
Happy Reading 🤗
...🌹🌹🌹...
Semua persiapan untuk acara akad pernikahan Mandala dan Ismalia sudah selesai semua baik dari pakaian, dekorasi, konsumsi, dan penghulu. Tema akad pernikahan baik pengantin dan keluarga yaitu kebaya Melayu berwarna putih. Semua sanak keluarga Mandala tengah sibuk ini dan itu. Begitu juga dengan keluarga Ismalia.
Lain hal Sofia yang baring di atas ranjang menatap jauh langit-langit entah apa yang ia pikirkan. Kondisi kamar apartemen yang berantakan seperti Sofia habis mengamuk. Melempar dan memecahkan barang seisi kamarnya. Terlalu jauh menatap lalu teringat seseorang. Mengambil ponselnya di atas nakas menghubungi seseorang.
Seseorang yang Sofia hubungi adalah teman mainnya di ranjang yang bernama Gio. Gio merupakan seorang mafia yang memiliki banyak anak buah. Gio juga sering bermain dengan Sofia di sebuah club dan apartemen miliki Gio. Sofia meminta bantuan Gio untuk mengurus anak buah untuk membantunya. Dengan imbalan Sofia siap bermain sepenuhnya dengan Gio.
"Apakah boleh aku minta bantuan denganmu?" pinta Sofia ke Gio.
"Dengan senang hati sayang, tapi kamu juga harus ingat apa yang menjadi imbalannya." jawab Gio.
"Tenang saja aku akan selalu ingat. Yang penting kamu mau membantuku." ujar Sofia.
"Tentu saja. Apa yang kamu inginkan sayang?" tanya Gio.
Sofia pun menjelaskan ke Gio kalau ia membutuhkan 4 orang anak buah Gio untuk menculik seorang gadis yang bernama Ismalia pada saat hendak berangkat ke kediaman Mandala tepatnya besok pagi. Dengan menyamar sebagai sopir dari keluarga Mandala. Atas terobsesinya Sofia membuat rencana jahat Sofia menjadi-jadi.
"Baiklah, sayang. Besok aku akan mengutus anak buahku untuk menculik gadis itu. Kirimkan saja foto dan alamat tempat gadis itu pada ku."
"Baiklah. Nanti akan ku kirimkan foto dan alamatnya padamu."
Sofia mengirim foto dan alamat kediaman Ismalia kepada Gio. Gio yang sudah mendapat foto dan alamat langsung menghubungi anak buahnya untuk menculik gadis tersebut tepatnya pada besok pagi dengan menyamar sebagai sopir dari keluarga Mandala.
Rencana yang Sofia jalankan menjadi begitu sangat lancar dan mulus. Sofia ketawa sendiri dan merasa gembira membayangkan pernikahan Mandala dan Ismalia batal.
"Permainan akan segera dimulai. Hahahaha...." ucap Sofia sambil ketawa.
"Sampai ketemu besok gadis ingusan." ucap Sofia lagi.
...🌹🌹🌹...
Tepat di Hari Sabtu pagi, hari dimana momen yang membahagiakan bagi keluarga Ismalia dan Mandala. Di kediaman Mandala tampak para kerabat dan sanak keluarga sudah berdatangan begitu pula dengan penghulu. Semua tamu tengah asyik berbincang-bincang yang ditemani oleh Rita dan Bramantio.
Mandala yang masih berada di kamarnya tengah bersiap-siap dengan pakaian teluk belanga putih bertapih songket hitam gold serta kopiah hitam di kepalanya. Semakin menambah ketampanannya. Ia masih berdiri didepan cermin entah apa yang dipikirkan oleh Mandala saat ini.
Di kediaman Ismalia juga tengah bersiap dengan pakaian kebaya Melayu putih jilbab syar'i serta selendang. Make up yang tampak natural tidak menor menampilkan kecantikan sesungguhnya wajah Ismalia. Begitu juga keluarga Ismalia yang sudah siap. Siap mempersiapkan keberangkatan kediaman Mandala yang sebentar lagi akan dijemput oleh Pak Rahmad dan Pak Agus.
