Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Kembar tiga


Mirza terus merangkul pundak Haira. Sedikitpun tak memberi celah supaya tidak bisa bergerak bebas. Mempunyai cara tersendiri untuk mengekang lebih halus. 


Erkan memilih berada di tengah-tengah pengawal yang sedang menikmati makanannya. Menghindari tatapan Mirza yang sangat tajam. Ia tak mau membuat masalah seperti tadi siang. Meskipun Haira sendiri yang meminta, tetap saja itu menciptakan percikan api. 


Pesta yang dihadiri hanya keluarga dan anak buah itu berjalan hikmat. Deniz, sang kepala keluarga pun ikut menikmati acara yang digelar di villa peninggalan kedua orang tuanya. Membuat acara kecil-kecilan sebagai bentuk apresiasi kepedulian pada mereka yang berjuang bersamanya. Apalagi luka tembakan yang kian membaik membuatnya siap kembali ke hadapan publik. 


Deniz berdiri di depan semua orang untuk menyampaikan tujuannya mengadakan pesta itu. Mewakili adik-adiknya mengungkapkan rasa syukur atas anugerah yang diterimanya. 


"Malam ini selain merayakan kehamilan Haira, juga merayakan kemenangan kita." Menatap satu persatu anak buah yang sudah bertahun-tahun setia mengabdi padanya. Tanpa mereka, Deniz tak akan sanggup untuk menghadapi musuh yang yang terus bergilir.


 


Bisnis keluarga Glora yang sudah merajalela membuat semua orang mengincar dan melakukan berbagai cara untuk melumpuhkan nya. 


Tepuk tangan riuh menghiasi villa di tengah sunyi nya malam. Hawa dingin yang kian menusuk kini menjadi hangat dengan kebersamaan yang penuh suka cita. 


Deniz menghampiri bodyguard yang berkumpul di samping keluarganya. 


"Terima kasih, karena kalian sudah mau berkorban untuk keluarga saya." Menangkup kedua tangannya di depan mereka yang juga bahagia. 


"Besok kita akan kembali ke rumah," pungkasnya lagi. Meskipun begitu, Deniz masih tetap waspada jika sewaktu-waktu ada musuh yang mengintai.


Setelah sekian lama tertahan di tempat yang sepi dengan penuh penekanan, akhirnya mereka bisa menghirup udara segar lagi. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain bisa bebas. 


"Kak, aku __"


"Kamu mau ini?" sergah Mirza mengambil susu putih di depannya. Memotong setiap ucapan Haira sudah menjadi trik terbarunya untuk mengalihkan otak wanita itu. 


Haira menggeleng. Matanya melirik Erkan sekilas lalu menatap suaminya. 


"Aku ngantuk." 


Huh 


Mirza menghembuskan napasnya dengan pelan. Detak jantungnya yang sempat memburu kembali normal. Bila sudah berbicara seperti itu, ia harus segera membawanya ke kamar, takut Haira berubah pikiran lagi. 


Mirza menuruti permintaan Haira. Ia meninggalkan pesta yang masih meriah. 


Haira membaringkan tubuhnya di samping Mirza, namun sudah sekian menit, matanya tak bisa terpejam. Ia menatap Mirza  yang juga menatap nya. 


"Aku gak bisa tidur, Kak," keluhnya. 


Jangan-jangan ini pertanda __


Belum juga menyelesaikan ucapannya, Haira sudah beralih duduk di perut Mirza. Sangat aneh, namun itulah yang Mirza  suka. Memanjakan sang istri di atas ranjang adalah salah satu aktivitas yang menyenangkan baginya, hingga ia tidak akan menolak jika Haira meminta itu. 


"Kamu mau apa?" tanya Mirza pura-pura. Jantungnya berdegup kencang, berharap secepatnya Haira akan memulai ritual nya. 


Kedua tangannya melingkar di pinggang ramping sang istri. Merayap, memberi sentuhan lembut. 


Haira membisu, ia bingung mau mengucap dan melakukan apa. Dan akhirnya memilih untuk turun. Namun pergerakannya tercekat saat tangan Mirza terus merengkuh nya. 


"Kenapa gak jadi?" tanya Mirza sembari merapikan rambut Haira yang menutupi pipi. 


"Dedeknya ngantuk." Meraba perutnya lalu menguap. 


"Ya sudah, tidur saja." Mirza menepuk lengannya yang sudah menjulur ke samping. Ia tak mau memaksa kehendak Haira, takut pikirannya akan berubah dan pergi bertemu Erkan. 


