
Happy Reading 🤗
...🌹🌹🌹...
Sebuah rencana yang dilakukan Erika berhasil dengan lancar. Mandala dan Ismalia pulang bersama-sama. Dalam perjalanan, mobil Manda tiba saja mengendat-ngendat lalu mendadak berhenti. Syukurnya mobil mereka berhenti tepat di beberapa toko. Jika mogoknya di daerah yang sepi tidak ada penduduk bisa bahaya pikir Ismalia.
Mandala keluar memeriksa kap depan mobil. Membuka dan memeriksanya, di cek satu persatu oleh Mandala dalam keadaan baik-baik tanpa kerusakan. Karena baru satu Minggu lalu mobilnya baru saja di servis. Mandala mencoba menghidupkan kembali mobil tetap saja tidak bisa hidup.
Ismalia hanya terdiam melihat Mandala yang mencoba menghubungi seseorang. Beralih melihat diluar, seorang berjualan di gerobak menjual batagor. Ismalia hanya bisa memandangi saja tanpa berani untuk meminta ke Mandala. Mandala yang sudah selesai menghubungi seseorang. Melihat Ismalia yang sedang menatap sesuatu.
Mandala mengikuti arah pandangan mata Ismalia yang tertuju orang yang menjual batagor di gerobak. Mandala menjangkau dompet di kantung celana. Menyodorkan uang seratus ribu satu lembar ke Ismalia. Ismalia yang terus memandangi penjual itu kaget.
"Kalau mau bilang, jangan terus dilihat. Kalau dilihat terus tidak akan dapat. Mengerti, sekarang sana beli." ujar Mandala ketus.
"Eh...maksud Om apa?" tanya Ismalia pura-pura tidak mengerti.
"Saya bilang kamu keluar, pergi ke tukang gerobak sana."
"Terus saya ngapain, Om."
"Kamu ini memang bodoh atau pura-pura bodoh sih. Kamu beli batagor sana jangan dipandangi terus."
"Ma...maaf Om."
"Ya sudah sana."
Ismalia membuka pintu mobil lalu keluar membeli batagor tersebut. Namun terhenti ketika Mandala memanggilnya untuk dibelikan juga.
"Eh...tunggu. Sekalian belikan saya juga, jangan terlalu pedas. Dan satu lagi, belikan saya kopi di warung sana." ucap Mandala.
"Baiklah. Ada yang lain lagi Om."
"Sudah itu saja."
Sambil menunggu kedatangan Ismalia membeli makanan dan minuman. Mandala mengambil tabnya di bangku belakang mengecek sesuatu. Udara di dalam mobil cukup panas. Mandala membuka jas dan membuka satu kancing bagian atas kemeja putihnya. Sesekali melihat Ismalia yang masih berada di dekat gerobak penjual batagor.
Cukup lama menunggu disebabkan ramai pembeli. Ismalia membawa yang dibelinya tadi. Ia masuk dan menyerahkan makanan ke Mandala. Ismalia merasa salah tingkah sendiri melihat penampilan Mandala terlihat keren. Menggulung kedua pergelangan baju dan hanya tersisa kemeja putih kancing atas terbuka.
Mandala menoleh ke Ismalia yang sedikit lain. Seperti orang yang salah tingkah dan malu.
"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Mandala membuka bungkusan batagor.
"Ti...tidak apa-apa, Om. Ini kembaliannya."
"Sudah, ambil saja. Oh ya apa ini pedas?"
"Tidak, tidak pedas. Saya belikan sesuai pesanan Om tadi."
"Ok...Makasih."
Mandala dan Ismalia menyantap makanan yang dibeli tadi. Sedang enak makan, ponsel Mandala berdering. Tertera nama Nazir, ia pun menjawab panggilan temannya. Mandala mencoba mencari tisu tapi tidak ketemu. Ismalia menyodorkan sebuah tisu dari tas diserahkan ke Mandala.
"Terima kasih" ucap Mandala cuek.
Mandala menerimanya dan berbicara kembali dengan Nazir. Ismalia melanjutkan makanannya hingga habis tidak tersisa. Ismalia keluar dari mobil sebentar untuk membuang bekas makannya ke tempat sampah. Selesai Ismalia kembali masuk ke dalam mobil. Mandala telah sudah selesai dengan panggilannya.