Ismalia masih duduk didepan kaca meja hiasnya memandangi wajahnya yang dibaluti kebaya Melayu putih. Tiba pintu kamar terbuka menampilkan Mastiara yang masuk mendekati sang putri. Memandangi sejenak mengagumi kecantikan dari Ismalia yang sebentar lagi akan menjadi status istri Mandala.
"Gak terasa ya. Anak Ibu yang Ibu besarkan, Ibu kandung, susui, dan Ibu jaga sekarang gak terasa akan sebentar lagi menjadi status seorang istri." ucap Mastiara berdiri di belakang sambil mengelus bahu Ismalia yang masih duduk di depan kaca meja hias dengan sedikit mata berkaca-kaca.
"Kenapa Ibu bisa bicara seperti itu? Is akan selalu menjadi anak Ibu walaupun dari segi tanggungjawab bukan lagi Ibu." ujar Ismalia mendongakkan kepala menatap Mastiara dibelakangnya.
"Ya, benar Nak. Kamu akan selalu menjadi anak Ibu. Ibu mau berpesan sama kamu berbaktilah sama suami. Sama halnya kamu berbakti sama kami. Kemana-kemana harus izin dulu dan urus segala keperluannya." pesan Mastiara.
"In Syaa Allah, Buk. Is akan selalu ingat pesan Ibu. Is akan selalu datang jenguk Ibu, Ayah , dan Adik-adik. Jaga kesehatan, jangan terlalu capek nanti." pesan Ismalia balik.
"Iya, Nak. Oh ya, bagaimana apa sudah ada pesan dari Erika kapan mobil jemputannya sampai?" tanya Mastiara
"Ada, Buk. Katanya mobil jemputan sudah berangkat sekitar 10 menit yang lalu."
"Tapi kok lama sekali ya, sedangkan untuk tiba ke sini tidak sampe 30 menitan."
"Mungkin dijalan kena macet, Buk. Sudah kita tunggu saja sebentar." pujuk Ismalia.
"Ya sudah Ibu mau ke dapur dulu sebentar mau ambil kue."
"Ya, Buk."
Mastiara meninggalkan Ismalia yang masih tetap setia duduk kemudian mengambil ponselnya melihat ponselnya apakah ada pesan masuk atau tidak. Merasa capek, Ismalia keluar kamar melihat Mastiara yang tengah membawa kue yang mereka buat ke ruang tamu untuk dibawa kediaman Mandala.
Tiba-tiba terdengar seseorang mengucapkan salam. Mastiara pergi membukakan pintu. Tampak Pak Rahmad sopir Mandala telah tiba menjemput keluarga Ismalia.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam. Saya Pak Rahmad sopirnya Tuan Mandala mau jemput keluarga No Is."
"Oh iya sebentar ya. Kalau boleh tolong bawakan beberapa kue dan barang-barang lainnya pak." pinta Mastiara.
"Baiklah, Bu."
Pak Rahmad membawa kue yang sudah di kemas dan barang-barang lainnya untuk dibawa ke dalam mobil. Sedangkan Mastiara memanggil Ismalia yang berada di kamarnya.
"Is, jemputannya sudah datang. Ayo."
"Baik, Buk."
Ismalia, Mastiara, Mardian, dan adik-adiknya berjalan menuju ke mobil yang terparkir di depan gang. Pak Rahmad membukakan pintu belakang. Lalu tidak lama mobil jemputan lainnya juga tiba yang dibawa oleh Pak Agus. Karena mobil yang kendarai oleh Pak Rahmad tidak cukup. Maka Ismalia sendirilah yang masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Pak Agus.