Dalam hitungan menit, Haira memejamkan mata dengan nafas teratur. Pertanda bahwa wanita itu sudah terbang melayang di alam mimpinya. 


"Ngidam kamu aneh sekali, semoga anak kita baik-baik saja sampai dia terlahir ke dunia." Mengusap perut Haira, menyapa anaknya yang baru bersemayam di sana. 


Mencium perut Haira yang masih rata. Lantas, ia mengganti lampunya dengan lampu redup. Menyelimuti tubuh Haira, dan hanya menampakkan wajahnya saja. Ia keluar lagi menghampiri keluarganya yang masih ada di ruang tengah. 


"Haira sudah tidur?" tanya Nita yang masih sibuk bermain dengan Kemal. 


"Mommy sakit?" tanya Kemal polos, diam-diam ia mengintip saat dokter memeriksa Haira. 


"Tidak, Nak. Mommy hanya ngantuk. Apa Kemal ingin tidur dengan mommy?" tawar Mirza. Merentangkan tangannya. Mendekap tubuh mungil Kemal yang berhamburan memeluknya. 


Kemal menggeleng. Sebab, ia lebih suka tidur dengan Fajar dan Hasan daripada dengan mommy dan daddynya. 


**°


°


°**


Seluruh keluarga berkemas. Mereka sudah siap meninggalkan Villa dan kembali ke rumah. Pagi ini pengawal akan berpencar karena mereka pulang ke rumah masing-masing dengan mobil yang berbeda. Sementara Deniz akan menemani Mirza ke rumah sakit terlebih dahulu sebelum memimpin rapat di perusahaan miliknya. 


"Hati-hati!" ucap Deniz pada Nita yang mobilnya melaju lebih dulu, setelah itu mobil yang ditumpangi istri dan anaknya serta Kemal dan Arini diikuti mobilnya dan Haira serta Mirza yang jalan paling belakang, menjadi penutup. 


Deniz langsung menemui dokter Rose, dokter kandungan yang membatu Aynur dan Nita saat mereka hamil. Ia ingin keponakannya pun terlahir dalam keadaan sehat seperti yang lain. 


"Silahkan, Tuan," sapa suster membuka gorden. Membantu Haira naik ke atas ranjang. 


Mirza terus mendampinginya, sedangkan Deniz menunggu di luar sambil menelpon sekretarisnya untuk menyiapkan rapat. 


Dari awal pemeriksaan, Mirza hanya mengerutkan alisnya. Ia tidak paham dengan gambar yang nampak  di monitor. Meskipun dokter menjelaskan secara detail, tetap saja bingung melihat bentuk anak nya yang belum jelas. 


"Dan sepertinya bayi nyonya Haira ada tiga," ucapnya ragu. Masih memeriksanya dengan intens, takut salah memberikan informasi. 


"Tiga?" pekik Mirza, Antara bahagia dan terkejut dengan ucapan itu. 


Setelah yakin, akhirnya dokter Rose mengangguk dan tersenyum. 


"Anakku tiga?" Sama seperti Mirza, Haira pun tak percaya dengan penuturan dokter cantik itu. 


Bukan hal yang tabu lagi memiliki anak kembar tiga, namun itu sebuah keistimewaan bagi Haira dan Mirza. 


"Mulai sekarang nyonya harus berhati-hati. Jangan sampai kelelahan, karena itu akan berpengaruh pada bayinya."


"Terima kasih, Dok." 


Haira menitihkan air mata di pelukan Mirza. Ia terharu dengan apa yang baru saja di ungkapkan sang dokter.


Mirza sudah tak sabar ingin mengumumkan kepada seluruh dunia, bahwa istrinya mengandung anak kembar tiga. 


Mirza dan Haira keluar menghampiri Deniz yang nampak sibuk berbicara dengan seorang pria yang berseragam khas rumah sakit. 


"Sudah, Za?" tanya Deniz menghentikan pembicaraannya. Menatap kedua adiknya yang cengar-cengir. 


"Ada apa ini?" tanya Deniz memasukkan kedua tangannya di celana. 


Haira menatap Mirza. Memberi kode pada sang suami untuk mengatakannya pada Deniz. 


"Anakku kembar tiga, Kak." 


Seketika Deniz memeluk Mirza. Mengucapkan selamat yang bertubi-tubi. Meskipun dalam hati sedikit iri karena adiknya jauh lebih unggul darinya.