
Di kediaman Glora pagi hari
Suasana rumah sangat ramai. Sebelum berangkat ke sekolah, Hasan dan Fajar datang menjemput Kemal. Seperti yang direncanakan mereka kemarin, setiap hari akan datang menemani sang adik yang masih baru di sekolahnya.
''Kemarin katanya kamu berantem?" tanya Fajar pada Kemal yang masih mengunyah makanannya.
''Iya, gara-gara Umay, dia merebut penghapusku.'' Kemal menjawab jujur dan kembali meneguk susunya yang tinggal sedikit.
Mirza menatap Haira. Ia belum bertanya pada sang istri tentang pria yang bernama Murad. Dan berharap wanita yang ada di sampingnya itu tidak mengenalnya.
"Daddy, Mommy, aku berangkat dulu," pamit Kemal setelah menghabiskan semua makanan dan minumannya.
"Belajar yang rajin ya, Nak."
Mirza dan Haira mencium kening Kemal, melepas putranya yang semakin pintar.
Kini di ruang makan hanya ada Haira dan Mirza. Sebab, Kemal tidak mau diantar kedua orang tuanya dengan alasan malu.
"Sayang, apa kamu pernah punya teman bernama Murad?" tanya Mirza ke inti.
"Murad?" Haira memastikan, otaknya kembali pada masa lalu.
"Kayaknya sih punya." Mengingat-ingat pria lencir yang sering menggodanya. Belum yakin sepenuhnya, karena ia sudah lama tidak berhubungan dengan temannya dulu. Terlebih tidak pernah ikut acara reuni yang seharusnya diadakan setiap tahun.
"Apa kamu pernah berhubungan dekat dengan dia, maksudku pernah pacaran?" Mirza menjelaskan, ia tidak marah, hanya ingin memperjelas semuanya.
"Sayang, aku gak berani pacaran, cuma deket doang. Lagipula aku gak pernah mikir untuk menikah sebelum bisa menyekolahkan Nada," jelasnya.
"Semalam ada telepon dari seseorang yang mengaku bernama Murad, dia bilang mantan kamu."
Seketika itu Haira tersedak makanan yang hampir ditelan.
Mirza segera mengambil segelas air putih dan membantu Haira minum.
"Dan kamu percaya?"
Mirza menggeleng pelan, ia yakin Haira tidak akan membohonginya. Ia menceritakan rencana pertemuan itu pada Haira. Tak hanya memberi tahu tentang baju Murad yang berwarna merah. Mirza juga memberi tahu Haira, bagaimana cara menghadapi pria yang mencoba merasuk ke dalam rumah tangganya.
"Tapi aku takut," rengek Haira. Selama ini ia tak pernah dekat dengan seorang pria selain Mirza, namun kini suaminya itu menyuruhnya untuk dekat dengan pria lain demi sebuah misi.
"Aku akan selalu ada didekat kamu, jangan takut."
"Pokoknya ingat kataku!" Mirza memberi sebuah jam tangan yang memiliki dua tombol. "Jika kamu memang mengenal dia, sapa sebagaimana kamu saat berhubungan dulu, tapi kalau kamu tidak kenal, tekan tombol merah. Aku pasti datang.''
Meskipun merasa enggan, Haira tetap harus melakukannya demi mengetahui maksud dari orang itu yang sudah berani mengusik seorang Mirza asil Glora.
"Ingat, jangan pegang-pegang, dan jangan bersalaman, pokoknya tidak boleh bersentuhan dengan dia."
Haira menepuk jidatnya. Untung diingatkan, kalau tidak, ia pasti akan bersalaman dengan orang itu yang pasti membuat suaminya naik darah.
Haira menahan dadanya yang bergemuruh. Antara takut dan gugup saat melihat seseorang yang memakai baju merah itu dari dalam mobil.
Saat ini ia dan Mirza serta beberapa pengawal sudah berada di taman kota. Mereka menyebar dengan posisi masing-masing dan berpenampilan layaknya pengunjung yang sedang mencari hiburan di tengah musim dingin.
"Kamu lihat dia." Menunjuk seorang pria yang sedang memakai baju merah. Pria itu tampak sibuk dengan ponsel di tangannya.