Kedua buah mobil berangkat secara bersamaan menuju ke rumah Mandala. Posisi mobil Pak Rahmad berada di depan dan mobil Pak Agus berada di belakang mobil Pak Rahmad. Disaat di jalan lokasi keramaian, mobil Pak Rahmad dan Pak Agus terpisah. Tiba-tiba tanpa diduga mobil Pak Agus mengalami pecah ban dan tertinggal oleh mobil Pak Rahmad.
Pak Agus mengerem secara mendadak membuat Ismalia sedikit terdorong kedepan. Pak Agus keluar dari mobil mengecek penyebabnya.
"Ada apa, Pak."
"Maaf, Non. Mobilnya pecah dan harus segera saya ganti. Mungkin ini akan perlu waktu yang tidak sebentar." ucap Pak Agus.
"Tapi bagaimana dengan keluarga Tuan dan Non?"
"Tidak apa-apa. Nanti akan saya hubungi."
"Baiklah."
Ismalia menghubungi Erika kalau ia akan sedikit terlambat karena kendala pada mobil jemputannya. Ismalia mencoba untuk keluar melihat Pak Agus mengganti ban mobil sebelah kiri. Tiba-tiba seseorang wajah bertopeng membungkam mulut Ismalia dengan kain yang sudah diberi cairan bius.
Tanpa bersuara, Pak Agus tengah mengganti ban tidak menyadari aksi penculikan yang terjadi pada Ismalia. Saat sudah selesai mengganti ban. Pak Agus masuk ke dalam mobil hendak menoleh ke kursi belakang sudah tidak lagi Ismalia.
Pak Agus menjadi panik mencari-cari keberadaan Ismalia namun tidak ketemu. Pak Agus mencoba menghubungi nomor Ismalia ternyata ponselnya tertinggal di kursi mobil. Makin tambah panik, Pak Agus menghubungi Mandala namun tidak dijawab. Mencoba sekali lagi hasil tetap sama tidak dijawab.
Pak Agus menghubungi telepon rumah. Mengucap rasa syukur panggilannya telah dijawab oleh salah pembantu di kediaman Mandala. Untuk keluarga Ismalia sudah sekitar 20 menit yang lalu baru tiba di kediaman Mandala.
"Hello, Assalamualaikum." ucap Pak Agus cemas.
"Wa'alaikumussalam, siapa ini?" tanya salah pembantu yang bernama Lili.
"I-ini saya Agus. Tolong beritahu Tuan Mandala bahwa Non Ismalia menghilang." ucap Pak Agus panik.
"Kok bisa?" ujar Lili juga ikutan panik.
"Saya gak tau, tadi mobil kami mengalami pecah ban. Saya keluar untuk ganti ban, setelah selesai. Non Ismalia sudah gak ada di mobil dan ponselnya juga tertinggal di mobil. Saya khawatir Non Is diculik. Tolong kamu kasi tau Tuan Mandala ya? Saya disini juga mencoba mencari Non Is." ucap Pak Agus dengan panik.
"Ba-baiklah."
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Pak Agus menutup ponsel lalu menjalankan mobil untuk mencari keberadaan Ismalia disekitar jalanan. Dengan rasa panik dan cemas menelusuri seluruh jalan yang tadi ia lewati. Namun sayang hasilnya tetap tidak menemukan Ismalia.
...🌹🌹🌹...
Di kediaman Mandala, Bik Lili berjalan mendekati Mandala yang sedang berbicara dengan sahabatnya yang bernama Nazir. Bik Lili membisikan sesuatu membuat Nazir menatap mengerutkan kening. Mandala langsung kaget.
"Kok bisa. Bagaimana ceritanya?" tanya Mandala yang masih kaget.
" Kata Agus sih, mobilnya tadi mengalami pecah ban. Saat sudah selesai diganti Pak Agus melihat Non Is sudah gak ada di dalam mobil dan ponselnya juga tertinggal di mobil. Menurut Agus sih Non Is diculik, Tuan." jelas Bik Lili menundukan kepala tanpa menatap Mandala.
