Status Sahabat Menjadi Ibu Sambung

Status Sahabat Menjadi Ibu Sambung
BAB 54


Happy Reading 🤗


...🌹🌹🌹...


Kejadian yang membuat Mandala dan Ismalia terpaksa harus berdua. Dikarenakan mobil Mandala mogok. Ia menghubungi Nazir untuk membantunya. Dalam perjalanan mereka bertiga dikejutkan dengan pengendara bermotor misterius. Berpenampilan memakai pakaian serba hitam. Pengendara motor itu berlagat mencurigakan.


Mandala dan Nazir sempat berpikir bahwa pengendara bermotor itu adalah Gio. Namun hal itu belum diketahui secara pasti. Ismalia yang duduk di bangku penumpang belakang. Merasa takut dan cemas teringat akan kejadian sebelumnya. Mandala dan Nazir menyuruh masing-masing anak buahnya untuk menyiasati.


Sesampainya di kediaman Mandala. Mereka berdua turun dari mobil Nazir. Tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Nazir.


"Thanks, ya. Tidak mau mampir dulu?" tanya Mandala.


"Ahh...rasa tidak perlu. Saya harus kembali ke kantor ada hal yang harus dikerjakan. Dikarenakan menjemputmu harus menunda, hehe..." ucap Nazir bercanda.


"Dasar teman kurang ajar. Tapi thanks ya sekali lagi."


"Hahaha...kalau kurang ajar, tolong ajarin dong." gurau Nazir cengengesan.


"Hah kamu...sudah sana pulang." usir Mandala.


"Iya...iya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Nazir pun berlalu dari hadapan mereka berdua. Ismalia yang sedari tadi hanya menyimak. Sesekali tertawa melihat gelagat tingkah laku mereka yang sedang bergurau. Mandala memasuki rumah terlebih dahulu. Ismalia mengikuti dari belakang. Tampak Rita dan yang lainnya sedang duduk bersantai di ruang tengah.


Mandala hanya memasang wajah tanpa ekspresi ke mereka semua. Tanpa menghampiri bergabung melainkan langsung menuju ke atas. Lain Ismalia menghampiri mereka dan menyalami yang lainnya. Erika hanya tersenyum melihat Ismalia. Ekspresi yang tidak ada rasa bersalah sedikitpun. Ismalia duduk didekat kedua orangtuanya.


"Kalian pulang pakai apa kok tidak ada suara mobil Mandala?" tanya Rita pura-pura tidak tahu.


"Kamu pulang dijemput Om Nazir tadi. Om Mandala yang menghubungi karena mobilnya mogok."


"Kenapa bisa? Tapi kalian tidak apa-apa kan?" tanya Mastiara.


"Tidak tau, buk. Tiba-tiba saja mogok, kami tidak apa-apa."


"Syukurlah." ujar Mastiara.


Ismalia menatap tajam ke arah Erika. Ia tahu bahwa semua ini rencana Erika. Sampai ia harus ditinggal hanya dirinya dan Mandala yang masih berada di sekolah. Erika yang ditatap hanya cengengesan saja. Rita yang juga melihatnya juga hanya tersenyum. Melanjutkan mengobrol bersama Mastiara dan Mardian.


...🌹🌹🌹...


Mandala yang berada di dalam kamar sudah selesai ganti baju. Setelan santai lalu diberi jas ia menggapai ponselnya. Ia hendak keluar lagi untuk ke kantor. Mandala menuruni tangga terlihat mereka semua masih mengobrol di rumah tengah. Kecuali Erika, Ismalia, kedua adiknya yang sedang bersantai di halaman belakang.


"Loh, Man. Kamu mau kemana lagi, baru saja pulang. Sudah mau pergi lagi, memang ada apa?" tanya Rita disela obrolannya.


"Man mau ke kantor dulu. Ada klien yang ingin ketemu sama Man." jawab Mandala.


"Memangnya mobil kamu sudah tidak mogok lagi?"


"Kok bisa tahu mobil Man mogok?"


"Is yang bilang tadi, kalian di jemput oleh Nazir kan. Terus perginya pakai apa?"


"Hmm...iya. Man diantar Pak Rahmad. Ya sudah Man pergi dulu, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam." jawab serentak.


"Hati-hati." sambung Rita.


Mandala menghampiri Pak Rahmad untuk diantar ke kantor.


"Pak Rahmad, tolong antar saya ke kantor." ucap Mandala.


"Loh sudah mau keluar lagi, tuan."


"Iya, ada pekerjaan di kantor."


"Baiklah, tuan."


