"Tidak." Kenanga menggelengkan kepalanya. "Kalau ibuku selamat dari sana, maka seharusnya dia ada disini bersamaku!"


Satya tertawa keras, "Meski dia selamat dari ledakan itu, tapi dia tetaplah mati, bodoh."


"Kenapa?!"


"Setelah dia selamat dari ledakan itu, kakakku berfikir bahwa Nike pasti akan membocorkan rahasia itu. Jadi kami menculiknya dan membunuhnya."


Kenanga merasa langitnya runtuh. Dirasakan wajahnya memanas dengan mata menyala marah. Tangannya yang terikat tali mengepal erat.


"Tapi ternyata setelah meninggalnya Nike, Rizal juga masih hidup. Tapi kami tidak membunuhnya, karena dia sangat tenang menutup mulutnya tidak seperti Nike." lanjut Satya.


"DIMANA JASAD IBUKU, BRENGSEK?!" teriak Kenanga.


Satya tersenyum tenang, "Tidak tahu."


"APA?"


"Aku tidak tahu. Bukan aku yang mengurusinya. Mungkin saja jasadnya sudah menjadi abu? atau mungkin hanya tersisa tulang dan sudah digerogoti anjing?" ujar Satya santai.


"MATI SAJA KAU BANGSAT!" Amuk Kenanga yang benar-benar sudah kehilangan kendali.


Perempuan itu menyentak lengannya yang talinya sudah melonggar berkat gesekan kaca yang terus Kenanga gesekkan sepanjang percakapan mereka tanpa sepengetahuan Satya. Lalu maju menerjang Satya dengan tangan menggenggam pecahan kaca yang tajam tadi.


***


Di sisi lain, Black membawa Alfin dan Bagas menuju ruangan lain. Bukan di rumah kaca lagi tapi menuju sebuah ruangan yang gelap. Sekelilingnya dilengkapi tirai hitam. Bau amis darah menyapa indera penciuman mereka.


Inilah ruang eksekusi yang tadi disebutkan Satya. Penuh dengan peralatan mengerikan.


Dan yang paling membuat bulu kuduk mereka berdiri adalah logo Miracle yang terpampang jelas di salah satu sisi dinding.


Black mendorong Alfin dan Bagas hingga terduduk keras di lantai.


Tok tok


Black, Alfin dan Bagas menoleh ke sumber suara ketika suara asing terdengar.


"Tunggu disini. Jangan mencoba kabur." peringat Black.


Lelaki bertato kupu-kupu di pergelangan tangannya itu keluar dari ruangan meninggalkan Alfin dan Bagas.


"Bagaimana sekarang? Kenanga juga masih disana dengan Satya. Bagaimana kalau dia kenapa-kenapa?" panik Alfin.


Bagas baru saja hendak membuka mulut ketika suara tembakan terdengar.


"Apa itu?" tanya Alfin was-was.


Ceklek


Bagas dan Alfin terkesiap ketika pintu dibuka dan muncul dua bayangan hitam. Mereka terdiam was-was.


Dua bayangan hitam itu makin dekat. Alfin dan Bagas makin mematung ketakutan. Hingga,


"Kapten! Dokter Alfin!"


Panji dan Riko ada disana.


Alfin dan Bagas seketika menghela nafas lega.


"Kalian kenapa bisa ada disini?" pekik Bagas pelan.


Panji dan Riko langsung berlari mendekati mereka berdua dan memotong tali yang mengikat tubuh Alfin dan Bagas. Setelah terlepas, Bagas dan Alfin meregangkan kaki dan tangannya yang kebas.


"Katakan, kenapa kalian bisa ada disini?" tanya Bagas penuh penekanan.


"Dani melacak lokasi Anda." jawab Panji.


"Dani juga ada disini?"


Riko mengangguk, "Saya, Panji, Dani, Angga dan Dokter Siska yang menunggu di mobil."


"Kalian tidak tahu ini ada dimana?" tanya balik Riko.


Alfin dan Bagas kompak menggeleng.


"Kami bertiga tahu-tahu sudah ada di rumah kaca sebelah tempat ini dengan tangan dan kaki terikat."


"Bertiga? Dengan siapa?" tanya Panji.


"Kenanga, kau tidak menyelamatkannya? Dia ada di rumah kaca dengan Satya!" seru Alfin.


"Satya?" Riko mengernyit bingung.


"Pemimpin Miracle. The Boss adalah Satya!"


"APA?!" seru Panji dan Riko kaget.


Alfin berdecak kecil. Lelaki itu tanpa kata langsung berlari keluar ruangan. Dia harus menyelamatkan Kenanga dari psikopat gila bernama Satya.


