
"Tentu saja tuan kami yang melakukannya!" sahut ibu panti. Tentu saja ucapannya menjadi perhatian dari gilberto.
Cantik! Satu kata yang terlontar dari mulut gilberto mengungkapkan perasaannya. saat matanya tanpa sengaja melihat sosok lain dibelakang ibu panti. Aleina sosok itu yang berdiri bersama laela.
Mereka saling menatap sekilas Aleina dulu yang mengalihkan pandangan dengan berbisik pada laela izin ke belakang mengurusi anak-anak panti yang akan segera tampil, laelapun tahu akhirnya ikut Aleina pergi sedang Gilberto tak tertarik akan kecantikan Aleina yang alami, membuat jantung gilberto berdetak lebih cepat dari biasanya. yang sebelumnya berharap ingin cepat berbicara dengan ibu panti mengenai adiknya setelah acara lalu pergi untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sedikit bergeser jadwalnya setelah melihat aleina. Dia meminta asistennya mengosongkan jadwalnya. Dia ingin sedikit lama di panti.
Acara diisi dengan hiburan penampilan anak panti. sungguh sangat meriah terlihat para undangan begitu antusias terhibur akan pentas kami pertunjukan. Sedang Gilberto hatinya gelisah pandangan tak fokus matanya menjelajah mencari Aleina. Aleina sendiri sibuk membantu dibelakang panggung.
Laela tersenyum melihat tingkah gilberto ia tahu bahwa pria itu tertarik pada temannya. Maka laela sengaja mendekat pada Aleina yang sedang duduk di kursi dekat meja rias.
"Gimana menurutmu?" ucap laela basa-basi memancing tanggapan Aleina mengenai gilberto.
"Apanya?" Aleina tak menjawab malah balik bertanya karena dia tidak mengerti maksud dari perkataan sahabatnya itu.
"Ish, kau ini tuan gilberto, Al." ucap laela jengkel sikap cuek sahabatnya padahal gilberto begitu tertarik padanya.
"Oooo...baik." jawab singkat Aleina. Membuat laela membolakan mata.
"Al serius dong, kamu ini," gemas laela dengan menghentak-hentakan kakinya.
Aleina melihat reaksi dari laela malah balik bertanya. "Kamu tertarik sama pria itu?" tanyanya polos.
Aleina hanya mengulum senyum matanya mengekor mengikuti punggung Laela yang pergi dari hadapannya. sebenarnya dirinya tahu apa maksud dari pertanyaan laela bermaksud memancingnya. Namun Al sadar dirinya sudah bersuami meski pria itu tak menganggapnya. Tak ada niat sedikit saja di pihaknya memberikan peluang cinta baru masuk, bukan karena dia mencintai Dicky melainkan pernikahan adalah ikatan suci yang tak seharusnya dipermainkan, dia hanya menunggu apa dari keputusan Dicky.
Al tahu gilberto pria yang hampir sempurna juga mapan pantas mendapatkan yang lebih baik. Bukan dirinya wanita bersuami. Terdengar riuh tepuk tangan memberi aplus untuk pertunjukan barusan sekarang berganti pertunjukan lain begitu seterusnya sampai akhirnya acara selesai.
Sekarang berganti makan-makan tamu dipersilakan menikmati menu sederhana dari panti. Bersamaan itu Gilberto melihat Al matanya berbinar lagi-lagi kembali dadanya berdegup kencang tatapan tak dapat berpaling sedikitpun dari Aleina. Meski saat ini dirinya berbincang dengan beberapa perempuan putri-putri pembisnis lainnya.
Disisi tanpa diketahui siapapun ada sepasang mata mengamati keduanya. Dicky ya ialah orangnya. Awalnya dicky tidak tahu tapi karena temannya memberitahukan maka dia penasaran yang awalnya ingin menemani gisel shopping dia batalkan berdalih ada pekerjaan yang harus di selesaikan mendadak.
Dicky melihat itu kesal tangannya meremat stir kuat-kuat, dicky tidak suka ada pria yang menatap istrinya seperti itu. Ingin sekali memberikan pelajaran tapi saat ini dia tidak diundang maka dia mencoba menghubungi temannya.
"Posisi?"
"lihat arah pukul sembilan,"
Memang benar terlihat tangan melambai kearahnya. Ternyata teman dicky salah satu tamu undangan di acara panti.
"Ok, aku kesana."