"Sekarang temui dia, aku akan menunggumu di sini."
Haira meraih tangan Mirza lalu menggenggamnya dengan erat. Menyalurkan ketakutannya yang mulai menyelimuti.
"Aku bisa berbuat apa saja yang aku mau. Tapi kita tidak tahu apa motif dia mendekatimu."
Sekali lagi Haira memeluk Mirza dengan erat dan lama.
Haira mengangguk lalu turun dari mobil. Melangkah pelan ke arah pria yang ditunjuk Mirza tanpa menoleh ke belakang.
"Ka…kamu Murad?" tanya Haira sedikit gugup.
Pria itu menatap Haira lalu tersenyum.
"Iya, kamu masih ingat aku, kan?" Murad merentangkan tangannya ingin memeluk, namun segera Haira mundur satu langkah, menghindar.
"Maaf, aku sedikit lupa. Murad yang mana ya?" tanya Haira menyelidik, wajahnya memang tidak terlalu asing, namun ia lupa dengan sosok yang ada di depannya itu.
''Murad yang dulu sering menang lomba lari.''
Haira mengingat-ingat temannya yang sering juara di sekolah. Dan betul ada nama Murad, tapi dari segi wajah dan postur tubuh mereka sangat berbeda.
"Mungkin aku lupa," jawab Haira seraya menoleh ke belakang. Tangannya terus mencengkram ujung bajunya, takut pria di depannya itu berbuat macam-macam.
Tak berselang lama, pria yang mengaku bernama Murad itu mengajak Haira duduk di kursi yang ada di pinggir taman. Seperti perintah Mirza, Haira pun mengikuti langkah pria itu tanpa menekan tombol merah. Yang berarti Mirza mengira bahwa istrinya mengenal pria tersebut.
Kini keduanya duduk bersejajar. Mirza hanya bisa mengawasi dari jauh, nampak mereka berdua berbincang.
Tak jauh dari mobil Mirza terparkir, ada sebuah kecelakaan mobil. Banyak orang berlari ke sana yang membuat Mirza ikut penasaran. Bersamaan dengan Mirza yang menatap ke arah depan. Pria yang bernama Murad itu menodongkan sebuah pisau ke leher Haira. Sebagian pengawal lengah karena terkecoh dengan kecelakaan itu, namun sebagian lagi melihat Haira yang sudah berada di cengkraman Murad.
Mirza yang mendapat kabar itu langsung turun dan berlari menghampiri Haira. Akan tetapi langkahnya berhenti saat pria itu mengancam akan membunuh Haira jika dirinya mendekat.
Semua ajudan pun mengangkat senjata dan memutari Murad.
"Mirza asil Glora," ucap Murad dengan lugas.
"Lepaskan istriku! Atau kau akan menerima akibatnya."
Wajah Mirza berapi-api saat melihat istrinya dicekik.
Murad tertawa lepas. Seolah-olah tidak takut dengan Mirza yang bahkan lebih kejam darinya.
"Coba saja kalau kamu maju satu langkah, maka nyawa Haira akan melayang." Ancaman itu sangat menakutkan bagi Mirza. Ia menyesal karena sudah melibatkan Haira, namun tidak menunjukkan kepanikannya dan mencoba mencari jalan keluar.
"Suruh anak buahmu menurunkan senjata, atau aku __"
Haira meringis saat pria itu terus menekan lehernya dengan benda tajam.
"Turunkan semua!"
Seluruh pengawal menurunkan senjatanya tak terkecuali. Mereka pun tidak mau kalau Haira tersakiti.
Mata Mirza berkaca-kaca saat Haira menitihkan air mata. Ia tidak pernah berpikir sejauh itu dan mengira Murad hanyalah orang yang ingin membubarkan rumah tangganya.
Sebuah mobil dengan pintu terbuka berhenti di samping Murad.
"Ingat Tuan Mirza, kalau kau ingin Haira selamat, bereskan urusanmu dengan Tuan kami," ucap Murad membawa Haira dengan jalan mundur.
Awas kau, sampai terjadi sesuatu pada Haira, aku akan membuatmu mati secara mengenaskan.
Setelah mobil itu melaju, Mirza berlari ke arah mobilnya lalu menghubungi Deniz dan Fuad.