Pak Rahmad dan Mandala sudah memasuki mobil dan berangkat menuju ke kantor. Di perjalanan Mandala sibuk mengotak-atik tabnya. Mengecek pesan singkat ke sekretarisnya karena ada meeting mendadak. Pak Rahmad yang sedari tadi tidak melihat mobil Mandala. Langsung bertanya ke Mandala.


"Oh ya Tuan. Dari tadi saya tidak lihat mobil tuan Mandala."


"Mobil saya mogok tadi, Pak."


"Oh wallahhh...kok bisa tuan kan sudah di servis sekitar seminggu yang lalu."


"Saya juga tidak tahu, Pak." jawab Mandala.


"Terus pulangnya pakai apa tadi?"


"Saya tadi minta tolong Nazir untuk menjemput. Lalu mobil saya tinggal biar nanti mekanik yang deret."


"Kenapa tidak hubungi saya tadi? Saya bisa jemput tuan?"


"Sudah tidak apa-apa. Pak Rahmad kan pulang sama Ibu dan nanti Pak Rahmad capek."


"Ya tidak lah, tuan. Itu sudah kewajiban saya jadi supir."


"Tidak apa-apa, Pak Ahmad."


Tidak ada percakapan antara Mandala dan Pak Rahmad lagi. Mobil pun sudah tiba di kantor berhenti tepat di pintu utama perusahaan. Karyawan-karyawan memberikan sapaan ke Mandala. Sedangkan Pak Rahmad harus menunggu Mandala. Walaupun sebelumnya disuruh pulang oleh Mandala.


...🌹🌹🌹...


Kediaman Mandala sekitar pukul 15.03 Wib sore hari. Erika dan Ismalia yang sudah berpakaian santai. Sedang santai di halaman belakang duduk menyeduh teh dan cemilan. Berhadapan langsung dengan kolam renang yang lumayan besar. Kedua adik Ismalia yang gembira sambil berenang. Erika dan Ismalia memperhatikan juga ikut tersenyum.


"Maksud kamu, berarti tadi semua rencana kamu? Sampai mobil Om Mandala mogok itu pun kamu yang lakukan?" tanya balik Ismalia.


"Hehehe...jangan marah ya. Semua aku lakukan untuk kalian loh. Biar semakin dekat dan mulai timbul rasa."


"Rasa apa yang kamu maksud?"


"Rasa suka antara kalian, tidak mungkin kan rasa coklat dan strawberry."


"Itu tidak akan pernah mungkin dan tidak pernah terjadi."


"Kenapa? Tidak ada yang mungkin."


"Ya karena saya dan Om Mandala seperti langit dan bumi. Kalau secara fisik saya rasa kamu sudah tahu, Rik."


"Eh helloo...cinta tidak mandang usia dan apa pun. Kalau sudah saling jatuh cinta, baru tahu tu rasanya gimana? Semua hal bukan menjadi halangan."


"Soal mobil Om Mandala yang mogok, bagaimana bisa?"


"Oh itu hanya setelan minyak aku tutup. Mangkanya bisa tiba-tiba mogok. Tidak ada kerusakan apapun kok."


"Dasar. Kalau Om sampai tahu, kamu pasti dimarahi."


"Tidak akan."


Ismalia terus memperhatikan kedua adiknya yang masih berenang. Tidak mendapatkan respon dari Ismalia. Erika memainkan ponselnya mengupload beberapa foto perpisahan tadi di media sosial miliknya. Memilih mengscroll atas bawah sampai meminta pendapat ke Ismalia.


Ketika sudah mendapatkan pilihan foto yang bagus untuk upload. Erika mengirim ke media sosial Instagram miliknya. Tak lama pengiriman foto, seseorang memberikan komentar foto Erika. Seseorang tersebut adalah Nazir. Sahabat karib ayahnya sendiri Mandala. Erika mengetik membalas komentar Nazir sampai senyum-senyum sendiri.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri begitu?" tanya Ismalia heran.


"Tidak kenapa-kenapa? Cuma ada yang memberikan komentar memuji foto yang aku upload saja."


...🌹🌹🌹...


Saat di kantor, Mandala memang sedang meeting dengan klien bersama Nazir. Sebelumnya Nazir dihubungi oleh Mandala. Sambil membahas penyiasatan pengendara motor yang misterius itu. Waktu meeting memakan selama satu jam lebih. Karena kliennya harus kembali hari ini juga.


Setelah satu jam lebih kemudian, meeting tersebut telah terselesaikan dengan lancar. Nazir, Mandala dan kliennya yang lain saling berjabat tangan mengakhiri hasil meeting. tinggallah Mandala dan Nasir yang masih berada di dalam ruangan. Mereka pun memulai membahas penyelidikan.