"Yang lainnya dimana?" tanya Bagas.


"Dani dan Bang Angga menahan para penjaga sedangkan Dokter Siska ada di mobil." jawab Panji.


Bagas mengangguk, "Riko minta bantuan pada markas. Dan Panji, ikut saya sekarang. Kita harus menyelamatkan Kenanga, dia bersama dengan Satya di rumah kaca."


"Baik, Kapten." angguk Panji dan Riko.


***


Dor


Dor


Dor


Alfin berhenti sebentar begitu mendengar suara tembakan bertubi-tubi dari arah rumah kaca. Jantungnya berdentum cepat. Takut ada


Alfin berlari menuju rumah kaca. Begitu dia membuka pintu, Kenanga dan Satya sedang berduel. Pistol tanpa selonsong dan peluru tergeletak tak jauh dari mereka.


Alfin tersentak ketika Satya menendang perut Kenanga keras hingga terjatuh ke lantai. Kenanga tampak mengerang sakit.


"SATYA!"


Alfin langsung berlari menerjang Satya yang terkejut dengan kedatangan Alfin. Dia mendaratkan pukulan ke wajah Satya. Satya jatuh terjerembab. Kesempatan itu Alfin gunakan untuk menghajar Satya habis-habisan.


Alfin menduduki Satya dan terus memukuli wajahnya tanpa henti. Satya mencoba bertahan hingga dia mengeraskan kakinya dan membalik Alfin. Kini mereka berganti posisi. Giliran Satya yang balas memukuli Alfin.


Bug


"Kau tahu Fin, kau lelaki paling menyedihkan."


Satya tak lupa mencaci Alfin. Melemahkan mental lelaki itu.


Bug


"Kau selama ini menyombongkan diri memiliki kekasih yang setia padamu hingga akhir tanpa kau tahu bahwa dia mencintai lelaki lain."


Bug


"Kau menyedihkan sekaligus bodoh. Kau bahkan tertipu dengan topengku selama ini." remeh Satya.


Alfin merasa amarahnya terkobar kembali. Dia tak suka diremehkan seperti ini.


"Kau tahu," Alfin berbicara cukup susah payah karena harus menahan sakit. "Justru kaulah yang paling menyedihkan. Pemimpin Miracle katamu? Kau tak lebih sebuah sampah yang mengantarkan kehancuran untuk organisasi terkutuk ini." hinanya.


Begitu mengatakan itu, rahang Satya mengeras. Dia hendak mencekik Alfin sebelum dia merasakan tendangan keras di pipinya. Satya jatuh dari tubuh Alfin.


"Menjauhlah dari tubuh suamiku, brengsek." desis Kenanga berdiri cukup menunduk. Satu tangannya memegang perut bawahnya. Wajahnya penuh debu dan luka. Tapi matanya menyolot marah.


Satya tersenyum hina, "Sudah mengakui, eh?"


Srrrrsh


Suara gemerisik terdengar. Mereka seketika waspada. Hingga tak lama, terdengar suara sirene polisi. Kini Satya yang nampak waspada. Suara sirene itu makin keras menandakan bahwa mereka makin mendekat ke tempat ini.


"Bagaimana The Boss? Terkejut karena takdir menyedihkanmu akan segera terjadi? Mereka pasukan pembela kebenaran sedang dalam perjalanan hendak menjebloskanmu ke penjara." ucap Kenanga tersenyum kemenangan.


Satya berdecih kesal. Dia langsung berbalik dan berlari pergi.


"Sial, dia tidak boleh kabur."


Kenanga berlari mengejarnya tanpa menyadari bahwa perutnya sedang melilit nyeri.


Alfin yang melihat Kenanga mengejar Satya yang kabur segera menyusulnya.


***


Di sisi lain, puluhan mobil polisi dan kendaraan militer mengepung gedung megah yang ternyata merupakan markas Miracle di Bandung ini.


Siska yang tengah menunggu di mobil langsung keluar melihat banyaknya polisi dan tentara memasuki gedung mewah beralibi hotel bintang 3 itu.


Tumbangnya Black yang dibunuh oleh Panji dan Riko serta Faith yang sedang mengurusi jenazah temannya yang tewas ditembak Angga, membuat anggota Miracle lainnya tak berkutik. Sebanyak seratus dua puluh orang anggota Miracle tertanggap di tempat kejadian dan langsung dibawa ke markas. Tak hanya menangkap, para petugas juga langsung menggeledah seisi gedung.


Dan ditengah kebingungan Siska yang mendapati banyaknya anggota polisi dan tentara masuk ke gedung, dirinya kembali dikejutkan oleh kemunculan Satya.


