Terserah

Terserah
11 SEBUAH KATA MAAF


“Aku sayang keluarga aku”


Alan dan Dito menancap gas sepeda motornya, menembus semilir angin di tengah keramaian kota Bandung.


Sengatan cahaya matahari siang itu seakan tidak berpengaruh bagi kedua pemuda itu. Cahaya matahari dan semilir angin kota Bandung seakan bersatu menciptakan cuaca yang hangat dan sejuk.


Sampai di sebuah persimpangan, Alan terkejut dengan kedatangan sekelompok remaja bermotor yang dia jumpai pagi tadi.


Motor Alan oleng hingga kemudian terjatuh, Braakk, sementara sekelompok remaja itu memacu gasnya sehingga menimbulkan suara bising. Dito yang melihat itu, menghentikan motornya dan menghampiri Alan yang masih terjatuh.


“Woy, dasar bocah.” Teriak Dito pada sekelompok remaja itu.


“Lo yang bocah.” Balas salah satu remaja itu.


Diikuti teriakan dari teman-temannya.


“Sini lo kalo berani.” Tantang Dito. Mereka terus menancap gasnya sehingga menimbulkan suara bising.


“Awas, lo.” Balas salah satu remaja itu, lagi. Sambil mengangkat telunjuknya. Kemudian mereka pergi begitu saja meninggalkan Alan yang masih terjatuh.


“Lo nggak apa-apa, lan?” ucap Dito sambil mengangkat motor Alan dari kaki Alan.


“Nggak apa-apa ko, Dit.” Jawab Alan sambil bangkit, sambil membersihkan pakaiannya dari debu jalanan.


“Brengsek emang para bocil itu. Maen nyelonong aja.” Ucap Dito, terlihat geram.


“Udahlah, ayo kita lanjutin.”Ajak Alan sambil menaiki sepeda motornya itu.


"Tapi, lan. Bocil kaya gitu nggak bisa dibiarin," tambah Dito, memasang wajah kesal.


"Emang lo berani lawan mereka?" tanya Alan.


"Ya... kalo nggak ramean mah berani gua," balas Dito, terlihat ragu.


"Dasar bocil juga," kata Alan sambil tersenyum.


"Eh, gua beneran berani loh, lan." balas Dito, lagi.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Nadia. Kali ini Dito terlihat memacu motornya dengan kecepatan rendah, sementara Alan mengikutinya dari belakang.


Selama di perjalanan Alan masih terus memikirkan setiap ucapan Ibunya. Betapa sangat pedulinya Nia pada puteranya itu.


Cuaca siang itu masih sangat cerah. Udaranya pun terasa begitu menyegarkan. Halaman rumah Nadia terlihat sepi. Dito memberhentikan sepeda motornya, Alan mengikuti. Lalu mereka masuk ke dalam halaman, untuk memastikan keberadaan penghuni rumah.


“Assalamu’alaikum,” Itu dari Dito. Alan melirik ke arah Dito.


“Kenapa? Gue juga muslim kali, mau liat KTP gue?” Tambah Dito menjawab lirikan Alan. Alan hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dito mengulang salamnya beberapa kali. Hingga kemudian terdengar suara langkah kaki dari balik pintu mendekat.


“Wa’alaikumsalam.” Seorang perempuan tua membuka pintu. Itu adalah Syarifah.


“Selamat siang, nek,” Sapa Dito, sementara Alan melengkapinya dengan tersenyum.


“Siang. Ada perlu apa?” balas nenek itu.


“Nadia nya ada, nek?” ucap Dito.


“Ada. Kalian siapa?” tambah nenek itu lagi.


“Kita temen kuliahnya, nek. Sudah beberapa hari ini Nadia tidak masuk kuliah. Jadi, kita mau tahu keadaan Nadia.” Jelas Dito.


“Oh. Silahkan masuk, nanti nenek panggil Nadianya.” Dito dan Alan masuk ke dalam.


Mereka duduk di ruang tengah. Sementara nenek itu masuk ke dalam untuk memanggil Nadia.


Ruang tamu itu terasa begitu nyaman, beberapa perabotan tertata begitu rapih. Setiap barang terlihat sangat terawat. Tak ada sedikit pun debu yang menempel.


Dito memutar kepalnya. Pandangannya menyusuri setiap sudut ruangan seperti sedang mencari sesuatu.


