
Mirza tidak akan pernah lupa dengan wajah seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya. Di tengah keramaian pengunjung mall, Ia melihat wanita yang mirip dengan mantan tunangannya, bahkan hampir sepuluh sebelas. Namun, ada sedikit perbedaan di antara mereka. Jika dulu tubuh Lunara nampak berisi, orang yang dilihat kali ini nampak kurus, bukan itu saja, mereka juga berbeda dari segi penampilan. Lunara adalah wanita yang super mewah dengan baju yang terbilang mahal serta terbuka, sedangkan orang yang Mirza lihat hanya memakai baju layaknya orang biasa.
Mobil sudah melaju sedikit menjauh, namun mata Mirza terus menoleh ke belakang. Saking penasarannya, akhirnya ia menyuruh Erkan untuk berhenti.
"Ada apa, Tuan?" tanya Erkan mencari tempat parkir yang aman. Mirza membuka pintu. Matanya menyisir setiap orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Berharap menemukan wanita tadi. Meskipun tak begitu yakin, setidaknya memastikan.
Erkan ikut turun dan memandang ke arah mata Mirza tertuju.
"Tuan cari apa?" tanya Erkan lagi membuyarkan otak Mirza yang sedang berkelana.
"Bukan apa-apa, mungkin aku hanya salah lihat." Kembali masuk dan duduk di tempat nya tadi. Mencoba untuk melupakan apa yang baru saja ia lihat.
Daripada teringat sesuatu yang tak penting, Mirza memilih chattingan dengan Haira untuk mengisi kebosanan.
"Sayang, kapan kamu pulang? Kemal dari tadi nangis nyariin kamu," pesan dari Haira yang membuat dada Mirza berdenyut. Namun, ia masih bisa tersenyum membayangkan tingkah putranya yang pasti menggemaskan saat merengek.
"Bilang saja besok, bilang juga kalau aku akan membawakan dia mainan yang bagus." Mirza menjawab dengan pesan teks.
"Baiklah, kalau kamu gak ada kerjaan istirahat dulu. Aku mau mandi."
Seketika itu Mirza melakukan video call. Ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Memandangi tubuh polos Haira kini menjadi hobinya.
"Aku kan sudah bilang mau mandi, kenapa kamu malah video call?" pekik Haira setelah menatap wajah suaminya dari layar. Ia yang sudah membuka baju terpaksa menutupnya lagi.
Erkan memilih menyetel musik supaya tidak mendengar percakapan Mirza dan Haira yang pasti menyangkut tentang kemesuman. Dan ia tak mau mencemari telinga sucinya dengan sesuatu yang belum pernah ia lakukan.
"Tapi aku pingin lihat kamu mandi, plissss…"
Sebelum ditolak, Mirza mengiba lebih dulu pada istrinya.
"Anggap saja ini pengganti suplemen yang tadi pagi lupa aku minum." Alasan, padahal dia selalu rutin meminumnya.
"Jangan bohong, aku sudah bertanya pada Tuan Erkan, dan katanya kamu sudah meminumnya."
Kini Zahra pun lebih cerdik dari yang Mirza kira, ia tidak akan menanyakannya langsung pada Mirza dengan apa yang dilakukannya, melainkan bertanya pada Erkan.
Mata elang Mirza melirik ke arah sang sekretaris yang sibuk dengan setirnya. Bisa-bisa nya pria itu lancang sudah memberitahu Haira.
"Sudah, matikan telponnya! Kamu istirahat saja."
Haira tak mau menunggu lagi dan memutus sambungan lebih dulu. Mirza mengulurkan tangan lalu menjewer telinga Erkan yang membuat sang empu meringis. Gara-gara mulut embernya, ia gagal mendapatkan sesuatu yang berharga.
"Ada apa ini, Tuan?" Erkan mematikan setelan musik yang membuatnya terhibur. Menggosok telinganya yang terasa nyeri.
"Siapa yang menyuruhmu lapor pada Haira?" tanya Mirza sinis. Ia tak bisa mentolerir kesalahan Erkan yang ikut campur masalah pribadinya.
"Maksud, Tuan?" Erkan masih tak paham dengan ucapan Tuannya yang penuh teka-teki.
