TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#TAKDIR CINTA MAYANG# PART 32


🍃 Gunung Semeru🍃


Ketika kaki ini melangkah menyusuri setiap tebing dan tanjakan yang curam, hanya wajah Kak Radhit yang selalu terbayang.


Mengingat kembali kenangan lama, ketika masih bersama.


Kenangan pertama kali mendaki bersamanya, menapaki terjalnya rute pendakian, melawan dinginnya udara malam Gunung Semeru.


Akankah kenangan itu terulang kembali?


Adakah keajaiban yang akan terjadi?


Hati ini remuk bila mengingat itu semua?


Harapan ini seakan sirna tanpa kabar darimu.


Kemanakah gerangan engkau pergi?


Tanpa sebuah pesan dan ucapan selamat tinggal untukku yang selalu menanti kepulanganmu,


wahai kekasih hati.


Selang beberapa saat ketika mencapai tanjakan cinta, hatiku seakan berdegup kencang, keringat membasahi tengkuk dan sekujur tubuhku.


Tasbih cendana yang aku pengang jatuh dari tanganku.


Entah mengapa tasbih itu bisa jatuh, seakan tersambar sesuatu, membuatnya lepas dari peganganku.


"Ah...,kepalaku terasa berat dan pusing," keluhku mencoba menahan rasa sakit itu.


Nampak Niar mencoba memapahku, sesaat langkah kakiku goyah, bahkan melangkahpun aku tak mampu.


Kak Radhif kemudian membantu Niar memapahku agar bisa berjalan lagi.


Aroma kasturi memenuhi rongga dada dan penciumanku.


'Kaukah itu Kak Radhit?


Apakah kau mendengar kedatangku?


Dimanakah kau Kak?


Pulanglah bersamaku, aku sangat merindukanmu,' bisikku lirih dalam hati.


Sekelebat cahaya terlihat di sekitar jurang tempatku berdiri tadi, tak seorangpun melihatnya.


Hanya aku dan kak Radhif yang melihatnya.


"Apa kau melihat apa yang aku lihat May?" tanya Kak Radhif padaku.


Sambil menoleh kearahnya aku menatap mata coklat miliknya, yang penuh kehangatan, persis pandangan mata milik Kak Radhit.


Aku mengangguk lemah, mencoba membenarkan apa yang lihat tadi.


Secepat mungkin, Kak Radhif meminta para tim SAR dan para relawan serta anggotanya untuk menyisir rute disekitar tanjakan cinta.


Berharap menemukan tanda-tanda keberadaan Kak Radhit.


Pucuk dicinta ulampun tiba, apa yang kami harapakan terwujud.


Seorang team SAR dan anggota TNI yang dibawa mas Gilang dan Kak Radhif menemukan tanda-tanda keberadaan seseorang, sedikit curam hingga membutuhkan perlengkapan seperti tali karmantel (tali yang digunakan untuk memanjat tebing agar aman apabila terjatuh menyentuh tanah) untuk mencapainya tebing tersebut.


Disana diketemukan tas 'carrier' dan mantel milik temannya yang hilang.


Namun tas dan perlengkapan Kak Radhit belum ditemukan.


Di pinggir tebing ada sebuah ceruk, karena tali yang digunakan untuk turun kurang, maka seorang team SAR menambahkan kembali tali agar pencari bisa turun dan mencapai ceruk tersebut.


Dan akhirnya dengan segala upaya sampailah dua relawan diceruk tersebut.


Sungguh besar kuasa Illahi, akhirnya pencarian kami berakhir.


Team SAR menemukan keberadaan Kak Radhit namun dalam keadaan sudah tak bernyawa.


Sungguh sedih rasa hatiku.


Cincin pertunangan kami aku genggam erat-erat.


Airmata ini tak dapat aku bendung lagi.


Lemas tubuhku, melihat orang yang aku cintai pergi meninggalkanku.


Kondisiku semakin lemah, hingga kesadaranku hilang.


********


Dalam alam bawah sadarku aku bertemu dengan Kak Radhit,


Wajahnya bersinar, senyumnya sangat manis terlihat.


"Pulanglah May, kembalilah kerumah, hiduplah bahagia meski tanpa aku disisimu.


Aku akan bahagia bila dirimu bahagia.


Ikhlaskanlah kepergianku sayangku, maafkanlah aku karena tak bisa memenuhi setiap janjiku," ucapnya dengan suara bergetar.


Aku hanya terdiam dalam tangisku, tak mampu berkata-kata.


Hanya tangis dan rasa sedih serta pilu yang aku rasakan menggores sangat dalam dihati ini.


"Pulanglah May, jangan menyerah, kuatkan dirimu. Jangan biarkan rasa sedih itu menguasaimu, dan membuatmu lemah, bangunlah sebutlah nama Allah, May!" ucap Kak Radhit sambil mengusap air mataku.


Sayup-sayup aku mendengar tangisan Niar di sampingku, nampak Kak Radhif dan Mas Gilang dengan wajah pucat karena panik.


"Kamu sudah sadar Dek?" tanya Mas Gilang sambil membelai kepalaku.


"Syukurlah kamu sudah sadar May," ujar Kak Radhif.


Seketika itu juga aku sadar dan bangkit dari tidurku.


Aku masih ingat mereka menemukan tubuh Kak Radhit yang sudah tak bernyawa dari dalam ceruk dipinggir tebing.


"Dimana Kak Radhit? Aku mau melihatnya untuk yang terakhir kalinya," pintaku pada Mas Gilang dan Kak Radhif.


Kutarik tanganku dari pegangan Mas Gilang, membuka paksa selang oksigen dan juga jarum infus yang menempel ditanganku.


Namun Niar memelukku dan menahanku, menagis dan berkata, "Yang sabar May, Kak Radhit sudah pergi, ikhlaskan dia. Jangan seperti ini, jang buat dia sedih dengan sikapmu."


"Kenapa aku gak boleh melihat Kak Radhit? Apa salahku? Aku hanya ingin melihatnya untuk terakhir kalinya," ucapku dengan isak tangis yang tak henti-hentinya.


"May, Kak Radhit udah di kebumikan, seminggu yang lalu, sejak diketemukan," tutur Niar sembari terus memelukku sambil menangis.


Lemas tubuhku, seolah tak bernyawa.


Aku terdiam, kembali berbaring diatas tempat tidur besi tersebut.


Mas Gilang dan Kak Radhif hanya bisa memandangku, tanpa mampu mengatakan sesuatu.


'Apakah kau datang padaku untuk berpamitan?


Kenapa tidak kau bawa saja aku bersamamu Kak?


Untuk apa aku hidup bila dirimu pergi meninggalkanku?


Apa bisa aku melewati hari-hariku tanpa dirimu lagi?


Kuatkah hati ini melalui semua ini?' bisikku lirih dalan hati ini.


********


* Mampukah Mayang melewati segala ujian hidup yang menerpanya?


*Apakah kisah cinta Mayang berakhir disini?


*Dan apa yang dilakukan Radhif untuk Mayang yang sedang rapuh saat kehilangan Radhit saudara kembarnya?


Nantikan kisah selanjutnya hanya ada di "TAKDIR CINTA MAYANG" Part 33, terimakasih🙏🤗