
...****""""*****...
...Batalion X, Malang....
"Tuk...!"
"Auch....!"
"Ah, iseng banget sich, Bang," pekik Setyo.
Dengan tawa jahil Bang Togar berlalu dari tempat tidur Setyo.
Rupanya tadi Bang Togar memanggil-manggilnya tapi yang di panggil sedang menghayal.
Entah kemana fikiran Setyo saat itu.
Pastinya bukan menghayal THR donk, kan belum hari raya.
Masih juga awal tahun.
"Kenapa sich, Bang. Mengganggu aja.
Aku tuh lagi menghayal andai saja sabtu ini aku IB (izin bermalam) ke Surabaya dan bertemu dengan Mayang pujaan hatiku.
Apapun keadaannya saat ini aku bersedia menjadi pendampingnya.
"Gila kau, Yo. Baru aja masuk kompi udah bertingkah. Emangnya mau kau tahan pangkat hanya karena wanita pujaanmu itu?" teriak Bang Togar.
'Untung saja di barak hanya ada mereka berdua.
Kalau tidak bisa jadi bahan bullyan nie aku,' batin Setyo.
"Bang!"
"Apa keputusanku menerima Mayang dan anak yang di kandungnya itu tepat?" tanya Setyo sambil menghampiri Bang Togar yang tengah menikmati sebungkus nasi dan secangkir kopi.
"Tunggulah aku selesai makan, baru kau bisa berkonsultasi denganku.
Lapar kali aku, Yo. Habis membantu Danton Heru kesayangmu itu," protesnya lagi.
"Hhhhmmmm....okelah kalo begitu. Aku mandi dulu ya, Bang. Sebentar lagi udah mau maghrib," ujarnya sembari berlalu mengambil perlengkapan mandi dari lemari dan menuju ke arah kamar mandi barak yang terletak di belakang.
25 menit berlalu, Setyo sudah selesai mandi dan berpakaian.
Sedangkan Bang Togar menikmati sebatang rokok sambil menikmati sisa-sisa kopi hitamnya.
"Hai, Yo!"
"Jadi tidak kau berkonsultasi?" teriak Bang Togar.
"Jadi dong, Bang. Apa sudah selesai?" tanya Setyo.
Beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju tempat dimana Bang Togar berada.
"Gimana?"
"Apa ada yang mau kau konsultasikan?" ucap Bang Togar bak seorang psikiater profesional.
"Iya, Bang!"
"Aku hanya ingin meminta pendapat dari Bang Togar. Apa benar keputusanku untuk menemui Mayang dan menyatakan keinginanku untuk menerimanya kembali dan bertanggung jawab atas apa yang menimpanya?" tanya Setyo.
"Kau yakin?" Bang Togar balik bertanya.
"Yakin Bang," seru Setyo mantap.
"Kalau begitu lakukanlah. Bila memang itu keputusanmu. Ingatlah Setyo tanggung jawabmu bukan hanya satu orang, melainkan dua, yaitu Mayang dan janinnya," seru Bang Togar menjelaskan.
"Siap, Bang. Terimakasih atas nasehatnya," ucap Setyo dengan mata berbinar bahagia.
Di tambah lagi, pagi tadi Dion mengabarinya bahwa ternyata Mayang masih berada di sekitar Surabaya.
Hanya saja, tepatnya dimana Dion tidak tahu.
Hal itu yang membuat Setyo yakin bisa menemukan Setyo.
Dengan begitu dia akan mengungkapkan isi hatinya dan menerima Mayang dengan segala kekurangannya.
Karena cintanya tulus bukan hanya karena fisik semata.
Andai saja Radhit masih ada, Setyo akan dengan ikhlas menerima bahwa Mayang telah bahagia bersama orang yang di sayangnya.
Tetapi kenyataan Mayang sedang terpuruk, dia sebagai orang yang pernah mencintai Mayang, Setyo rela menerimanya dan bertanggung jawab atas wanita yang di cintainya itu.
Meskipun pangkatnya tertunda, hanya agar bisa bersama dengan Mayang.
Esok hari sabtu, seperti biasa Setyo akan IB ke Surabaya.
Mengunjungi kedua orang tuanya dan berkhayal dapat menemukan Mayang.
Semalaman Setyo tak bisa tidur.
Apalagi setelah tadi sempat menghubungi Ika sahabat Mayang.
Karena desakan dari Setyo dan karena merasa iba terhadap Setyo, Ika memberikan nomor kontak milik Mayang.
Karena itulah semalaman ini Setyo tidak dapat memejamkan matanya.
Ingin rasanya Setyo mengirimkan pesan atau menghubungi Mayang.
Tapi hatinya berkata kalau belum saatnya.
Alangkah baiknya jika menghubungi Mayang ketika sudah berada di Surabaya.
Rencana telah di buat. Dion, ketiga sahabat Mayang juga mendukung pertemuan Mayang dan Setyo.
Harapan Setyo memiliki Mayang seperti semangat baru yang menggebu-gebu dalam dirinya.
Membuatnya tak merasa kantuk malam ini, berharap mentari segera terbit. Tentunya setelah kegiatan selesai, Setyo akan langsung pulang ke Surabaya.
Kali ini dirinya tidak pulang menggunakan bus.
Melainkan Dion yang akan menjemputnya.
['Hallo, Yo. Besok jam 10 aku udah otewe dari Surabaya.
Aku bersama Ika, Restu dan Niar.
Setelah itu aku akan menunggumu di Royal Plaza yang tak jauh dari kampus, kita ketemuan di sana aja ya.'] Isi pesan dari Dion.
['Baik, Ion. Hati-hati di jalan ya.] Balas Setyo.
Sebenarnya rasa bahagia membuatnya tidak bisa tidur, akan tetapi karena lelah akibat aktivitas seharian membuatnya tertidur sembari mendekap ponsel miliknya.
Tak terasa pagi telah tiba, adzan subuh berkumandang.
Setyo yang masih tertidur pulas pun tergugah untuk bangun setelah mendengar suara adzan masjid.
Hari ini di dalam sujudnya dia berdoa, memohon kepada Allah semoga dirinya dapat bertemu dengan pujaan hatinya.
Walaupun sebentar saja dan bahkan kenyataan pahit harus di telan, Setyo siap.
Paling tidak sebelum berpisah dia bisa melihat Mayang dan juga mengungkapkan isi hatinya yang telah lama di pendam.
Perasaan itu ibarat bom waktu yang sewaktu-waktu siap meledak dan menghanguskan Setyo.
ππππ
*Apakah Dion dan ketiga sahabat Mayang berhasil mempertemukan Setyo dan Mayang?
*Apa yang terjadi pada Mayang ketika Kak Radhif mengetahui hal tersebut?
Nantikan kisah selanjutnya hanya di "TAKDIR CINTA MAYANG" Part 56. Terimakasih ππ€π
πKetika masa lalu itu muncul,
bias cinta pun kembali terpancar,
Mengisi relung hati yang hampa.....
Ingin rasa aku mendekapmu,
Namun realita hidup membuatku harus pergi menjauh, menjauh dari bayang-bayang masa lalu yang begitu manis....π