Terserah

Terserah
17 BAWA DIA PULANG


“Kamu selamatkan keluargamu, aku juga akan menyelamatkan keluargaku”.


Hujan sudah berubah menjadi rintik air yang begitu tipis. Malam itu udara terasa begitu sangat dingin. Angin seolah berhembus memburu kulit manusia, hingga menembus tulang.


Nadia masih siaga menemani neneknya yang saat ini sudah tidur. Dia nampak begitu peduli pada neneknya, seseorang yang selama ini selalu merawat dia dan adiknya.


Nadia berkali-kali mengusap air matanya, mencoba menahan tangisnya. Diam-diam dia juga memikirkan keadaan Mira, adiknya.


Wajah Syarifah masih terlihat pucat, tapi begitu teduh. Nadia terus menggenggam tangan neneknya. Panas pada tubuhnya kian menghilang.


“Mira,” Lirih Syarifah. Matanya masih tertutup.


“Nenek,” Ucap Nadia.


“Adik kamu mana? Dari pagi dia belum makan,” Suara Syarifah samar-samar begitu pelan. Tiba-tiba Nadia menangis mendengar pertanyaan neneknya.


“Iya, nek. Nanti Nadia akan suruh dia makan. Sekarang nenek istirahat aja,” balas Nadia mencoba menenangkan.


“Mira,” Lirih Syarifah lagi. Nadia mencium tangan neneknya begitu lembut.


Nadia melihat jam di punggung tangannya, menunjukan pukul sepuluh malam. Dia terus memikirkan keadaan Mira. Dia khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk pada adiknya.


“Aku harus menyelamatkan, Mira.” Gumamnya.


Nadia mencari ponselnya untuk menghubungi Mira, tapi dia tidak menemukannya. Dia keluar dari kamar Nia meninggalkan neneknya yang sudah tidur. Sesampainya di ruang tamu dia melihat Alan sedang duduk.


“Kamu mencari ini?” Ucap Alan. Nadia terlihat terkejut melihat ponselnya ada pada Alan.


“Aku pernah lihat ekspresi itu tiga tahun yang lalu.” Tambah Alan melihat Nadia diam mematung.


“Aku bisa jelasin.” Tukas Nadia.


“Kenapa harus, Om Indra?” Alan terlihat sangat kecewa. Alan melempar ponsel itu pada Nadia.


“Apa menghancurkan keluarga aku tidak cukup buat kamu?” Tambah Alan terlihat marah.


“Mira dalam bahaya, dia diculik. Aku harus menyelamatkan dia.” Jelas Nadia sedikit memelas. Alan diam sejenak mengingat mimpi yang dia alami kemarin malam tentang Mira.


“Silahkan kamu selamatkan keluarga kamu. Aku akan selamatkan keluarga aku.” Balas Alan. Kemudian Nadia mengambil tasnya dan pergi dari rumah Alan.


“Kenapa kamu selalu buat aku kecewa, setiap kali aku mau percaya sama kamu?” tanya Alan.


“Aku harus pergi. Kamu bisa membenci aku seumur hidup kamu setelah ini.” Hanya itu yang Nadia ucapkan, kemudian dia melanjutkan langkahnya.


Gerimis malam itu cukup deras, udaranya pun terasa begitu dingin menyentuh tubuh. Nadia menghentikan taksi yang masih melintas malam itu. Dia mengusap air matanya yang terus mengalir.


Dia tidak ingin memikirkan apa pun selain keselamatan adiknya. Dia seolah sudah tidak peduli prasangka Alan terhadapnya. Hal yang menjadi prioritasnya saat itu adalah menyelamatkan Mira, dan merawat neneknya.


Suara binatang di sekitar halaman rumah Alan kian masih bersahutan. Alan masih duduk di atas sofa ruang tamu. Alan mencoba mencerna beberapa hal yang terjadi beberapa hari ini. Alan diam sejenak menenangkan pikirannya.


“Alan,” Itu dari Nia. Dia keluar dari kamar Via.


“Kamu kenapa? Mana Nadia?” Tambah Nia melihat anaknya duduk sendiri di sofa. Wajah Alan terlihat sedang banyak hal yang dia pikirkan.


“Dia pergi, mah.” Ucap Alan terlihat lesu.


“Pergi? Malam-malam begini dia mau pergi kemana?” Nadia terlihat penasaran.


“Mira diculik, mah. Nadia mau menjemput Mira.” Ucap Alan.


