Suamiku Milik Wanita Lain

Suamiku Milik Wanita Lain
EPISODE 122 Kali ini saja


Setelah Vita dan Ayu sedikit tenang, Randy dan Rei mengajak mereka untuk segera ke rumah Alfian. Ayu dan Vita mengangguk lalu Randy mengajak Vita untuk kembali ke kamar membersihkan tubuh mereka sebentar dan memakai baju secepat mungkin lalu kembali turun ke bawah.


Mereka semua pamit kepada Ilham dan Rita terlebih dahulu sebelum berangkat.


" Mi pi, kami pergi dulu, " pamit Randy.


" Kalian hati hati di jalan. Besok pagi mami dan papi akan menyusul ke sana. Ingat jangan mengebut di jalan, " ucap Rita mengingat kan.


" Iya mi, " balas Randy. Lalu mencium tangan Ilham dan Rita bergantian, begitu juga Vita, Rei, dan Ayu.


Baru beberapa langkah mereka berjalan, Randy berhenti dan berbalik lalu berucap.


" Oh iya mi, Randy minta tolong katakan kepada paman Rudy untuk mengizinkan seluruh anak anak XIIipa1 untuk tidak masuk kelas besok pagi. Mereka pasti akan menemani Alfian sampai sore. Randy minta tolong ya mi, " ucap Alfian.


Rita mengangguk mengiyakan permintaan Randy. Memang benar, mau izin atau tidak, mereka semua pasti tidak akan ada yang masuk sekolah besok pagi. Jika harus memilih, dihukum karena bolos atau tidak pergi ke rumah Alfian, mereka semua pasti akan memilih di hukum.


Setelah mendapat jawaban dari mami nya, Randy dan yang lain nya kembali berjalan keluar rumah menuju mobil. Mereka berempat berangkat ke rumah Alfian dengan menaiki mobil Rei.


Di dalam mobil, Ayu dan Vita kembali menangis, terutama Vita. Ia tau bagaimana sekarang perasaan Alfian, karena saat saat seperti ini telah diri nya rasakan sebelum nya.


Randy menarik Vita masuk ke dalam pelukan nya, Ia mengelus lembut puncak kepala Vita dan berusaha untuk menenangkan nya.


" Sayang, untuk saat ini yang sangat di butuhkan Alfian adalah kalian. Jika kalian rapuh seperti ini, bagaimana dengan Alfian nanti. Aku harap kalian jangan seperti ini saat bertemu dengan nya nanti. Kuat lah untuk dia, berikan lah kekuatan untuk nya agar bisa melewati semua ini, " ucap Randy lembut.


Vita mengangguk kan kepala nya. Itu benar, saat ini Alfian sangat membutuh kan mereka, jadi jika mereka rapuh, bagaimana Alfian nanti nya.


Rei juga mencoba menenangkan Ayu yang duduk di samping nya. Ia genggam tangan kanan Ayu dengan tangan kiri nya sementara tangan kanan nya memegang stiur mobil. Ayu menghapus air mata nya dengan tangan kiri nya, lalu tersenyum kepada Rei seraya mengatakan terima kasih.


****


Mobil yang di kendarai Rei tiba di depan gerbang rumah Alfian. Di dalam sana sudah banyak mobil dan motor sport milik teman teman nya dan juga mobil dari keluarga Alfian, sehingga mereka mengharuskan memarkirkan mobil di luar gerbang rumah Alfian.


Setelah mobil terparkir dengan rapi, mereka bergegas turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah Alfian.


Di dalam rumah, mereka di sambut dengan seluruh anak anak XIIipa1. Mereka semua berpelukan, dan saling menguatkan diri untuk Alfian.


" Alfian mana guys?, " tanya Vita di sela sela pelukan mereka.


Mereka melepas pelukan mereka, lalu menatap Vita begitu dalam.


" Vit, lo temui Alfian ya. Sedari tadi sejak jenazah kedua orang tua nya tiba, dia mengurung diri nya di kamar. Kami semua sudah membujuk nya untuk keluar dari kamar, tapi dia tetap menolak. Mungkin, hanya lo yang bisa membujuk nya, " ucap Aldo.


Vita menatap wajah Randy, Ia meminta izin untuk menemui Alfian. Beberapa detik Randy diam, namun setelah itu Randy tersenyum dan mengangguk mengizinkan.


Vita tersenyum lalu memeluk Randy dengan erat.


" Terima kasih sayang sudah mengizinkan ku, " ucap Vita di dalam pelukan Randy.