"Sebentar lagi Nazir akan jemput kita. Kalau kamu mau tidur, tidur saja. Biar tidak terlalu panas di dalam, kamu buka saja kacanya tapi jangan terlalu buka habis. Takut nanti yang mengambil kesempatan." ujar Mandala.
"Iya...Om. Tapi saya tidak mengantuk Om. Tidak usah tetap begini saja."
"Terserah kamu saja."
Sekitar dua puluh menit kemudian. Mandala yang masih bergelut dengan tabnya. Kembali menoleh ke Ismalia yang sudah terlelap. Kepala yang menoleh ke tepi pintu mobil sebelah kiri. Mandala menggelengkan kepala dengan tingkah Ismalia.
"Bilangnya tidak mengantuk, tapi molor juga. Dasar cewek aneh."
Mandala mencoba mengubah posisi tidur Ismalia biar nyaman. Tanpa sengaja Mandala menatap lekat wajah Ismalia. Mandala memandang dengan senyum-senyum sendiri.
"Cantik juga gadis aneh ini." ucap Mandala dalam hati.
Mandala segera membuyarkan pandangannya. Segera menjangkau setelan bangku sebelum Ismalia tersadar dari tidurnya. Dan mengambil jas miliknya untuk menyelimuti Ismalia yang tertidur. Karena waktu menunjukkan sudah siang, Mandala tidur juga menyusul Ismalia.
Sebelum Nazir menjemput, Mandala sudah memberitahu alamat lokasi ke Nazir. Tiga puluh menit, suara mengejutkan mereka dengan seseorang mengetuk kaca mobil. Mandala terbangun dilihatnya Nazir sudah sampai. Mandala menggosok kedua matanya lalu membuka pintu mobil.
Ismalia yang terlelap juga terbangun. Melihat mereka berdua sedang berbicara. Mandala membuka pintu menyodorkan kepala. Menyuruh Ismalia untuk masuk ke dalam mobil Nazir. Karena mobil Mandala akan dideret untuk dibawa ke bengkel.
"Sekarang kita ke mobil Nazir. Tolong bawakan barang-barang saya." perintah Mandala seenaknya.
"Ya, Om."
Ismalia keluar dari mobil Mandala membawa barang-barang Mandala. Mandala dan Nazir masih mengobrol. Entah apa yang mereka obrolankan.
"Kamu tunggu di dalam mobil Nazir saja." ujar Mandala ketus.
"Ya, Om."
Ismalia agak kesulitan membawa barang Mandala walaupun tidak banyak. Tapi langkah Ismalia terhalang karena ia memakai high heels dan rok span. Ismalia berjalan secara perlahan-lahan. Namun sampai juga di mobil Nazir. Duduk di bangku penumpang di belakang. Bersandar dan ingin rasanya melanjutkan tidur pikirnya.
Mandala dan Nazir menuju ke arah mobil. Ismalia segera membetulkan duduknya. Mereka masuk dan berangkat menelusuri perjalanan pulang. Ismalia hanya terdiam memperhatikan dan mendengarkan percakapan antara dua sahabat itu. Sesekali juga mereka bercanda dan tertawa terbahak-bahak.
"Bagaimana tadi acaranya? Seru tidak?" tanya Nazir ke Ismalia.
"Seru Om. Best malahan." jawab Ismalia malu-malu.
"Terus bagaimana bisa mobil kamu tiba-tiba mogok, Man." tanya Nazir ke Mandala.
"Saya pun tidak tahu tiba-tiba berhenti sendir. Pas dicek mesinnya baik-baik saja. Padahal baru diservis seminggu yang lalu." jelas Mandala.
"Kalau cek seperti itu kita tidak tahu apa kerusakannya. Hanya pakar ahli mesin mobil yang tahu penyakitnya."
"Bahasamu itu, pakai ahli dan penyakit segala."
"Ya iyalah. Lalu kenapa tidak mencari taksi saja tadi. Kenapa menghubungi saya?" tanya Nazir gurau.
"Kalau seperti itu apa gunanya kamu sebagai kawan? Ya pastinya saya ingin merepotkan mu lah." jawab Mandala.