“Astaghfirullah. Terus kenapa kamu masih disini?” Nia terlihat sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Alan. Sementara Alan hanya diam, dia tidak mungkin mengatakan hubungan Nadia dan Indra. Alan tidak mau membuat Nia bertambah kecewa.


Suara ketukan pintu itu berhasil memotong pembicaraan Alan dan Nia. Alan menghampiri pintu untuk mengetahui siapa mengetuk pintu rumahnya.


“Alan.” Sapa seorang pria.


“Om Indra,” Ternyata itu adalah Indra. Dia terlihat sedang buru-buru.


“Indra. Ada apa malam-malam begini?” Tambah Nia.


“Saya ada perlu dengan Alan, mba.” Jawab Indra.


“Mana Nadia?” Tambah Indra. Nia nampak terkejut. Alan hanya diam.


“Om Indra kenal Nadia,” Jawab Alan.


“Alan. Nadia sudah memberitahu Om, kalo kamu sudah tahu semuanya. Dia minta Om menjelaskan semuanya sama kamu.” Kata Indra.


“Maksud kamu apa, ndra?” Tukas Nia merasa penasaran.


“Mba. Nadia menjadi korban prostitusi.” Mendengar itu, Nadia terlihat sangat terkejut.


“Astaghfirullah. Siapa yang tega melakukan itu, ndra?” Tambah Nia.


“Dito, mba.” Sekarang Alan yang terlihat terkejut.


“Kemarin Nadia menghubungi Indra sambil menangis. Nadia mengatakan dia diminta untuk menjebak Indra oleh Dito. Dia juga mengaku dulu dipaksa untuk menjebak Mas Sugeng. Dia mencoba menolaknya, tapi Dito mengancam akan mencelakai Adik dan Neneknya.” Jelas Indra.


Alan masih terlihat terkejut. Dia mencoba mencerna setiap ucapan dari Indra. Dito sudah Alan anggap sebagai saudara. Dia sahabat Alan sejak dulu. Tapi, Alan tiba-tiba ingat ucapan Dito. Bahwa dia menyimpan rasa suka pada Nadia.


Alan kaget, ternyata Dito adalah dalang semua ini. Nia mencoba menyembunyikan tangisnya, tapi perlahan air mata itu jatuh.


“Tapi, kenapa Dito melakukan semua itu?” Nia masih tidak percaya Dito melakukan semua itu.


“Alan rasa Alan tau alasan Dito,” Tukas Alan.


“Dari dulu dia suka sama Nadia, tapi Nadia lebih peduli sama Alan.” Ucap Alan dengan yakin.


“Iya. Nadia juga mengatakan bahwa Dito ingin Alan sangat membenci Nadia.” Tambah Indra.


Alan terlihat sangat geram. Dia merasa kecewa sekaligus terkejut. Seseorang yang selama ini dia anggap sahabat, ternyata memiliki niat yang buruk pada keluarganya.


Alan menyesal, selama ini sudah jahat pada Nadia, dan Mira.


Selama ini dia sudah membenci Nadia tanpa mencari tahu apa alasan Nadia melakukan hal tersebut.


“Alan. Kita harus segera pergi menyelamatkan Nadia dan Mira. Nadia sudah memberi tahu tempat dimana dia akan menemui Dito. Mungkin Mira juga ada disana.” Ujar Indra.


“Kalo begitu, ayo kita pergi, Om.” Ucap Alan.


“Mba. Cepat lapor polisi, nanti Indra beritahu alamatnya.” Pinta Indra.


“Iya, kalian hati-hati.” Nia mengusap air matanya.


Tak lama, Alan dan Indra keluar dari rumah Nia dan memasuki mobil Indra. Rintik hujan dan udara dingin malam itu tak dipedulikan oleh mereka. Indra menekan gas mobilnya, menusuri genangan air sisa hujan.


Mira sudah sangat baik pada Nia dan Via. Alan merasa sangat terpukul dengan kenyataan yang sebenarnya. Ternyata selama ini Nadia memikul beban yang begitu berat. Dia terus mendapatkan ancaman dari Dito, dan harus menuruti kemauan Dito.


Mobil Indra melaju begitu cepat menembus dingin malam dan rintik hujan, mereka jalan secepat mungkin menuju lokasi yang diberitahu oleh Nadia.


Alan masih tidak menyangka Dito akan bertindak sejauh ini. Dia nampak tidak sabar ingin menghajar Dito.