“Lo nyari apa?” kata Alan menghentikan tingkah temannya itu.


Dia rasa tahu alasannya, kenapa mereka tidak pernah foto bersama. Alan yakin, Nadia adalah kakak yang dimaksud oleh Mira.


“Itu bukan urusan lo.” Tukas Alan. Dito mengalihkan pandangannya ke makanan yang ada di atas meja di hadapannya.


Di meja tersebut ada 3 toples isi cemilan. Tanpa dibuka, Alan dan Dito bisa melihat toples itu berisi biskuit dan kue kering.


“Lan, menurut lo. Makanan ini buat siapa?” Tanya Dito pada Alan.


“Lo jangan macem-macem deh, dit.” Jawab Alan.


Dito membuka salah satu toples yang berisi kue kering, lalu memakannya.


Tak lama setelah Dito menghabiskan makanannya, Nadia muncul dari belakang. Dia mengenakan baju biasa, dan menggunakan jeans berwarna biru cerah. Sementara rambutnya dia biarkan tetap terikat.


“Alan, Dito, ada perlu apa kalian ke sini?” ucap Nadia.


“Kita mau ketemu lo.” Kata Dito. Kemudian Nadia duduk di kursi depan kedua pemuda itu.


“Adik lo kemana?” Tambah Dito.


“Dia kuliah.” Balas Nadia sambil melirik Alan.


Alan masih diam, hanya mendengarkan tanya jawab antara Dito dan Nadia.


“Lo kenapa? udah 3 hari nggak masuk kuliah.” tanya Dito. Alan masih diam.


“Gue nggak apa-apa, lagi kurang sehat aja.” Jawab Nadia, singkat.


“Gue kira lo kenapa. Gue telepon nggak diangkat.” Jelas Dito.


“Cuma itu yang mau kalian sampein?” kata Nadia.


Dia melirik ke arah Alan. Nadia terlihat mengharapkan sesuatu yang baik akan diucapkan oleh Alan.


“Oiya, katanya Alan juga mau ngomong sesuatu,” Dito menyenggol bahu pemuda di sampingnya. Alan terlihat ragu, tapi dia terus mengingat setiap ucapan ibunya pagi tadi.


“Saat di rumah sakit, kamu bilang, kamu dijebak. Maksud kamu apa?” Ucap Alan. Suasana seketika hening. Nadia terlihat bimbang.


Bukan itu yang ingin dia dengar dari bibir Alan. Dia sangat mengharapkan kedatangan Alan mau minta maaf untuk perkataannya saat di rumah sakit, dan mulai peduli dengan perasaannya.


“Aku nggak bisa kasih tahu kamu,” kata Nadia.


"Kenapa nggak bisa?" tanya Alan.


"Karena... Aku nggak bisa memberitahu kamu," jawab Nadia, lagi.


Alan bangkit dari tempat duduknya. Nadia dan Dito mengangkat kepalanya melihat Alan yang sudah berdiri.


“Lo mau kemana?” itu dari Dito.


“Aku minta maaf, kalo perkataan aku kemarin berlebihan. Kedatangan aku kemari ingin dengar penjelasan kamu mengenai perkataan kamu.” Jelas Alan, lalu pergi meninggalkan Nadia dan Dito.


“Alan.” Panggil Nadia sambil bangkit. Alan berhenti.


“Aku sayang sama, kamu.” Ucap Nadia, lembut.


“Sorry, Nad. Aku juga sayang sama keluarga aku. Aku tidak mau ibuku kecewa lagi,” Kata Alan. Kemudian dia melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan mereka Nadia dan Dito.


Matahari tepat ada di atas kepala, tapi tidak begitu terasa panas. Alan memacu kembali sepeda motornya menuju kantor Indra, untuk melanjutkan bekerja.


Sejujurnya, dia merasa penasaran apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh Nadia. Dia tak henti memikirkan hal itu sepanjang jalan.


Alan merasa ada yang disembunyikan oleh Nadia. Disaat dia ingin membuka hati untuk memaafkan Nadia, tapi Nadia tetap menyembunyikan sesuatu darinya.


Kekecewaan yang pernah dilakukan oleh Nadia, membuat Alan tidak ingin kenal lagi dengan Nadia. Kesalahan Nadia di masa lalu, telah membuat ibunya terluka dan ditinggalkan oleh ayahnya.


Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang dimaksud Nadia bahwa dia dijebak?


***