Nazir yang terus menatap obrolan antara pembantu dan Mandala menjadi penasaran dan mulai bertanya.
"Ada apa bro? Kenapa keliatan cemas sekali?" tanya Nazir yang berada di depan Mandala.
"Naz, temani aku sekarang." pinta Mandala berdiri dari duduknya.
"Ada apa?" tanya balik Nazir ikutan berdiri.
"Nanti akan aku jelasin."
Mandala beranjak dari duduknya menuju keluar ke parkiran mobil begitu juga Nazir menyusul. Mandala masuk terlebih dahulu ke dalam mobil kemudian Nazir.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Nazir heran.
"Is diculik."
"Apa...! Kok bisa?"
"Kata Bik Lili denger dari Pak Agus saat menuju ke sini mobil mereka pecah ban. Setelah selesai Pak Agus ganti ban Is sudah tidak ada didalam mobil dan ponselnya juga tertinggal di mobil."
"Jadi kita harus bagaimana? Mau lapor polisi sekarang?"
"Kayaknya jangan dulu. Kita cari dulu disekitar hilangnya Is. Tadi aku udah minta lokasi mereka sebelumnya. Jadi kita cari sekitaran sana." jelas Mandala.
"Baiklah."
Mobil Mandala melaju menuju lokasi yang sudah diberikan oleh Pak Agus. Saat dirumah Mandala, Bik Lili juga memberitahu Rita, Bramantio, dan Erika kalau Ismalia menghilang saat mengganti ban mobil yang dikendarai Pak Agus. Panik, cemas, dan khawatir sudah pasti ketika mendengarnya. Begitu juga kedua orangtua Ismalia, Mastiara hampir mau pingsan mendengar Ismalia hilang.
Bramantio mencoba menghubungi seseorang untuk mencari keberadaan calon menantunya itu. Ia tidak menghubungi polisi karena jika benar Ismalia diculik itu akan berakibat membahayakan keselamatan Ismalia. Jadi Bramantio menghubungi orang-orang kepercayaannya.
Mandala dan Nazir yang sudah tiba dilokasi mencoba mencari disekitaran jalan. Sedangkan Pak Agus masih mencari disekitar lokasi jalan menuju rumah dan jalan menuju terminal bus. Tetapi keberadaan Ismalia tetap tidak ditemukan. Cukup lama Mandala mencari dengan menunjukkan sebuah foto Ismalia ke orang sekitar. Hasilnya tetap saja tidak menemukan Ismalia.
"Kenapa gak lo perintahkan saja anak buah lo buat cari Is diberbagai tempat." saran Nazir.
"Kamu benar, sebentar aku hubungi mereka."
Mandala menghubungi anak buahnya untuk mencari keberadaan Ismalia. Namun tiba-tiba terbesit dipikirannya, setiap mobilnya dipasang CCTV. Mandala melihat ponselnya membuka rekaman CCTV yang berada di mobil Pak Agus.
Mandala dan Nazir menonton rekaman tersebut. Hingga tepat Ismalia hendak keluar membuka pintu mobil, sedikit kelihatan seseorang mendekati Ismalia lalu membawanya. Mandala mengulangi adegan tersebut sampai menemukan petunjuk.
Benar saja, Mandala menjeda adegan dimana Ismalia dibungkam tampak tangan si penculi memiliki tato di pergelangan tangan dengan gambar mawar bertengkorak hitam. Mandala mengscreenshot hasil petunjuk tersebut lalu dikirimkan ke anak buahnya untuk mencari tahu siapa pemilik tato tersebut.
...Bersambung.......
Mohon maaf tulisan agak ada sedikit typo, jangan lupa dukungannya like, vote, komen, subscribe, dan follow ya
Mohon maaf juga baru update soalnya jadwal lagi padat dan lagi berusaha untuk update. Sekian terima kasih 🤗