" Sama sama sayang. Pergi lah temui Alfian, bujuk dia untuk mau keluar dari kamar. Saat ini, mungkin memang kamu yang di butuhkan nya. Pergi lah, aku mengizinkan mu, " balas Randy.


Vita melepas pelukan nya lalu berjalan menuju kamar Alfian di antar oleh Aldo. Sesampai nya di depan pintu kamar Alfian, Aldo menyuruh Vita untuk langsung masuk sendiri.


Vita memastikan tidak ada air mata di pipi nya lalu perlahan melangkahkan kaki nya masuk ke dalam kamar Alfian. Ia mengedarkan pandangan nya di dalam kamar Alfian, namun tidak menemukan Alfian di sana.


Mata Vita menangkap pintu balkon kamar Alfian yang terbuka, Ia berfikir pasti Alfian ada di sana. Segera Ia melangkah kan kaki nya ke sana dan benar, Alfian memang berada di sana, sedang berdiri di pinggiran balkon dengan kedua tangan memegang pagar balkon.


Alfian memandang lurus ke depan dengan pandangan kosong. Ia juga tidak sadar jika Vita sudah berdiri di samping nya sedang menatap ke arah nya.


Alfian tersadar dari lamunan nya saat tangan Vita memegang bahu nya. Ia menoleh ke samping dan mendapati Vita sedang menatap diri nya. Lalu setelah itu, Alfian kembali menatap lurus ke depan tanpa ingin berbicara apapun kepada Vita.


Vita menghembuskan nafas nya, Ia sangat prihatin dengan keadaan Alfian sekarang. Tidak ada air mata yang menetes, tapi Vita tau saat ini hati Alfian benar benar hancur menerima kenyataan pahit kalau kedua orang tua nya sudah pergi untuk selama nya.


Vita menarik lengan Alfian untuk menghadap ke arah nya, lalu memeluk Alfian. Saat berada di pelukan Vita, Alfian sudah tidak sanggup lagi menahan air mata nya untuk tidak tumpah. Dan dalam seketika, tangis itu pecah. Vita membiarkan Alfian menangis, dan menumpahkan segala rasa sakit yang di rasakan nya saat ini.


Baju kemeja hitam yang di kenakan Vita sudah basah di bagian bahu nya karena air mata Alfian. Vita tetap terus membiarkan Alfian menangis sampai puas, sambil tangan nya mengelus lembut punggung Alfian.


Tak ada percakapan apapun selama sepuluh menit. Alfian masih tetap menangis di dalam pelukan Vita. Ia merasa saat ini hanya bisa bersandar pada bahu Vita, Alfian benar benar sangat rapuh.


****


Di depan pintu kamar Alfian, Randy menatap Vita dan Alfian yang sedang berpelukan. Ada rasa sakit di dalam hati nya saat melihat istri nya sedang berpelukan dengan laki laki lain.


Tapi Randy berusaha untuk menenangkan hati nya dan memahami keadaan Alfian. Hanya kali ini, iya hanya kali ini saja Ia akan mengizinkan mereka seperti ini.


Randy percaya kepada Vita, jika yang di lakukan nya murni sebatas perhatian kepada sahabat nya saja tanpa ada rasa yang dulu pernah ada di antara mereka. Meskipun Randy tau, itu tidak untuk Alfian. Karena Randy tau, di hati Alfian masih ada cinta yang besar untuk istri nya.


Randy melangkahkan kaki nya menjauh meninggalkan kamar Alfian dan kembali turun ke bawah. Ia akan membantu mengurus pemakaman jenazah kedua orang tua Alfian.


Alfian sudah lebih tenang dari sebelum nya, tangis nya sudah reda meskipun masih sesegukan sesekali.


Vita melepas pelukan mereka lalu menggiring Alfian untuk masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi tempat tidur. Ia menghapus air mata Alfian yang masih tersisa lalu tersenyum seraya menguatkan Alfian.


" Fian, gue tau yang lo rasain sekarang ini. Tapi, gak mungkin lo berdiam diri di dalam kamar seperti ini terus. Temui lah, semua pelayat yang hadir. Lo harus berusaha untuk tetap tegar menghadapi nya. Apa lo gak mau melihat kedua orang tua lo untuk yang terakhir kali nya? Apa lo gak mau menjadi imam sholat untuk mereka? Fian, kami semua bersama lo. Ingat kan dulu, itu yang lo bilang ke gue saat gue kehilangan ayah sebagai orang tua yang terakhir yang gue miliki. Gue gak mau lo terus terpuruk seperti ini, pasti orang tua lo sedih melihat lo seperti ini, " ucap Vita mencoba menguatkan Alfian.


