Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Membongkar jati diri


''Jangan terus merasa bersalah. Sekali aku memaafkanmu itu artinya aku sudah menerimamu apa adanya. Menerimamu seumur hidupku." Haira mengeratkan pelukannya.


Sebenarnya ada yang sudah beraksi di bawah sana hingga membuat Mirza panas dingin. Namun, ada rasa takut yang membelenggu membuatnya sulit untuk mengungkapkan semuanya.


Tok tok tok


Suara pintu diketuk dari luar. Mirza mencium kening Haira lalu membuka pintunya. Ternyata nenek yang datang dengan Kemal di gendongan nya.


''Nenek sudah siapkan makanan untu kalian, keluarlah. Nada juga sudah pulang. Apa kau tidak ingin bertemu dengannya?" Menatap Haira yang masih berbaring di atas ranjang.


"Nanti aku keluar, Nek," jawabnya tanpa bergerak.


Mirza menghampiri Haira dan membantu wanita itu untuk bangun.


"Kau temui saja dia, aku akan tunggu di sini. Nanti kita lanjutkan." Mendaratkan ciuman lembut di bibir Haira.


''Gak mau, pokoknya kamu harus temani aku." Haira menarik tangan Mirza menuju pintu. Mereka duduk di ruang tengah, tepatnya di depan Nada yang sibuk mengerjakan sesuatu.


''Kamu pulang berapa hari, Nad?" tanya Haira basa-basi. Entah harus mulai dari mana, ia merasa kikuk saat berada di depan adiknya.


"Seminggu sekali," jawabnya datar.


Mirza memilih untuk memainkan ponselnya. Mencari-cari nama bayi kembar tiga. Meskipun jenis kelaminnya belum diketahui, tetap saja ia mempersiapkan sebuah nama untuk mereka.


"Apa kau suka bekerja di sana?" tanya Haira lagi memecahkan keheningan yang sempat tercipta. Nenek datang menyuguhi minuman di depan Haira dan Mirza. Setelah itu duduk di samping Nada. Mereka saling berhadapan berseberangan dengan meja.


"Aku suka. Memangnya kenapa?" Nada kembali menjawab dengan ketus. Matanya tak teralihkan dari wajah Mirza yang terus menatap layar ponselnya.


Pria tampan memang meresahkan, sana sini lirik, menyebalkan.


Mirza jadi tak nyaman dan ingin pergi, namun ia tidak bisa mengabaikan permintaan istrinya yang ingin ditemani.


"Sayang, aku ke kamar mandi dulu. Nanti aku balik." Mirza pamit lalu pergi.


"Sebenarnya kamu kenapa sih? Kenapa kamu membenciku?" tanya Haira akhirnya.


Nada melempar map dengan keras hingga membuat Mirza yang belum masuk ke kamar itu mendengarnya. Ia mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi. Ini kedua kalinya ia mengintip di belakang pintu seperti waktu itu. Melihat wajah Nada yang nampak pias, lalu beralih menatap istrinya yang masih memasang wajah lembut. Meskipun dikatakan saudara, mereka nampak berbeda.


"Kenapa aku membencimu? Aku akan kasih kamu jawaban. Ayah dan ibu meninggal karena menolongmu. Setelah itu kau mengambil orang yang aku cintai. Kau selalu merebut kebahagiaanku.''


"Kau bukan anak kandung ayah dan ibu?" lanjutnya.


Haira sudah tak tahan dengan sikap Nada yang terus-menerus membencinya. Mungkin dengan begini, Nada akan bisa lebih menghargainya. Menghargai pengorbanannya selama ini yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Memprioritaskan dirinya daripada diri sendiri. Selalu mengutamakan apapun yang diinginkan Nada daripada memenuhi kebutuhannya. Mungkin dengan ini, Nada akan lebih mengerti bahwa kasih sayang yang diberikan Haira bukanlah sekedar saudara, tapi juga segala-galanya.


