
“Manusia punya rencana, Allah punya kuasa”.
Langit terlihat cerah, udaranya pun terasa begitu segar. Tak membutuhkan waktu lama, Alan sampai di kantor Indra.
Dia menghentikan motornya di parkiran depan kantor. Sejumlah kendaraan terparkir rapih. Dia bergegas masuk ke dalam kantor untuk menemui Indra.
“Hai, Alan. Kemana aja baru keliatan?” sapa seorang karyawan.
“Adik aku masuk rumah sakit, mba. Jadi aku absen nggak masuk kantor.” Balas Alan pada seorang perempuan.
“Lalu gimana keadaannya sekarang?” Tambah perempuan itu lagi.
“Dia sudah baikan ko, mba. Sekarang dia ada di rumah sama mamah.” jelas Alan.
“Syukur deh.” Ucap perempuan itu.
“Pak Indra ada nggak ya, mba.” Tanya Alan.
“Ada diruangannya, lan.” Jawab perempuan itu. Alan bergegas pergi menuju ruangan Indra.
Alan sudah cukup dikenal oleh beberapa karyawan Indra. Meskipun mereka tahu Alan masih ada hubungan saudara dengan Indra, mereka memposisikan Alan sebagai karyawan yang sedang bekerja. Bukan keponakan bos mereka.
Hal itu dikarenakan, Alan selalu profesional dalam bekerja. Dia selalu memposisikan diri sebagai karyawan pada umumnya saat di kantor.
Tok... Tok... Tok...
“Selamat siang, Om.” Sapa Alan. Disana Indra sedang sibuk membaca beberapa surat di mejanya.
“Siang, lan. Tumben jam segini sudah di kantor.” Tukas Indra mengalihkan pandangannya.
Biasanya Alan baru masuk kantor antara pukul 1 sampai 2. Sementara saat itu baru pukul 11 Alan sudah ada di kantor.
“Iya, Om. Tadi Alan nggak ke kampus, tapi ke rumah temen.” Jelas Alan.
“Ke rumah, Mira?” Kata Indra sambil tersenyum menggoda keponakannya. Alan terlihat salah tingkah dibuatnya.
“Iya Om, tapi bukan mau ketemu Mira.” Balas Alan.
"Ketemu Mira juga nggak apa-apa ko, Lan," tambah Indra.
"Nggak ko, Om." Alan terlihat kikuk. Sementara itu, Indra hanya tertawa melihat tingkah anak dari kakak sulungnya itu.
“Ya sudah, kamu langsung ketemu Mba Andin aja. Om sudah beritahu dia apa yang harus kamu kerjakan.” Ucap Indra memberi perintah.
“Baik, Om.” Jawab Alan dengan sigap.
Dia keluar dari ruangan Indra, pergi untuk segera menemui Andin.
Andin merupakan editor senior di perusahaan Indra. Sejak pertama kali Alan bekerja di kantor Indra, dia banyak dibantu oleh Andin.
“Oiya. Nanti Alin juga ke sini bawa naskahnya. Itu juga sekalian tugas kamu.” Tambah Indra sambil tersenyum.
“Siap, Om Bos.” Jawab Alan.
Jam kerja Alan berbeda dengan karyawan pada umumnya. Jika karyawan di perusahaan Indra bekerja dari pagi sampai sore. Sedangkan Alan berbeda, dia akan diberi tugas yang sama dan boleh dikerjakan diluar jam kantor.
Alan baru mulai masuk kerja siang hari sepulang kuliah, dan jika sampai sore tugas yang diberikan belum selesai, maka dia akan melanjutkan tugasnya di rumah, tak heran Alan sering lembur sampai malam.
Hal itu disanggupi oleh Alan, karena dia membutuhkan pekerjaan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.
Selain itu, Alan juga merasa sangat di bantu oleh Indra. Menurutnya, Indra sudah cukup bijak, karena mau menerimanya bekerja dengan system kerja yang berbeda dengan perusahaannya.
Drrrtt... Drrrtt
Telepon Alan bergetar, tanda ada pesan masuk.
“Nadia masih nangis.” Pesan singkat dari Dito.
“Lo masih di sana?” Balas Alan.
“Masih. Gue nggak tega ninggalin dia sendiri.” Balas Dito.