Cuma itu saja dibesar-besarkan. Erkan menggerutu dalam hati.
"Nona Haira itu khawatir dengan Tuan. Nanti kalau aku bilang belum minum, dia marah." Erkan menjelaskan secara detail.
Kali ini Mirza sudah kalah telak. Bagaimanapun juga, Erkan mengerti tentang Haira dan tidak mau membuat wanita itu cemas.
Setelah istirahat selama dua jam di hotel, Mirza memenuhi undangan dari tuan Billy. Masih bersama dengan Erkan ia datang ke kediaman direktur tersebut.
Mobil berhenti di depan rumah mewah yang bergaya Mediterania. Banyak pohon kecil yang menghiasi belakang gerbang. Menyempurnakan keindahan rumah itu. Halaman yang sangat luas juga taman yang menjulur hingga ke samping memanjakan mata. Banyak tanaman mahal yang berjejer di sepanjang pintu masuk. Seolah-olah itu adalah pelayan yang menyambut.
Meskipun tak semewah rumah Mirza, tetap saja ia kagum dengan pilihan Tuan Billy yang menurutnya sangat bagus.
"Selamat datang, Tuan." Tuan Billy yang baru saja keluar dari rumah itu menghampiri Mirza. Ada beberapa anggota keluarga yang juga ikut menyambut sang tamu terhormat.
Mirza dan Erkan masuk ke dalam. Ternyata tak hanya luarnya saja, dalamnya pun nampak mewah dengan berbagai furniture yang unik.
"Maaf Tuan, kalau saya lancang," ujar nyonya Billy ragu, menatap Mirza yang baru saja duduk di ruang tamu.
"Apa istri anda tidak ikut?" tanya nya.
Mirza hanya tersenyum kecil. "Saya tidak mungkin mengajaknya untuk bekerja, dan kami punya waktu tersendiri untuk berlibur, Nyonya."
"Bolehkah saya berkenalan dengan istri, Tuan?" Tuan Billy menyenggol lengan istrinya yang dari tadi terus bertanya. Padahal, dirinya sudah panas dingin saat berada di dekat Mirza, tapi Nyonya Billy malah mengajukan banyak pertanyaan.
"Boleh, ini istri saya." Mirza hanya menunjukkan foto Haira dari layar ponselnya itu pada nyonya Billy dan suaminya.
"Namanya Haira, umurnya dua puluh tujuh tahun. Kami memiliki anak yang bernama Kemal. Dia berusia enam tahun."
Kemudian Mirza menunjukkan gambar Kemal, bocah tampan yang selalu melintas di benaknya.
"Wah, gak nyangka istri Tuan masih sangat muda dan cantik. Putra Tuan juga lucu dan menggemaskan, seandainya mereka ada disini, pasti saya akan lebih bahagia."
Siapa yang tak kagum dengan sosok Haira, gadis polos yang hanya menggunakan kesabaran saat ditindas semna-mena oleh suami dan adik sepupunya, namun mampu memikat hati Mirza hingga kelimpungan, bak cacing kepanasan.
Mirza terkekeh mendengar penuturan nyonya Billy.
Puas berbincang yang menyinggung sedikit pekerjaan, Mirza dan Tuan Billy pindah ke ruang makan. Banyak menu yang tersaji di meja. Dari jenis makanan berat sampai yang ringan. Mirza juga di suguhi berbagai minuman buatan pabrik milik kakaknya.
"Apa rencana Tuan untuk besok?" tanya Tuan Billy antusias. Ia ingin segera menyelesaikan misinya sambil menunggu baju rancangan dari Carroline.
"Saya akan datang ke toko langsung untuk memasarkan produk kita, dan saya juga akan membandrol dengan harga yang jauh lebih rendah dibandingkan biasanya."
Disaat tak sengaja, tiba-tiba Mirza melihat foto yang ada di samping tempatnya duduk. Tak ada yang aneh, di dalam bingkai itu terdapat beberapa orang yang berjejer.
Terdapat dua gambar gadis remaja dengan wajah yang sama. Wajah itu tak asing bagi Mirza, namun ia lupa. Sebab, dalam gambar itu sepertinya mereka semua belum kenal dengan skincare.