"Bagaimana? Apakah kamu sudah mendapat informasi pengendara misterius tersebut. Dan apa kaitannya dengan Gio?"


"Untuk saat ini masih belum mendapatkan informasi apapun. Tapi menurut saya, pengendara misterius itu memang ada kaitan dengan Gio."


"Sebagaimana kamu yakin kalau pengendara itu berkaitan dengan Gio."


"Coba kamu pikir sendiri. Sofia dan anak buahnya sudah di tangkap. Sedangkan yang belum tertangkap hanyalah Gio. Informasi penangkapan Sofia pasti sudah sampai ke telinga Gio. Secara otomatis ia akan membalas dendam karena ia menjadi seorang buronan polisi." jelas Nazir.


"Jadi kita harus bagaimana?" tanya Mandala.


"Kita tunggu dua sampai tiga hari lagi mengenai informasi keberadaan Gio ke Vino."


Mandala melihat jam di pergelangan tangan. Sudah menunjukkan 16.35 wib, Mandala dan Nazir memutuskan untuk pulang ke rumah. Karena sebentar lagi akan memasuki waktu Maghrib.


"Oh ya mau saya antar?" tawar Nazir.


"Tidak. Saya pulang bersama Pak Rahmad. Sekalian mau mengambil mobil di bengkel."


"Ok lah. Saya duluan, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Mereka memasuki mobil masing-masing. Mandala sebelum pulang ke rumah. Ia akan minta di antarkan ke bengkel untuk mengambil mobilnya sudah selesai diperbaiki. Semasa dalam ruangan tadi, mekanik menghubungi Mandala kalau mobil sudah selesai diperbaiki.


"Pak Rahmad, tolong antar saya ke bengkel mobil yang biasa ya. Saya mau mengambil mobil saya. Pak Rahmad setelah itu boleh pulang." ujar Mandala.


"Oh wallahhh...sudah selesai, tuan."


"Iya, Pak."


"Baiklah , tuan."


Mobil menuju ke bengkel langganan Mandala. Setiba di lampu merah, tanpa sengaja Mandala seperti melihat seseorang yang ia kenal. Diingat-ingat Mandala mulai mengenalnya. Seseorang itu adalah Gio yang sedang keluar dari sebuah bank seorang diri. Lalu masuk ke dalam mobilnya.


Lambu merah kini telah berubah menjadi hijau. Mandala meminta Pak Rahmad mengejar mobil yang berwarna putih di depan. Pak Rahmad menuruti Mandala melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Agar ia tidak sampai ketahuan oleh Gio.


Mobil Gio membelok ke sebuah jalan komplek. Mandala terus mengikutinya tanpa ketahuan. Jarak masuknya tidak terlalu jauh. Mobil Gio memasuki halaman sebuah rumah berukuran besar. Mandala memotret rumah tersebut dengan jarak yang cukup jauh dari lokasi.


Mandala segera menghubungi Nazir kalau ia sudah menemukan Gio. Ia juga langsung mengirim alamatnya ke Nazir. Tidak lupa juga mengutus salah satu anak buahnya untuk mengawasi gerak-gerik Gio. Mandala menunggu lama di dalam mobil. Menunggu kedatangan anak buahnya tiba.


Lima belas menit kemudian, dari arah belakang mobil. Anak buahnya tiba menghampiri Mandala. Sekaligus memberikan arahan apa yang harus ia lakukan. Anak buah Mandala sudah melaksanakan yang diperintahkan oleh Mandala.


Kini Mandala berbalik arah untuk mengambil mobilnya yang sudah siap. Ia hanya tinggal menunggu informasi selanjutnya dari anak buahnya mengenai Gio. Pak Rahmad yang penasaran dan tidak mengerti mulai bertanya tanpa rasa sungkan.


"Tuan, mohon maaf sebelumnya. Bukan saya mau ikut campur urusan tuan. Cuma saya mau nanya, mobil yang kita ikuti mobil siapa ya, tuan?"


"Itu mobil yang pria yang dulu terlibat dalam penculikan Ismalia. Rekan kerja Sofia dan anak buahnya. Hanya ia sendiri yang belum ditangkap dan ditemukan, namanya Gio."


"Wahhh...seram sekali kalau Gio itu belum ditangkap. Semoga dengan mudah ditangkap dan mendapatkan hukuman seberat-beratnya."


"Terima kasih Pak. Semoga saja Pak Rahmad berdoa saja."


...Bersambung......


Jangan lupa like, vote, komentar, follow, dan subscribe ya para readers 🤗 biar saya sering up dan semangat.