Nada terpaku. Bibirnya terkunci dan tak bisa mengucapkan apapun. Ia masih tak percaya dengan ucapan Haira dan sulit dimengerti.


Yang ia tahu, mereka adalah saudara, namun tiba-tiba Haira mengatakan bahwa dirinya bukan anak kandung ayah dan ibu mereka. Lalu apa maksudnya?


Nada menatap nenek dengan tatapan penuh pertanyaan. Pasti nenek tahu semuanya. Tapi kenapa mereka menyembunyikan itu berpuluh-puluh tahun lamanya.


Katakan, Nek? Apa yang sebenarnya terjadi? begitulah hati Nada berkata. Namun Ia bak patung hidup.


Haira mendekati Nada. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk __" Nada menyetop pembicaraan Haira. Ia ingin sebuah penjelasan. Bagaimana bisa Haira mengatakan hal seperti itu.


"Katakan apa maksud, kakak? Kalau aku bukan anak dari ayah dan ibu, lalu aku anak siapa?"


Haira menatap neneknya yang terus mengangguk, lalu kembali menatap nada. Sebenarnya tidak ada niat akan mengungkap itu sampai kapanpun. Akan tetapi ia sudah terlalu lelah menghadapi sikap Nada yang terus-menerus menyalahkan dan menganggapnya sudah merebut kasih sayang kedua orang tuanya.


"Aku akan jelaskan semuanya. Tapi kamu duduk dulu."


"Jangan sentuh aku! Cepat ceritakan!" pekik Nada tak sabar ingin segera mendengar kenyataan yang sebenarnya.


"Kamu memang bukan anak ayah dan ibu. Mereka menemukanmu di gedung tempatnya bekerja. Di sana tidak ada yang mau yang mengambilmu, jadi ayah dan ibu membawamu pulang dan merawatmu. Jadi jangan pernah berpikir kalau aku penyebab mereka meninggal. Tidak ada anak yang ingin ditinggalkan orang tua, begitu juga dengan kak Mirza, dia pun hanya yatim piatu yang dibesarkan kakaknya.''


Perasaan Nada bercampur aduk. Ingin marah, juga menangis memendam rasa benci dan juga kesedihan yang teramat dalam. Ternyata dia hanyalah orang lain yang dipungut dan dibesarkan di keluarga Haira.


Mirza yang mendengarkan itu pun kembali keluar lalu merangkul Haira. Ia tidak tahu sampai kapan masalah akan berakhir, yang pastinya, Ia pun ingin membawa Haira berlari ke tempat yang sepi dan damai, di mana tidak akan ada masalah yang menerpa. 


"Kamu sudah terlalu capek, Sayang. Lebih baik kita ke kamar. Kalau memang dia menghargai kamu, dia tidak akan menyalahkan kamu seperti itu. Jangan pernah memohon kepada orang lain, karena kamu tidak bersalah."


Mirza tidak terima dengan Nada yang sudah berani membentak istrinya. Sudah terlalu banyak pengorbanan Haira selama ini, baik di keluarga maupun untuk dirinya, dan rasanya tidak adil bagi wanita itu untuk menerima pelampisan setiap kesalahan orang lain. "Jangan pedulikan dia lagi. Sekarang yang harus kamu pikirkan adalah anak kita, bukan orang lain."


"Tapi __"


"Tidak ada tapi-tapian, tidak ada yang lebih penting dari kamu. Kamu sudah membesarkan dia dan juga membiayai hidupnya. Sekarang sudah cukup, kamu harus mencari kebahagiaan sendiri. Dia sudah dewasa dan bisa hidup mandiri, jadi jangan pikirkan dia lagi."


Jika di dalam kamar Mirza terus menenangkan Haira. Di luar, Nada pun meminta nenek untuk menjelaskannya secara detail. dan pasti wanita tua itu lebih tahu mana yang benar dan mana yang salah. Termasuk jati diri mereka yang ternyata terlahir dari orang tua yang berbeda.