" Kenapa Allah tega sama gue, kenapa Allah selalu mengambil orang orang yang gue cintai. Kenapa Allah gak pernah memberikan gue kebahagaian bersama orang orang yang gue cintai. Dulu, Allah mengambil lo dari gue, dia menjodohkan lo sama orang lain. Dan sekarang, Allah mengambil kedua orang tua gue bersamaan. Sekarang, gak ada lagi yang tersisa di hidup gue, gak ada lagi Vit, gak Ada. Lalu, kenapa Allah gak sekalian saja ambil nyawa gue, gue gak sanggup lagi Vit hidup seperti ini, hidup gue sudah gak ada arti nya lagi, " Alfian kembali menangis setelah mengucapkan semua uneg uneg yang ada di dalam hati nya.


Hati Vita teriris mendengar perkataan Alfian, air mata nya pun mengalir membasahi pipi nya. Ternyata, meskipun Alfian selama ini selalu bersikap seolah olah dia ikhlas, tetapi di dalam lubuk hati nya, Alfian masih belum merelakan Vita sepenuh nya.


Vita kembali memeluk Alfian, memberi kekuatan kepada Alfian.


" Lo gak boleh ngomong begitu Fian. Lo masih ada gue dan anak anak yang lain. Meskipun gue sudah menikah, tetapi kita masih bisa bersahabat seperti dulu. Gue janji akan selalu ada buat lo. Maafin gue karena sudah sangat menyakiti hati lo, maafin gue Fian, " ucap Vita dengan linangan air mata.


Alfian membalas pelukan Vita lalu mencium puncak kepala Vita.


" Maafin gue Vit, gue gak seharus nya ngomong begitu. please jangan menangis lagi, hati gue semakin terasa sakit melihat air mata lo yang menetes, " balas Alfian.


" Lo harus janji sama gue jangan pernah bilang kalau hidup lo gak ada arti nya lagi dan berfikiran untuk mengakhiri hidup lo. Lo sangat berarti buat gue, lo sahabat gue, bagian dari hidup gue. Gue gak mau kehilangan sahabat terbaik seperti lo, " ucap Vita sesegukan.


Mereka melepas pelukan mereka dan bergantian saling menghapus air mata.


" Sekarang kita turun ya, temui semua orang. Lo harus tetap tegar, ingat ada gue dan yang lain nya yang selalu ada di samping lo, " bujuk Vita.


" Terima kasih Vit, karena lo selalu ada di saat gue butuh. Yasudah ayo kita turun, " ucap Alfian.


Vita tersenyum lalu bangkit dan mengulurkan tangan nya kepada Alfian. Alfian membalas uluran tangan Vita dan tersenyum lalu bangkit. Mereka keluar dari kamar dan turun ke bawah sambil bergandengan tangan menemui para pelayat.


****


Hari ini juga kedua jenazah orang tua Alfian di kebumikan. Tangis Alfian kembali pecah saat mensholatkan jenazah kedua orang tua nya.


Dulu saat diri nya masih kecil, Papa nya lah yang selalu menjadi imam sholat di keluarga mereka. Waktu terus bergulir, setelah Alfian beranjak dewasa mereka sudah jarang sekali sholat berjamaah karena kesibukan kedua orang tua nya.


Alfian selalu berdoa semoga mereka bisa kembali sholat berjamaah seperti dulu dan dia lah yang menjadi imam sholat nya. Doa itu terkabul, dia memang menjadi imam sholat, tetapi kenyataan pahit nya, Ia menjadi imam sholat untuk jenazah kedua orang tua nya.


Setelah selesai mensholatkan, mereka membawa jenazah kedua orang tua Alfian menuju ke pemakaman umum.


Lagi lagi, tangis Alfian pecah saat melihat kedua jenazah orang tua nya di masukkan ke dalam liang kubur. Vita sedari tadi ada di samping Alfian, tetap terus berusaha untuk menguatkan Alfian.


Setelah prosesi pemakaman selesai dan para pelayat pamit pulang. Kini tersisa hanya beberapa keluarga dan anak anak XIIipa1 serta orang tua Randy.


" Fian, kita pulang sekarang ya, " ajak Vita yang ikut berjongkok di samping Alfian yang berada di tengah tengah makam orang tua nya.


Alfian menggelengkan kepala nya. Ia masih ingin berada di makam kedua orang tua nya.