“Gue minta maaf, dit. Gue harap lo bisa ngerti” Balas Alan.
Dito tidak membalasnya. Alan tertegun sejenak, memikirkan keadaan Nadia. Dia sedikit tidak bisa fokus, perkataan Nadia seakan sedang bermain-main di dalam benaknya.
Suasan di luar masih terlihat cerah. Beberapa karyawan nampak sibuk dengan tugas mereka masing-masing, begitu juga dengan Alan.
Andin memberikan Alan sejumlah naskah untuk diedit. 5 hari tidak masuk kantor, rupanya Alan membuat Andin kerepotan. Namun, jam terbang dalam dunia editor membuat Andin bisa mengatasi masalah tersebut.
Alan terlihat sedang fokus di meja kerjanya. Sesekali dia meneguk kopi buatannya. Dia sengaja mematikan teleponnya, agar tidak ada yang mengganggu.
“Assalamu’alaikum. Mas Alan?” suara lembut seorang perempuan menegurnya. Alan melihat ke sumber suara.
“Wa’alaikumsalam. Alin,” ternyata itu Alin, putri pertama Indra.
”Kamu nggak kuliah?” tanya Alan pada Alin.
“Alin baru pulang, Mas.”Balas Alin.
Alin memakai gamis berwarna biru muda. Kerudungnya menutupi separuh tubuhnya, memiliki warna yang senada dengan gamisnya.
Hal itu membuat Alin terlihat anggun. Ditambah dengan parasnya yang cantik, dan sangat menyenangkan untuk dipandang.
“Kamu sendirian?” tanya Alan, lagi.
“Alin sama temen, dia lagi di toilet.” Jelas Alin.
“Ada perlu apa kesini?” Kata Alan.
Tangan Alin terlihat sedang menenteng 1 bundel kertas.
“Papah udah bilang kan? Jawab Alin.
“Soal naskah kamu?” Tebak Alan.
“Iya, Mas.” Balas Alin sambil tersenyum begitu manis.
“Kamu bawa naskahnya? Biar mas liat dulu.” Tanya Alan.
“Ini Mas. Jangan ketawa ya.” Ucap Alin sambil memberikan 1 bundel naskah. Alan meraihnya sambil tersenyum.
“Alin juga sudah lampirkan sinopsisnya.” Tambah Alin. Sementara Alan tengah asik membolaik-balikan naskah anak bosnya itu.
“Ya sudah, nanti mas liat. Nggak buru-buru kan? Sekarang mas lagi banyak kerjaan.” Kata Alan pada keponakannya itu.
“Iya mas, nggak apa-apa ko.” Jawab Alin dengan senyum manis.
“Mana temen kamu?” tanya Alan sambil melihat ke belakang Alin.
“Iya nih, nggak tau lama banget.” Balas Alin dengan muka kesal.
“Mmm, itu dia temen aku, Mas.” Tambah Alin sambil menunjuk ke arah seorang perempuan yang sedang berjalan pelan menghampirinya.
“Mira,” lirih Alan, dengan wajah terkejut.
Tiba-tiba, tanpa dia sengaja, ucapan Nia pagi tadi kembali terlintas dalam pikirannya dengan sangat lembut.
“Mungkin Allah mendatangkan Mira untuk menghapus kebencian dalam hati kamu.”
Mira semakin dekat, wajahnya terlihat teduh. Warna kerudung yang dia pakai sangat cocok dengan warna kulit wajahnya yang putih cerah.
Alin melambaikan tangannya pada Mira. Mira terlihat membalas lambaian itu.
Dia melihat Alan ada di samping Alin, seketika wajahnya berubah tidak kalah terkejut. Sementara dia semakin mendekat pada Alin, Alan masih mematung diposisinya.
“Mas, kenalin ini temen aku, Mira.” Ucap Alin memperkenalkan Mira. Alan masih diam dalam posisinya.
“Mas Alan,” Tegur Alin, yang melihat Alan melamun.
“Iya,” Ucap Alan, terkejut.
“Mas Alan sudah kenal, Mira?” Tambah Alin.
Alan menatap wajah Mira dalam-dalam, Mira pun membalasnya. Suasana ruangan kantor itu seketika begitu hening, meskipun ada beberapa karyawan yang sedang mengerjakan tugas mereka.
“Belum.” Jawab Alan, singkat.
***