"Satya!" teriak Siska.


Satya langsung menoleh dan mendapati kekasihnya ada disana. Lelaki itu langsung mendekati Siska.


Siska langsung memeluknya tapi hanya sedetik ketika Satya melepaskan pelukan mereka.


"Kau tidak apa-apa? Kudengar ini adalah markas Miracle." tanya Siska cemas.


Satya menggeleng. "Siska, kamu bawa mobil kan?" Siska mengangguk, "Pinjami aku kuncinya." pinta Satya.


Siska mengernyit bingung, "Kenapa memangnya? Kau mau pergi? Tenang saja, ada Tim Rajawali disana. Kau aman. Justru tak baik bila kita pergi sekarang."


Satya menggeleng keras, "Pinjami saja. Aku mohon." pintanya penuh penekanan.


Siska yang meski bingung akhirnya menyerahkan kunci mobilnya pada Satya.


"Terima kasih sayang." ucapnya senang.


Satya hendak masuk ke mobil tapi Siska menghentikannya.


"Aku ikut sama kamu."


Satya langsung menggeleng, "Tidak, Siska." tolaknya.


"Kenapa?" tanya Siska.


Karena aku ingin kabur! gumam Satya dalam hati.


"Kamu tetap disini ya. Disini kamu aman, ada Kenanga juga di dalam sedang menangkap pemimpin Miracle. Sedangkan aku harus pergi ke suatu tempat sekarang juga." bohong Satya.


"Kemana?" tanya Siska membuat Satya tak jadi masuk lagi.


Satya mencoba menahan emosinya. Ingin sekali dia menembak kepala wanita cerewet ini.


"Aku--"


"BERHENTI KAU SATYA!" Pekik Kenanga dari kejauhan.


Satya terkesiap, "Damn it!" umpatnya.


Satya langsung masuk kedalam mobil dan mulai melajukan mobilnya kencang.


"Satya! Satya!" panggil Siska tiba-tiba pergi begitu saja.


Kenanga sampai di dekat Siska.


"SIAL. KENAPA KAU TAK MENGHENTIKANNYA?!" sentak Kenanga pada Siska.


Siska terperanjat. "A-aku tidak mengerti kenapa kau marah seperti ini Kenanga." ucapnya terbata-bata. Pasalnya Siska tak pernah melihat sisi Kenanga yang emosi seperti ini.


"Dia pemimpin Miracle, asal kau tahu!" ucap Kenanga kini dengan nada lebih melunak.


"Apa?" seru Siska terkejut. Dia lantas tertawa, "Leluconmu sekarang luar biasa ya." lanjutnya jelas tidak percaya.


Kenanga tahu itu. Dia memilih mengabaikannya. Ada banyak waktu untuk menjelaskannya pada Siska tapi tak banyak waktu untuk bisa menangkap si keparat sialan itu.


"Kau masuklah ke dalam mobil. Pergi ke tempat aman. Aku akan menjemputmu nanti." titah Kenanga.


"Kena--"


Belum selesai Siska bertanya, Kenanga sudah melesat pergi. Dilihatnya Kenanga meminjam salah satu mobil polisi yang terpakir di halaman. Dengan sirine nyaring, mobil polisi yang dikemudikan Kenanga melaju cepat menyusul Satya yang makin menjauh.


...-----------...


Maaf ya semuanya kalau aku sering lambat update. Aku sedang berusaha menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru. Jadi waktu menulisku mau tak mau tersita sebagian banyak🙏


Karena itu, bukan aku sombong atau sok sibuk dan bagaimana. Aku menyadari bahwa tempatku beristirahat dari lelahnya dunia nyata ya Noveltoon ini dan kalian yang menghargai karya serampanganku😊


Tapi aku juga harus memiliki time management yang jelas, dan schedule yang pasti agar para pembacaku tidak menunggu-nunggu. Jadi aku putuskan untuk karya ini hanya akan aku UP setiap SELASA, KAMIS, SABTU (Bisa fleksibel minimal 1 minggu aku up 3-4 bab😁)


Dan untuk karya lainnya yang masih on going dan menggantung, aku juga akan up di luar hari itu tapi tidak dengan jadwal yang beraturan🙏


Maaf ya atas ketidaknyamanannya. Aku hanya ingin mencoba memisahkan kesenanganku menulis dan kewajibanku di dunia nyata saja. Kuharap kalian bisa mengerti 🙏😊


Salam cinta dari aku ya, terima kasih sudah membaca sejauh ini. Love You So Much ❤


Salam,


KyGe