
...Dua kabar yang menyesakkan dada (Bagian ketiga)...
Flashback
Desember 1995
Hati Mayang begitu galau, ketika mengetahui sosok pria yang dicintainya akan pergi menuntut ilmu ke negeri paman Sam. Demi tercapai cita-citanya menjadi seorang dokter profesional. Dalam hatinya tak pernah tahu isi hati pria tersebut. Meskipun begitu banyak kenangan dan juga kebersamaan yang terukir indah dalam memorinya. Namun, tak pernah terucap kata "cinta" dari dia yang telah mencuri separuh hatinya. Hanya diary kuning dengan desain motif karakter kesukaannya winnie the pooh pemberian sang pujaan hatilah yang selalu menjadi tempat curhatnya selama ini.
Hari ini di dalam diarynya Mayang menumpahkan perasaannya dalam sebuah bait puisi untuk Kak Bima. Cowok tampan sahabat Gilang yang selalu membuatnya bahagia dan nyaman bila bersama.
Kini Kak Bima akan pergi jauh, entah kapan dia akan kembali.
💞 Langit senja begitu indah memukau insan yang memandangnya,
Teriring senyum sumringah kala seuntai kalimat cinta menggelitik indra pendengaran,
Mencoba memungut serpihan rindu yang berserakan di terpa hembusan angin lalu,
Mengharap untain indah kisah masa lalu akan kembali hadir mengguncang takdir,
Mematahkan kepedihan yang mulai mengering seiring waktu yang terus saja berputar semakin lama semakin jauh meninggalkan bekas tanpa pernah bisa terkikis dari kalbu....💞
^^^In memorian 30-12-95^^^
Sebait puisi untuk Bima yang dulu pernah di tulis oleh Mayang saat duduk di bangku SMA. Lelah hatinya menanti seseorang yang dicintainya, membuatnya menorehkan kegelisahan hatinya dalam untaian kata.
Flashback off
...------Kamar VIP mawar no 86------...
Ketika Radhif tengah memikirkan apa yang dilihatnya tadi. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Apakah kedua perawat yang memeriksa Mayang kembali lagi? Bukankah tadi mereka bilang pemeriksaan sudah selesai tinggal menunggu hasilnya dan juga instruksi dari Dokte Bima?
Sesaat dirinya tertegun di depan pintu setelah melihat siapa orang yang berada di balik pintu.
"Dokter Bima? Apa segala sesuatunya sudah siap?" tanya Radhif ketika membuka pintu dan mendapati bahwa orang yang mengetuk pintu itu adalah Dokter Bima.
"Eh, iya. Maaf perawat sudah memeriksa pasien? Jika hasilnya sudah diserahkan ke saya, makan sebentar lagi saya akan melakukan operasi. Jelas dokter tampan itu kepada Radhif.
"Apa Dokter Bima ke sini untuk memeriksa kembali kondisi pasien?" tanya Radhif lagi.
Kali ini matanya memandang ke arah Dokter Bima dari ujung kepala hingga ujung kaki.
'Sepertinya Dokter Bima belum bertemu dengan kedua perawat tadi yang memeriksa Mayang. Bagaimana bisa Mayang sudah diperiksa tetapi Dokter Bima belum mengetahui hasilnya dan belum tahu kondisi Mayang? Apa Dokter ini serius menangani Mayang?' gejolak batin Radhif saat mengetahui bahwa Dokter Bima belum tahu kondisi Mayang meskipun kedua perawat yang memeriksa Mayang sudah keluar sejak 25 menit yang lalu.
Air muka Radhif terlihat berbeda, sepertinya dia menaruh curiga dengan kedatangan Dokter Bima. Apalagi setelah mengetahui dokter itu belum mengetahui hasil 'medichal chek-up' milik Mayang. Suasana senyap dan sedikit canggung. Akhirnya dokter muda itu membuka suaranya untuk mencairkan suasana.
"Ehem...!" Suara Dokter Bima mendehem.
"Saya ingin memastikan kondisi pasien secara langsung, apa Pak Radhif tidak keberatan? Ini saya lakukan agar tidak terjadi kesalahan saat melakukan operasi nanti," jelas Dokter Bima seraya melangkah menuju ranjang tempat Mayang terbaring.
"Owh, iya, Dok. Silahkan kalo memang seperti itu. Maaf sebelumnya saya kurang faham dengan maksud dan tujuan Anda," balas Radhif pada Dokter Bima.
Tangannya mengambil stetoskop dan mulai memeriksa kondisi Mayang. Mengecek denyut nadi serta memeriksa indera penglihatan Mayang menggunakan alat kecil menyerupai senter. Matanya memadang lekat sosok wanita yang terbaring tak berdaya dihadapannya. Dirinya ingin memastikan apa benar dia adalah gadis kecil yang dulu pernah di kenalnya atau hanya kebetulan memiliki nama yang sama.