"Dasar teman tidak ada akhlak. Tapi betul juga sih, sesama teman harus saling membantu."
"Itu kamu sudah tahu."
Pandangan Ismalia hanya tertuju ke luar kaca mobil. Kadang tersenyum juga ketika mendengar keduanya sahabat itu saling bergurau. Sama seperti hal dirinya dan Erika bersama. Ismalia teringat dengan Erika, ia akan mengintrogasi Erika. Alasan Erika meninggalkan dirinya bersama Mandala tanpa memberitahu terlebih dahulu.
Ismalia sempat berpikir bahwa kejadian ini adanya unsur kesengajaan. Bahkan kedua orangtuanya juga ikut-ikutan dengan Erika. Ada sedikit marah dan kesal terhadap Erika. Tapi kali ini Ismalia ingin memberikan pelajaran juga ke Erika. Sebab Erika sudah menjahili Ismalia. Menjahili meninggalkan dirinya bersama Om-om kulkas seperti Mandala.
Kalau bersama orang lain mungkin tidak masalah bagi Ismalia. Ini bersama Mandala yang memiliki sikap dingin, ketus, cuek, dan tukang suruh-suruh pikir Ismalia. Menurut sisi lain dari hati Ismalia. Mandala sosok yang perhatian, romantis, tampan, mapan, dan keren.
Tepat pemberhentian di lampu merah. Tanpa sengaja Ismalia melihat seseorang yang sedang mengikuti mobil mereka dari belakang. Seseorang itu memakai sepeda motor, menggunakan helm, berjaket dan berpakaian serba hitam. Ismalia terus memperhatikan gerak-gerik orang tersebut.
Sampai Nazir menoleh ke arah belakang melihat Ismalia bersikap aneh dari kaca spion.
"Ada apa, Is?" tanya Nazir heran.
Mandala pun ikutan menoleh ke belakang. Terlihat gelagat Ismalia yang aneh.
*Tidak, Om. Cuma saran curiga dengan pemotor belakang mobil kita. Sepertinya sedari tadi mengikuti mobil kita."
Mandala dan Nazir ikutan melihat seseorang yang dikatakan Ismalia dari kaca spion samping. Benar apa yang dikatakan Ismalia, orang tersebut memang mencurigakan. Lampu berubah menjadi hijau, mobil Nazir bergerak melaju. Tampak pemotor itu juga ikutan melaju.
"Betul, apa yang dikatanya oleh Is. Pemotor itu sedang mengikuti kita."
"Jadi bagaimana? Apa kita berhenti dan turun?" tanya Nazir.
"Jangan lanjutkan saja, dipersimpangan depan kita berhenti tepat di kantor polres."
"Baik."
Ingin membuktikan lebih akurat, Nazir berhenti tepat di depan kantor polres. Terlihat pemotor itu berhenti enggan mendekati. Malahan berbalik arah dan melaju dengan kecepatan tinggi. Hal ini membuat Mandala dan Nazir curiga.
"Man, apa mungkin pemotor itu?" tanya perkiraan Nazir.
"Kita belum pasti. Mungkin saja itu orang suruhannya."
"Bisa jadi."
Ismalia yang sedari tadi merasakan takut akan terjadi hal yang kedua kalinya. Mandala menghubungi anak buahnya untuk mencari pemotor dengan ciri-ciri yang katanya. Sejenak Mandala teringat ketika ia pulang dari Airport. Seseorang pemotor seperti itu pernah beriringan dengan taksi yang Mandala tumpangi.
"Baru ingat. Saat saya pulang dari Airport, saya melihat pemotor dengan ciri-ciri yang sama beriringan dengan taksi yang saya tumpangi. Saya itu orang yang sama, saya sudah mengutus orang suruhan saya untuk menyiasati." jelas Mandala.
"Kalau begitu apakah itu, Gio?"
Ismalia yang mendengarnya hanya tercengang, kaget, dan takut. Orang yang selama ini belum juga ditemukan. Mandala tampak berpikir cara untuk mengetahui identitas pemotor itu dan juga keterkaitan dengan Gio.
...Bersambung.......
Jangan lupa untuk like, vote, komen, follow dan subscribe ya para readers semua 😉🤗