Vita mengisyaratkan kepada Randy untuk mengajak yang lain nya pulang duluan, dia akan menemani Alfian sebentar di sana.


Randy paham isyarat dari Vita lalu mengajak yang lain nya pulang duluan. Sebelum melangkah pergi, Randy menoleh sebentar ke arah Vita lalu melangkah kan kaki nya menjauh menuju ke parkiran.


" Fian, kamu jangan seperti ini terus. Kasian Om dan tante di sana pasti sedih dan tersiksa jika kamu terlalu meratapi kepergian mereka. Jika kamu merindukan mereka, sholat lah, kirim doa dan bacakan Al-Fatihah untuk mereka. Itu lah yang aku lakukan setelah kepergian ayah bunda, " ucap Vita sambil mengelus punggung Alfian.


Alfian menoleh dan menatap kedua mata Vita.


" Vit, tolong kasih tau gue, gimana cara lo bisa se tabah itu menghadapi musibah yang menimpa lo, " pinta Alfian.


" Aku juga rapuh saat bunda pergi, dan aku benar benar seperti tidak punya harapan hidup lagi saat ayah pergi. Tapi, support kalian, perhatian kalian membuat gue semangat lagi. Gue juga masih harus penuhi janji gue ke bunda untuk bisa menjadi dokter spesialis kandungan. Jadi demi janji gue dan kalian semua, gue harus bangkit dan jadi lah gue yang sekarang. Kalau gue bisa, itu berarti lo juga bisa. Dan ingat lo gak sendiri, ada gue, mas Randy dan yang lain nya yang selalu ada di samping lo, " terang Vita.


Alfian memeluk Vita dan mengucapkan banyak terima kasih karena selalu ada untuk diri nya. Lalu, Ia melepas pelukan nya dan tersenyum kepada Vita.


" Ayo kita pulang, yang lain nya sudah menunggu kita, " ajak Alfian saat diri nya sudah bangkit lalu mengulurkan tangan nya.


Vita tersenyum lalu bangkit dan membalas uluran tangan Alfian. Sebelum pergi, Alfian memandang bergantian batu nisan kedua orang tua nya.


" Papa mama yang tenang ya di sana, di sini Alfian akan baik baik saja. Di sini Alfian tidak sendiri, ada Vita dan yang lain nya yang akan menemani Randy. Papa, Randy janji akan meneruskan perusahaan papa seperti keinginan papa dulu dan menjadikan nya lebih maju lagi, itu janji Randy. Randy pamit ya pa ma, " ucap Alfian.


Setelah berpamitan sambil menatap batu nisan kedua orang tua nya, Alfian mengajak Vita pergi meninggalkan makam kedua orang tua nya menuju ke parkiran.


Di parkiran, terlihat Randy dan yang lain nya masih menunggu Vita dan Alfian. Alfian menghampiri Randy lalu memeluk nya.


" Terima kasih mas karena sudah mengizinkan Vita bersama gue selama beberapa jam ini. Itu berarti sekali buat gue, sekali lagi gue ucapin terima kasih, " ucap Alfian tulus.


" Sama sama, tapi untuk kali ini saja aku mengizinkan kamu memeluk nya, tidak ada lain kali, " balas Randy lalu mereka tertawa bersama.


Alfian melepas pelukan mereka lalu mengucapkan terima kasih kepada semua teman teman nya dan juga orang tua Randy yang sudah hadir dan membantu prosesi pemakaman orang tua nya.


Setelah itu, mereka masuk ke dalam mobil untuk pulang kembali ke rumah Alfian untuk menyiapkan acara tahlilan nanti malam. Sementara, Ilham dan Rita pamit untuk pulang ke rumah beristirahat sebentar lalu sore nya akan kembali lagi ke rumah Alfian.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.


***Lagi lagi baper saat menulis part sedih begini, sampai saya menangis saat nulis episode kali ini.


Yang tabah ya Alfian, kamu gak sendiri kok, ada Vita dan teman teman yang lain. Dan tentu nya ada saya dan para pembaca setia novel ini.


Ada info nih untuk akak semua, saya akan menulis novel khusus menceritakan kisah Alfian. Cerita kehidupan nya setelah kepergian orang tua nya.


Di tunggu ya episode perdana nya, judul nya CINTA PANGERAN ES. Pasti penasaran kan kenapa judul nya seperti itu? Ayo ayo, hilangkan rasa penasaran kalian dengan membaca kisah Alfian.


Jangan lupa like and vote yang banyak ya akak. Terima kasih***.