Manik mata Bima membulat ketika ingat sebuah tanda yang menjadi ciri khas Mayang. Sebuah tanda di tubuh Mayang. Sebuah tanda tahi lalat yang berada tepat di lipatan leher Mayang. Hampir saja terlewatkan olehnya. Tangan Bima bergerak mengarah ke leher Mayang. Mencoba memastikan tanda itu memang ada di sana. Namun, belum sempat tangannya menyentuh leher Mayang dering ponsel di saku jas putihnya berdering membuatnya menghentikan niatnya tersebut.
"Assalamualaikum!"
"Baik, Sus. Ok, saya menuju ruangan saya. Terima kasih," ucap Dokter Bima. Do taruhnya benda pipih tersebut kemudian merapihkan selimut yang menutupi Mayang.
"Pak Radhif, saya akan melakukan operasi 30 menit lagi. Silahkan Anda mempersiapkan segala sesuatu. Pastikan stok darah yang di butuhkan sudah tersedia," seru Dokter Bima mengingatkan.
"Baik, Dok!" jawab Radhif singkat.
"Oiya, di map ini ada berkas yang tertinggal milik pasien. Baiknya Pak Radhif simpan baik-baik. Siapa tahu kelak dibutuhkan," ucap Dokter Bima lagi seraya memberikan map yang tadinya dia taruh di atas nakas.
"Berkas apa ini, Dok? Apa benar ini milik saya?" tanya Radhif.
"Sepertinya berkas pendonor yang tertinggal di dalam ambulan. Supir ambulans menitipkannya kepada perawat di meja resepsionis," ucap Dokter Bima.
"Coba Pak Radhif periksa berkas tersebut, kalau memang bukan akan saya kembalikan ke meja resepsionis. Siapa tahu itu milik pasien lainnya," balas Dokter Bima.
Dengan teliti dan hati-hati Radhif membaca berkas tersebut. Dilihatnya ada nama Mayang di dalam berkas tersebut sebagai penerima donor darah. Kemudian tangannya membuka lembar terakhir dalam map tadi. Dan tiba-tiba sebuah nama yang tak asing terlontar dari mulutnya.
"Setyo!" ucapnya tertahan.
"Apa benar dia mendonorkan darahnya untuk Mayang? Mengapa bisa?" serunya menahan rasa kesal dan terkejut.
"Pak Radhif, apa benar berkas itu milik pasien?" tanya Dokter Bima membuatnya tersadar bahwa ada orang lain yang mendengarnya tadi.
"Eh...iya, Dok. Ini memang berkas milik istri saya. Terima kasih, Dok!" ujar Radhif sembari menaruh berkas itu kembali di atas nakas.
"Kalo begitu saya permisi dulu ya, Pak Radhif. Jangan lupa 30 menit lagi semua harus siap. Saya akan melakukan operasi untuk Mayang istri Anda. Tim saya akan membantu Pak Radhif," ucap Dokter Bima kemudian berbalik dan berjalan ke arah pintu meninggalkan ruangan tersebut.
Dokter Bima telah pergi, kini hanya dirinya yang masih terdiam. Sorot matanya memancarkan amarah yang tertahan. Dirinya begitu terkejut sekaligus terpukul menerima kenyataan bahwa darah yang akan di donorkan kepada Mayang ternyata berasal dari orang yang di bencinya. Sosok Setyo yang secara tidak langsung memiliki andil dalam kekacauan ini. Jika bukan karena Setyo, dirinya tidak terbakar emosi dan berkelahi dengan Setyo. Hingga menyebabkan Mayang seperti ini.
'Haruskah aku menerima bantuannya? Membiarkan darahnya mengalir dalam tubuh Mayang? Rasanya hati ini ingin berkata tidak. Seandainya aku bisa memilih. Akan tetapi takdir telah mempermainkan kami semua. Sampai kapan ini akan berakhir,' gumamnya dalam hati.
...------Bersambung--------...
*Apa yang akan terjadi pada Setyo setelah Radhif mengetahui semuanya?
*Apa yang Radhif akan memberi hukuman kepada Heru dan Dwi atas semua kebohongan mereka yang menyembunyikan kebenaran bahwa Setyo telah mendonorkan darahnya kepada Mayang?
*Apa kecurigaan Dokter Bima terjawab setelah menemukan tanda di tubuh Mayang?
Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" Part 90. Terima Kasih🙏😊
Terima kasih sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.
Dukungan beruba komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.